
Satu bulan setelah rujuk.
"Ansell, apa ini?" tanya Zea menyodorkan notif sms banking yang tadi siang di terimanya.
"Oh itu, maaf aku belum sempat bicara padamu. Tapi sebelumnya tolong mengerti niat baikku ya."
Zea dengan cemas menantikan penjelasan Ansell.
"Oke, coba jelaskan siapa lagi Ratna? Dan ngapain kamu transfer uang ke dia?"
"Dia neneknya Aelea maksudku Anin, anak pertamaku."
Deg, hampir saja Zea lupa bawha ada tanggung jawab lain yang dipikul suaminya selain anak-anak darinya.
"Selama ini aku tak pernah menafkahi dia, jadi aku coba perbaiki semuanya. Walau bagaimanapun dia juga anakku dan aku harus tanggung jawab padanya," ucapnya melihat Zea.
"Sudah beberapa bulan ini aku menyisihkan sedikit uang untuknya, yang kutransfer lewat neneknya. Ibunya tidak perduli pada anak itu, mungkin itulah bentuk balas dendamnya padaku karna telah membohonginya." lanjutnya lagi.
"Tidak perduli? Lalu ngapain dibawa waktu itu kalo dia mencampakkannya?"
"Entahlah, aku pun tak mengerti pola pikirnya. Kata Bu Ratna dia nggak pernah sekalipun memeluk atau membelikan sesuatu pada anaknya."
"Perempuan gila!"
"Tidak Ze, ini semua salahku. Dia begitu karena kecewa padaku!"
"Sebesar apapun kecewanya pada mantan suami nggak sepantasnya dia membenci anak kandungnya sendiri, Ansell."
"Harapannya terlalu besar padaku saat itu, sehingga kecewanya pun lebih besar lagi."
"Sudah yah, aku nggak ingin membahasnya. Aku hanya meminta ijin untuk membagi sedikit rejekiku untuknya. Setidaknya dia harus tahu, kalo aku peduli padanya."
Zea hanya terdiam.
"Ze, kamu keberatan?"
"Entahlah, mungkin saat ini tidak. Tapi aku tak tahu ke depannya. Anak-anak kita juga akan semakin besar, kebutuhannya makin banyak."
"Jangan salah, semakin banyak kita berbagi justru Allah akan semakin melipatgandakan rejeki kita. Selain itu Allah juga akan mensucikan harta kita," jelasnya.
Zea hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
Perjalanan pulang dari rumah Reyhan
"Rey, kamu liat nggak raut wajah mama tadi?"
"Biasa aja ah," jawabnya sambil fokus menyetir.
"Justru aku kaget, mama bisa menerimamu tuh tadi. Biasanya nggak pernah diajak makan malem segala."
"Ooo, emang udah berapa cewe yang kamu bawa ke rumah?"
__ADS_1
"Mmm-ya nggak banyak juga palingan beberapa doank." jawabnya terbata.
"Beberapanya itu berapa? Lima? Atau sepuluh?"
"Kenapa? Kamu cemburuuu yaa?" goda Reyhan menyenggol lengan pacarnya itu.
"Idih, ngapain cemburu. Toh sekarang kamu milikku,"
"Eeaaakkk,"
"Sebentar, ada telepon." Hanna mengambil ponselnya yang berdering dari tas.
"Halo Ma, ada apa tumben malem-malem telepon?" Dia melirik jam di tangannya pukul 9 malam.
"Kamu lagi ngapain?" tanya sang mama di sebrang sana.
"Aku baru aja dari rumah Reyhan, Ma."
"Ansell tadi menghubungi Mama."
"Terus? Mau ngapain lagi dia?"
"Nggak ada sih, dia cuma nitip uang buat Anin." Suara sang mama terdengar bahagia.
Deg hati Hanna tersentak. Dia yang notabene-nya adalah ibu kandung anak itu, tidak pernah memberinya apapun yang khusus untuk Anin. Selama ini paling hanya kirim uang saja untuk sang mama.
"Oh, ya baguslah dia tanggung jawab sama anaknya." Hanna menjawab ketus.
"Tadi dia juga sedikit cerita, kalo dia sama mantan istrinya udah rujuk, Nak. Alhamdulillah yah, akhirnya dia bisa melupakan kamu dan kembali bahagia sama keluarganya."
Kali ini Hanna tak tahu lagi kenapa hatinya semakin pedih.
