Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Terjebak Keduakalinya


__ADS_3

"Tambah satu botol lagi, Bang!" teriak seorang lelaki terhuyung memakai kemeja biru dengan dasi senada yang sudah terkulai acak-acakan.


"Satu atau dua, Bung?" tanya seorang bartender dengan kumis panjang itu.


"Satu! Lu nggak denger gue ngomong?" bentaknya menggebrak meja.


"Woi, kalem Bos! Itu tangan lu ngacung duo beg*!" sentak pria tubuh tinggi besar di sampingnya.


Lelaki itu meraba jarinya dan benar saja dua jari ia acungkan.


"Oh iya yah, Hahaha sorry!" Tawanya meledak sambil terus menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik.


Satu botol alkohol serta gelas berisikan es batu telah terhidang di meja. Ia mulai menuangkan setengah gelas dan menenggaknya. Wajahnya meringis menahan pahitnya alkohol yang masuk tenggorokannya.


"Hanna, kamu sudah mengingkari janji. Memang aku yang salah, tapi kenapa kau tak beri kesempatan sekali lagi?" gumamnya dalam hati.


Dia terus menenggak minuman masuk ke dalam perutnya, entah sudah berapa gelas ia habiskan. Kini, kepalanya terasa sakit perutnya mual dan darahnya terasa mendidih membuat panas tubuhnya.


Hendi memang jarang sekali menenggak alkohol, apalagi sampai mabuk. Biasanya jika dinner dengan partner bisnisnya paling hanya minum satu dua gelas, untuk sekedar menghormati lawan bicaranya.


Tapi, kali ini berbeda pikirannya kacau dan hatinya berkecamuk. Wanita yang menjadi harapannya semakin jauh untuk diraih. Sementara wanita yang tak disangka-sangka akan hadir kembali di kehidupannya, kini malah menjadi istri sahnya.


Seorang wanita seksi yang sedari tadi memperhatikannya berjalan mendekat. Ia membelai lembut punggung lelaki itu, seraya berkata. "Hai tampan, sendirian aja?" godanya melirik nakal memamerkan bibir sensualnya.


Hendi menoleh, matanya yang sudah sayu menahan pening kepala membuat pandangannya kabur. Berulang kali ia menyipitkan matanya lalu menguceknya.


"Hannaa," gumamnya meraba pipi mulus wanita di depannya itu dengan pandangan mendamba.


"Rupanya pria ini berhalusinasi, sepertinya dia orang kaya dilihat dari merk jam tangan dan sepatunya. Buruan besar ini," bisik perempuan itu kegirangan dalam hati.


"Aku temani yah," ujarnya sembari menuangkan minuman itu kedalam gelas.


Hendi hanya mengangguk dengan mata berbinar menatap perempuan itu. Gaun malam berwarna merah dengan belahan dada hampir sampai di perut itu, menantang lelaki yang tengah mabuk berat di sampingnya.


"Kamu seksi sekali, Hanna." bisiknya mendesah di telinga wanita itu.


"Aku bisa lebih seksi lagi dari ini sayang, mau?" balasnya kembali membisiki telingan Hendi dengan ******* manja.


Reflek tangan lelaki itu meraba gundukan besar yang menyembul itu, "Aaahhhh," desah sang penggoda. "jangan di sini sayang, kita cari tempat yang nyaman yuk." ajaknya seraya mengedipkan mata.


Tanpa pikir panjang Hendi beranjak dari duduknya, ia menenggak minuman langsung dari botolnya sampai habis sehingga tubuh lemasnya tersungkur ke lantai. Karena matanya terus menatap wanita di sampingnya.


Pria itu bangun kembali dan melenggang hendak meninggalkan meja, tak lama seorang pria tinggi besar yang mengawasinya segera menghampiri.


"Mau kemana? Bayar dulu, Bung!" serunya mencengkeram kerah bajunya.


"Hahaaha, selow bos. Gue bayar ko, berapa hah?" teriaknya menyaingi musik yang sangat kencang itu.

__ADS_1


Pria bartender itu menyerahkan struk kertas yang bertuliskan 2.2 juta. Lalu, dengan cepat Hendi mengambil dompet dan wanita itu sibuk melirik isinya.


"Waahh dompetnya tebal sekali beneran kakap ini," gumamnya sembari menelisik penampilan pria di sampingnya itu.


Dengan tubuh terhuyung Hendi menyerahkan sebuah kartu gold.


"Silahkan pin-nya," ucap lelaki itu menyerahkan mesin edc ke hadapan Hendi, yang tengah menopang kepalanya yang berat seraya memandang wanita seksi itu.


"Kamu tau nggak? Pin-nya itu hari jadi kita," ujar Hendi tersenyum lebar dengan mata menyipit.


"Oh-iya, kamu masih ingat rupanya." jawab wanita itu dengan senyum dipaksakan.


Setelah ia membayar tagihannya mereka berdua pun meninggalkan bar yang semakin ramai pengunjung itu. Langkah kaki Hendi terseok dengan kepala terhuyung ke depan, rupanya ia mabuk berat. Wanita itu pun memapah tubuh kekarnya dengan pelan.


"Ah, sial! Berat banget lagi. Awas aja kalo sampe nggak tajir ni orang!" gumamnya dalam hati.


