
Michael mendekati meja Hanna dengan langkah jenjangnya. Membuat jantung wanita itu berdegup kencang.
"Maaf-maafkan saya! Saya tidak bermaksud melakukan itu," ucapnya seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya.
"Tidak bermaksud? Tapi sudah kau lakukan. Lelucon macam apa ini?" gertak pria itu melotot.
"Saya hanya tidak ingin langsung hamil. Semua aktifitas akan terbatas. Beri waktu satu bulan ini untuk membereskan dendam saya terhadap dua orang itu," ungkapnya menatap pria di depannya.
"Dendam? Jadi kamu pendendam? Chandra dan Ansell maksudnya?" tanyanya menyeringai.
"Lebih tepatnya memberi mereka pelajaran. Untuk tidak semena-mena kepada hidup orang lain," ungkapnya melirik sinis suaminya.
"Apa kau menyinggungku?"
"Jadi kau tersinggung? Baguslah, jangan sampai aku harus memberi pelajaran terhadapmu juga."
"Heh! Emang kamu siapa? Berani melakukan itu?"
"Aku? Aku jelas istrimu dan ayahmu juga sangat memercayaiku. Jadi, jika kau macam-macam lagi seperti tadi aku tidak akan tinggal diam," ancamnya.
"Oohh jadi kau mengancamku?" Pria itu mencondongkan wajahnya kepada istrinya.
Meski wanita itu merasa ketakutan tapi ia berusaha sekuat mungkin di hadapan Michael.
"Terdengar seperti ancaman mungkin tapi lebih ke peringatan untuk suamiku," gumamnya melengos.
Pria itu tertawa keras menanggapi ucapan Hanna.
Namun suaranya terhenti saat ponselnya berdering.
"Halo," jawabnya cepat saat mengetahui nama supir sang ayah yang menghubunginya.
"Saya sedang menuju ke pabrik tuan muda dengan nyonya dan tuan besar," ucap suara di sebrang sana.
"Sudah sampai mana?"
Terlihat gurat kecemasan pada wajahnya.
"Baru pom bensin dekat rumah sakit."
"Baiklah."
Michael menutup panggilannya. Ia nampak berpikir sejenak, lalu membereskan meja kerjanya serta melihat laptopnya sebentar.
"Urusanmu denganku belum selesai! Pulang kerja nanti kita ke rumah sakit," ucapnya seraya menuju pintu dengan cepat.
"Daddy dan Mommy sedang menuju kemari cepat ikuti aku," ajaknya kemudian.
Hanna mengekor di belakang suaminya dengan wajah tertunduk. Karena sibuk dengan pikirannya tanpa sadar ia menabrak tubuh suaminya yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Aww," pekiknya.
__ADS_1
"Berjalan di sampingku!" perintahnya sambil geleng-geleng kepala.
"Kemungkinan mereka akan mengadakan rapat untuk mengenalkanmu, jaga sikap dan ucapanmu!" bisiknya lagi.
"Loh, ini mau kemana?" tanya Hanna terheran melihat pria itu menuju ke dalam pabrik tempat produksi berlangsung bukan ke depan menyambut sang presdir.
"Aku akan cek keadaan di produksi dulu, tetaplah di sampingku."
Suasana pabrik itu sangat ramai membuat bising pendengaran. Sebagian orang terlihat saling mengobrol dan tertawa bersama. Untuk sesaat kemudian, tak lagi terdengar suara saat bos mereka berjalan melewati para karyawan itu.
Mereka semua menundukkan kepala hormat kepada atasannya. Pria di sampingnya itu tampak cuek dingin tak menanggapi ia sibuk mengalihkan pandangan ke sekitar.
"Berbeda 180 derajat sama bapaknya!" keluh Hanna dalam hati.
Karena Martin biasanya akan tersenyum ramah menyapa karyawannya. Terkadang ia menyempatkan berhenti dan bertanya pada beberapa orang terkait pekerjaannya.
Seorang lelaki tengah baya terlihat tergopoh menghampiri mereka.
"Pagi pak Michael, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan seutas senyum.
"Itu apa yang menumpuk di sana?" tanyanya menunjuk gulungan kain di sudut.
"Oh itu, belum di QC pak."
"Jangan simpan di bawah! Pakai troli atau keranjang," ucapnya lantang.
"Ba-baik pak!"
"Itu sampah kenapa berserakan? Apa tidak ada tempat sampah!" pekiknya.
"Cepat cek di bawah tempat bekerja kalian! Bersihkan sampai tak ada debu sedikitpun. Apalagi sampah!" katanya seraya berjalan mengitari beberapa line.
Mendengar suara keras itu beberapa karyawan menengok dan kembali menundukkan kepala saat mengetahui bos mereka tengah berkeliling. Hanna diam mematung di samping suaminya, masih keheranan cara pria itu menegur.
