Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Rencana Michael


__ADS_3

Hanna sampai di kantor pas jam pulang karyawan, ia segera bergegas menuju ruangannya. Mulutnya sudah tak sabar melabrak manusia satu itu, yang sudah seenak jidatnya membuat kerusuhan di tempat tinggal orang tuanya.


Namun, baru saja hendak masuk langkahnya terhenti saat matanya menangkap salah satu mobil yang dikenalnya tengah terparkir tak jauh dari lobi.


"Reyhan?" gumamnya dengan alis menyatu.


Sontak kepalanya celingukan mencari sosok itu, ia berjalan menyusuri koridor perkantoran dan juga menuju beberapa warung dekat kantornya. Tapi tak juga menemukan kekasihnya. Saat hendak merogoh ponsel di dalam tasnya, matanya membulat melihat Reyhan berjalan diringi Sinta keluar dari kantornya.


"Bodohnya gue! Parkirnya aja depan kantor malah nyari kemana-mana," gerutunya seraya bersembunyi di samping mobil yang tak jauh dari mobil Reyhan.


Terlihat kekasihnya itu tengah menjelaskan sesuatu, dan Sinta di sampingnya menatap dengan tatapan tak biasa.


"Ngapain gue sembunyi?" tanyanya heran pada dirinya sendiri.


Hanna tersadar lagi akan kebodohannya.


"Harusnya kan gue nanya mereka, ngapain, mau kemana dan ada apa?" tanyanya lagi.


Akhirnya ia keluar dari persembunyiannya berniat menghampiri mereka. Nahasnya mobil silver itu sudah melesat menjauhinya.


"Ah sial! Kelamaan mikir gue," keluhnya memukul pelan jidatnya.


"Ada apa yah? Semakin aneh mereka, jangan-jangan yang dikatakan si brengsek itu bener. Tau ah bodo amat! Gue urus Mamah dulu," pungkasnya dalam hati.


Dia pun segera masuk ke dalam kantor, menuju ruangannya yang sudah sepi itu. Hanya ada beberapa karyawan yang sedang dikejar deadline.


Wanita itu mencari buku alamat dan sebuah nomor telepon perusahaan gemilang grup.


"Halo, bisa bicara dengan Tuan Michael?" tanyanya pada recepcionist yang menjawab teleponnya.


"Maaf dari siapa?"


"Saya Hanna Kartika,"


"Sudah buat janji sebelumnya?"


"Belum, tapi saya rasa tidak perlu membuat janji dia pasti sedang menunggu saya hubungi," ucap Hanna bernada kesal.


"Maaf Mba, kami tidak bisa menyambungkannya jika belum membuat janji sebelumnya. Pak Michael sedang sibuk. Saya akan buatkan janji terlebih dahulu ya?"


"Tidak usah, terimakasih."


Hanna menutup teleponnya dengan kesal.

__ADS_1


"Sibuk apaan? Bos modal nama aja sok sibuk!" gerutunya geram.


Ia lantas mencari nomor ruangan yang sebelumnya digunakan Ansell.


"Tak ada jalan lain aku harus bicara pada Laura," gumamnya.


"Halo, selamat siang?" sapanya ramah.


"Siang, Mba Laura ini saya Hanna Kartika yang tempo hari ke kantor."


"Eh iya, Kak Hanna ada yang bisa saya bantu?"


"Boleh minta nomor ponsel Michael?" tanyanya to the point tanpa basa basi.


"Mmm, ada apa?" Laura balik nanya penasaran.


"Ada masalah serius yang dia lakukan kepada saya," jawabnya singkat, jelas dan padat.


"Masalah serius? Ada apa Kak?" Raut wajah gadis 25 tahun itu terlihat cemas.


"Nanti saya cerita ya, ini urgent banget dan saya harus segera bicara pada Michael."


"Ooh, oke." Laura pun menyebutkan nomor ponsel sang kakak itu.


***


"Halo," suara disebrang sana menjawab dengan santai.


"Heh, Michael! Apa maksudnya anda mengirim barang-barang bangunan ke rumah saya?"


Tanpa tedeng aling-aling Hanna langsung ngegas melabrak pria bule itu.


"Wah-wah siapa ini yang menghubungi saya? Dapat nomor ponsel saya dari siapa?" tanyanya dengan senyum tipis dan wajah sumringah seolah bertemu dengan mangsanya.


"Nggak penting! Jawab pertanyaan saya," gertak wanita itu.


"Santai Hanna, tak usah marah-marah seperti itu. Bukankah aku calon suamimu?"


