
Reyhan menyeruput kopi yang sudah dingin di depannya itu. Karena terlalu fokus mendengar cerita ayah sambungnya Hanna, membuatnya lupa jika dihidangkan secangkir kopi dan beberapa camilan di meja.
"Mau Ibu buatkan lagi, Nak Reyhan? Kopinya sudah dinginkan?"
"Tidak perlu Bu tidak papa," jawabnya.
"Seperti itulah ceritanya, Hanna mengorbankan dirinya demi mempertahankan tanah ini. Dan rencananya hari ini saya mau ambil surat itu semoga sudah selesai," kata Adri melihat jam di tangannya.
"Jadi semua kepemilikan bangunan ini sudah menjadi milik Ibu kembali?"
"Iya, saat kami baru pulang dari rumah sakit dan kembali ke villa untuk mengambil barang-barang. Saya langsung mencari surat tanah rumah itu yang disembunyikan anak buah Michael di dalam kamarnya," jelas Ratna mengingat kejadian menegangkan itu.
"Syukurlah. Jadi, pria itu belum mengetahui semua ini?"
"Sepertinya belum," jawab Adri.
"Apa Hanna akan baik-baik saja jika pria itu tahu mengenai ini?" tanya Reyhan khawatir.
"Itulah yang jadi pikiran kami selama ini. Saya sangat khawatir dengan perlakuan suaminya."
Ratna terlihat melemparkan pandangan keluar dengan tatapan penuh kecemasan.
"Bu, Pak, keselamatan Hanna bisa terancam sewaktu-waktu. Pria itu adalah seorang psikopat, Hanna sendiri pernah cerita bagaimana ia diperlakukan saat diculik dulu. Dan dari cerita anak buahnya yang didengar Hanna banyak korban wanita yang dilenyapkan tanpa ada yang tahu."
Reyhan mencoba mengingatkan.
"Iya kami tahu. Tapi, kita sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan mereka. Terlebih, Hanna diminta untuk mengandung anak dari pria itu ibu benar-benar tak ridho jika kita harus terikat darah dengan mereka."
Wanita paruh baya itu terlihat terisak, seraya mengusap kedua matanya.
"Tak bisakah Hanna mengajukan cerai saat rumah ini sudah jadi, Bu?"
"Entahlah ... nanti coba pelan-pelan ibu bicara padanya."
Adri hanya termenung pandangannya kosong menatap langit-langit rumah itu.
Suasana tampak sunyi sejenak mereka larut dalam pikiran masing-masing. Hanya ada suara isakkan Ratna yang menyesakkan dada.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" kata Reyhan.
Kedua orang tua itu saling berpandangan.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengusik atau ikut campur kehidupan Hanna. Dan setelah ini, In Syaa Allah saya pun bisa memahami semua alasan dibalik sikap Hanna terhadap saya. Hanya saja, saya merasa terusik atas masalah yang tengah bapak dan ibu alami."
"Jujur saya tidak bisa diam saja mendengar ini semua. Jadi, jika ada yang bisa saya lakukan katakanlah, saya akan berusaha membantu sebisanya." lanjut Reyhan melihat mereka berdua dengan tulus.
"Terima kasih banyak Nak, maaf jika sikap anak kami telah melukai hati Nak Reyhan. Semua ini mungkin sudah kehendaknya."
"In Saya Allah, jika suatu hari nanti kami butuh bantuan ibu akan menghubungi Nak Reyhan segera."
Ratih tersenyum haru melihat pemuda di depannya ini.
"Seandainya Hanna berjodoh dengan Reyhan, betapa bahagianya saya ya Allah." bisiknya dalam hati.
"Baiklah kalo begitu, Reyhan pamit pulang ya pak, Bu. Sekali lagi mohon maaf jika telah mengganggu."
"Sama sekali tidak, Nak Reyhan. Datanglah kapan pun kamu mau," ucap Adri menepuk pelan pundak Reyhan.
Mereka pun mengantar pemuda itu sampai ke halaman rumah.
__ADS_1
Reyhan tampak menengok sebentar bangunan megah yang kira-kira sudah 50% tahap pembangunannya itu.
Hatinya tercabik mengingat salam perpisahan dari Hanna. Dan yang lebih membuatnya hancur adalah wanita itu memilih pria yang salah untuk kedua kalinya. Padahal dia sedang berjuang mati-matian untuk cintanya.
"Jika yang pertama kamu bisa lari dari masalah yang besar, kenapa kali ini kamu malah lompat ke dalam masalah yang jauh lebih besar lagi Hanna." gumamnya dalam hati.
***
Suasana di kantor Yukka terlihat tidak baik-baik saja. Semua dokumen berserakan di lantai. Raut wajah pucat dan putus asa tergambar dari beberapa orang yang tengah sibuk mencari sebuah map. Termasuk Chandra.
Akhirnya sebelum ia diserang lebih besar lagi, kali ini dia yang akan menyerang lebih dulu gemilang.
Ia mengirim surat peringatan kepada gemilang terkait pembatalan kontrak yang dilakukan secara sepihak. Jika hal ini tidak segera dicabut maka Yukka khususnya Chandra sebagai direktur perusahaan akan membawa hal ini ke ranah jalur hukum.
Pria tengah baya itu menghela napas panjang.
"Bereskan semua dokumen ini ke tempat semula," perintahnya pada beberapa karyawan yang tengah membongkar lemari itu.
