Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Cinta yang Terbiasa


__ADS_3

Di kejauhan Gio tampak memperhatikan mobil yang melaju perlahan meninggalkan parkiran kantor. Sejurus tadi, ia dibuat terpana melihat Sinta keluar kamar mandi dengan riasan tipis di wajahnya, serta baju yang begitu seksi memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Namun sayangnya, semua itu bukan untuknya. Gadis itu hanya melewatinya dan mengucapkan kalimat seperti biasanya.


"Byeee, gue duluan yaaa!"


Dengan high heels yang ia keluarkan dari lokernya, lalu memakai sepatu itu sambil berjalan melenggok menuju sebuah mobil. Mobil yang sangat jelas ia kenal.


"Mungkinkah mereka sudah menjalin hubungan?" tanyanya risau dalam hati.


Sementara di dalam mobil Reyhan dan Sinta hanya saling melirik canggung. Pria itu berusaha serilex mungkin mencairkan suasana. Meski hatinya terasa aneh berubah sikap drastis seperti ini.


Namun, ia terus mengikuti logikanya. Bahwa cinta akan hadir karena terbiasa.


“Kamu mau makan apa?” tanyanya melirik sekilas paha mulus Sinta yang sedikit terbuka.


“Apa aja gue ngikut,” jawab gadis itu tanpa menoleh.


“Atau ada tempat yang pengen kamu kunjungi bareng pasanganmu gitu?”


“Pasangan? Emang kita pasangan?” tanyanya menyeringai.


Ekor matanya melirik pria gempal di sampingnya.


“Ya ... anggep aja begitu. Kenapa, kamu nggak mau?"


"Mmm ... entahlah," jawabnya asal.


"Jadi, kita mau kemana nih?"


“Kemana aja terserah lu gue ngikut.”


“Ngikut kemana nih?”


“Kemana aja lu bawa,” sahutnya sembari melipat bibir.


“Cieee … beneran? Kalo aku bawa ke KUA gimana?”


“Apaan sih lu?” Sinta melengos melemparkan pandangan keluar jendela.


“Tadi katanya kemana aja ... aku serius.”


Tiba-tiba Reyhan menepikan mobilnya lalu mengubah posisi duduknya menghadap gadis itu.


“Mau nggak nikah sama aku?” tanyanya melihat lekat mata gadis di depannya.


“Iiihh apaan sih lu? Jalan Rey, nanti macet.”


Gadis itu celingukan melihat spion, meski mobil Reyhan sudah menepi tetap saja membuat lalu lintas sore yang padat itu sedikit tersendat.


“Jawab dulu donk, baru aku jalan.”


“Ya nggak disini juga kali, Rey!”


“Terus dimana? Rumah kamu? Atau rumahku?”


“Iiihh saraf ni orang! Ya kali lu ngelamar gue di tengah jalan gini? Seenggaknya di resto gitu, kasih gue bunga atau coklat atau apaan kek," Protesnya.


“Kan tadi aku nanya, mau makan apa? Mau kemana? Kamu jawabnya terserah aku. Lagian ini kan di pinggir jalan bukan di tengah,” elaknya menahan geli melihat ekspresi Sinta.


“Dan juga pertanyaan aku barusan akan menentukan kemana kita akan pergi,” ucapnya melihat dua bola hitam di mata gadis itu.


“Gue bakal jawab kalo kita udah sampe di tempat tujuan itu,” jawab gadis itu membalas tatapan Reyhan.


Pria itu tersenyum simpul lalu mulai melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


“Baiklah kalo itu yang kamu inginkan, pastikan jawaban itu sesuai dengan tempat yang akan kita tuju.”


Meski hatinya bergejolak tak karuan sinta berusaha menahan diri dan tetap bersikap biasa saja.


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan yang semakin ramai. Tetesan air hujan perlahan mengecil memberi kesempatan pejalan kaki untuk menyebrangi jalanan.


