Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
AIDS


__ADS_3

Rumah dengan dominan cat putih itu tampak penuh sesak orang, beberapa mobil berderet di sepanjang jalan komplek perumahan elite itu. Beberapa kolega, sahabat dan keluarga berkumpul di sana.


Mereka bersenda gurau dengan wajah penuh binar memandang makhluk mungil berbaju merah yang tampak kebesaran. Di sampingnya terlihat setumpuk angpao merah pemberian dari orang-orang itu. Juga beberapa hadiah berderet di sisi lainnya.


Ya, mereka tengah mengadakan pesta kelahiran anak dari Hendi dan Siska. Beberapa keluarga, saudara, sahabat dan karyawan perusahaan hadir di sana. Raut wajah Chandra terlihat sangat bahagia, dengan bangganya ia menggendong bayi mungil yang tengah tertidur di atas bantal itu.


"Namanya siapa, Pak Chan?" tanya seseorang yang baru saja tiba.


"Siapa tadi, Hen?" Ia malah bertanya balik pada Hendi yang berdiri siaga di sampingnya.


"Yaahh gimana nih, baru jadi kakek beberapa hari aja udah mulai pikun Pak Chandra ini!" seru pasangan di depannya itu sambil tertawa lebar.


"Hahaaha, maklumlah yang kasih nama kan papih sama mamihnya saya juga baru dengar sekilas tadi," elaknya sambil nyengir.


"Valentino Henka Saputra," ucap Hendi dengan senyum penuh kebanggaan menatap wajah mungil itu.


"Dia ini putih, idungnya mancung persis macam papihnya yah." celetuk wanita di samping pria tadi.


"Ya jelaslah, kalo dia mirip tetangga bisa repot nanti." jawab yang lainnya bergurau dan diikuti tawa meledak dari mereka semua.


Siska termenung di samping tempat tidurnya, suasana ramai itu semakin membuat hatinya sedih. Ia tak sanggup menahan tangis melihat wajah bahagia Hendi, tatkala sesuatu yang besar tengah dirasakannya.


Bagaimana tidak, sang suami yang mengidap penyakit mematikan itu baru saja semalam menggigil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya terasa amat menyakitkan dan demam yang tak kunjung reda.


Namun, pagi ini dia terlihat memaksakan diri menemui para tamu dengan menahan semuanya. Membuat Siska tak kuasa menitikkan air mata dan segera berlari menuju kamar.


"Ngomong-ngomong istrimu mana, Hen?" tanya Chandra celingukan mencari sosok ibu dari bayi yang digendongnya.


Tubuh mungil itu tampak bergerak-gerak mencari kehangatan, tangan yang dibungkus sarung putih itu berulang kali diarahkan ke mulut dan mengusap seluruh wajahnya hingga menjadi merah.


"Tadi kayanya ke kamar sebentar deh om, sini biar Hendi yang gendong," pintanya seraya meraih bantal tempat sang bayi itu.


"Lebih baik kamu bawa ke kamar sepertinya dia mau menyusu." Viona datang dari belakang membawakan camilan lagi.


"Iya ... mari semuanya saya tinggal dulu sebentar yah. Silahkan dinikmati makanannya," ucap Hendi seraya melangkah menuju kamar mereka.


Baru saja ia hendak membuka pintu, Siska tampak keluar dari sana.


"Dede kayanya mau menyusu," kata Hendi dengan suara lemah sambil menyerahkan bayi itu kepada ibunya.


Dengan sigap Siska menggendong bayinya, baru saja tubuh sang bayi terangkat dari bantal kasur itu tiba-tiba tubuh Hendi roboh kepalanya membentur pintu.


"Hendii!" pekik Siska membuat beberapa orang menengok ke arahnya.

__ADS_1


Chandra yang mendengar teriakan Siska segera berlari, dan mendapati keponakannya terbaring di lantai.


"Hendi kenapa?" tanyanya panik seraya berusaha membangunkannya.


"Nggak tau om, tiba-tiba dia terjatuh." jawab Siska tak kalah panik terus memegang tangan suaminya.


"Badannya panas sekali," kata Chandra saat meraba kening dan pipinya.


"Sepertinya Hendi pingsan Pak!" seru Gio yang berada tepat di sampingnya.


"Cepat bawa dia ke rumah sakit!" perintah Chandra.


Lalu, ia dan beberapa orang lainnya membopong tubuh Hendi menuju mobil.


"Kamu di sini aja sama Tante, Sis. Nggak enak kan masih banyak tamu," ujar Viona menahan tangan Siska saat hendak ikut mengantar suaminya.


"Tapi, Tante ...."


"Biar om yang urus Hendi, kasian para tamu biarkan mereka makan dulu." kata Chandra seraya masuk ke dalam mobil.


Mobil hitam itu melesat dengan cepat menuju rumah sakit, raut wajah Chandra yang terus memegangi tubuh Hendi tampak risau. Sementara Gio dan satu karyawannya lagi duduk di depan.


"Sepertinya Pak Hendi kecapean, Pak." kata Gio berusaha menenangkan bosnya yang tampak gelisah.