Mereka semua saling berpandangan sejenak. Lalu, Sinta mulai memindahkan lagi dokumen itu ke tempatnya semula.
Terlihat Chandra keluar ruangan dengan mengusap kasar wajahnya.
Seketika ketiga karyawan itu menghela napas lega.
"Sesak dada gue tau," ucap Sinta meluruskan kakinya di lantai.
"Ya sama! Lagian si Hanna dimana sih naronya?" tanya Gio.
"Mana gue tau!"
"Serem banget ga sih liat wajah si bos kaya gitu. Selama ini dia nggak pernah keliatan begitu stresnya," kata Linda menimpali.
"Memang ada apa sih sebenarnya, Ta?"
"Iya-iya lu tenang aja!"
"Lu tau ga? ...."
"Ya nggak taulah! Makannya gue nanya!"
"Iya makannya lu dengerin dulu! Gue belum selesai ngomong juga udh diserobot aja!" bentak Sinta menoyor kepala Linda yang sekarang menggantikan posisinya di bawah.
"Oohh oke-oke sori!" jawab Gadis itu nyengir kuda.
"Si Hanna nikah sama CEO Gemilang grup."
"Whaaatt! Serius? Beruntungnya diaaa!" pekik Linda.
"Kata siapa lu?" tanya Gio tak percaya.
Sinta mengambil surat undangan itu dan menyerahkannya kepada mereka berdua. Seketika mata mereka melotot membacanya.
"Gila! Hebat bener si Hanna itu," celoteh gadis berambut pirang itu.
"Reyhan-Reyhan, udah gue ingetin berapa kali juga lu tetep bucin ke ni cewek akhirnya bener kan apa yang gue bilang."
Gio malah teringat sahabatnya Reyhan yang pasti akan sangat terluka melihat ini.
"Dia udah tau," ucap Sinta.
__ADS_1
"Lu yang kasih tahu?"
Sinta mengangguk sambil terus merapikan kertas-kertas di depannya.
"Terus dia gimana?"
"Ya gitulah, dia langsung aja pergi."
"Gue yakin Reyhan pasti sangat terpukul." Gio tampak termenung.
"Heh kalian berdua malah ngelamun, cepet bantuin!" Sinta baru menyadari kedua temannya itu malah duduk terdiam.
"Dih, galak bener sih lu! Gue lagi berduka buat Reyhan tau," elak Gio.
Mereka pun menata semua kertas ke dalam map dan menyimpannya kembali di lemari.
"By the way, apa hubungannya berita ini sama kejadian di ruangan ini?" tanya Linda.
"Dan ... gue yakin Hanna dibalik semua ini," ucap Sinta.
"Masa dia segitunya sama pak Chandra? Dia kan juga pernah deket sama pak Hendi?" protes Gio.
"Kan dia dipecat secara tidak hormat tuh dan inilah balasannya, Gemilang memutuskan kontrak dengan perusahaan kita."
"Wah iya yah, bisa jadi. Duuhh Hanna jahat banget sih! Berita besar ni, bakal gue sebarin biar si Hanna tau rasa." ancam Linda mengepalkan tangannya.
"Hush! Jangan gegabah, sekarang si Hanna istri konglomerat. Lu tau kan orang kaya bisa ngelakuin apa aja yang mereka mau." Sinta mengingatkan.
"Gue si nggak yakin Hanna bisa kaya gitu, lagian ini kan baru asumsi lu aja kan Sin. Belum tentu bener juga kan?" Gio menepis tak percaya.
"Ya ... kita liat aja ke depannya nasib kita gimana. Gemilang kan salah satu perusahaan besar yang menanungi banyak perusahaan kecil lainnya. Dan salah satu perusahaan loyalnya Yukka." jelas Sinta.
Tanpa sadar semua dokumen sudah tertata rapi di lemari. Kini mereka tengah meluruskan kaki duduk di lantai seraya bersandar pada kaki-kaki meja.
"Gue ke toilet dulu yah," ucap Linda berlari ke arah pintu keluar.
Kini tinggal mereka berdua, Gio tampak salah tingkah berulang kali melirik Sinta.
"Oiya, lu tadi bilang seolah sudah paham karakter Hanna soal Reyhan. Emang kenapa?" Sinta penasaran dengan kata-kata Gio tadi.
Pemuda itu tampak berpikir sejenak.
"Dari pas dia milih Hendi aja gue udah ingetin Reyhan, buat ngejauh dari Hanna dan ngelupain tu cewek. Tapi tuh anak bebel tetep aja bucin."
"Ooh gitu, segitu cintanya ya dia sama Hanna?"
"Kayanya, gue juga udah lama belum kontekan sama dia."
"Kira-kira ... dia pernah nggak sih cerita soal gue ke lu?" tanya Sinta ragu-ragu.
Bukannya menjawab Gio malah melihat Sinta, ia terkejut dengan pertanyaan gadis itu.
Sinta yang ditatap Gio terlihat salah tingkah mengernyitkan dahinya.
"Lu kenapa?" tanyanya heran.
"Gue yang sering cerita lu ke dia, Ta." kata Gio menatap gadis di depannya lekat.
Lalu, sedetik kemudian dia mendaratkan sebuah kecupan di pipi gadis itu. Mata Sinta membulat melihat Gio yang langsung kabur menuju pintu dan hampir saja bertabrakan dengan Linda yang tengah membuka pintu dari luar.
__ADS_1
"Eh so-sori, gue kebelet nih!" ucapnya terbata.
Bersambung...