"Idih, maaf gue nggak sudi punya suami yang seenak jidatnya dan hobi melakukan pelecehan!" bentaknya lagi.


"Itu bukan pelecehan, tapi perkenalan. Nanti akan ada perkenalan lebih dalam lagi, setelah kita menikah. Bukankah daddy sudah memberimu pilihan itu kan?"


"Tolong jawab pertanyaan saya!" Hanna mengalihkan pembicaraan, ia sudah eneq mendengar suara pria itu.

__ADS_1


"Nanti dululah, kita belum selesai bicara. Atau kamu ada waktu malam ini? Kita lanjutkan perkenalan yang sempat tertunda itu?" goda Michael dengan senyum meledek di sebrang sana.


"Gila! Anak bos perusahaan besar, berpendidikan tinggi tapi kelakuan rendahan!" maki Hanna geram.


"Nggak usah sok suci! Kamu pernah kan melakukan perbuatan rendah dengan merebut suami orang!" timpalnya dengan nada mulai meninggi.


"Heh mulut klimis, nggak usah banyak omong kalo nggak tau jalan cerita sebenarnya!" sergah Hanna ketus.


"Nggak ada yang saya tidak tahu soal anda, anak perempuan manis itu pun saya tau sedang apa sekarang." ancamnya yang tengah melihat foto-foto di sekitar rumah orang tua Hanna yang dikirimkan oleh Agra, asisten pribadinya.


Deg! Jantung Hanna tersentak, nyalinya mendadak ciut. Pikirannya langsung tertuju pada Anindira. Jika dia terus-terusan frontal melawan pria satu ini, khawatir akan terjadi apa-apa pada orang rumahnya. Mengingat kelakuan pria psikopat itu bisa nekad melakukan apa saja.


"Awas aja kalo sampai terjadi sesuatu pada keluarga saya! Saya tidak akan tinggal diam!" ancamnya seraya menutup telepon.


"Aku harus pulang ke rumah, dan mengamankan keluargaku. Ya Tuhan, apalagi si ini? Kenapa jadi semakin rumit. Apa karena aku mengadukannya pada polisi? Kenapa dia belum juga ditangkap!"


Berbagai pertanyaan dan penyesalan hinggap di benaknya. Dia bingung apa yang harus dilakukannya. Di samping itu Hanna juga tak tau apa rencana Michael terhadap keluarganya.


"Aku akan mengajukan cuti," ucapnya kemudian.


Dia segera membuat form cuti dan mengirimkannya kepada Hendi dan juga Chandra.


***


Di halaman rumah orang tua Hanna keadaan sangat berantakan. Banyak barang dan bahan bangunan berserakan sampai ke sebagian jalan.


Orang-orang berbadan tinggi besar pun sudah berjaga di sekitar lokasi. Mereka adalah bodyguard Michael. Ratna sang mama, meringis ketakutan setiap melihat ke arah mereka. Jantungnya berdegup kencang, hatinya tak karuan mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Kehidupan tenangnya berubah dramatis saat ia terus menolak untuk dipindahkan dari rumahnya. Bahkan, aparat setempat tak terlihat batang hidungnya dengan kejadian itu.


"Pak RT sama Pak Lurah ini pada kemana sih? Masa mereka diam saja melihat warganya didzolimi," rengeknya dalam hati.


Tak terasa air menggenang di pelupuk matanya, ingin rasanya ia teriak. Tapi, takut orang-orang itu akan mencelakakan dirinya dan juga Anin cucunya.


"Ibu, silahkan kemasi semua barang berharganya. Saya akan mengantarkan ke sebuah villa. Untuk sementara Ibu dan anak ini tinggal di sana, selama renovasi rumah ini belum selesai." kata Agra dengan sopan.


"Pak, saya benar-benar tidak mengerti. Anda seenaknya saja datang merenovasi rumah saya tanpa ada pembicaraan apa-apa. Saya tidak diijinkan untuk menghubungi anak dan juga suami saya, ini dzolim namanya, Pak. Dan saya bisa melaporkan anda semua ke polisi," ancam Ratna meski terdengar lelah.


"Bu, anggap saja ini sebagai hadiah dari calon menantu ibu. Tidak usah berpikir kemana-mana, sekarang Ibu kemasi barang-barang berharganya saya akan mengantarkan Ibu menuju villa." ucap Agra mencoba menenangkan.


"Saya tidak akan kemana-mana, sebelum anak saya datang!" tolak Ratna.


"Bu, tolong jangan buat kami memaksa dan bertindak kasar! Kami sudah berusaha sopan kepada Ibu." ancam pria bertubuh besar yang sedari tadi di belakang Agra.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2