
"Laki-laki tua ini tak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi dan juga tidak pernah memaksa pilihan hidup kalian sebelumnya."
Martin menarik napas dalam, menatap satu persatu semua anaknya yang sengaja ia kumpulkan setelah makan malam di ruang keluarga termasuk Hanna menantunya.
"Akan tetapi, semakin dibiarkan arah yang kalian tuju sangat jauh dari yang seharusnya diraih. Daddy pikir inilah saatnya sebelum terlambat," lanjutnya.
"Daddy pliiss, pria hebat ini akan berumur sangaaaaaatt panjang percaya padaku," oceh David anak bungsu mereka yang selalu tampil ceria, ia bangkit dari duduknya menuju kursi Martin dan memijat pundaknya lembut.
"Tidak ada yang tau batas usia yang ditetapkan Tuhan untuk kita semua," jawabnya melirik Michael yang juga tengah melihat ke arahnya.
"Langsung ke intinya aja, Daddy mau bicara apa?" Michael mulai tak sabar melihat gelagat sang ayah.
Terlebih, Hanna juga duduk di sampingnya membuatnya tak nyaman. Pernikahan sakral yang masih terasa palsu itu terus mengganggu pikirannya, juga permintaan-permintaan aneh dari istrinya itu mulai meresahkan.
"Berikan penerus untuk keluarga Delopez," katanya menatap tajam anak sulungnya itu.
Bola mata Michael dan Hanna membulat, mereka tampak saling berpandangan sejenak dan kemudian mengalihkan tatapannya ke segala arah.
"Dad, menikah dengannya saja sudah membuat harga diriku turun. Apalagi memiliki anak darinya. Tidak!" kata Michael tegas melirik sang istri.
Hanna hanya tertunduk mendengarnya. Mendadak hatinya sakit dan merasa terhina.
"Laura, persiapkan dirimu bulan depan keluarga Santiago akan melamarmu untuk anak tunggalnya."
Martin melanjutkan ultimatum-nya tanpa menghiraukan protes dari anak pertamanya itu.
Gadis itu terperanjat sesaat, sejurus kemudian tertunduk pasrah. Di antara ketiga anak Martin, Lauralah yang paling penurut.
"Dan kau David, sudah saatnya kembali. Fokuslah pada masa depan dan bantu urus perusahaan di sana setelah menyelesaikan studi-mu," katanya melihat anak bungsunya yang kini sudah duduk kembali ke kursinya.
"Sebenarnya David lebih suka di sini, tapi kalo keinginan Daddy seperti itu apa boleh buat." ujarnya tak kalah pasrah dari sang kakak Laura ia meneguk kopi late kesukaannya.
"Dan kamu Hanna, bantu suamimu menjalankan perusahaan. Evaluasi dan awasi setiap kontrak yang masuk, apakah sudah sesuai prosedur atau ada beberapa partner yang mulai nakal."
"Baik, pak." jawabnya singkat masih tertunduk.
"Panggil saja Daddy sekarang kamu bagian dari keluarga ini," Matanya menatap penuh harap.
Tak lama kemudian pria tua itu memberi kode pada istrinya, untuk mendorongkan kursi rodanya menuju kamar.
Namun, David yang cekatan mengambil alih ia mendorong sang ayah menuju kamarnya di sebelah kamar Michael. Sejak Martin kembali dari rumah sakit, mereka memindahkan kamarnya ke lantai bawah supaya bisa mengurangi mobilitas sang ayah yang tak mungkin harus naik turun tangga.
Dan perihal kamar pengantin baru yang berada persis di sebelahnya, itu karna sang ayah yang meminta dia masih belum percaya pada Michael. Dia takut terjadi sesuatu di antara mereka.
"Sayang, wanita itu tidak pantas memberikan keturunan untuk keluarga ini. Lagi pula pernikahan mereka palsu kan? Sudah akhiri saja! Kita bisa carikan wanita baik dan berkelas yang setara dengan kita kan?" Belinda tak sabar membuka suara saat mereka sudah di dalam kamar.
__ADS_1
"Kita sudah memiliki segalanya, harta, jabatan, kedudukan sosial untuk apa memilih wanita yang setara dengan kita? Apa kau tidak berpikir, bisa saja wanita itu nantinya akan berambisi menguasai segalanya?" tolak sang suami.
"Kamu jangan lupa, wanita itu juga bisa saja berambisi dengan semua kemewahan di depan matanya."
"Tapi dia tak punya koneksi, sekalipun dia bisa menguasai semuanya dia tetap membutuhkan Michael. Dan aku pernah bersamanya beberapa tahun, cukup mengenal pribadinya."
"Panggil Michael ke sini," perintahnya pada sang istri.
"Terserahlah makin lama aku jadi makin tidak mengerti arah pikiranmu," ucap Belinda pasrah seraya bangkit menuju pintu.
Ia berjumpa anak sulungnya yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Daddy memanggilmu," ucapnya melihat sang anak lekat.
Anak yang sering kali membuat masalah saat kuliah, anak yang selalu berusaha ia tutupi berbagai kesalahannya. Kini, dia tak lagi dapat berbuat banyak atas kehidupan barunya.
"Mungkin Martin benar, inilah saatnya melepas mereka ke jalan hidupnya masing-masing," batinnya.