"Mereka memang pantas bahagia, karena aku yang tiba-tiba hadir menghancurkan segalanya." ucap Hanna getir.
Reyhan hanya melirik Hanna sambil sesekali menggenggam tangannya.
"Betul sekali Nak, istri sah itu lebih berhak dari perempuan mana pun. Seorang perempuan sebaik apapun, jika ia merebut suami orang maka akan dicap sebagai perempuan yang tidak bermartabat. Status itu akan menempel selamanya, jadi langkahmu sudah benar untuk mundur. Meskipun mama tau kamu tidak pernah berniat seperti itu."
"Iya Mah, udah dulu yah, nggak enak sama Reyhan nih."
"Oh ya udah, kamu hati-hati yah."
Telepon kemudian tertutup. Hanna masih tertegun mencerna pembicaraan tadi.
"Kenapa?" Reyhan membuyarkan lamunannya.
"Nggak papa," jawabnya singkat.
"Mantan suami kamu masih suka ngubungin?"
"Ke aku engga, tapi Mama. Dia mengirim uang pada anaknya," kata Hanna dia melempar pandangan keluar jendela.
__ADS_1
"Terus kamu kenapa ko murung gitu?"
"Aku-aku nggak papa, kenapa emang? Bagus donk dia udah tanggung jawab sama anaknya, katanya dia juga udah rujuk sama mantan istrinya."
Reyhan melihat reaksi yang berbeda dari raut wajah wanita di sampingnya itu.
"Jadi kamu sekarang udah bahagia? Oke aku akan lebih bahagia lagi darimu," bisik Hanna dalam hati.
Entah kenapa darahnya selalu saja mendidih jika teringat mantan suaminya itu. Ada rasa tak rela mendengar dirinya sudah bahagia.
"Mungkinkah luka ini belum sembuh?" gumam Hanna dalam hati.
Luka dikatakan sembuh jika sudah tak merasakan sakit lagi.
"Rey, aku ingin mengatakan sesuatu." Hanna melihat Reyhan dengan serius.
"Katakanlah, kenapa harus ijin dulu?" Reyhan mengerutkan dahinya.
"Aku ini wanita penuh luka, penuh dendam dan ambisius. Masihkah kamu mau memperjuangkan aku?"
Reyhan tampak terdiam sejenak, lalu berkata. "Aku pun pernah terluka, pernah mendendam dan pernah memiliki ambisi yang kuat. Dan aku rasa semua orang pasti pernah merasakannya. Kenapa?"
"Aku selalu ingin diperhatikan, bukan diabaikan. Disayang dan dicintai bukan disakiti. Ditegur dengan halus jika salah, bukan caci maki penuh amarah. Bisakah kamu melakukannya?"
"Hanna, aku mungkin tidak sekaya Hendi, tidak setampan Ansell mantan suamimu, tapi aku pastikan hati dan niat tulusku tidak seperti yang mereka punya. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik, jadi percayalah padaku." Reyhan menatap kekasihnya lekat saat mobilnya ternyata sudah sampai di depan kostan Hanna.
Di rumah Reyhan
"Dia sepertinya baik dan sopan."
"Tetap aja Pa, masa Reyhan yang masih bujang nikah sama janda anak satu. Gimana respon keluarga dan juga orang-ornag nantinya? Kaya nggak ada gadis aja," protes sang mama.
"Lho memangnya kenapa kalo nikah sama janda? Yang penting dia baik, sayang sama anak kita. Sekarang kalo gadis tapi nggak baik buat apa?"
"Ya carinya gadis baik-baik lah Pa. Dia memang terlihat baik, tapi statusnya itu yang nggak cocok sama kriteria mama."
"Yang mau nikah siapa? Ko Mama yang kasih kriteria?"
"Papa ini gimana sih? Reyhan kan anak laki-laki kita satu-satunya, wajar donk Mama protect banget soal jodohnya. Mama nggak mau salah pilih untuk masa depannya." Wanita itu mendengus kesal.
"Inget, saking pilih-pilihnya jangan sampe kamu melupakan kebahagiaan anakmu sendiri. Dia juga sudah dewasa, punya pemikiran dan pilihannya sendiri."
Bersambung...
Iiihh othor ko greget amat ya sama emaknya Rey, yang mau kawin siapa dia yang heboh ya gaes?
Menurut kalian, ni emak kasih restu nggak yah akhirnya nanti?
Jangan lupa like, vote atau hadiah buat othor yaaa 😚
Sarangeoo readers baik hati
__ADS_1