Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Meninggalkan Semuanya


__ADS_3

Di dalam lubuk hati seorang Ibu anak adalah segalanya. Namun, terkadang kondisi yang tidak mendukung akan membuat mata hatinya tertutup. Dan mulai tak bisa membedakan antara yang baik dan buruk terhadap suatu hal.


Emosi yang memuncak, serta rasa sakit yang dalam akan sangat mempengaruhi psikis seorang Ibu. Terlebih yang baru saja melahirkan. Mereka membutuhkan banyak dukungan dan support dari orang-orang terdekatnya. Terutama adalah suaminya.


***


Seperti yang dirasakan Hanna, rasa sakitnya menimbulkan luka yang sangat dalam hingga membuat hatinya dingin dan membeku.


"Buang kemana aja, yang penting aku tidak melihat dia ada di depanku!" jawabnya dengan tatapan kosong.


"Apa dengan membuangnya, hatimu akan puas? Dan semua masalahmu selesai?" Ardi papa tirinya terus memberondong pertanyaan.


Hanna terdiam, wajahnya tertunduk. "Ya, mungkin aja aku puas telah memisahkan anak dari bapak kandungnya. Dia pasti sekarang menderita," bisiknya dalam hati.


"Bukankah dengan membuangnya, justru kamu akan menambah masalah baru? Dan pastinya akan menambah beban pikiran untukmu," lanjutnya.


"Tapi, dengan melihatnya hatiku sakit, Pa! Aku yakin, jika dia tak ada di hidupku masalah ini akan selesai. Dan tak ada lagi bayang-bayang Ansell selamanya," jawabnya lirih.


Air mata Hanna perlahan menetes, membasahi pipi. Hanya menyebut namanya saja, membuat hatinya kembali terluka.


Dia terduduk lemas, luka yang masih terasa perih itu terus saja berdarah. Ratna mendekatinya, lalu memeluk anak sulungnya itu, seraya mengusap punggung dan rambutnya.


"Sadarlah Nak, apa yang kamu pikirkan itu tidak baik. Kamu harus tabah dengan semua ini." Buliran air mata jatuh, ia bisa merasakan rasa sakit yang tengah dirasakan Hanna.


Tangisan mereka semakin kencang, Hanna meraung dan menjerit seraya memegangi dadanya yang sesak. Ardi menatap mereka dengan iba. Hatinya ikut terluka, meski dia berusaha menutupinya.


"Bukankah kamu bilang, Ansell tak memiliki anak dengan pernikahan sebelumnya?" tanyanya kemudian.


"Iya," jawabnya datar.


"Kenapa kamu nggak kasihkan aja anak ini padanya?"


"Tidak Pa! Aku nggak rela dia bahagia. Lagian, Aku nggak yakin wanita itu akan mengurus anak ini dengan benar. Bisa saja dia juga membuangnya atau bahkan membunuhnya."


"Menurut Papa nggak mungkin, dia kan juga sudah lama menginginkan anak kan?"


Hanna kembali terdiam, dia mulai berpikir membenarkan ucapan Ardi. Kenapa dia tak meninggalkan anaknya di sana? Mungkin, jika Ansell yang merawatnya masa depan anak ini lebih cerah. Dengan segala kemewahan dan kasih sayang ayahnya. Namun hatinya kembali tak yakin, apakah Zea akan menerima anak ini?


"Sudahlah, biarkan kami yang akan merawat anakmu." Ardi membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


Hanna mendongakkan kepala, dia menatap pria yang sedang menggendong anaknya itu. Umurnya di bawah Mama tapi, dia sepertinya lelaki dewasa dengan pembawaan yang tenang.


"Siapa nama anakmu?" tanyanya lagi.


"Entah, aku belum sempat memberikannya nama."


Dia sengaja tak ingin menyebutkan nama pemberian suaminya, Saraswati Wijaya. Ia berniat menghilangkan jejak lelaki itu dari hidupnya.


"Segera beri nama bayimu, nama adalah doa dari orang tua untuk anaknya." terangnya.


"Anindira ..." ucapnya lirih. Sebuah nama yang memang sudah ia siapkan sebelum Ansell memberi nama itu.


"Oke, Anindira, waktunya kita mandi ...." Ratna yang sudah bertahun lamanya tidak merawat bayi, merasa bahagia mendapatkan cucu.


Tak bisa dipungkiri kehadiran Anindira, memberikan warna baru bagi kehidupan Ratna dan Ardi. Terlebih, karena dia pernah mengalami keguguran 3 bulan yang lalu. Karena hamil di usia 40 tahun, yang memang banyak resiko.


