
"Tante, Hendi mau nanya satu hal. Apa hati bisa dipaksakan?"
"Bisa saja, dipaksa untuk terbiasa. Hidupmu terlalu berharga Hen, jika harus bersama wanita itu." Tuturnya seraya menatap keponakannya.
"Tante, saya berharap hanya satu kali mengatakan ini. Tolong dengar baik-baik, Hendi akan lakukan apa pun yang tante suruh untuk bisnis kita. Tapi, tidak dengan masalah pribadi. Ini hidup Hendi, apa pun yang terjadi di dalamnya seberapa besar pun pengorbanan, materi dan segalanya yang telah tante berikan. Tolong, jangan pernah ikut campur masalah hati," tuturnya dengan raut wajah yang menegang.
"Cinta tak bisa dipaksakan tante. Begitu pula hati, ia akan berlabuh pada pilihannya sendiri. Dan lagi, mungkin menurut tante Hanna buruk tapi tidak denganku. Untuk saat ini, dia adalah harapan terbesarku untuk tetap ada di sini," lanjutnya.
Kaki jenjangnya melangkah memasuki rumah, meninggalkan Viona yang mematung. Dia tak menyangka dengan apa yang didengarnya.
Baru kali ini Hendi yang pendiam, penurut dan selalu hormat padanya menentang dengan tegas nasehat dan masukkan darinya. Hatinya geram, kembang kempis menahan amarah. Bukan lagi soal wanita itu, tapi keponakan yang selalu dibanggakan suaminya itu sudah di luar kendalinya.
"Mami ngapain di luar?" Suara Chandra mengagetkannya.
Tiba-tiba dia berhambur memeluk suaminya. Tangisnya pecah di dada bidang pria itu. Seraya sesenggukan dia menceritakan perlakuan Hendi padanya.
"Anak itu beneran deh, udah kena toxic parah dari si Hanna. Dia udah berani banget nentang aku pi," Adunya dengan mengusap air matanya.
"Nentang gimana?" Chandra memegang pundaknya.
"Ya pokoknya dia tetep lanjut ngejar si Hanna itu, apa kata orang nanti coba? Bikin malu aja!"
"Mi, udah deh! Biarin dia milih pasangan sesuai dengan pilihannya. Kita nggak berhak ngatur wilayah pribadinya. Toh sejauh ini, dia selalu memilih dengan tepat. Langkah bisnis yang dia ambil contohnya, nggak pernah meleset. Itu udah lebih dari cukup menjadi pembuktian bahwa dia memang sudah dewasa dan matang. Dia mampu mempertimbangkan baik buruknya."
"Tapi, pii ...."
"Jangan khawatir terlalu berlebihan, Hendi sudah dewasa. Lepaskan dia, biarkan memilih apa pun yang jadi pilihannya." Chandra memeluk istrinya mencoba menenangkan kegelisahannya.
"Liat aja, kalo sampe itu terjadi nggak akan gue biarin mereka tinggal di sini." batinnya seraya menatap sinis punggung Hendi yang menaiki tangga.
*******
Seorang anak perempuan cantik, tengah duduk di ayunan tali yang diikatkan pada pohon jambu air yang menjulang tinggi dan besar. Kedua tangannya memegang erat tali itu, lalu bersiap mendorong ayunan ke belakang kemudian maju perlahan. Wajah cerianya terlihat jelas, saat senyuman mengembang merasakan angin menyentuh rambutnya.
"Aniiinn," teriak perempuan setengah baya dari dalam rumah.
"Iya Ibuuu," jawabnya tanpa menoleh dan masih asik bermain ayunan.
"Sini, kita makan dulu Naak!" ajaknya dari balik pintu seraya membawa sepiring nasi dan lauknya.
Dengan setengah berlari anak itu menghampiri. Rambut pirangnya tergerai tertiup angin, mata sipit dan hidung mancung terlukis di wajahnya.
Tak lama mereka makan sambil bercengkrama bercerita apa pun yang ditanyakan anak itu.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari kejauhan.
"Waalaikumsalam, Hanna!" Pekik sang Mama, wanita itu langsung memeluk anaknya erat.
"Ya Allaah, ini beneran kamu Nak?!" tanyanya memegangi lengan anaknya tak percaya.
"Iya ini aku, ma." Netra Hanna sudah basah memeluk erat sang mama.