Beberapa lama kemudian mobil memasuki halaman sebuah rumah yang membuat mata Sinta membulat.


“Rey, ada yang ketinggalan yah ko mampir rumahmu dulu?” tanya gadis itu menyembunyikan rasa gugupnya.


“Nggak ada, emang aku mau ajak kamu kesini.” jawabnya polos.


Sinta mendadak salah tingkah ia menarik narik bajunya ke bawah lutut. Dan mengecek riasannya di kaca di depannya.


“So, apa jawabanmu?”


“Apa yang ingin kamu dengar?”


“Aku tak ingin apa yang aku dengar, tapi apa yang kamu katakan.”


“Kamu menanyakan hal yang sudah pasti tau jawabannya, bukankah itu tidak fair?”


“Kalo aku tau jawabannya nggak mungkin aku nanya!” sahut Reyhan mengacak-acak gemas rambut Sinta.


“Aku ulang sekali lagi, mau nggak nikah sama aku?”


Gadis itu menunduk menyembunyikan debaran hatinya dan wajahnya yang merona.


“Aku mau,” jawabnya kemudian masih dengan tertunduk.


Reyhan memegang lembut dagu gadis itu dan mengangkatnya perlahan.


“Aku akan mengenalkanmu pada orang tuaku sebagai calon istri, kamu setuju?”


Dia hanya mengangguk dan tersipu malu.


“Ma, Pa, kenalin ini Sinta. Dia calon istriku,” ucapnya ketika semuanya sudah berkumpul di ruang tamu.


Sang ibu tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya, matanya berkaca-kaca ia tak menyangka anak lelakinya itu bisa mengambil keputusan secepat ini.


“Alhamdulilah,” sahut keduanya bersamaan.


Sinta menundukkan kepalanya lalu mencium takjim punggung tangan kedua orang itu.


“Saya Sinta Om, Tante,” sapanya ramah.


“Sepertinya kita pernah bertemu yah?” tanya ibunya Reyhan menelisik wajah calon menantunya itu.


“Hehe iya Tante, saya teman lama Reyhan."


“Jodoh emang nggak kemana yah,” celetuk sang papa dengan senyum sumringah.


“Seperti ini lebih baik, dari pada aku terus terusan mikirin kamu Hanna. Setidaknya mama dan papa sangat bahagia dengan keputusan ini. Lagi pula hal ini yang kamu inginkan bukan? Aku akan berusaha mencintai Sinta dan melupakan semua tentang kita.” Kata Reyhan dalam hati.


“Allah sengaja melepaskan yang buruk, agar yang baik mempunyai kesempatan untuk datang.”sambung lelaki setengah baya itu.


“Dia tidak buruk pa, hanya saja takdir berkata lain.”


Reyhan reflek membalas ucapan papanya, ia tak terima jika Hanna dinilai buruk di mata mereka. Tanpa sadar membuat suasana berubah canggung. Sinta menundukkan kepalanya, semakin yakin jika pria di sampingnya itu belum mampu sepenuhnya pulih dari luka hatinya.


“Iya maksud papa pada akhirnya kamu menemukan yang baik, yang pantas bersanding denganmu.”


“Dia juga bukan tidak pantas ….”


“Reyhaan, jadi kapan kamu akan melamar gadis ini?"

__ADS_1


Sang mama dengan cepat memotong kalimat Reyhan sebelum lebih jauh lagi merusak suasana baik itu.


Pria itu tersadar, jika sedari tadi ia hampir tersulut emosi dengan ucapan sang papa. Lalu dia menghela napas panjang kembali meluruskan niatnya.


“Tergantung Sinta, kapanpun Reyhan siap. Sekarang juga siap,” jawabnya sembari menoleh pada gadis di sampingnya itu.


“Ngebet banget kaya kejar target," seloroh Sinta.


"Aku bicara pada orang tuaku dulu yah, nanti yang ada mereka kaget tiba-tiba kamu dateng ngelamar.” ucapnya kemudian.


