Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Pengorbanan


__ADS_3

Ansell menarik tangan Zea ke kamar depan, saat keduanya telah selesai menidurkan anak-anaknya. Tempat dimana dulu saling bercengkrama, memadu kasih hingga berbagai pertengkaran hebat.


Zea terkejut dan matanya terbelalak saat bibir lembut lelaki itu mengecupnya pelan. Menyandarkannya di belakang pintu kamar. Sesaat bibir mereka saling terpagut, meluapkan rasa rindu yang bertahun lamanya tertahan. Napasnya memburu saat memapah tubuh sintal itu menuju ranjang.


Masih dengan posisi bibir yang saling terpaut, Ansell mendorong pelan tubuh Zea ke atas kasur. Darahnya berdesir saat kecupan itu menuruni leher mulusnya, terus menuju gundukan kembar yang sudah menantang sedari tadi.


Tangannya membuka kancing baju satu per satu, lalu meraba dan meremas yang di dalamnya. Membuat wanita itu berdesah dan menggeliat menahan serangan agresif dari mantan suaminya itu.


"Aaahhh," desahnya. Tanpa sadar mulutnya terus meracau, dengan tangan memegang kepala Ansell kuat menelungkupkan ke dadanya.


Pria itu pun semakin berani, jiwa yang haus akan belaian menggeliat ganas. Nafsunya sudah berada di puncak tak sabar untuk menguasai permainan. Saat keduanya sudah melepaskan pakaian, Ansell pun bersiap untuk menembus benteng pertahanan terakhir milik Zea.


Tiba-tiba wanita itu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. "Hentikan Ansell," pintanya pelan seraya memejamkan matanya.


Lelaki yang sedetik tadi terpacu nafsu, mendadak diam mematung memandangi tubuh mulus yang telah terbungkus selimut itu.


"Nikahin aku dulu, dengan syarat yang kukatakan tadi siang." ucapnya.


Flashback on


"Aku mau kita kembali seperti dulu," ucap Ansell. Tangannya perlahan meraba jari Zea.


"Seperti dulu? Maksudnya saat rumah tangga kita diganggu pelakor?"


"Jangan bahas hal itu lagi, aku janji akan menjadi lebih baik,"


"Bisa hidup tanpa bayangan wanita itu?"


"Tentu saja, aku ingin memulai semuanya kembali. Menebus waktu dan kesalahanku padamu juga anak-anak kita."


Zea terdiam, matanya memandang dalam sorot lelaki itu ia mencari kejujuran juga keyakinan di sana.


"Entahlah, apakah bisa kita melakukannya."


"Pasti bisa jika kamu memberikan satu kesempatan lagi," ucapnya memandang tulus mata Zea.


Tiba-tiba anak mereka berlari kearahnya, membuyarkan obrolan serius yang tengah berlangsung.


"Papaaa!" teriak keduanya berbarengan.


"Hai sayang, sudah selesai bermainnya?"


"Beluum, ayo kita berenang bersama." pinta si sulung sambil menarik tangan papa dan mamanya.


"Mba, tolong bayarin pesenan saya yah ini uangnya. Mbanya juga makan dulu aja," perintah Ansell pada pengasuh kedua anaknya.


Zea memandang lembut Ansell, "Dia memang lelaki yang baik. Mungkin itu kesalahanku karena ikut program kb saat baru menikah. Sehingga membutuhkan waktu lama untuk bisa mendapatkan anak. Dan akhirnya dia tergoda wanita lain," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


Mereka pun berenang bersama, bercanda ria dan tertawa penuh kebahagiaan.


Falshback off


"Syarat apa?" Ansell menelan salivanya berusaha menahan napasnya yang tercekat. Tangannya mengusap wajahnya, kepalanya mendadak pening karena atraksi seru yang tiba-tiba berhenti.


"Soal wanita itu," jawabnya seraya memalingkan wajahnya.


"Zea, dengerin aku. Semoga ini terakhir kalinya kita bahas dia yah. Aku ingin serius dan benar-benar serius dengan kamu dan juga anak-anak. Aku nggak mau sampe mengorbankan kalian lagi demi kebahagiaanku saja."


"Aku memang salah, membiarkan orang lain masuk ke dalam hati ini. Tapi aku janji mulai sekarang akan menutupnya rapat dan hanya kamu di dalam sana," lanjutnya memegang pundak wanita itu.


"Bisa kupegang kata-katamu?" tanya Zea dengan sorot mata penuh harap.


"Bisa. Dan tolong, jangan pernah sekalipun bahas dia di depanku. Itu masa lalu yang ingin kulupakan," pintanya menggenggam jari Zea.


"Kenapa dengan wanita itu? Apa Ansell ditolak lagi?" tanyanya dalam hati


"Kamu mau kan meninggalkan semua masa lalu, memaafkan dan memulai semuanya kembali?"


"Tidak mau memulai, tapi melanjutkan apa yang sempat tertunda."


"Termasuk ini?" tanyanya lalu menarik selimut itu dan menubruk tubuh bugil di depannya.


"Tidak Ansell! Kumohon, jangan lakukan itu." Zea menjauh dan memungut bajunya kembali.