"Mama apa kabar?" Tanyanya menahan tangis.
"Mama baik sayang, ayo kita masuk." Ajaknya sambil menyimpan piring yang sudah ludes dilahap gadis kecilnya.
Langkah Hanna terhenti, saat melihat anak perempuan itu tengah bersandar pada pintu dan memandang dengan lirikan asing pada Hanna. Bu Ratna yang menyadari kekakuan itu langsung menghampiri Anin.
"Sayang, ini Mama Hanna. Ayo sapa dan salim," perintahnya lembut sambil mengusap pelan rambutnya.
"Mamaaaa ...!" Pekiknya seraya berhambur memeluk Hanna. Sontak wanita itu diam mematung dengan mata yang membulat. Tubuhnya kaku dengan tangan yang gemetar.
"Ma, tolong bawa anak ini!" Suruhnya tak nyaman.
"Biarkan Anin memelukmu sebentar," pintanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hanna mulai risih, terlebih rambut anak itu mulai menutupi wajahnya. Hatinya berdegup kencang ia memilih untuk melepaskan pelukan Anin.
"Mamaaa," teriak gadis kecil itu lagi.
__ADS_1
"Anin, main ayunan dulu yah." Pinta Bu Ratna.
Dia pun mengangguk dan berlari menuju ayunan. Sejenak ia menatap wajah Hanna, dan mata mereka bertemu. Entah apa yang terjadi pada hatinya, yang jelas wanita itu merasa ada sesuatu yang tergerak dalam hatinya.
"Ah, gue mikirin apa sih!" batinnya.
"Ayo masuk Nak," ajak sang mama.
Hanna beranjak memasuki rumah. Meski hatinya merasa tak karuan dia berusaha menepisnya.
"Kamu kenapa pulang nggak ngabarin mama dulu?" Tanya wanita paruh baya itu seraya menyodorkan minuman ke meja.
"Dadakan juga ma, malem ngajuin cuti besoknya langsung balik."
"Ada apa? Kamu lagi ada masalah?"
Hanna menghela napas panjang, matanya menyapu tiap sudut rumahnya itu.
"Banyak ma," jawabnya tertunduk.
"Sini cerita sama mama," Bu Ratna mendekat memandang serius Hanna.
Wanita itu terdiam, memandang ragu sang mama.
"Ansell ngajak balikan ma," ucapnya kemudian. Ia menyenderkan kepalanya ke sofa, menatap langit-langit.
"Ansell? Lalu?"
"Ya aku tolaklah, buat apa kembali mengulang kisah lama yang menyakitkan."
"Dia masih, sama istrinya?"
"Udah cerai katanya,"
"Hah? Mereka cerai? Nggak mungkin, pasti akal-akalan dia aja. Lagian kalian ketemu dimana sih?"
"Mereka cerai beneran, si istrinya itu sempat melabrak Hanna ke kantor."
"Ya rame, untungnya bos Hanna pak Chandra dan Hendi nggak begitu ambil pusing kejadian itu. Cuma Bu Viona aja istri bos yang kelewatan," jelasnya.
"Kelewatan gimana?"
"Nggak ngerti Hanna juga, takut ponakannya diembat aku kali."
"Ponakannya? Siapa?"
"Si Hendi itu, atasan Hanna sekarang. Kan dia ponakan pak Chandra."
"Owalah."
"Apalagi, seisi kantor sekarang tau semua statusku."
"Ya Allah, terus mereka pada jauhin kamu?"
"Ada sebagian, termasuk Bu Viona yang benci banget sama aku."
"Ya udahlah, kamu nggak usah mikirin orang yang membenci. Pikirin aja orang-orang yang peduli dan sayang sama kamu, itu lebih membuat hati tenang."
"Tapi kan ma, tetep aja kepikiran. Hanna kan kerja di lingkungan mereka tiap hari ketemu."
"Jangan pernah memikirkan segelintir orang yang bisa menghancurkan hidupmu, disaat ada banyak orang yang berharap kebahagiaanmu Nak."
Hanna terdiam, ia menatap lekat sang mama. Guratan semakin terlihat jelas di wajahnya, kantung mata tebal dan tatapan sayu tergambar di sana. Perlahan ia menengok gadis kecil yang kini tengah bermain tanah di halaman rumah. Ia tampak sedang berceloteh seorang diri.
