Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Terluka


__ADS_3

Sayup terdengar suara tangis menggema di telinganya, tapi matanya sangat berat untuk terbuka. Seluruh tubuhnya kaku dan terasa sakit untuk digerakkan. Terutama lehernya.


Dia berusaha mengingat apa yang terjadi, sejurus kemudian bayangan kecelakaan itu pun muncul di benaknya.


"Nak, kamu sudah sadar, Nak?" seru Ratna saat melihat jari anaknya bergerak.


Matanya berbinar penuh harapan menggenggam tangan lemas itu.


"Mama, bangun, Ma." kata Anin yang duduk di sebelah neneknya.


Perlahan Hanna membuka matanya, meski terasa perih. Pandangannya kabur melihat langit-langit putih yang tampak remang di atasnya. Ia pun tak bisa menengok kanan dan kiri lehernya terasa kaku. Hanya matanya yang mencoba melirik ke arah suara.


Meski tidak terlihat jelas, ia mengenali suara sang mama dan juga anaknya.


Hanna mencoba menggerakkan tanganya tapi terasa berat. Dalam hatinya ia lega, bisa mendengar suara mereka.


"Jangan banyak gerak dulu, Nak. Lehermu dipasang penyangga," ucap Ratna parau menahan air matanya.


"Ma-ma ba-baik baik sa-ja?" tanyanya lemah.


"Mama baik, Nak. Kamu kenapa jadi begini? Ya Allaaahh," pekiknya tak kuasa melihat kondisi anaknya dan segera memeluknya.


Wanita yang tengah tergolek lemah itu ingin sekali mambalas pelukan sang mama. Tapi tangannya masih kaku tak bisa digerakkan bebas.


"Udah kamu istirahat dulu yah, jangan banyak gerak. Mama akan di sini jagain kamu," katanya seraya membelai rambut sang anak.


Wajah Hanna bengkak dan lecet serta matanya terlihat merah karena ledakan air bag. Lehernya diberi penyangga untuk menghindari trauma. Selain itu kondisi di tubuhnya yang lain tidak terlalu parah.


Sementara Michael di sampingnya, mengalami patah kaki dan tangan kanan karena terjepit. Wajahnya lecet dan memar karena ledakan air bag juga.


Kecepatan yang tinggi saat mobil mereka terjun, serta menghantam pohon dengan keras membuat ledakan air bag cukup kencang dan membuat wajah mereka cedera.


Belinda yang duduk di sampingnya melihat dengan sedih pada anak sulungnya itu. Belum juga sang suami keluar dari ruang ICU, Kini anaknya harus terbaring lemah di UGD.


Laura yang mendengar Hanna sudah tersadar segera menghampiri bednya yang terletak di sebelah bed kakaknya karena mereka masih berada di UGD.


"Kak Hanna sudah sadar?" tanyanya mendekat.


Wanita itu hanya mengedipkan matanya, melirik Laura. Ingin sekali rasanya ia bertanya kabar Michael, tapi lidahnya kelu. Hanna hanya melihat tirai putih di sebelahnya dengan ekor matanya.


Laura yang paham lirikan Hanna langsung membuka tirai itu.


Terlihat Michael masih tak sadarkan diri tergeletak tak berdaya. Kakinya dipasangkan pen serta tangannya dikasih penyangga dan juga lehernya.


Hatinya tersentak melihat kondisi pria itu. Lalu, memalingkan kembali matanya melihat ke sisi lain.


Belinda menutup kembali tirai itu, wajahnya terlihat kesal melihat Hanna.


"Kak Michael belum sadar, sepertinya obat biusnya masih bekerja." terangnya yang dijawab hanya kedipan mata oleh Hanna.

__ADS_1


"Kalo bukan karena bersikukuh nganterin kamu, dia nggak akan seperti ini." Belinda merutuk di balik tirai.


Laura langsung menghampiri ibunya.


"Mom, ini kan kecelakaan mana bisa kita nyalahin orang lain."


"Ya bisalah, kalo dia nggak maksa minta dianterin ke ibunya tidak mungkin terjadi kecelakaan."


Semua terdiam, termasuk Hanna yang juga mendengar percakapan mereka. Ujung matanya menetes, tak terima dipersalahkan.


Ratna menenangkannya dengan mengelus punggung tangan sang anak.


"Udah biarin, semua ibu pasti akan melakukan itu. Kecuali dia yang bijak akan mencoba menerima segala yang telah terjadi dengan lapang dada." tukasnya menyindir perempuan di balik tirai itu.