"Ada apa, Dad?" tanya Michael saat ia sudah berada di kamar sang ayah diikuti sang mama di belakang.
"Jika dalam waktu satu bulan ini istrimu belum juga hamil, David akan melanjutkan kuliah di sini. Dan ... bisa jadi dia juga akan ikut membantu di perusahaan," katanya tanpa menoleh melihat ke arah jendela.
"Dad, ini apa-apaan sih? Apa sih yang daddy kejar? Kenapa harus secepat itu? Dan kenapa harus dia?" protes Michael.
"Karna hanya dia yang dapat menghentikan sisi gelapmu. Hanya dia yang akan menerimamu apa adanya. Dan dengan kamu mempunyai istri dan anak, daddy berharap kamu akan lebih bertanggung jawab atas segala tindakanmu."
"Tapi aku ...."
"Daddy tak menerima alasan apa pun, silahkan keluar." tegasnya.
Michael mengepal tangannya kesal, lalu keluar dengan membanting pintu.
Kedua orang itu menghela napas dalam, mata Martin tampak berkaca-kaca setelah kepergian anaknya.
"Istirahatlah kamu sudah bekerja keras hari ini," ucap Belinda membantu suaminya berbaring di kasur.
"Apa caraku ini bisa berhasil?" tanyanya ragu menggenggam jemari sang istri.
"Kita lihat saja, apa wanita itu akan membawa pengaruh baik atau sebaliknya untuk Michael mau pun perusahaan."
"Ya benar, kita hanya bisa menunggu waktu menjawabnya."
***
Hanna termenung di kamarnya, sekelibat bayangan Reyhan muncul dibenaknya. Siang tadi ia melihat reaksi pemuda itu saat menerima surat undangan yang dibawakan Sinta dari kejauhan.
__ADS_1
"Sakitnya tak akan lama, Rey. Lambat laun kau pasti akan melupakanku, entah Sinta yang berhasil menggeser posisiku atau kau membuka hati untuk orang lain pada akhirnya, aku tak peduli. Selama itu bisa membuatmu bahagia aku ikut senang," kata Hanna dalam hati.
Dia sengaja melakukan itu untuk membuat pemuda itu mundur.
"Anda memutuskan kontrak dengan Yukka?"
Michael tiba-tiba muncul dari balik pintu, ia baru saja membaca email dari Hanna siang tadi.
"Iya, ada beberapa hal yang tidak sesuai kontrak."
"Apa? Bukankah dia perusahaan tempat anda bekerja sebelumnya? Dan kenapa tidak dibicarakan dulu dengan saya?"
"Maka dari itu, saya tau betul apa yang harus dilakukan."
"Saya tidak ingin ini akan berimbas pada perusahaan apalagi jika harus membayar denda," tegasnya.
"Anda tenang aja mereka yang akan mengembalikan dana nantinya," ucap Hanna yakin.
Michael melirik dengan ekor matanya ke arah Hanna yang tengah menghadap laptopnya. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Mulai besok saya akan ikut ke kantor tolong katakan pada orang-orangmu untuk menyiapkan ruangan," ucapnya tanpa menoleh.
"Jangan karena Daddy memercayaimu lalu kamu bertindak di luar kendaliku! Ingat, saya pemimpin perusahaan itu apa pun yang terjadi di sana harus diketahui dan disetujui olehku!" seru Michael kembali berdiri.
"Beliau bukan hanya percaya tapi menyuruhku untuk membantu dan mengawasi perusahaan. Anda tidak sadar arti dari mengawasi? Itu tandanya ayahmu belum bisa memercayaimu untuk menjalankan perusahaan itu sendiri," jelas Hanna menutup laptopnya.
"Lalu, anda pikir selama ini siapa yang menjalankan perusahaan? Membuatnya tetap stabil meski sang pemilik utama tak ada di sana?"
Hanna tak menjawab dia menuju ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Heh, saya belum selesai bicara!" protes Michael menarik selimut istrinya.
"Iya itu anda Pak Michael, tapi saya akan tetap ke kantor. Saya tidak mau hanya berdiam diri di rumah. Satu hal lagi, proyek di desa orang tua saya, biarkan saya yang urus semuanya. Besok anda siapkan saja dokumennya, akan beralih fungsi seperti apa bangunan itu. Atau memang hanya keisengan anda menggunakan dana perusahaan untuk memenuhi ego yang arogan itu."
Baru saja ia hendak menarik selimut kembali, kedua pundaknya dicengkram suaminya dan diseret menuju ranjang.
Michael teringat perkataan sang ayah saat dirinya hendak masuk ke dalam kamarnya tadi.
"Aaww! Lepas Michael!" teriaknya berusaha menepis tangan kekar suaminya.
Lalu pria itu mendorong tubuh Hanna ke kasur, merentangkan tangan istrinya ke atas. Tubuhnya sudah berada di atas wanita itu.
"Ternyata anda memang seperti ini, tak kenal takut. Inilah yang membuatku selalu penasaran, kebanyakan wanita akan bertekuk lutut padaku. Tapi, anda selalu menantang. Sekarang kita lihat sejauh mana kemampuanmu," katanya seraya membuka paksa baju Hanna.
"Lepaaaasss!" teriaknya.
__ADS_1
"Hei! Aku ini suamimu, jangan sampai Daddy dengar dan menuju kemari!" serunya membungkam mulut Hanna.
Bersambung...