
"Tuan ma-maafkan saya, ada sesuatu yang telah saya lewatkan tentang wanita itu," ujarnya terbata seraya tertunduk.
"Sudah kuduga, dari terakhir kau memberi informasi ada sesuatu yang aneh. Kau terlihat tidak percaya diri dan menyembunyikan sesuatu. Cepat katakan!" bentaknya berkacak pinggang.
"Wanita itu adalah gadis yang beberapa tahun lalu akan dijodohkan oleh Tuan Martin dengan anda."
"What? Dia?" tanya Michael tak percaya.
"I-iya tuan," Agra yang ketakutan mundur satu langkah bersiap menerima pukulan Michael.
"Semakin menarik. Daddy menjodohkanku dengan wanita seperti itu. Apa istimewanya dia?" tanyanya sinis melirik ruangan di belakangnya.
"Saya tidak tahu, Tuan. Yang saya dengar, dia cukup kompeten dalam perkerjaannya."
"Kau boleh pergi!" Michael berbalik hendak membuka pintu.
"Tapi, Tuan, bagaimana kalo wanita itu buka mulut tentang apa yang kita lakukan padanya?" Wajah Agra terlihat khawatir.
"Seperti biasa kau selalu punya cara kan untuk membuat hal itu tidak terjadi." Senyum devil terpampang di bibir eksotis pria itu.
Kemudian pintu ditutup kencang, Agra masih tertegun di tempatnya.
"Sori, acara kita jadi agak tersendat ya. Bagaimana kalo kita mulai tanpa basa basi, terima hukumanmu karena telah berani berurusan denganku."
"Dasar anak kecil!" seru Hanna tak gentar.
"Anak kecil? Kau belum merasakannya tapi kenapa sudah bicara anak kecil? Ini bahkan lebih dari yang kau bayangkan," kata Michael melirik dengan ujung matanya.
"Di dalam otak mesummu yang ternyata dangkal itu, juga masih tersimpan sifat anak kecil. Ada jutaan lebih manusia di bumi ini kenapa harus saya? Ada begitu banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan, kenapa suka banget ngurusin hidup orang? Terlebih hanya masalah sepele," kata Hanna panjang lebar.
Tiba-tiba Michael mendorong tubuh Hanna ke ranjang dan perlahan ia merangkak di atasnya.
"Tenang, aku hanya ingin memberimu pelajaran. Pelajaran yang akan kamu ingat untuk selamanya. Jadi, jika takdir mempertemukan kita kembali jaga sikap dan jangan buat kesalahan."
"Lepaskan saya!" Hanna mendorong keras tubuh tinggi besar yang sudah menindihinya itu.
Namun, tangan yang masih terikat itu dicengkram Michael kuat dan ditahan di atas kepalanya membuat Hanna tak dapat lagi berkutik.
"Liat saja, saya akan buat perhitungan dengan anda! Akan saya laporkan ke polisi perbuatan keji ini dan juga Tuan Martin!" teriak Hanna.
"Sayangnya Tuan Martin sedang tidak ada di Indonesia dan polisi akan berpihak pada yang beruntung. Jika kamu ingin menang, maka jadilah yang beruntung."
Pria itu menarik paksa blazer dan kemeja Hanna, hingga kancing bajunya berserakan dimana-mana. Terlihatlah dua benda kembar yang menyembul di sana.
Tubuh putih mulusnya sedetik membuat Michael terpana. Aroma yang keluar dari gunung itu membuatnya terlena ingin segera menyesap keduanya. Ia segera melepaskan pakaiannya, memperlihatkan dadanya yang bidang dan sixpack itu. Sayangnya Hanna yang ketakutan hanya busa memejamkan matanya.
"Tolooongggg!" teriak Hanna kencang membuat Michael tersadar. Air liur sudah menetes di sudut bibirnya.
"Kamu minta tolong sama siapa? Tak ada satu pun yang bisa menolongmu di sini. Jadi, mari kita nikmati tanpa harus ada kekerasan, bagaimana?"
"Tidak akan pernah! Lepaaaasss!" Hanna lagi-lagi berontak.
__ADS_1
Sekuat apapun Hanna meronta, laki-laki itu semakin kencang menghimpit tubuhnya. Air matanya jatuh menganak sungai di kedua pipinya. Hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan, akan terjadi dalam hidupnya. Bagai mimpi buruk yang membuatnya ingin cepat berlalu.
Belum sampai pria itu bergerilya menjelajahi setiap inci tubuh Hanna, kali ini suara pintu diketuk cukup keras dan berulang kali.
"Tuaaann! Gawat Tuaann!" teriak seseorang di luar sana.
"Brengseeekkk! Siapa?" teriaknya terbangun dari ranjang empuk itu.
Hanna sedikit bisa bernapas lega, sedari tadi ia memejamkan mata tak sanggup melihat kebiadaban ini. Dalam hatinya, marah, kesal, benci bercampur jadi satu.
"Sekalinya gue tiduran di ranjang mewah dan empuk, malah dalam situasi seperti ini. Sial bener!" keluh Hanna dalam hati.
"Ini Agra, Tuan!" teriak pemuda itu dari balik pintu.