"Oh, jadi kamu merasa sebagai ibu yang bijak?"


Tirai kembali dibuka dan terlihat perempuan tengah baya itu berkacak pinggang melihat Ratna sinis.


"Tidak. Dalam hati saya pun menyalahkan anak anda, yang telah berbuat keji dan semena-mena pada keluarga saya. Terutama anak saya," kata Ratna melirik tajam lawan bicaranya itu.


"Mom, sudah! Ini UGD," seru Laura melihat sekitar. Beberapa perawat tengah memperhatikan mereka.


"Maaf, Ibu, kita bisa pindahkan pasien jika sudah sadar yah. Apa mereka sudah sadar?" Suster seolah paham dengan situasi kedua keluarga ini.


"Anak saya sudah, sus," jawab Ratna.


Belinda terlihat kesal, kembali duduk di samping anaknya yang masih belum sadarkan diri.


"Tolong sediakan ruang VIP untuk anak saya," pintanya pada suster yang lainnya.


"Tapi, tadi Mbanya sudah pesan ruangan kelas 1 dan hanya ada 2 orang anda dan juga pasien tadi," jelas suster muda itu.


"Tolong pindahkan! Saya nggak mau satu ruangan dengan mereka," serunya.


"Maaf, sus, apa ada VIP yang kosong?" Laura mencoba menengahi.


"Saya cek dulu yah," ucapnya dengan wajah sedikit kesal.


"Maafkan Mama saya, sus. Dia sedang sensitif sekali, karena Papa juga sedang dirawat di ICU. Jadi pikirannya sedang kacau," ucap Laura mendekati suster tadi.


"Tidak papa, Mba," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.


***


Sore Itu


Sinta tampak memoles wajahnya dengan make up flawless. Berulang kali ia memastikan riasannya itu tidak luntur karena keringat saat ia turun dari angkutan umum.


Wanita itu menengok kanan kiri, berharap mobil Reyhan sudah ada saat dirinya sampai di depan pagar kostan Hanna.

__ADS_1


"Dia belum datang rupanya, baiklah gue pura-pura ke kostannya aja."


Sinta pun melenggang masuk ke dalam, dan mengetuk pintu kamar Hanna.


Hening tak ada jawaban.


"Si Hanna pasti masih di kampungnya," gumamnya.


Dia pun duduk di teras dan meraih ponselnya mencari nama Hanna. Tapi baru saja hendak menekannya wajah pria yang ditunggunya nongol dari balik pagar.


"Reyhan," ucapnya pura-pura terkejut.


"Sinta, lu ngapain di sini?" tanyanya heran.


"Gue ... gue mau tanya-tanya soal jobdesk Hanna dulu, soalnya banyak yang gue belum paham." elaknya.


"Gue gantiin Hanna di kantor dia resign kan," terangnya.


"Oh, Hannanya udah balik?" tanyanya menuju pintu dan mengetuknya.


"Belum, dari tadi gue ketuk nggak ada jawaban. Kayanya dia masih di kampung deh," katanya melihat Reyhan menyembunyikan sesuatu di belakang tubuhnya.


Terlihat buket bunga mawar merah ia letakkan di depan pintu kamar itu.


"Kenapa nggak telepon Hanna, buat ngasih langsung?" tanya Sinta melirik bunga yang tergeletak itu.


"Seandainya gue yang dapet bunga itu," ucapnya dalam hati.


"Dia nggak angkat telepon gue," jawab Reyhan dingin.


"Lu kenapa? Lagi ada masalah?" Sinta mendekati Reyhan yang duduk cukup jauh darinya.


"Nggak papa gue duluan yah," kata Reyhan seraya berdiri seolah menghindarinya.


"Eeehh tunggu! Gue nebeng dong rumah kita kan searah," pintanya penuh harap.


"Sorry, gue nggak balik."


"Lalu? Lu mau kemana?" tanya Sinta dengan wajah kecewa.


"Ke kampungnya Hanna gue harus ketemu sama dia. Dia salah paham dengan kedekatan kita ini yang nggak lebih dari sekedar teman." ucapnya dengan seutas senyum yang dipaksakan lalu pergi.


Jleb. Sinta seolah tertohok.


"Bisa nggak lu liat gue Rey, sekali aja? Kosongkan ruang di hati lu buat gue. Jangan pernah memaksakan kehendak, karena itu bisa menyakiti hati lu sendiri. Seperti gue saat ini," batin Sinta.


Buliran air meluncur di kedua pipinya, melihat punggung pria itu semakin jauh meninggalkannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2