Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Berakhir


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, pikiran Reyhan terus berpusat pada kehidupan sang mantan pacar. Ia tak menyangka serumit itu masalah yang dihadapinya. Namun, dirinya juga tak bisa berbuat banyak karena bagaimanapun mereka sudah menikah.


"Tapi tak ada salahnya gue nyoba bicara sama dia dan memahami perasaannya. Kasian juga kalo sampe dia berjuang sendirian," bisiknya dalam hati.


Pria itu pun menepikan mobilnya sejenak, meraih ponsel dan mencari nama seseorang yang dia rasa bisa membantunya.


"Halo, Rey." Suara di seberang ponsel menjawab.


"Sinta, gue boleh minta tolong?"


"Tolong apa?" jawab Sinta cepat.


"Lu kenapa langsung maen cabut aja kemaren?" tanyanya lagi.


"Sorry, gue ... gue nggak bisa ngandaliin diri waktu itu. Lu ngerti kan gimana perasaan gue sama dia?"


"Iya gue ngerti, gue cuma khawatir aja takut lu kenapa-napa. By the way tolong apa?"


"Lu bisa tolong temuin gue ke Hanna nggak?"


"Lu mau apa lagi sih ketemu dia? Dia udah meried, Rey! Sadar! Bukan dengan sembarang orang, dia meried sama ceo Gemilang dan gue nggak berani lagi ngusik kehidupannya. Kenapa lu masih aja ngarepin dia?" Emosi gadis itu meluap.


Dada Sinta mendadak sesak menyeruak, darahnya mendidih, mengeluarkan hawa panas di sekujur tubuhnya. Bulir-bulir air perlahan meluncur di kedua pipinya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi pria satu ini yang tak pernah mengerti perasaannya.


"Bukan, bukan itu maksud gue, Ta. Gue cuma mau ngomong sama dia," ucapnya tertahan.


"Ngomong apa? Lu sama dia udah selesai Rey! Coba sih sadar dan ngerti perasaan gue."


"Tolong ... ini yang terakhir kalinya gue ketemu sama dia. Setelah itu ... mari kita coba jalani hubungan ini," kata Reyhan memejamkan kedua matanya.


Entah kata-kata dari mana yang baru saja terucap. Sama sekali tak ada niat untuk menjalin hubungan dengan gadis itu. Tapi, kalimat barusan meluncur begitu saja dari mulutnya.


Sinta tercekat, mendadak salah tingkah. Bingung harus menjawab apa.


"Kalo gue langsung menyetujui ucapan Reyhan, keliatan banget bucin parah. Tapi, kalo gue tolak kapan lagi ada kesempatan ini. Waktu yang udah sangat lama gue tunggu," batinnya.


"Halo ... Sinta?" Reyhan mengerutkan keningnya, ia menatap layar ponsel panggilannya masih terhubung tapi tak ada respon apa pun dari gadis itu.


"Iya, gue denger. Gue tanya sekali lagi, ada perlu apa lu nemuin Hanna?"


"Gue baru balik dari rumah orang tuanya Hanna. Dan udah denger semua masalah yang mereka hadapi. Ternyata nggak sesederhana yang kita kira, Ta. Rumit beneran," jelas Reyhan.


"Lalu?"


"Lalu ... ya gue niat mau bantu dia aja. Kalo ternyata dia nggak butuh bantuan ya udah gue mundur. Karena bagaimanapun dia sahabat kita kan?"


"Dan orang yang begitu lu cinta, gitu?"


"Ya nggak usah dijawab lagi kan?"


"Gimana mau mulai hubungan yang baru kalo hati dan raga lu masih mikirin, dan peduli sama cinta lama, Rey?"


"Gue ngerti semua itu nggak gampang. Makannya gue bilang mari kita coba. Bukannya lu juga pernah bilang untuk mencobanya."


"Entahlah Rey. