Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Penjelasan Sang Dokter


__ADS_3

Suasana ruang rapat yang dingin itu sejenak hening. Beberapa orang fokus melihat pada sang presdir yang kembali dari istirahat panjangnya menuju kursinya yang berada paling depan.


Setelah ayahnya duduk di tempatnya ketiga anaknya beserta Hanna pun segera duduk pada kursi yang telah disediakan.


Martin menatap satu persatu karyawan di depannya, pandangannya seolah mencari seseorang. Hingga akhirnya ia bertanya setengah berbisik pada Michael.


"Ansell dimana?"


"Dia sedang cuti," jawab anaknya.


Pria bule yang berusia lebih dari setengah abad itu diam sejenak.


"Baiklah terima kasih pada semuanya yang sudah menyempatkan hadir di sini di tengah-tengah pekerjaan yang sedang menumpuk. Saya tak akan menyampaikan banyak hal, hanya beberapa poin saja yang memang perlu untuk diketahui semua staf dan karyawan Gemilang Grup." kata Martin memulai pembicaraan.


"Sebelumnya kalian mungkin sudah tahu bahwa selama saya tak ada di kantor, anak inilah yang memimpin menggantikan saya. Mulai hari itu hingga seterusnya dialah pemimpin perusahaan Gemilang Grup selanjutnya," ujarnya melihat pada Michael yang duduk di kursi pertama di dekatnya.


Tepukan riuh menggema di ruangan itu. Michael berdiri sedikit membungkukkan badannya kepada semua orang.


"Ya, dia adalah Michael Fernando Delopez anak pertama saya. Mohon bantuannya untuk memberi saran atau arahan padanya. Karena pengalamannya di dunia bisnis masih terbatas," lanjutnya.


"Dan ini adalah Laura Caroline Delopez yang menjabat di HRD dia adalah anak kedua saya. Dan yang itu anak ketiga David Frangky Delopez saat ini dia masih kuliah," sambungnya seraya menunjuk kursi ketiga lalu ia terlihat menarik napas dalam.


Ketiga anaknya duduk berurutan di satu sisi. Sementara Hanna dan ibu mertuanya duduk bersebelahan di sisi yang lainnya.


"Dan terakhir ini adalah Hanna Kartika menantu saya istri dari Michael. Sebagian mungkin sudah mengenalnya karena dia pernah bekerja di sini beberapa tahun yang lalu."


Terlihat beberapa orang melihat Hanna, wanita itu pun tersenyum seraya menundukkan kepalanya.


"Mohon bantuannya para senior," ucapnya kemudian seraya berdiri dan membungkukkan badannya.


"Waah, kami hampir tak mengenali Bu Hanna terlihat berbeda sekali." ucap seorang staf melempar senyum.


Hanna hanya tersenyum menanggapinya.


"Kali ini dia akan membantu Michael memimpin perusahaan dan selalu di sampingnya seperti dulu saat dia membantu saya," lanjut Martin.


Setelah perkenalan itu dilanjutkan dengan membahas berbagai permasalahan di dalam perusahaan. Semua staff yang berkepentingan mengutarakan pendapat dan ide mereka.


Selama hampir dua jam rapat berlangsung akhirnya selesai. Terlihat Martin di dorong keluar ruangan oleh David.


"Daddy belum sempat memeriksa laporan keuangan nanti lanjut di rumah kamu bawa saja dokumennya pulang yah," ucapnya pada Michael.


Pria itu tampak memegang kepalanya yang terasa pusing itu.


"Daddy baik-baik saja?" tanya Laura langsung memegang dahi sang ayah.


"Ya, kepala terasa sakit sekali," keluhnya berulang kali memejamkan matanya. Ia lalu melepas kaca mata dan mengelap kedua kacanya menggunakan syal yang dipakainya


"Kenapa tak membawa suster ke sini sih, Dad?" tanya Michael.


"Sudahlah, ayo kita pulang." ajaknya pada Belinda yang setia di sampingnya.


"Selama Mommy masih ada dan sehat tak perlu membawa suster," ujar sang ibu seraya mendorong kursi roda itu.


Ketiga anak mereka dan beberapa orang kepercayaan Martin pun mengantarkan dia sampai di lobi. Setelah berpamitan saling berjabat tangan dan memeluk pria tua itu pun dibantu memasuki mobil oleh supir pribadinya.

__ADS_1


"David juga pamit, Kak." Si bungsu bertubuh gempal itu menyalami kedua kakaknya dan berjalan menuju parkiran.


Michael celingukan mencari sosok mungil itu. Dia tak sadar istrinya sedari tadi tak ada di sampingnya.


Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 4 sore. Dia pun bergegas masuk ke dalam ruangannya.


Namun, wanita yang dicarinya tak ada di sana meja kerjanya kosong.


"Kemana dia? Jangan bilang kabur karena nggak mau ke rumah sakit," gerutunya sambil menyalakan ponselnya menekan nomor Agra asistennya.


"Apa Hanna terlihat keluar?" tanyanya.


Namun, belum saja pertanyaannya terjawab tiba-tiba pintu terbuka. Wanita itu berjalan menuju mejanya.


"Tidak ada, Tuan." jawab Agra.


"Baiklah, thanks." Ia segera menutup panggilannya.


"Dari mana saja kamu?"


"Saya dari toilet, kenapa?"


"Cepat bersiap, kita ke rumah sakit sekarang!"


"Untuk apa sih ke rumah sakit?"


Namun pertanyaan itu tak dijawab suaminya, pria itu langsung menyambar tas laptop dan dokumen lalu menyerahkannya pada Hanna.


"Bawa ini!" suruhnya.


Dia membaca sampul depannya yang bertuliskan laporan keuangan.


Hanna hanya melirik sinis kemudian mengambil tasnya.


Sepanjang perjalanan keduanya tampak terdiam. Hanna merasa malas sekali berdebat dengan suaminya itu. Entah apa yang akan dia perbuat kali ini, wanita itu tampak pasrah.


Hingga beberapa menit kemudian mobil itu sudah terparkir di halaman rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang kebidanan setelah Michael sudah mendaftar via online.


"Selamat sore Pak, Bu. Ada yang bisa dibantu?" tanya sang dokter dengan ramah.


Pria itu menyenggol lengan istrinya, yang disenggol malah diam saja dan mengerutkan kedua alis seraya meliriknya.


"Apa kalian baru menikah?"


"Iya dok," jawab mereka berbarengan.


"Jadi apa yang ingin ditanyakan?"


"Jadi begini dok, kira-kira ... Kb itu keakuratannya berapa persen?" Michael akhirnya buka suara.


"Kb apa yang dilakukan istri anda?"


"Suntik 1 bulan, dok." jawab Hanna melihat suaminya meliriknya tajam.


"Hhmm, sekitar 97-99% jika istri anda rutin melakukannya."

__ADS_1


"Tapi bisa kemungkinan terjadi kehamilan tidak dok selama proses kb?" tanya pria itu dengan mimik serius.


"Bisa jadi, perlu anda pahami tidak ada kb yang 100% bisa terhindar dari kehamilan. Namun, rata-rata kehamilan terjadi ya karena kesalahan si penggunanya. Misal, telat ngulang pada jadwal yang telah ditentukan. Atau sengaja melewatkam dosis yang seharusnya."


"Ada nggak dok cara atau obat untuk membatalkan suntikan kb itu?" tanyanya lagi.


"Seperti namanya suntik kb 1 bulan memiliki jangka waktu efektif selama 1 bulan untuk mencegah kehamilan. Akibat dampak modifikasi hormonalnya, seringkali bahkan efek kb suntik bisa bertahan lebih lama di tubuh usai penggunaannya dihentikan. Hingga berbulan-bulan atau bahkan sampai lebih dari 1 tahun pasca kb berhenti digunakan," jelas sang dokter.


"Jadi tidak ada cara untuk menghentikan hormon yang sudah disuntikan ya dok?"