Ardi pun mengatakan, Anin adalah anak yang dikirim Allah untuk menggantikan anak pertamanya yang belum sempat ia lihat wajahnya.


Setelah beberapa hari dari peristiwa pertengkaran itu, Hanna sudah membulatkan tekad untuk tetap melanjutkan karirnya yang sempat tertunda.


Namun, entah mengapa hatinya mendadak terusik dengan perkataan Ardi, kenapa tak kuberikan Anin kepada Ansell saja?


***


Hanna kembali ke kota itu, kota yang 3 bulan lalu pernah memberinya sebuah luka yang sangat dalam. Dan masih membekas hingga kini. Tapi, sepertinya ia harus bicara dengan Ansell perihal Anindira anak mereka.


Tibalah dia di rumah Athifa, kakak iparnya. Pintu tertutup rapat, salon di sampingnya pun tutup.


"Pada kemana ini, ko tumben semua tertutup? Biasanya setiap hari salon buka terkecuali ada acara penting." Gumamnya memandang heran sekitar.


Dia mencoba mengetuk pintu.


"Permisiii ...!" teriaknya.


Hening, tak ada jawaban. Dia kembali mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka.


"Mba Hanna ..." sapa Mira seorang asisten rumah tangga yang tengah menggendong Bagas, anak kak Athifa.


"Ya ampuuun, Mba. Pak Ansell nyariin Mba Hanna kaya orang gila, nangis-nangis sendiri, kadang senyum-senyum sendiri juga. Bu Athifa pun bantu cari siang malam, Mba Hanna teh dari mana??" tanyanya memberondong.

__ADS_1


Hanna mencoba tersenyum getir.


"Saya pulang kampung, Bi. Oh iya, Kak Thifa kemana?"


"Mbah Putri meninggal Mba, Bu Thifa dan Bapak pergi ke sana."


Deg ... hatinya tersentak.


Hanna bahkan belum sempat berpamitan dengan beliau. Meskipun singkat, tapi ia pernah beberapa kali diajak kerumah mertuanya dan mereka menerimanya dengan baik. Dia berdoa dalam hati, semoga beliau diterima di sisiNya.


"Mba Hanna, kenapa pergi? Maafkan saya yah Mba, waktu itu saya tidak tau kalo Bu Zea adalah istri pertama pak Ansell. Saya bilang kalo Mba Hanna sedang melahirkan di klinik." Bi Mira tertunduk sedih dan merasa bersalah.


"Sudahlah Bi, semua sudah berlalu."


"Apa Pak Ansell sering kesini?"


"Iya Bu, bukan sering lagi hampir tiap hari malah. Apalagi pas Mba Hanna baru pergi, Pak Ansell tinggal di sini selama beberapa Minggu. Kalo saya nggak salah dengar beliau sempat menceraikan Bu Zea. Tapi, 1 bulan kemudian istrinya itu datang memberitahu, bahwa dia hamil dan perceraian tidak bisa dilakukan."


Hamil? Hati Hanna tersentak dan seketika hancur untuk kedua kalinya. Sepertinya harapannya pupus, ia harus berpikir dua kali untuk memberikan Anin kepada Ansell.


Air mata tergenang di pelupuk matanya. Tapi, ia mencoba menahannya.


Tak lama dia pamitan pulang dan mengambil beberapa barang miliknya, dia tak ingin menemui Ansell maupun Kak Thifa. Keputusan pertamanya memang benar untuk tidak mengganggu kehidupan suaminya lagi.


Mungkin semua harus berakhir di sini dan ia harus mengubur dalam semua masa lalunya ini.


Wanita itu melangkah gontai meninggalkan rumah ini, sebuah kota yang pernah memberikan kebahagiaan. Namun juga memberikan luka yang sangat dalam.


Dia yakin, Ansell pasti bahagia karena Zea hamil dan tidak akan mengingatnya maupun anaknya.


Sementara anaknya pasti aman dengan neneknya yang sangat menyayanginya.


Dia harus bisa melupakan semuanya dan kembali membuka lembaran baru.


Seringkali takdir memang menyakitkan dan itu adalah konsekuensi yang harus diterima atas pilihan sendiri. Bahagia dan kecewa, mungkin sudah satu paket. Begitu pula cinta dan luka.


Dan pada akhirnya, Hanna memilih untuk membawa kesedihan beserta luka masa lalunya. Dia mencoba mengubur dalam-dalam kenyataan pahit hidupnya.


Berharap akan ada pelangi indah setelah hujan.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2