
"Ngapain di sini,?" Tanyanya penasaran.
"Pak Hendi memanggilku," jawabnya polos.
"Kenapa Reyhan? Saya nggak boleh manggil Hanna ke sini?" Matanya melirik tajam pria berdasi merah itu.
Reyhan berjalan ke arah meja Hendi dan meletakan dokumen, lalu pergi tanpa kata dengan muka memerah
Hanna merasa tak enak hati, terlebih saat dia melihat tatapan penuh tantangan dari Hendi kepada Reyhan.
"Ada apa Antara mereka berdua? Sejak kejadian saling adu jotos di villa waktu itu, hubungan keduanya semakin memanas." tanyanya dalam hati
"Kamu pacaran, sama Reyhan?" Pertanyaan Hendi mengagetkannya.
"Ooh, engga, Pak." Jawab Hanna sambil menunduk menyembunyikan pipinya yang merona.
"Sudah punya pacar?"
"Haish pertanyaan macam apa ini?" bisik pria itu dalam hatinya.
Hendi merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Bagaimana bisa menanyakan hal pribadi seperti itu, tapi entah kenapa dia semakin berani untuk bertanya setelah kemunculan Reyhan tadi.
"Maaf Pak, jika tidak ada yang penting untuk dibicarakan lagi, boleh saya kembali ke ruangan saya?"
Hanna mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau berada di posisi yang canggung terus menerus.
"Sebentar, bagaimana kalo bagi saya ini penting?" Hendi sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Bagaimana bisa, pribadi saya penting untuk Bapak?"
"Setidaknya saya tau, rekan kerja saya single atau sudah memiliki pasangan hidup."
"Ah, bodo amat dia mau mikir apa. Udah kepalang ikut campur sedari tadi." Bisiknya dalam hati.
"Saya single, saya harap jawaban ini cukup jelas dan tidak perlu diperjelas lagi, Pak." Jawabnya seraya tersenyum tipis.
Entah kenapa ada perasaan lega menyelinap masuk di hati Hendi, seperti mendapat terpaan angin. Sejuk. Wajahnya mendadak sumringah.
"Oke, silahkan kembali ke ruanganmu."
"Baik, Pak. Saya permisi," Tanpa menoleh Hanna membuka pintu dan berlalu pergi.
Hendi tersenyum, membuka layar ponselnya dan menatap sebuah foto yang berhasil ia curi saat wanita itu duduk di depannya.
"Sepertinya hatiku telah berhasil kau ambil, tanpa perlu kau berusaha mengambilnya." gumamnya dalam hati.
"Eh, gimana? si beku itu ngomong apa aja sama lu?" tanya Sinta saat Hanna sudah di sampingnya.
__ADS_1
"Dia pengen gue gabung di timnya."
"Apa? serius? Gilaaa ... bener dugaan gue, kayanya Pak Hendi naksir lu deh."
"Apaan sih Lu?!" Hanna menggigit bibir bawahnya, sedikit kepikiran pernyataan temannya itu.
************
Akhirnya Hendi dan Hanna berada dalam satu tim, Hanna bersedia menjadi sekertarisnya. Tak ayal Reyhan selalu kepanasan ,menahan amarah dan rasa cemburu melihat mereka sering bersama.
Hendi semakin kagum kepada wanita itu, diam-diam dia selalu memperhatikan setiap senyuman dan tawanya. Membuat sebuah rasa muncul tak terbendung.
Selain sikapnya yang sangat profesional dalam bekerja, Hanna juga sangat pintar memberikan masukan kepada Hendi ketika mereka menemukan masalah.
Namun, satu hal yang membuat Hendi berpikir keras, Hanna selalu menjaga jarak dengannya. Meskipun terlihat mudah memilikinya, kenyataannya sulit sekali mendapat perhatian darinya. Seringkali Hendi memberi minuman kepadanya, tetapi wanita berkulit putih itu menolak dan memilih membeli sendiri atau membawa minum.
Hanna sangat sulit didekati, apalagi menjangkau hatinya seolah tertutup sebuah tembok besar. Hendi semakin dibuat penasaran, sebenarnya dia ingin bertanya perihal masa lalunya, tetapi dia tak cukup punya kesempatan untuk itu.
Kedekatan mereka terlihat intens, membuat seisi kantor curiga bahwa Hanna menjalin hubungan dengan Hendi.
Banyak yang setuju, karna mereka terlihat serasi ganteng dan cantik. Banyak juga yang mencibir kedekatan mereka. Yang jelas ada satu orang yang tidak terima atas kedekatan mereka saat ini.
"Aku sadar betul, siapa aku jika dibandingkan dengan seseorang yang sedang dekat denganmu saat ini, Hanna. Tapi aku percaya, cinta akan mencari sebuah kenyamanan, apalah artinya cinta jika rasa nyaman tidak kau temui. Dan entah kenapa, aku merasa yakin sanggup memberimu kenyamanan di atas rasa cinta yang sangat besar ini. Ijinkan aku hadir dalam hatimu! Mungkin ini kesekian kalinya, aku mengetuk pintu hatimu, jika kali ini kau tetap diam maka, aku sudah menemukan jawaban atas semua pertanyaan ini."