Hendi mengalungkan tangan ke leher wanita itu, menuju mobil. Ia meraba saku celananya mengambil kunci. Sedetik kemudian suara alarm dari salah satu deretan mobil berbunyi.


"Itu sayang mobil kita ayo cari tempat yang indaahh aku udah nggak sabar," desahnya di telinga wanita yang terlihat kesusahan menahan berat tubuh Hendi itu.


"Wow, mobilnya bagus banget!" pekiknya dalam hati.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan tentunya wanita itu yang duduk di belakang kemudi.


"Biar aku yang nyetir yah?" Tanpa menunggu jawaban dia menjalankan mobilnya menuju sebuah hotel.


***


"Aaaww," desahnya saat Hendi mencumbu tubuh wanita di atasnya.


Dengan sigap dia membalikkan tubuh itu ke kasur, melepas paksa pakaian wanita yang sudah menantangnya sedari tadi. Bibirnya melahap mulut merah itu dengan ganas. Sedangkan tangannya bergerilya menelusuri inci demi inci tubuh putih mulusnya.


"Hannaaa tubuhmu harum sekali," bisiknya merasa semakin terangsang dengan aroma dari tubuh yang berada di bawahnya.


Aksinya berselancar menuju leher dan dua benda kenyal yang menyembul. Tangannya jangan ditanya lagi, dia sudah berhasil menembus hutan belantara. Tak lama Hendi bersiap memompa balon di depannya itu dengan senjata tumpulnya.


Permainan agresif itu berlangsung cukup lama, alkohol yang membius Hendi membuatnya lupa diri sampai mengira wanita panggilan itu adalah seorang Hanna.


Hingga akhir atraksi itu selesai dia masih belum sadar, justru matanya malah terpejam menikmati rasa yang baru saja diteguknya.


Mereka pun akhirnya tertidur tanpa sehelai benang pun.


***


Keesokan harinya Hendi terperanjat mendapati dirinya tanpa pakaian, ia melirik sosok yang membelakanginya.


Punggung itu jelas bukan milik Hanna, meskipun ia belum pernah melihat wanita itu naked tapi tidak sepanjang itu. Juga bukan milik Siska, meski hanya sekali tapi ia bisa membedakannya.

__ADS_1


"Si-siapa kamu?" tanyanya terbata.


Wanita itu membalikkan tubuhnya, ia menurunkan selimut yang tadi menutupinya. Terlihat pemandangan gunung everest dan hutan belantara di bawah sana.


"Apa-apaan kamu?" Hendi membulatkan bola matanya ia lantas melempar selimut pada wanita itu.


"Kenapa? Bukankah semalam kamu menikmatinya?" godanya.


"Aku? Bersamamu?"


"Bukan,"


Hendi semakin tak mengerti, ia berusaha keras mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi, kepalanya malah sakit dan perutnya terasa masih mual.


"Bukan aku, tapi bersama Hanna ini. Wanita yang terus kau sebut semalam," ujarnya seraya kembali membuka selimutnya.


Lelaki itu semakin terkejut dengan bola mata yang kembali membulat. Tapi, ia merasa tidak kuat lagi menahan isi perutnya yang hendak keluar, segera berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan semuanya.


Setelah cukup lega, ia mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Hendiii, lu udah gila yah! Bisa-bisanya tidur dengan wanita nggak jelas!" pekiknya sambil memukul-mukul dinding kamar mandi.


"Brengseeeekkk! Dia pasti wanita pelacur di bar semalam!" umpatnya lagi.


Selang beberapa menit ia keluar dari kamar mandi, mendapati wanita itu sudah memakai pakaiannya.


"Tulis nomor rekening dan nominalnya di sana, dan tolong setelah kau keluar dari kamar ini tinggalkan semua ingatan semalam. Jangan sampai dibawa keluar, bisa?"


"Berarti dua hal yang harus dibayar di sini. Genjotan semalam dan juga biaya tutup mulut," ucapnya sembari memperagakan gaya tutup mulut di bibirnya.


"Terserah kau!"


Tak berselang lama wanita itu mendekat, menyerahkan kertas lalu dengan jail membuka handuk Hendi dan menyesap cepat juniornya di sana.


"Hei! Apa-apaan kamu? Lepaskan!" perintahnya mendorong pelan kepala wanita itu dan beringsut menjauh. Ia merasa jijik jika mengingat profesinya sebagai penggoda. Tapi juga berdesir, merasakan mulut hangat menyentuh juniornya tadi.


"Halah, muna. Semalem aja begitu memujaku," ledeknya.


Hendi mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dan segera mentransfer sejumlah uang yang diminta wanita itu.


"Silahkan dicek dan cepat pergi dari sini!" hardiknya.


Wanita itu mengecek ponselnya dengan senyum kegirangan, mulutnya menganga saat melihat angka yang tertera di layar ponselnya.


"Makasih Koko ganteng lain kali kalo kangen Hanna lagi temui aku di sana yah," godanya dengan memonyongkan bibirnya yang membuat Hendi bergidik geli.


Setelah wanita itu keluar Hendi tak henti-hentinya mengumpat kesal. Berulang kali ia mondar mandir dan memukul dinding kamar hingga punggung tangannya lecet.

__ADS_1


"Pernikahan Hanna dan Reyhan tidak boleh terjadi! Liat aja apa yang bakal gue lakuin," ancamnya dengan gigi gemerutuk menahan amarah.


Bersambung...


__ADS_2