Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Kisah Yang Berulang


__ADS_3

Beberapa jam kemudian sampailah Hanna di perusahaan gemilang group, ia langsung menuju ruangan Ansell setelah diintrogasi receptionis.


Dalam hati ia tak sanggup harus kembali bertemu pria itu, tapi pekerjaan menuntutnya untuk profesional.


"Hai hati, mari berdamailah untuk sejenak." ujarnya seraya memegangi dadanya. Detak jantungnya seolah hilang kendali, melaju makin cepat seiring semakin dekatnya jarak antar mantan pasangan itu.


Tok tok tok... Dia mengetuk pelan ruangan itu.


"Masuk!" teriak seseorang dari dalam.


Hanna memberanikan diri tampil serilek mungkin. Bertemu lelaki tampan, mantan suaminya yang sekarang menyandang status duda.


"Selamat pagi, Pak Ansel Arian Rendra." sapa Hanna ramah.


"Hei, Hanna! Pagi-pagi! Silahkan masuk," suruhnya seraya berdiri menyalami jandanya itu.


"Loh, pak Hendi mana?" tanyanya tak mendapati rivalnya di samping Hanna.


"Oh itu, kebetulan beliau sedang ada urusan mendadak jadi tidak bisa hadir. Tadi titip salam buat pak Ansell."


"Tumben sekali dia membiarkan kamu sendirian, Hanna?" tanya Ansell memasang wajah iba.


"Maaf pak Ansell, bisa kita lebih profesional lagi?"


"Oh iya, sori! Mari kita mulai dari laporan keuangan dulu." Ucapnya seraya membuka berkas yang disodorkan Hanna.


Beberapa menit kemudian, mereka sibuk membahas terkait kerja sama mereka yang sudah berjalan itu. Meski berulang kali Ansell mencuri pandang, Hanna tetap bersikap cuek dan hanya membahas soal pekerjaan.


"Haruskah aku sampaikan apa yang kulihat waktu itu? Kira-kira dia udah tau belum yah?" tanya Ansell dalam hati.


Satu jam berlalu, mereka tampak sudah menyelesaikan semuanya.


"Tolong nanti kamu kirim fax aja dokumen yang kurangnya yah, nggak mungkin kan bolak balik kesini? Atau mau tetap diantarkan?"


"Hahhaha, iya sepertinya lebih aman via fax aja. Lagi pula, saya tidak punya cukup waktu. Sebentar lagi, pameran beberapa produk kolaborasi kita akan segera rilis, Pak." Ucapnya menghindar.


"Baiklah, sudah kuduga." tebaknya melirik Hanna kembali yang tengah merapikan berkasnya.

__ADS_1


"Makan siang dulu yuk! Ada yang ingin saya bahas," terangnya menatap penuh harap Hanna.


"Mengenai apa?"


"Lea."


"Maaf, saya sedang buru-buru!" tolak Hanna seraya bangkit dari duduknya.


"Omanya sangat ingin bertemu, Lea!" Ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi, membuat langkah Hanna terhenti.


"Saya akan pikirkan nanti," jawabnya kemudian tangannya akan meriah gagang pintu.


"Aku pernah melihat Hendi bersama seorang wanita!" serunya.


Langkah wanita itu kembali terhenti, dia membalikkan badannya lalu berkata. "Kapan dan dimana?"


"Tuh kan, gue yakin pria itu memang brengsek!" pekik Ansell dalam hati.


"Beberapa hari yang lalu, di k** mereka duduk hanya berdua." jelas Ansell memperhatikan raut wajah Hanna yang berubah.


"Terkadang, apa yang kamu pikirkan itulah yang terjadi. Saranku ikuti saja hatimu, Hanna. Karena hati tak akan bisa berbohong," ucap Ansell. Dia yakin, wanita di depannya ini merasakan sesuatu.


"Dia membohongimu?" tebaknya.


"Bukan urusanmu!" pungkasnya jutek.