Reyhan akhirnya menuliskan isi hatinya di memo kecil dan menempelkannya di layar laptop milik Hanna kemudian menutupnya.
Reyhan yang baru saja hendak keluar berpapasan dengan Hanna.
"Pagi, cantik." sapanya dengan senyum mengembang.
"Pagi, Rey. Maaf boleh aku lewat?" Pintu terlihat sempit mengingat badan besar Reyhan berdiri di tengahnya.
"Ah, sorry, sebentar." Reyhan mengulurkan tangan ke arah mata Hanna, membuat wanita itu mundur selangkah.
"Ada bulu mata jatuh, kayanya ada yang kangen kamu." Lirikannya menggoda.
Hendi yang hendak menaiki tangga terhenti melihat kedekatan keduanya. Matanya tak lepas menatap ke atas, dadanya panas dan bergemuruh melihat Reyhan memegang pipi wanita mungil itu.
"Apaan sih kamu, aku buru-buru nih. Duluan yaa ...!" Hanna bergegas masuk seraya tertawa geli, meninggalkan Reyhan yang tersenyum bahagia melihat wanita pujaannya.
Baru saja dia duduk di mejanya dan hendak membuka laptop, tiba-tiba pintu terbuka terlihat Hendi sudah rapi dan siap berangkat.
Semua mata tertuju padanya, mulut mereka hampir menganga melihat penampilan pria bermata sipit itu. Dengan kemeja biru dan jas hitam serta dasi warna senada.
Dia tak menghiraukan seisi ruangan yang menatapnya, dengan penuh kagum. Karena Hendi terlihat sangat ganteng dan keren, kemeja birunya membuat kesan segar penampilannya.
"Hanna, bisa kita berangkat sekarang?"
__ADS_1
"I-iya, Pak sebentar, saya ambil laptop dulu"." Buru-buru dia memasukan laptopnya dan beranjak pergi dari ruangan mengekor Hendi, atasannya itu.
*********
Sepanjang perjalanan Hanna dan Hendi hanya sesekali terlihat berbincang, selebihnya mereka hanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Ini pertama kali keduanya pergi jauh bersama, hati Hanna berdebar tak karuan. Terlebih Hendi terlihat sangat ganteng hari ini dengan rambut klimis dan sepatu pantopel glowing. Siapapun wanita yang diliriknya pasti akan salah tingkah.
Setelah menempuh kurang lebih tiga jam perjalanan, sampailah mereka di depan gerbang sebuah perusahaan besar. Mereka hanya mampir sekali untuk mengisi bensin dan membeli cemilan di minimarket tadi.
"Kita sudah sampai, bersiaplah kita akan menemui Pak Ansell untuk membahas kontrak kerja dengannya."
Deg ... tiba-tiba hati Hanna tersentak, jantungnya berdegup kencang.
"A-Ansell?! Nama panjangnya siapa, Pak?" Tanyanya dengan penasaran yang memuncak.
"Ansell Arian Rendra," jawab Hendi polos sembari merapikan dokumennya.
Jlegggeeeerr!
Matanya nanar melihat sekeliling dan ternyata benar, dia berada di perusahaan tempatnya bekerja bersama Ansell tiga tahun yang lalu.
Hatinya berkecamuk, entah takdir apa yang akan dia jalani. Kenapa dunia seluas ini masih harus terhubung dengan kisah masa lalunya. Setelah dia berusaha keras berlari jauh melupakannya dan mengubur dalam kisah pahit bersama Ansell yang memang belum berakhir itu.
Namun, Hanna telah menganggap bahwa pria itu bukan lagi suaminya. Semenjak pengkhianatan itu terjadi.
"Ada apa, kamu terlihat kaget?" Hendi sudah menatap wajah pucatnya.
"Pak, saya ..."
Belum selesai Hanna bicara tiba-tiba ponsel Hendi berbunyi.
"Ya, halo Pak Ansell! Saya sudah sampai di parkiran ini, lima menit lagi saya ke ruangan Bapak ya, oke-oke bye!"
Keringat dingin membasahi dahi Hanna, dia kembali teringat masa lalunya, kembali teringat Ansell dan semua kisahnya.
"Aku belum siap bertemu pria itu, apa ini masih Ansell yang sama atau berbeda? Tapi, aku yakin ini adalah Ansell si baj***** itu. Bagaimana caranya aku menghindar?" Dia terus saja gelisah dan memikirkan cara untuk tidak bisa ikut ke dalam.
"Ayo Hanna, Pak Ansell sudah menunggu di ruangannya." Hendi membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangan membantunya keluar dari mobil.
"Terima kasih, maaf Pak, ini pertama kalinya saya meeting dengan bos perusahaan besar. Sa-saya merasa deg-degan dan gemetar, bagaimana kalo kita undur saja dulu, Pak?"
"Tidak apa-apa, ada saya di sini. Kamu cukup mendampingi saya."
Sebuah senyum tersungging di bibir Hendi membuat Hanna salah tingkah.
Tiba-tiba dia menemukan cara untuk menghadapi Ansell, jika memang tidak ada cara lain maka sepertinya ini satu-satunya cara terbaik.
Bersambung
__ADS_1