"Sejauh ini belum ada cara definitif yang diketahui bisa menghilangkan efek kb ini. Tetapi, mungkin saya bisa meresepkan beberapa obat hormonal atau suplemen untuk membantu mendapatkan peluang lebih besar terjadinya kehamilan."


"Boleh dok," jawabnya singkat.


Michael melirik sang istri yang sedari tadi terdiam mendengarkan penjelasan dokter muda itu.


"Tapi perlu digaris bawahi ya, penggunaan obat ini tidak serta merta bisa langsung membuat istri anda hamil. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas karena efek kb itu akan bekerja selama 1 bulan dengan presentasi 99%."


"Tapi masih ada kemungkinan 1 persen kan dok untuk terjadinya kehamilan?"


"Mmm, iya bisa jadi tapi sangat jarang meskipun memang ada 6 dari 100 orang yang mengalaminya."


Michael terlihat manggut-manggut mendengarnya.


"Begini saja, sembari istri anda mengkonsumsi suplemen yang akan saya resepkan. Anda dan istri juga bisa menjaga pola hidup lebih sehat lagi. Seperti istirahat yang cukup, banyak makan makanan yang mengandung antioksidan seperti buah - buahan, biji-bijian, dan juga sayuran. Perbanyak olahraga, dan jauhi stres yang berlebihan. Tidak lupa, lakukan juga hubungan seksual secara teratur 2 hari sekali agar peluang kehamilan lebih besar."


Sontak kedua pasangan itu saling melirik satu sama lain, membuat sang dokter tersenyum geli.


"Wajar saja jika masih baru sering malu-malu, nanti kelamaan juga bakal terbiasa atau bahkan jadi kebiasaan yang bisa sehari sekali." godanya melirik keduanya yang terlihat semakin salah tingkah


"Baiklah dok, terima kasih banyak atas penjelasan dan sarannya. Kami permisi," kata Michael disusul istrinya di belakang.


"Kayanya mereka dijodohkan ya, dok." celetuk suster yang sedari tadi hanya memperhatikan kedua pasangan itu.


"Mungkin," jawab dokter itu sambil geleng-geleng kepala.


"Menikah itu harus menyatukan tujuan terlebih dahulu, menyusun masa depan bersama dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Sebelum kemudian menyatukan kehidupan dengan latar belakang yang berbeda," ucap sang dokter kepada perawatnya itu.


Tanpa sadar pembicaraan mereka sempat terdengar oleh kedua pasangan itu yang masih berdiri di depan pintu sedang membaca resep yang dituliskan dokter.


Namun, keduanya hanya saling terdiam larut dalam pikiran masing-masing. Kemudian berjalan menuju apotek untuk menebus obat itu.


Seraya menunggu obat Michael berjalan menuju kantin rumah sakit diikuti istrinya di belakang. Mereka memesan minuman, beberapa menit kemudian secangkir kopi dsn segelas es teh manis terhidang di meja.


"Kamu dengar kan penjelasan dokter?"


"Ya dengarlah saya punya telinga," jawabnya singkat seraya mengaduk es miliknya.


"Oke, saya anggap kita sepaham dalam hal ini. Perlu kamu ingat, kehamilan ini sangat penting bagi saya. Jadi, jangan sampai kau mengecewakanku!" gertaknya setengah berbisik di telinga sang istri.


"Perlu kamu ingat juga Tuan Michael, jangan sampai membuat istrimu ini stres. Karena itu juga akan berpengaruh pada hormon yang ada di tubuhku," katanya melirik sang suami.


"Dua hari sekali konyol sekali," batin Hanna.


"Bagaimana caranya aku bisa melakukan dua hari sekali? Apa aku harus memaksanya? Atau mengancamnya? Wanita ini juga sepertinya tak gentar dengan ancamanku. Ah rumit sekali," ucap Michael dalam hati.

__ADS_1


Tanpa sadar ia memijat pelipisnya yang terasa pusing itu.


Bersambung...


__ADS_2