"Kau pun pernah kan di posisi Hendi saat ini? Apa sebenarnya yang kalian pikirkan saat menyakiti wanita? Apa kalian berpikir aku ini bodoh, sehingga dengan mudahnya dibohongi?" berondong pertanyaan keluar dari mulut Hanna. Entah kenapa hatinya bergetar, mengingat kembali masa lalunya yang mungkin saja akan terulang kembali.


Ansell terdiam sejenak, kemudian bangkit dari kursinya.


"Hanna, mempertahankan apa yang seharusnya miliku, itulah yang kulakukan saat itu. Meski harus berbohong sekali pun, tak ada niat sedikit pun untuk menyakitimu. Hanya saja, aku terlalu egois untuk takut kehilanganmu," ucapnya lirih memandang Hanna sendu. Ia sangat merindukan wanita itu.


"Tak ada kebohongan demi kebaikan, Ansell! Dan tak ada sayang tapi menyakiti! Yang ada hanyalah keegoisan demi bahagia sesaat!" timpalnya ketus.


"Sudahlah, jika yang kau lihat memang benar adanya biarkan jadi urusanku!" lanjutnya dengan mata yang membasah.


Ansell melirik cincin berlian di jari manis Hanna, "sepertinya mereka sudah melangkah lebih jauh," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


"Oke, baiklah. Itu memang urusanmu, hanya sangat disayangkan laki-laki yang dengan gagahnya membawamu dan berjanji membahagiakanmu pada akhirnya tak berbeda jauh denganku."


"Cukup Ansell! Kita nggak tau kebenaran yang terjadi, bisa saja kamu salah! Dan aku percaya, Hendi punya alasan yang kuat jika sampai melakukan itu."


"Sama halnya denganku, aku pun memiliki alasan yang kuat saat itu. Aeleasa, dia adalah alasan terkuatku untuk tetap berusaha diam dan mempertahankan hubunganku denganmu. Selain cinta yang begitu besar padamu," ucapnya dengan tatapan mendamba.


"Aku permisi!" Hanna yang sudah tidak kuat menahan air matanya pergi dari ruangan Ansell.


Namun, pria itu tak tinggak diam. Dia mengejar Hanna sampai ke parkiran.


"Hanna tunggu!" teriaknya dari tadi tanpa dihiraukan wanita itu.


Sesampainya di samping mobil Hendi tak terlihat Ujang di sana. Mobilnya pun terkunci.


"Aduuhh, kemana sih ini si Ujang!" gerutunya kesal sambil melempar pandangan mencari sosok ob itu.


"Hanna! Oke, setelah ini aku berjanji tak akan mengganggumu lagi. Tapi, kumohon beri tahu alamat ibumu. Mamaku sangat ingin bertemu Lea, kau tau kan beliau sudah sangat tua dan aku takut Tuhan memanggilnya sebelum bisa bertemu cucu perempuannya." terang Ansell sambil memegang lengan wanita di depannya.


Hanna terdiam sejenak, sebenarnya ia malas menpertemukan mereka tetapi, tak dapat dipungkiri alasan yang Ansell berikan menyentuh hatinya.


"Nanti akan kukirim," jawabnya kemudian.


"Terimakasih, Hanna." Ucap Ansell menatap punggung wanita yang sampai detik ini masih berada di posisi atas hatinya.


"Satu lagi,"


"Apa lagi? Baru aja kamu janji nggak akan ganggu aku!" serunya berbalik, kini mereka saling berhadapan.


"Beri satu alasan kenapa kau tidak mau kembali padaku," pinta Ansell.


Hanna menghela napas panjang.


"Jika kita terus menonton film yang sama, kisahnya pun akan tetap sama. Untuk apa melakukan hal yang berulang?" tanyanya menatap tajam Ansell.


Tak lama kemudian, Ujang menyalakan mobil yang entah darimana munculnya. Hanna berlalu dari hadapan Ansell yang tengah mematung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2