Sesampainya di rumah sakit, Hendi segera dibawa ke UGD. Serangkaian pemeriksaan pun disiapkan. Beberapa perawat dan dokter sudah berada di sampingnya.


"Silahkan bapak di luar dulu yah," perintah suster kepada Chandra.


Pria paruh baya itu menurut segera melangkah keluar ruangan meski berulangkali menengok ke arah Hendi.


Sementara di kediaman Hendi para tamu mulai membubarkan diri karena merasa tidak enak dengan peristiwa yang menimpa pemilik rumah. Suasana suka cita berubah menjadi hening, hanya ada obrolan dari beberapa sanak family yang masih menunggu kabar di sana.


Setelah rumah itu sepi Siska tak bisa lagi menahan gemuruh di dadanya, yang sedari tadi tertahan. Air mata itu perlahan kembali meluncur tatkala melihat bayi mungil yang tertidur pulas di sampingnya.


Viona berjalan menghampirinya, "Kamu yang sabar dan tenang, Siska. Selama ini kan Hendi nggak pernah ada keluhan apa-apa kan? Percaya deh dia pasti cuma kecapean aja," ujarnya mengelus kepala wanita itu pelan.


Kelu rasanya lidah Siska mendengarnya, kenyataan pahit yang mereka sembunyikan atas kemauan Hendi tak dapat lagi dibendungnya.


Wanita muda itu pun menghambur ke pelukan Viona membuatnya khawatir mendengar suara tangisan menantunya yang semakin kencang.


"Hendi sakit, Tante. Dia sakiitt," erangnya tertahan seraya memegangi mulutnya.


"Sakit? Sakit apa?" tanya Viona tak mengerti.

__ADS_1


Ia mencoba memegang pundak Siska dan menegakkan tubuhnya berhadapan dengannya.


"Coba kamu tenangin dulu, cerita sama Tante ada apa sebenernya? Apa kalian menutupi sesuatu dari kami?"


"Hendi ... dia ... dia terkena HIV," jawabnya terbata diiringi raungan tangisnya.


"A-apa? HIV? Bagaimana bisa, Siska?"


Viona bangkit dari duduknya, melihat wanita di depannya tak percaya. Mulutnya ternganga, kedua alisnya bertemu tak menyangka dengan apa yang didengarnya tadi.


***


"HIV dok? Nggak, nggak mungkin. Dia cuma punya satu pasangan dan istrinya itu sehat dia negatif HIV anaknya pun juga. Bagaimana Hendi bisa terkena virus itu?" sergah Chandra tak percaya saat dokter memberikan keterangannya.


"Tapi itulah kenyataannya, kondisinya sekarang semakin mengkhawatirkan. Sepertinya beliau tak pernah terapi atau pun meminum obatnya," jelas dokter dengan wajah risau.


"Apa istrinya juga tidak tahu mengenai ini?"


"Sebentar dok, ini beneran dia kena HIV?" tanyanya masih tak percaya. Lututnya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang karna syok.


"Loh, ngapain saya bohong? Silahkan bapak lihat sendiri hasil tesnya. Bahkan virusnya sudah berkembang menjadi AIDS," Pria paruh baya itu menyerahkan selembar kertas pada Chandra.


Tiba-tiba usai membaca isi kertas itu tubuhnya lemas bersandar pada kursi di belakangnya. Ia mengusap kasar wajahnya, menghela napas panjang.


"Dia nggak pernah cerita sama saya dok," ucapnya lemah. Buliran bening menggenang di pelupuk matanya.


"Padahal hanya saya keluarganya, orang terdekatnya selain istrinya. Dan saya juga yang telah membesarkannya. Menganggapnya sebagai anak sendiri, tapi dia tak pernah terbuka sampai saat ini." lanjutnya parau.


Chandra menelungkupkan kedua tangannya di wajah. Bahunya terguncang, dadanya sesak menerima kenyataan pahit ini.


"Lalu, sampai kapan dia bisa bertahan?" tanyanya kemudian.


"Entahlah, hanya Tuhan yang tahu kapan batas umur kita. Tapi, jika dilihat dari kondisinya saudara Hendi tak akan bertahan lama. Virus itu perlahan tapi pasti sudah merusak kekebalan tubuh pasien. Bukan maksud saya menakuti, jika tak ada dukungan dari keluarga dan mengabaikan pengobatan serta saran dokter maka kita harus siap dengan konsekuensi yang ada," jelasnya panjang lebar.


Deg! Jantung Chandra seolah berhenti berdetak.


Keponakan yang sangat ia banggakan, yang selalu bisa diandalkan harus bernasib seperti ini.


"Tolong lakukan yang terbaik dok, tolong berikan obat paling mahal sekalipun. Tolong dok," rintihnya melihat pria di depannya penuh harap.


"Sayangnya sampai saat ini belum ada obat khusus untuk penyakit ini. Tapi ada obat untuk memperlambat proses virus ini menggandakan diri. Sehingga dapat memperpanjang umur pasien," terangnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2