
Matahari sudah berada di puncak singgasananya saat Hanna terbangun dari tidurnya. Suara bising klakson yang saling beradu dan mesin yang menderu membuatnya perlahan membuka sedikit matanya.
Sayup terdengar beberapa pedagang asongan menjajakan jualannya. Saat macet seperti inilah, ada hati yang bersorak gembira dan berebut menaiki bis yang terjebak antrian panjang itu.
Berulang kali Hanna, merasakan ponselnya bergetar, tapi ia tak menghiraukannya. Reyhan pasti tak terima dengan sikapnya yang mendadak seperti ini. Dan wanita itu pun tak menyangka kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
Entah panggilan yang ke berapa akhirnya Hanna menjawabnya tanpa melihat nama yang terpampang di layar.
"Cukup Rey!"
"Halo Hanna, ini saya Hendi."
Suara berat penuh wibawa itu mendadak mengagetkan Hanna.
"So-sorry, Pak Hendi saya kira tadi ...." Ia tak melanjutkan perkataannya.
"Kamu dimana?" tanyanya.
"Saya di jalan, Pak. Saya cuti Pak, sudah kirim email kan kemarin. Sudah cc Pak Chandra juga," terangnya.
"Iya saya tahu, tapi kerjaan lagi numpuk banget, Han. Kamu nggak bisa ninggalin gitu aja," ucapnya penuh penekanan.
"Pak Chandra tadi ngamuk-ngamuk ke saya soal pengajuan cuti kamu," lanjutnya.
"Maaf Pak, ini juga urgent banget. Mama saya nggak ada di rumah kemungkinan besar dibawa seseorang," jelasnya berharap atasannya itu mengerti.
"Loh ko bisa, seseorang siapa? Kamu kenal? Sudah lapor polisi?" berondongan pertanyaan dari Hendi.
"Saya belum lapor udah tau sih siapa dalangnya," jawab Hanna.
"Masih sama pelakunya?"
"Iya, sorry ya, Pak. Kerjaan jadi acak-acakan karena saya," sesalnya menunduk.
Hendi terdengar menghela napas panjang dan mencoba memahami.
"Saya paham situasi yang kamu hadapi, Han. Tapi, maaf, kerjaan di sini juga sangat urgent. Menyangkut banyak orang. Jadi saya butuh orang yang bener-bener bisa fokus menyelesaikannya, bukan hanya sekedar membantu saja seperti Sinta."
Hanna terdiam, mencerna arah tujuan pembicaraan atasannya itu.
"Iya Pak, maaf. Untuk saat ini, saya bener-bener nggak bisa fokus bekerja. Boleh minta waktu Pak beberapa hari lagi? Untuk menyelesaikan masalah ini," pintanya.
"Dengan berat hati Pak Chandra menyuruh saya memberhentikanmu dan mencari pengganti, Han."
Deg! Seolah pukulan itu tepat mengenai hatinya.
Dedikasinya selama ini, loyalitas tanpa batas yang ia berikan seolah tak ada artinya bagi perusahaan. Padahal dia hanya meminta waktu satu minggu saja untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Tapi, mereka tidak mau tahu.
"Pak Chandra memecatku, Pak?" tanya Hanna kaget.
__ADS_1
Hendi terdiam, dalam hatinya juga ia tak rela kehilangan partner se-profesional Hanna. Hanya saja, keadaan memaksanya untuk melakukan ini. Ia berharap Hanna mau mengubah pikirannya, kemudian ke kantor bicara dengan Pak Chandra.
"Baiklah, saya minta maaf atas kesalahan selama ini. Terima kasih atas segalanya, Pak Hendi. Tolong juga sampaikan permintaan maaf dan rasa terima kasih saya pada Bapak," ucapnya dengan bergetar.
"Saya sadar, sekeras apa pun saya berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan, pada akhirnya jika sudah tak dibutuhkan hanya akan dibuang tanpa mempertimbangkan sejauh mana dedikasinya selama ini." lanjutnya seraya mematikan ponselnya.
Air matanya jatuh tak tertahankan, pekerjaan yang selama ini jadi sumber hidupnya harus terlepas juga.
Reyhan dan kantor itu memang sepaket, di sanalah tempat mereka pertama kali bertemu. Keduanya bahkan terlepas di saat yang bersamaan.
Tangannya terkepal, sakit di hatinya semakin menggunung mendapat perlakuan seperti ini.
"Ketidakadilan ini harus mendapat balasan," gumamnya.
Hendi bengong menatap layar yang telah mati itu.
"Ternyata wanita itu tetap kukuh pada pilihannya," bisiknya dalam hati.
