Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Kelahiran


__ADS_3

"Siapa tadi?" tanya Belinda melihat Laura masuk sambil tertunduk.


"Kak Michael," jawabnya lesu.


"Kita bicara di luar aja Mom, kasian Daddy biar istirahat total. Lagian jam besuk sudah mau habis kan?"


Sang ibu hanya mengangguk lalu menarik selimut menutupi tubuh suaminya sampai dada. Ia pun mengikuti putrinya keluar ruangan.


"Tadi Kak Michael bersama Hanna," ucap Laura saat mereka sudah duduk di kursi lorong rumah sakit itu.


"Mau apa dia bawa perempuan itu?"


"Entahlah, sepertinya dia ingin menunjukkan ke Daddy kalo akhirnya dia menuruti ucapan Daddy."


"What? Michael mau menikahi perempuan itu?" tanya Belinda tak percaya.


"Hanya dugaanku saja, tapi melihat ekspresi Hanna dia sepertinya tertekan."


"Mana mungkin tertekan, dia bakal menikahi pria kaya. Gadis seperti mereka akan melakukan itu, agar dilihat seolah-olah menjadi korban. Padahal setelah ia menjadi nyonya kelakuannya akan semena-mena," kata Belinda menelungkupkan tangannya di dada.


"Kenapa Mommy berpikiran seperti itu?"


"Michael telah banyak melakukan ketidakadilan pada wanita itu, Mommy yakin dia tidak akan pasrah dan diam saja setelah memiliki segalanya. Kamu tau kan, Michael juga dilaporkan polisi olehnya. Kamu harus tetap waspada nanti," jelas wanita paruh baya itu.


Laura hanya diam saja memandang tak percaya sang ibu.


"Lalu apa rencana Mommy? Akankah menggagalkan pernikahan mereka?"


"Tidak, Momny tidak akan ikut campur terlalu jauh keputusan kakakmu itu. Tahu sendirikan jika dia sudah marah, sekarang harapan satu-satunya kita cuma dia untuk mengelola perusahaan. Melihat kondisi Daddy yang entah sampai kapan bis pulih seperti sedia kala," katanya seraya tertunduk membayangkan sang suami yang tengah tergolek lemah.


"Oh iya, Kak David penerbangan jam berapa?" Laura mencoba mengalihkan pembicaraan melihat genangan air di pelupuk mata sang ibu.


"Harusnya sekarang dia sudah sampai, tapi mana yah belum ada kabar darinya."


Belinda celingukan lalu mengambil ponsel di tasnya.


"Kenapa dia menolak untuk dijemput supir, Mom? Malah milih naik taxi," tanya Laura lagi.


"Entahlah, dari dulu tuh anak memang seperti itu selalu sederhana berbanding terbalik dengan Kakaknya."


Mereka pun berlanjut membicarakan sang adik bungsu yang selalu tampil apa adanya itu. Tapi sayang, ia sama sekali tak tertarik pada perusahaan ayahnya.


Dia seorang seniman, yang suka sekali melukis dan berpikiran bebas tanpa batas. David benci kekangan apalagi peraturan perusahaan dan target yang harus dipenuhi setiap harinya. Jiwanya bebas sebebas pikirannya yang selalu terbuka dan kreatif.


***


Terlihat Hendi dengan cepat dan raut wajah panik menuruni tangga, hampir saja ia menabrak Sinta yang membawa kopi di tangannya.

__ADS_1


"Sorry, saya pulang duluan yah. Istri saya mau melahirkan," ucapnya pada Sinta.


"I-iya Pak, hati-hati di jalan!" teriaknya melihat bayangan lelaki itu telah hilang di tikungan tangga.


"Yes! Gue bisa balik cepet," gumamnya bersorak.


Dia pun lanjut menuju ruangannya untuk berkemas.


Mobil sedan hitam itu meluncur dengan cepat membelah jalanan, untung saja tidak berbarengan dengan jam pulang kantor. Sehingga ia bisa sampai di rumahnya hanya 20 menit.


Ia langsung membopong Siska yang tengah menunggunya di depan rumahnya. Wanita itu memang sudah mempersiapkan sebuah tas berisi pakaiannya dan juga calon bayinya untuk ganti saat persalinan tiba.


"A-ayo-Hen aku su-dah nggak kuat la-gi iniii," teriaknya saat sudah duduk di kursi depan.


Sementara Hendi tengah memasangkan sabuk pengaman dengan tangan gemetar.


"Tahan ya, Sis. Aku akan ngebut kamu pegangan yang kuat yah," kata Hendi sedikit bergetar.


Ia lantas melaju dengan cepat, menuju rumah sakit yang sudah mereka pilih jauh-jauh hari. Tempat keduanya sering memeriksakan calon buah hatinya.


"Aaaahhhh, saa-kiittt!" pekik Sinta, ia mencengkram lengan Hendi yang tengah fokus mengoper gigi.


"Sabar sayang, aku ngebut niihh. Kamu tarik napas dari hidung, hembuskan dari mulut. Yok pelan kamu pasti bisa kamu kuat Siska," kata Hendi mencoba memberi semangat istrinya yang tengah kesakitan karena menahan kontraksi.


Sang istri menuruti suaminya menarik napas perlahan, seraya memegangi perutnya yang seolah hendak mengeluarkan isinya. Terlihat aliran darah menganak sungai di betisnya serta lendir dan air mengikuti setelahnya.


