
Sejatinya seorang anak adalah anugerah yang tak ternilai harganya, tak pernah bisa kembali setiap pertumbuhannya.
Namun, terkadang emosi yang sangat meluap dan dendam yang sangat dalam mampu membuat hati seorang ibu menjadi dingin bahkan tak perduli dengan anaknya. Naudzubillah.
"Pah, coba telfon Hanna apa dia tak ingin pulang barang sekali untuk melihat Anin?"
Ratna menghampiri Ardi seraya memberikan segelas kopi, raut muka sedih terpancar jelas di wajahnya.
"Sudah berapa kali kita coba kan, Mah. Dan Hanna tetap tidak mau bertemu dengan Anin, biarkan saja dulu dia melupakan semua masa lalunya." jawabnya santai.
"Tapi, Pah, aku takut semakin lama dia malah semakin melupakan Anin." Kecemasan terpancar jelas di wajahnya.
"Semua butuh waktu, mungkin ketika Hanna melihat Anin ia kembali mengingat luka lamanya."
"Iya aku mengerti, tapi kalo kita membiarkannya terus menerus aku takut Hanna salah langkah."
"Hanna baru berusia 21 tahun, biarkan saja dulu dia mengejar karirnya."
Ratna terdiam, dia tak ingin putrinya terus menerus membenci anaknya sendiri. Maka dari itu, ia sering mengirim foto-foto Anin di setiap perkembangannya, meskipun tanpa jawaban dari Hanna.
Ratna terus berharap dan berdoa, suatu saat nanti Hanna akan sadar dan datang untuk memeluk Anin.
****************
Gathering Tahunan PT. Yukka Nusantara
Reyhan menatap tajam ke arah Hanna dan Hendi, tangannya mengepal penuh emosi.
"Waaahh ... Hendi menabuh genderang perang noh bro!" Gio mendekati Reyhan dan menyenggol sedikit pundaknya, diikuti tawa teman-teman yang lain.
Sinta segera mendekati Reyhan, "Santai aja Rey, nggak usah terpancing emosi gitu. Selama janur kuning belum melengkung masih bebas ditikung." Sinta terkekeh, menyadari Reyhan yang bengong dia menepuk pundaknya.
"Hei! Malah bengong, Lu tau nggak? Kemaren, ayam tetangga gue bengong eehh besoknya mati meninggalkan luka."
"Ciaaaa ... kakakkaa ...!" Sorak yang lainnya.
"Berisik Lu! Sekarang gue mau tanya, ada hubungan apa si Hendi sama Hanna?"
"Gue nggak tau, sueerr! Sepanjang gue kenal Hanna, dia nggak pernah cerita soal si Hendi. Ngobrol aja kayanya nggak pernah deh."
Entah kenapa Reyhan merasakan ada angin segar menembus ruang di hatinya. Perlahan raut muka yang tegang berubah seutas senyum sinis.
Hanna dan Hendi sampai di depan vila tempat ia menginap. Napas mereka tersengal dan keduanya sibuk mengaturnya sambil sesekali menengok ke belakang. Setelah cukup tenang, mereka baru menyadari suasana canggung, karna hampir tak pernah ada obrolan di antara keduanya
__ADS_1
"Maaf, boleh lepasin tangan gue nggak?" pinta Hanna.
Hendi tersentak kaget, baru sadar kalo dari tadi dia masih memegang tangan wanita bermata sipit itu.
"Sorry ... tadi gue reflek narik tangan Lu."
Hanna tersenyum singkat, sebenernya dia ingin menanyakan alasan Hendi membawanya lari tadi, tapi seolah mulutnya terkunci tanpa sepatah katapun. Akhirnya ia beranjak masuk ke dalam vila.
Sebelum membuka pintu ia membalikan badan, terlihat tangan Hendi terangkat sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Namun terhenti saat melihat wanita itu berbalik.
"Oh iya, thanks ya."
Hendi mengangguk seraya tersenyum dan berlalu pergi. Hanna memandangnya heran dan bergegas masuk ke dalam.
Wanita bertubuh ramping itu, membaringkan badannya ke sofa. Masih terbayang jelas kata-kata Reyhan diresto tadi, ia bingung apa yang harus dikatakannya jika bertemu nanti.