Michael keluar dengan bertelanjang dada dan langsung meninju perut Agra kuat.
"Aaww," rintihnya seraya memegangi perutnya.
"Itu akibatnya berani menggangguku."
"Ma-maaf bos, tapi itu a-ada mobil Tuan Martin sedang menuju kemari," kata pria itu ketakutan.
"Apa? Daddy ke sini? Jangan ngaco kamu, mereka pasti mengabariku jika akan kembali ke Indonesia," kilah pria itu mencoba menenangkan hatinya.
"Sumpah bos! Kalo nggak percaya coba saja lihat," kata Agra meyakinkan.
"Sialan! Kacau semua! Cepat bereskan mereka dan juga dia, perintahnya.
"Ya Rabb, semoga ada keajaiban yang akan menolongku dari ketidakadilan ini." gumamnya di sela isak tangisnya.
Michael memasuki kamar dan memakai kembali bajunya, wajahnya tampak kesal dan diam tanpa kata. Dia pun tak menengok ke arah Hanna.
Sesaat dia memeriksa ponselnya dan mengusap wajahnya kasar. Semua itu tak luput dari penglihatan Hanna. Pria itu cukup tampan malah bisa dibilang sangat tampan. Wajar saja banyak wanita yang dengan mudahnya ditidurinya.
Mata birunya memperjelas kultur bulenya, dengan sedikit bulu halus di sekujur tubuhnya.
"Diam di sini!" ucapnya pada Hanna sambil menutup pintu.
"Sepertinya terjadi sesuatu, Alhamdulillah takdir memihak kepadaku." bisik Hanna dalam hati.
Pria itu diikuti Agra turun menuju lantai satu, dari kejauhan terlihat kedua orang tuanya sudah duduk di sofa.
Michael membenarkan posisi dasinya serta bajunya yang sedikit berantakan. Ia menyisir rambut coklatnya dengan jari-jari jenjangnya mencoba serilek mungkin.
"Daddy, Mommy?" serunya memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Hai sayang, kamu apa kabar?" tanya Mamanya Michael membalas pelukan sang anak sulung.
"Michael baik, Mom. Kenapa tidak mengabariku kalian datang?" tanyanya menyembunyikan risau di wajahnya memikirkan sosok wanita di kamar utama itu.
"Surprice! Perkembangan Daddymu sungguh sangat baik dan cepat, semangatnya untuk sembuh membuat proses pemulihan semakin lancar."
__ADS_1
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Daddynya.
"Michael ingin istirahat saja, Dad. Bosen di rumah," kilahnya.
"Si Agra mana sih, kenapa belum mengabariku?" gumamnya dalam hati melirik ujung tangga yang masih sepi.
"Kenapa kalian kesini nggak ke rumah saja? Biar Michael antar ke rumah yah?" tawarnya.
"Tidak, Mic. Daddy ingin menghirup udara segar di sini," tolaknya.
Michael hanya mengangguk-angguk dengan hati penuh cemas.
"Kabar perusahaan gimana? Apa kamu menemui kesulitan?"
"Sejauh ini belum, Dad. Orang-orang kepercayaan Daddy sangat kompeten di bidangnya masing-masing. Hanya ada beberapa saja yang tidak cocok dengan cara kerja yang Michael inginkan," jelasnya.
"Sudah-sudah, bicara kerjaannya nanti saja. Daddy harus istirahat dulu. Kalian kalo udah ngobrol perusahaan suka lupa waktu," Protes Belinda.
"Mommy benar, ya udah Daddy istirahat saja. Mari Michael antar," tawarnya dengan cekatan memegang tangan orang tuanya itu dan menuntunnya.
Sesampainya di jejeran kamar sang Daddy terus menuju kamar utama.
"Eemm, Dad maaf, Michael sedang pakai kamar utama jadi berantakan sekali. Daddy bisa pakai kamar ini aja yah?" ujarnya menunjuk salah satu kamar di depannya.
Kedua orang tuanya hanya mengangguk pelan. Ketika hendak membuka pintu tiba-tiba terdengar suara erangan dari dalam salah satu kamar.
Martin dan juga Belinda saling berpandangan heran.
"Suara apa itu, Mic?" tanya Mommynya berjalan ke arah suara.
"Bukan apa-apa, Mom. Itu suara televisi, tadi Michael sedang nonton." kilahnya.
"Oh, oke." Mereka kembali menuju pintu kamar tadi.
Namun suara itu semakin keras, seperti suara seseorang yang sedang dibekap.
Jantung Michael berdegup sangat kencang, dalam hati ia merutuk menyalahkan Agra yang masih belum bisa membereskan wanita itu.
"Tadi di luar juga Mommy lihat ada banyak pria bertubuh kekar, mereka sedang apa?"
Degh!
"Toloooonnggg!" teriak seseorang dari dalam kamar utama.
Sontak kedua orang tua itu tersentak, matanya melotot tajam saling pandang ke arah anaknya. Tatapan mereka tertuju pada kamar utama yang hanya selisih satu kamar saja.
"Michael!" teriak sang Daddy.
Wajahnya meminta penjelasan dari anak sulungnya itu.
Bersambung.
__ADS_1