Hendi yang ikut panik hanya membantu mengelus-ngelus kepala sang istri tanpa menjawab. Ia terus menginjak gas tanpa Henti.


Beberapa lama kemudian, mereka sampai di UGD sebuah rumah sakit.


"Tolong sus, istri saya mau melahirkan sepertinya sudah pendarahan dan pecah ketuban!" teriaknya pada salah satu petugas.


Mereka segera membawa sebuah bed dan meletakkan Siska di atasnya, lalu mendorongnya menuju ruang bersalin.


Proses melahirkan sang buah hati pun sedang diperjuangkan Siska dan Hendi yang setia di sampingnya. Membantu menyemangati, mengelus kening dan memegangi tangannya.


"Ayo terus Bu, dorong yang kuat! Terus Bu, kepalanya sudah terlihat itu Ayoo sedikit lagi!" teriakan dokter dan suster saling sahut menyahut memberi instruksi ibu muda itu.


Selang beberapa menit kemudian, tangisan seorang bayi pecah memenuhi ruangan itu.


Seorang bayi laki-laki terlihat menangis kencang saat dibersihkan dari lendir dan darah yang menempel.


Hendi tampak terduduk lemas menatap makhluk mungil itu. Keringat dingin terlihat memenuhi wajah dan lehernya. Ia lega akhirnya bayi yang ditunggunya lahir dengan selamat dan sehat.


"Selamat Nyonya Siska dan Pak Hendi anaknya laki-laki yah. Silahkan melakukan IMD terlebih dahulu," ucap dokter meletakkan sang bayi di dada ibunya.


Raut wajah bahagia terpancar dari keduanya. Hendi segera mengambil ponsel, memotret momen itu. Lalu ia mengirimkan pesan pada Chandra, memberitahukan kelahiran keponakannya itu.

__ADS_1


***


Hanna tak dapat menahan kantuknya saat mobil yang dinaiki keduanya melaju bebas di jalan mulus. Berulang kali kepalanya terpentok jendela, membuatnya melirik pria yang tengah fokus menyetir di sampingnya.


"Tidurlah di belakang," perintahnya masih dengan tatapan lurus ke depan.


"Tidak terimakasih," tolak Hanna.


"Saya tidak akan apa-apakan kamu, geer amat sih. Dikira saya nafsu apa liat cewek kaya anda," ejek Michael.


"Anda lupa, perlakuan di villa tempo hari? Kalo bukan nafsu apa? Godaan setan gitu?"


Michael diam saja tak menjawab, dia mengerlingkan matanya keluar jendela.


"Apa sih alasan anda menindas saya?" tanya Hanna kemudian setelah cukup lama mereka terdiam.


"Menindas? Apa kamu merasa saya menindas?"


"Lah terus apa? Semua yang anda lakuin ke saya itu namanya penindasan, tak memberikan saya kesempatan untuk membela diri atau menghindar."


"Dan rumah itu, apa alasan anda menjadikannya kantor?"


"Kan saya sudah jawab, masih belum jelas? Bagaimana bisa wanita sepertimu dianggap pintar," ucapnya sambil melirik Hanna.


"Jawaban anda itu terkesan dipaksakan, mana ada orang menggusur tanah untuk dibangun sebuah kantor dan menjadikan pemilik tanah sebagai pemimpinnya."


"Ada, ya itu anda," jawab Michael.


Ia memperbaiki posisi duduknya karena jalanan di depan mulai berkelok dan banyak tanjakan serta turunan. Pria itu jarang sekali menyetir sendiri saat ke villa. Agra pasti selalu menemaninya terlebih saat malam hari. Karena beberapa ruas jalan ada yang kiri dan kanannya jurang.


Jadi, jika terpeleset sedikit saja, bisa langsung terjun bebas. Michael berusaha sekuat mungkin menajamkan penglihatannya. Berulang kali ia tampak menyipitkan kedua matanya.


"Bisa pelan-pelan nggak sih?" protes Hanna saat turunan mobil itu melaju dengan kencang.


"Tenang aja, saya sudah terbiasa dengan sirkuit yang lebih extrem dari ini." ucap Michael sombong.


"Tapi ini terlalu kencang."


Pria itu hanya tersenyum melirik wanita di sampingnya ketakutan. Sejurus kemudian mereka saling terdiam, menikmati jalanan berkelok. Membuat tubuh Hanna terhuyung mengikuti ayunan mobil.


Saat mobil itu melewati tikungan ke kanan pegangan tangan Hanna terlepas, dan tubuhnya roboh menempel pada lengan dan pundak Michael. Membuat pemuda itu kaget dan reflek membanting stir ke kanan.


Alhasil ia hilang kendali masuk ke jalur lawan arah, saat mencoba menyetabilkan setirnya tanpa sadar mobil itu sudah mepet berada di pinggir jurang.


Dan dalam hitungan detik ia melepaskan gas yang diinjaknya, tapi terlambat ban mobilnya sudah tergelincir melewati batas jalan. Akhirnya kecelakaan itu tak terelakkan, mobil yang dikendarai mereka terjun menuju jurang yang dalamnya entah berapa meter.


"Tidaaaakkkk!" teriak Michael dan Hanna bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2