Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Terlalu Sakit


__ADS_3

Sinta tertegun mendengarnya, ia sama sekali tidak tahu bahwa perusahaannya melakukan itu. Begitu pula Hendi. Ia bukan terkejut karena kecurangan itu, tapi hal yang tidak diinginkan akhirnya benar-benar terjadi.


Flashback obrolannya dengan Chandra kembali terngiang di telinganya. Saat ia menentang usulan dari omnya itu, ketika perusahaan mereka mengalami masa sulit.


"Om, dengan memotong gaji karyawan dan membeli bahan yang jauh dari harga di surat pengajuan sangatlah tidak manusiawi. Bagaimana jika nanti ada inspeksi dadakan?" ungkap Hendi kala itu.


"Lalu, apa kamu memiliki opsi lain untuk bangkit dari keterpurukan ini? Cost kita terlalu besar, Hen. Apa kamu ingin memecat beberapa karyawan, untuk menyeimbangkan situasi sekarang ini?"


"Ya enggak, om. Kita coba cari cara lain untuk memperbaiki ini semua," kata Hendi.


"Ya apa? Selama ini kita sudah berpikir mencari jalan keluarnya dan tidak ada cara lain. Jika terlalu lama dibiarkan perusahaan bisa pailit dan malah menambah masalah lebih besar lagi!" seru Chandra seraya berdiri.


Hendi terdiam, memang berbagai cara sudah dilakukan termasuk menambah modal pun malah semakin menambah kerugian.


"Kita perlu coba diskusikan kepada semua karyawan dulu, Om. Takutnya mereka protes dan malah mengganggu kinerja ...."


"Mana bisa kita bicara sama mereka soal ini? Ya jelas mereka tidak akan setujulah," potong Chandra menyela kata-kata Hendi.


"Lalu, kita akan diam-diam memotong gaji mereka? Cepat atau lambat mereka juga pasti akan sadar nominal yang didapatkan berkurang, Om."


"Ya nggak gitu juga, Hen. Kita main halus donk! Jangan sampai mereka menyadarinya."


"Insentif yang selama ini mereka dapatkan cukup besar, dari situ kita bisa potong sebagian untuk menutup masalah yang ada. Sekarang dari pada kita mengurangi karyawan, lebih baik mengurangi insentif untuk sementara. Sampai keadaan perusahaan stabil kembali," terang Chandra.


Hendi terdiam sejenak, pikirannya membenarkan ucapan omnya itu. Meski tidak setiap bulan karyawan mendapatkan insentif tapi Chandra selalu loyal pada semua stafnya.


"Tapi om, kita harus tetap memberi tahu mereka soal situasi perusahaan sekarang ini. Berharap mereka mengerti dan ikhlas insentif yang diberikan tidak seperti biasanya."


"Ya itu terserah kamulah, kamu atur aja."


Meski berat hati akhirnya Hendi menyetujui usulan dari Chandra saat itu. Hingga beberapa bulan kemudian dia tak menyadari bahwa hal itu ternyata masih berjalan hingga saat ini.


Mengenai keuangan memang Hendi tidak tahu secara terperinci, soal gaji karyawan dan pengeluaran hanya Chandra yang mengelola.


Kartu yang dibawanya saat ini yaitu revisi perihal perjanjian itu sudah tidak bisa lagi dijadikan alasan untuk membatalkan gugatan Gemilang. Tapi ia masih meyakini satu hal ini. Dan semoga Hanna tidak sampai berpikir ke arah sana.


"Baiklah, saya selaku manager di perusahaan Yukka meminta maaf kepada anda khususnya Gemilang atas kejadian ini. Dan besar harapan saya tidak membawa hal ini menjurus menuju jalur hukum. Mengingat banyaknya kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya di Yukka," terang Hendi.

__ADS_1


"Meskipun sebenarnya kami punya alasan tersendiri kenapa hal itu bisa sampai terjadi. Tapi percuma, alasan apa pun yang akan kami sampaikan tak akan didengar. Di mata Gemilang, Yukka telah berbuat curang dan mengambil keuntungan sendiri." sambungnya.


"Silahkan Bapak bisa sampaikan alasannya. Supaya karyawan yang di sebelah anda juga mendengarnya. Karena bagaimana pun mereka berhak mendengar alasannya," ucap Hanna melirik Sinta yang masih terdiam.


Hendi menarik napas dengan dalam dan menghelanya panjang.


"Intinya saat itu keadaan Yuka sedang tidak baik-baik saja. Jadi, dari pada kami mengurangi karyawan maka kami memotong insentif mereka hanya untuk beberapa bulan saja sampai keadaan membaik." jelasnya.


"Tapi kenyataannya sampai detik ini insentif tidak pernah naik dan nominalnya selalu berubah-ubah." ungkap Sinta melihat Hendi.