“Mmm baiklah, kalo gitu yuk kita jalan!” ajaknya beranjak dari tempat duduk.


“Loh, kalian mau kemana? Baru aja dateng," tanya papanya Reyhan.


“Kita mau cari makan, mama sama papa mau ikut?” ajaknya.


“Ooh ya udah, enggak ah, kalian aja. Pulangnya jangan malam-malam yah kasian Sinta, nggak enak sama orang tuanya juga kan.” kata mamanya memegang lembut pundak gadis di sampingnya.


“Oke siap, kami pamit dulu yah.”


Mereka berdua pun bersalaman dan kembali masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan mereka saling terdiam. Sinta masih memikirkan ucapan Reyhan tadi. Pikirannya terus berkelana menduga-duga isi hati pria itu.


“Apa aku jadi tempat pelampiasanmu sekarang?” tanyanya kemudian sedikit kesal.


“Kamu merasa seperti itu? Ingat, apa yang kamu pikirkan akan terus menjadi sugesti yang seolah itu kenyataan, padahal belum tentu terjadi.”


“Tapi, mendengar ucapanmu tadi yang tak terima dia dibicarakan. Membuatku berpikir bahwa wanita itu masih menjadi yang spesial di hatimu.”


“Jika dia masih spesial nggak mungkin aku menginginkanmu. Bukankah kamu pernah bilang memberikan kesempatan untuk kita bersama meski hanya 30 hari?"


"Saat ini aku bahkan berharap 30 tahun lagi kita akan tetap bersama," lanjutnya melirik wajah gadis itu yang berubah ronanya.


Sinta tak dapat lagi berkata-kata, ucapan Reyhan barusan mampu membius rasa cemburu yang sejenak tadi mengusik hatinya.


Tak lama kemudian mobil mereka sampai di sebuah parkiran restoran mewah. Sejenak gadis itu kembali terhenyak, sekilas bayangan kebersamaan terlintas di benaknya. Dia pernah kesini bersama Hanna dan juga karyawan lainnya ditraktir Pak Chandra kala itu.


Saat itu dia merasa bahagia sekali karena jarang bisa datang ke restoran mewah. Mereka serentak bicara perbaikan gizi sambil terbahak meledek satu sama lain.


“Boleh kita cari tempat lain?” pintanya.


Ia tak menyangka kedatangan kedua kalinya malah membuatnya tak ingin masuk ke sana. Mendadak bayangan Hanna menghantuinya ia seolah merasa bersalah pada wanita itu.


Reyhan pun menghela napas panjang, ia ingat betul Hanna pernah bercerita makan-makan di sini bersama semua karyawan. Karena tempat ini memang satu-satunya tempat mewah di sekitar kantornya.


Tapi ia sama sekali tidak bermaksud mengingatkan Sinta akan kenangan itu. Yang ia pikirkan adalah restoran mewah dan romantis.


“Oke, kamu yang pilih yah,” jawabnya kemudian seraya menjalankan kembali mobilnya.


“Makan baso aja yuk, kayanya enak deh ujan-ujan gini makan yang anget.”


“Emang deket aku kurang hangat yah?” ledeknya.


“Idiiihh mesum!”


“Yee, siapa yang mesum? Kan aku nanya itu,” elaknya.


Lalu mereka tertawa bersama mencairkan suasana yang sejurus tadi terasa menegangkan.


Karena seringnya mereka bersama membuat keduanya seolah terikat cemistry kuat. Obrolan apa pun nyambung meski sedikit canggung, dengan topik yang berubah serius.


Selang beberapa menit ponsel Reyhan berdering, ia meraih handsfree dan mengaitkan ke telinga kanannya.


"Ya, halo kenapa bi?"

__ADS_1


Seketika ia menginjak rem dan menepikan mobilnya cepat. Raut wajahnya berubah serius mendengarkan lawan bicaranya di sebrang telepon.


Bersambung...


__ADS_2