"Gimana Hanna Pak? Dia mau ke kantor?" Tiba-tiba sinta sudah berdiri di belakangnya.
"Kapan kamu masuk?" tanyanya heran.
"Tadi pas Bapak lagi sibuk telepon," jawabnya polos.
"Pak Chandra tadi nugasin saya mengganti posisi Hanna, dan akan mencarikan orang baru untuk di posisi saya."
Hendi terdiam, kepalanya hanya manggut-manggut menatap layar laptopnya. Meski pandangannya ke depan, hatinya masih ada di beberapa menit yang lalu.
***
Ansell mengikuti mobil Zea dari belakang, meski sempat berulang kali kehilangan jejak tapi kemudian dia bisa menemukan istrinya itu. Ia semakin dibuat bingung saat arah tujuan mereka mengarah pada sebuah desa. Desa tempat cinta lamanya ia tinggalkan.
Dan benar saja, selang satu jam kemudian sampailah mereka di desa itu. Ia harus jaga jarak aman karena sudah tak ada lagi mobil di sana, bisa-bisa pembuntutannya akan ketahuan kalo terus memepet mobil itu.
"Apa lagi yang dia lakukan di sini?" gumamnya.
Matanya fokus melihat Zea yang berhenti tepat di rumah Bu Ratna.
"Wah, nggak bisa dibiarin. Wanita ini masih saja ganggu keluarga Hanna. Maunya apa sih?" geramnya seraya menjalankan kembali mobilnya melihat istrinya sudah keluar.
Zea memasuki halaman rumah yang luas itu, terlihat beberapa tumpukan matrial bangunan berserakan di sana.
"Mana Agra?" tanyanya pada salah seorang pegawai yang sedang mengaduk semen.
"Tidak ada Bu, maaf anda siapa?" tanyanya waspada.
"Saya Zea yang akan menjadi pimpinan di kantor ini," jawabnya seraya mengalihkan pandangannya mengitari sekitar rumah.
"Oh iya, Bu Zea, saya dengar dari Pak Agra kalo anda akan kemari."
__ADS_1
"Baiklah, silahkan lanjut bekerja."
Baru saja ia hendak melangkah ke dalam, tiba-tiba tangannya di tarik kencang seseorang dari belakang. Matanya terbelalak melihat siapa yang menariknya.
"Ansell!" serunya dalam hati.
Pria itu tak kalah terkejut melihat situasi rumah mantan mertuanya berserakan seperti ini.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
"Harusnya aku yang nanya, ngapain kamu kesini?" Zea balik bertanya.
"Aku penasaran kerjaan apa yang menjanjikan 3x lipat dari gajimu kemarin. Dan kamu membawaku kesini, apa maksudnya ini?"
"Jadi kamu ngikutin aku? Gila! Mau kamu apa sih? Nggak percaya amat sama istri!" celotehnya.
"Loh, kamu sendiri yang membuatku seperti ini. Cepat jawab ada apa ini? Kemana Bu Ratna dan juga Alea?" tanyanya geram.
Zea terdiam, melipat tangannya di dada.
"Oh kamu tetap nggak mau jawab baiklah, aku akan cari tahu sendiri."
Ansell hendak melangkah masuk ke dalam, tapi Zea dengan cepat menarik tangannya menjauh dari rumah itu.
"Jangan kacaukan semuanya! Kamu sudah tak ada hubungannya lagi dengan pemilik rumah ini, kecuali anakmu itu."
"Sampai kapanpun aku dan Bu Ratna tetap akan terhubung, karena beliau yang mengurus anak kandungku juga. Cepat katakan ada apa sebenarnya ini?" tanyanya lagi.
"Zea!" teriaknya melihat sang istri masih saja terdiam.
"Michael menguasai beberapa tanah di desa ini, termasuk tanah ini. Dia berencana membangun kantor cabang di sini," ucapnya tanpa melihat suaminya.
"Michael? Bosku? Apa hubungannya dia denganmu?"
"Asistennya menghubungiku, dan menawarkan pekerjaan ini."
"Jadi, dia menggusur rumah Bu Ratna dan beberapa warga di desa ini untuk membuat kantor? Dan dia memilihmu untuk menjadi manager, begitu?" ulangnya.
"Iya," jawab Zea singkat.
"Sebentar," Ansell memegang keningnya yang terasa pening.
"Kenapa dia memilihmu? Dan kenapa harus di desa ini?"
"Mana aku tau! Tanyakan aja pada bosmu itu," kata Zea melangkah meninggalkan suaminya.
Ansell masih diam mematung, mencoba mencerna perkataan yang baru saja didengarnya.
"Ada apa ini? Tempo hari lelaki itu juga pernah menyinggung soal Hanna," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...