Semua mata tertuju padanya, beberapa orang ada yang masih mengenalinya. Karena ia dulu memang sekertaris pak Martin yang juga sering berkeliling menyapa karyawannya. Kini, ia berkeliling sebagai istri anak dari bos besar itu.
Beberapa menit kemudian pemandangan di depannya berubah drastis, kini semua orang tampak sibuk bersih-bersih dan membereskan sekitar tempat bekerjanya.
Lalu ia menghampiri seseorang yang merupakan manager produksi yang tengah di dalam ruangan.
Pria itu tampak terkejut dan segera berjalan cepat mendekat mengetahui bosnya datang.
"Presdir akan datang, kau siapkan anak buahmu untuk tidak membuat masalah!" serunya sambil kembali keluar ruangan.
Berita itu langsung menyebar dengan cepat, seantero pabrik nampak ramai beres-beres dan mengecek segala pekerjaannya masing-masing.
Sejak terakhir kali jatuh di ruangannya, presiden direktur itu belum menampakkan diri lagi. Ini adalah kedatangannya yang pertama sejak dinyatakan sakit dan menyerahkan segala kuasanya kepada sang anak, Michael.
Mereka berdua berpapasan dengan David yang tengah berjalan melihat-lihat.
"Hei bocah! Sedang apa kamu?" tanya Michael terhenti.
__ADS_1
"Hai Kakak! Aku? Tentu saja sedang bermain-main," jawabnya seraya menyeringai menampilkan deretan giginya yang putih.
Wajah tampan David berhasil membuat sebagian kaum wanita tak berkedip melihat ke arahnya. Merasa jadi pusat perhatian pemuda itu tampak senang menyapa dan tersenyum kepada karyawan sang ayah itu.
Michael yang merasa mendapat saingan melirik pada semua karyawan yang tengah curi-curi pandang itu.
Kemudian melirik adiknya sinis, David masih kalah tinggi dibandingkan dirinya. Dengan perawakan yang sedikit berisi, pendek dan memiliki rahang yang bulat membuat wajah cubbynya terlihat cute.
Sedangkan Michael bertubuh kekar, tinggi dengan rahang runcing dan mata tajam.
"Ikut aku, Daddy akan sampai dalam beberapa menit lagi."
Dia berjalan mendahului mereka berdua.
"Hai Kakak ipar!" serunya pada Hanna yang sedari tadi terdiam. Dia tengah merasakan kesakitan pada bekas suntikan tadi.
"Hai David," sapanya ramah.
"Kudengar Kakak ipar dulu bekerja di sini?"
"Emm, iya. Tau dari mana?"
"Daddy, dia sangat membanggakan kerja profesional Kakak loh."
"Benarkah?"
"Iya, makannya Kakak disuruh mengawasi Kak Michael kan? Tunjukkan padanya bagaimana cara Daddy menjalankan perusahaan ini," ucapnya setengah berbisik.
"Apa yang kalian bicarakan?" Michael tampak tidak tenang berjalan di depan. Ia menghentikan langkahnya dan menyuruh Hanna berdiri di sampingnya.
"Kau takut aku menggoda Kakak ipar yah? Tenang saja Kak, aku tidak akan memberitahunya berapa banyak mantanmu di sana!" celotehnya seraya berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.
"Bocah itu!" gertak Michael.
Hanna merasa David bukan hanya seorang bocah, pemikirannya sudah dewasa. Dan paham betul posisinya.
"Kedua orang ini sepertinya akan terus perang dingin," gumam Hanna dalam hati.
David memang menyembunyikan kemampuan bisnisnya dari sang kakak, ia sadar akan menjadi bumerang jika ikut campur dalam menjalankan perusahaan.
Namun, sang ayah sudah merasa David memiliki kemampuan dan pemikiran yang mumpuni dan suatu saat bisa menggantikannya jika Michael dianggap tidak becus mengurus perusahaan.
Kini mereka berempat dan beberapa petinggi perusahaan lainnya sudah berkumpul di lobi. Mereka akan menyambut presiden direktur dengan suka cita. Meski Michael merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi. Tapi ia tetap berusaha tenang dengan wajah dinginnya.
Beberapa menit kemudian, mobil BMW itu tiba di depan lobi. David dengan sigap menghampiri mobil itu dan membukakan pintu.
"Sial bocah itu selalu saja cari muka!" gerutu Michael dalam hati. Ia berjalan mendekat.
"Selamat datang kembali presdir," sapanya diikuti seluruh jajaran orang di belakangnya dengan serentak menundukkan kepala.
Martin menoleh pada supirnya yang tampak tertunduk. Dia sudah terlanjur menghubungi Michael saat pria itu memintanya merahasiakan kedatangannya.
__ADS_1
"Terima kasih silahkan lanjut bekerja," ucapnya dari kursi rodanya.
Bersambung...