"Sabar yah, maafkan aku tadi a-aku terbawa suasana. Setelah kita halal kembali akan kuberikan semuanya ditambah bonus plus plus semalaman, yah sayang." ujarnya seraya memakai semua pakaiannya.


"Baiklah, aku akan segera mengurus semuanya. Ini pegang kartu atmku, belilah baju seksi yang baru yang paling menggoda."


"Baju itu kan masih banyak Sell, dulu tiap bulan kamu beliin kan?"


"Cari model lainlah yang terbaru, oke?" Kedipan maut membuat Zea terpana. Meski sudah bertahun lamanya bersama, lelaki itu masih saja tampan. Dengan hidung mancung, mata sipit dan tubuh kekar.


"Sekalian buat belanja bulanan juga. Mungkin mulai bulan depan aku sudah akan tinggal di sini."


"Pede banget,"


"Loh? Nggak boleh? Ya udah aku paksa!" Ansell mendorong tubuh Zea ke kasur.


"Aaahhhh, iya-iya cukup Sell." jerit Zea berusaha bangun dan segera menjauh.


Ansell hanya tersenyum meledek, melihat ketakutan Zea.


"Ya sudah, aku pamit pulang yah."


"Iya, hati-hati di jalan dan ... makasih," ucap Zea menunjukkan kartu atm milik Ansell.

__ADS_1


"Nggak usah makasih, itu udah kewajibanku. Pokoknya mulai sekarang, aku akan bekerja lebih giat lagi untuk membahagiakan kalian." pria itu memeluk erat Zea, cukup lama keduanya hanyut dalam dekapan satu sama lain.


"Ya udah sana, keburu malem."


"Baiklah," Ansell keluar kamar disusul Zea dari belakang. Keduanya celingukan takut kepergok asistennya.


"Si mba kemana?" tanya Ansell.


"Kayanya udah tidur deh," jawab Zea melihat lagi sekeliling.


Ansell kembali mendaratkan ciuman di bibir Zea, "iihh kamu! Kalo ada yang liat gimana?"


"Katanya udah pada tidur,"


"Ya kan aku juga nggak tau."


Tiba-tiba pintu kamar anak mereka terbuka, keduanya terperanjat melihat sang asisten keluar dari sana.


"Eh, mba belum tidur?" sapa Ansell gugup karena ia dan Zea berdiri cukup dekat.


"Belum Pak, Bu, tadi anak-anak nangis kecapean kayanya?"


"Nangis?" Zea masuk kamar kedua anaknya disusul Ansell untuk memeriksanya.


"Ko kita nggak denger mereka nangis ya?" tanyanya pelan pada Ansell.


"Kayanya pas waktu adegan seru tadi deh, coba kalo diteruskan. Tanggung kan kasian si cowo," jawabnya meledek.


"Iihh, kamu apaan sih?" Zea menyenggol lengan Ansell yang cengengesan itu.


"Udah sana, nanti mereka bangun!" Wanita itu mendorong tubuh Ansell.


Asistennya tersenyum geli melihat mereka berdua. "Duuhh, yang lagi kasmaran lagi. Dimanapun tak berhenti bercengkrama," bisiknya dalam hati.


Akhirnya Ansell pun menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang, ditemani Zea sampai di halaman.


"Love you," ucap Ansell.


"Love you too," Pipi Zea terlihat memerah di bawah pijaran lampu.


Rembulan bersinar dengan terangnya di langit malam, cahayanya menyinari seisi hati yang kembali berpijar setelah sekian lama kelabu.


"Aku harus bisa melupakan Hanna, akan terasa menyakitkan jika terus kupaksakan perasaanku padanya. Dia pun sudah memilih orang lain. Kisah itu hanya ada di masa lalu, kita memang pernah ditakdirkan bersatu, meski hanya sesaat. Akan kututup rapat dan kusimpan sendiri, cukup untukku sendiri. Selamat berbahagia, Hanna. Semoga kamu memaafkan dan melupakan dendammu padaku," gumam Ansell dalam hati.


Mobil pun melaju dengan kencang meninggalkan rumah Zea, rumah yang sebentar lagi akan diisi kebahagiaan. Menyatukan kembali kepingan puzzle yang sempat salah tersusun. Meski keduanya harus menekan rasa sakit masa lalu, tapi masa depan lebih berharga untuk sekedar keegoisan.


"Ansell, sebenarnya kamu jahat, setelah ditolak olehnya kini kembali padaku. Berkata-kata manis dan janji indah tersusun sempurna. Aku merasa tak punya harga diri, dengan menerimamu kembali. Tapi, ada masa depan anak-anak yang kukorbankan jika menolakmu. Dan aku tak sanggup lagi, jika harus membuat mereka bersedih dengan terus menanyakanmu. Biarlah, rasa sakit ini kuobati sendiri. Dan aku berharap, kita tidak akan kembali melakukan kesalahan yang sama." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Setidaknya ini yang bisa mama lakukan demi kebahagiaan kalian, nak. Sesuai janji mama, membawa papa kalian kembali. Kita akan bahagia sama-sama lagi yah, sayang." Zea mengelus rambut kedua anaknya bergantian.


Bersambung...


__ADS_2