Debaran hatinya masih saja terasa, antara senang, sedih dan takut berkecamuk dalam hatinya. Entah ini perasaan apa, apakah ia sudah mulai menyimpan rasa kepada Reyhan? Atau hanya bersimpati dengan semua perjuangan Reyhan selama ini.
Hanna kembali teringat candaan Reyhan dan tingkahnya ketika mereka di kantor.
Saat bertemu di tangga, Reyhan selalu dengan sengaja menghalangi jalan dengan badan besarnya dan sedetik kemudian berbisik, "kamu cantik, ada salam dari hatiku."
Atau yang lebih ekstrim lagi mengedipkan mata ke arahnya, saat meeting sedang berlangsung. Membuat Hanna merasa salah tingkah dan ditegur Pak Candra kala itu.
Semua tingkah konyolnya membuatnya tersenyum sendiri.
Tiba-tiba suara pintu terbuka dan dia terlonjak kaget, matanya melihat ke arah pintu ...
Sejurus ia menghela napas lega, setelah melihat Sinta yang masuk.
"Kenapa? Ko tegang gitu muka Lu?"
"Engga, gue kira tadi ... Itu ... bukan Lu yang Dateng." jawabnya ragu dengan terbata.
"Emang tadi siapa yang dateng ke sini? Hendi yaa ...?" goda Sinta
"Bukan, tadi itu si Reyhan sebelum gue ke resto dia sempet ke sini."
"Ngapain?"
"Ya kaya tadi di resto, dia mau nembak gue kayanya. Cuma gue keburu kabur takut ketinggalan meeting Pak Candra, kan."
"Lagian, Lu kenapa menghindar? Kasihlah si Reyhan kesempatan ngomong, jadi kan dia nggak perlu malu-maluin kaya tadi!"
__ADS_1
Hanna terdiam, ada benarnya ucapan Sinta. Tapi entahlah, hatinya berdegup tak beraturan jika di dekat Reyhan.
"Yeee malah bengong, terus tadi si Hendi kenapa katanya narik-narik tangan Lu? Bak pahlawan menyelamatkan putri kodok yang sedang terjepit."
"Gue juga ga tau. Dia nggak ngomong apa-apa, abis nganterin ke vila udah dia balik lagi."
"Emang aneh yah itu orang."
Mereka berdua terdiam larut dalam kebingungan masing-masing.
***************
Saat Hendi hendak membuka pintu villa-nya, dia mendengar suara memanggil namanya. Di kejauhan terlihat Reyhan melangkah mendekatinya dengan cepat.
Pikirannya mendadak flashback 3 tahun lalu, saat dia mendekati Reyhan dan memukul rahangnya hingga darah segar menetes dari ujung bibirnya.
Akankah Reyhan membalasnya?
"Lu mau mau balas dendam?" ucapan Reyhan terdengar santai.
"Balas dendam? Sorry, gue bukan tipe penyimpan dendam." Senyum sinis Hendi tersungging di bibirnya.
"Terus, maksud lu apa narik tangan Hanna tadi?"
"Gue nggak suka aja, cara lu maksa cewek buat nrima cinta lu begitu?"
"Sedikitpun gue nggak maksa! Dia bebas nerima atau nolak gue. Bilang aja lu iri kan?"
"Halah, udahlah Rey cara lu basi tau nggak! Ngapain gue iri hal begituan." Pria putih itu tersenyum sambil melengos.
"Jujur aja deh, lu masih nyimpen dendam soal, Siska kan?!"
"Nggak usah bawa-bawa Siska, bre****k!" Hendi tiba-tiba mencengkram kerah baju Reyhan dan meninggikan suaranya terlihat kemarahan di wajah putihnya.
"Makannya, lu kalo cinta sama cewek ngomong donk yang gentle! Jangan dipendem seumur hidup, giliran cowok lain yang ngembat lu ngamuk!"
Seketika Hendi mengepalkan tangan dan mengayunkan tinjunya tepat di hidung Reyhan. Dia tak diam saja, segera membalas tinjuan Hendi dan berhasil mendaratkan di pipinya.
Di kejauhan Gio berlari kencang, dia melihat Reyhan dan Hendi saling adu jotos.
"Woy! Apa-apaan kalian? Nggak bisa di bicarakan baik-baik?!" Bentak gio seraya memisahkan mereka.
Keduanya terdiam saling membuang muka. Tak lama kemudian Hendi masuk ke dalam kamarnya, membanting pintu dengan keras.
__ADS_1
Bersambung