"Bapaknya nanyain anak itu," ucapnya kemudian dengan mata yang belum lepas dari sang anak.
"Masih ingat dia sama anaknya?"
"Dia bilang, ingin memperbaiki semuanya demi anaknya."
__ADS_1
"Lalu, kamu?"
"Hanna nggak mau, bekas duri itu akan tetap ada meskipun dia mencoba mengobati lukanya. Seumur hidup, akan dikenal sebagai pelakor jika pada akhirnya kembali padanya."
"Carilah pria lain yang bisa membahagiakanmu, dan ingat kenali keluarga dan dirinya dengan baik sebelum memutuskan hidup bersama. Jangan sampai, hal itu terulang kembali." Nasehat sang mama sambil mengusap lembut rambut anaknya.
Hanna merasa terpukul dan trauma, mengingat masa lalunya. Bisa-bisanya dia tertipu lelaki. Dan kali ini impas, dia merasa puas melihat Ansell hancur.
"Mamaaa ...!" Anin memasuki rumah dengan tangan berlumuran lumpur memeluk Hanna.
"Iiihhh, kotor Aniiinn! Sana-sana!" bentaknya menjauh dari gadis itu.
"Hanna! Jangan dibentak kaya gitu, dia belum paham. Kasian kan, liat tuh ampe murung." Bu Ratna mendekati gadis mungil itu, memeluk kemudian menggendongnya.
Hanna tak menghiraukan dan berlalu menuju kamar mandi.
"Ya Allah, sampai kapan dia tak akan menganggap anak ini?" Batin wanita paruh baya itu bergejolak melihat tingkah laku sang anak. Netranya kembali basah.
"Ampuni anakku ya Allah, lembutkanlah hatinya." bisiknya dalam hati.
*****
"Hanna, cuti kemana Hen?" Chandra menghampiri ruangan keponakannya itu dengan membawa setumpuk dokumen.
"Katanya sih mudik, mau nengokin mamanya."
"Berapa hari?" Dia menyimpan dokumen itu di meja Hendi.
"Tiga hari paling, lusa dia ada meeting kan."
"Terus, siapa yang backup kerjaan dia?"
"Hendi juga nggak masalah," jawabnya tanpa menoleh. Tangannya sibuk mengetik di laptop.
Chandra terdiam, menatap keponakan kesayangannya itu.
"Dia harus bahagia, kasian anak yatim piatu ini selalu bersikap dingin pada siapapun." gumamny dalam hati.
"Kalo kamu beneran cinta sama dia, buruan lamar. Jangan sampe keduluan cowo lain di kampungnya," ucapnya meledek.
Hendi seketika menghentikan pekerjaannya, lantas menoleh.
"Tante Viona sepertinya tidak menyukai gadis itu," tuturnya. Wajahnya terlihat datar kembali pada layar mini di depannya.
"Kamu kan yang jalanin, kita sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik. Buktikan aja kalo pilihanmu itu tepat," jawab Chandra seraya membuka pintu dan berlalu meninggalkan Hendi yang kembali termenung.
Tak lama kemudian ia menyambar kunci mobil dan jas hitamnya, menuruni tangga dengan wajah berseri. Diliriknya arloji silver di tangan, yang menunjukkan pukul 11 siang. Lalu, ia membuka pintu ruangan lantai dua.
"Sinta, bisa ikut saya sebentar?" tanyanya pada sahabat Hanna itu.
"Saya?" Tanya Sinta setengah tak percaya.
"Iya kamu," jawab Hendi.
"Ke-kemana pak?"
"Udah ayo, nanti saya jelaskan di mobil." Hendi segera menutup pintu, diikuti Sinta yang terheran-heran di belakangnya. Seisi kantor pun saling berbisik melirik mereka.
"Kita mau kemana, pak?" Tanya Sinta saat mereka sudah di dalam mobil.
"Saya mau tanya beberapa hal soal Hanna,"
"Owalah, saya kira ada apa. Tanya apa pak?"
"Ukuran cincin dia berapa?"
Kedua mata Sinta membesar, menatap tak percaya pria di sampingnya itu.
"Si cool Hendi, akhirnya jatuh cinta sama si cuek Hanna. OMG! Kabar besar ini!" Pekiknya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....