"Ya seperti yang kalian tahu, insentif kan memang bonus. Dan nominal yang diberikan sesuai pendapatan perusahaan. Jika sedang untung banyak ya kalian juga dapat banyak. Sebaliknya, jika hanya sedikit masa iya karyawan harus dapat banyak? Gimana perusahaan mau jalan?" Hendi menjelaskan.


Keduanya terdiam.


"Selama ini saya rasa perusahaan selalu stabil mendapat orderan, kontrak selalu diperpanjang. Tapi, kenapa insentif tidak pernah naik?" Sinta kembali bertanya.


"Cukup! Silahkan kalian selesaikan masalah intern perusahaan di ranah kalian sendiri. Jika tidak ada lagi yang dibahas saya akan kembali ke ruangan," ungkap Hanna mengemas dokumennya.


"Tunggu Hanna!"


Tanpa menjawab pertanyaan mantan atasannya itu Hanna menyerahkan dokumen yang sedari tadi di depannya.


Hendi dan Sinta terbelalak melihatnya. Struk gaji Hanna dari beberapa tahun belakangan sampai terakhir ia bekerja terpampang di sana. Serta surat perjanjian yang tertulis nominal upah karyawan saat pengajuan kontrak dan juga beberapa lembar invoice pembelian terkait bahan baku yang nominalnya tidak sesuai dengan yang tertera di kontraknya.


"Gemilang tidak berniat membawa masalah ini ke jalur hukum. Saya rasa itu bentuk hati nurani yang kalian pertanyakan, sudah cukup bukan?"


"Hanna, tolong pikirkan lagi apa harus sampai seperti ini membalas perlakuan Pak Chandra terhadapmu? Apa kamu tidak melihat wajah-wajah teman yang lainnya?" Hendi memohon.


"Entahlah, saya hanya menjalankan tugas, tegasnya sembari berdiri.


"Permisi," lanjutnya melangkahkan kaki menuju pintu.


Padahal hatinya tidak tahan lagi, ingin rasanya memaafkan dan memberi kesempatan. Tapi, Michael pasti akan meledeknya atas kebimbangan keputusannya.


Hendi dan Sinta kehabisan kata-kata ia tertunduk lesu.


"Sudahlah Pak, sambil jalan kita pikirkan lagi cara lain." kata Sinta berdiri dan melangkah keluar pintu.

__ADS_1


Hendi yang masih terduduk di kursinya memijat pelipisnya yang sakit. Mendadak kepalanya berputar dan seluruh tubuhnya menggigil.


"Tunggu Hanna!" seru Sinta saat wanita itu hendak memasuki ruangannya.


"Ya, ada apa?"


"Bisa kita bicara sebentar?" ajaknya.


"Maaf, saya masih banyak urusan." ucapnya seraya membuka pintu.


"Reyhan menemui orang tuamu," celetuknya sebelum wanita itu masuk ke dalam.


Hanna menghentikan langkahnya, lalu berbalik sembari menutup pintu. Mata Michael menangkap gelagat yang aneh dari istrinya itu, tapi dia tetap diam mengamati.


"Saya tidak ada urusan lagi dengannya. Jadi, kalo kalian mau hidup bersama silahkan," ucapnya kemudian.


"Bukan itu masalahnya. Dia ingin menemuimu untuk yang terakhir kalinya," jelas Sinta melihat lekat wanita di depannya itu.


Ia mencari rasa yang mungkin masih tersimpan untuk lelaki itu dari sorotan mata Hanna.


"Tidak ada yang perlu di bahas di antara saya dengannya. Kita sudah berpisah jadi kamu leluasa mengambilnya."


"Hanna maafin gue yah, jarak di antara kita merenggang karena Reyhan kan? Maaf gue nggak bisa jadi sahabat yang baik," ucapnya memegang tangan Hanna.


"Sorry, saya banyak kerjaan."


Hanna berbalik menuju ruangannya dan menutup pintunya cepat.


"Pengkhianatan adalah kasta tertinggi dalam sebuah hubungan yang tidak dapat diberikan kesempatan kedua. Terlalu sakit rasanya, jika sebuah kepercayaan penuh dibalas penusukan dari belakang." gumam Hanna dalam hati.


Sementara Sinta masih tertegun di depan ruangan itu. Sedetik kemudian ia melihat tirai menutupi seluruh jendela ruangan sang ceo.


Hendi yang melihat semuanya menyadari satu hal, hubungan kedua wanita itu tidak baik-baik saja.


"Kenapa kamu menutup tirainya? Apakah setelah ini akan ada adegan dewasa?" Michael tiba-tiba berdiri dari singgasananya saat melihat Hanna yang celingukan mencari remot tadi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2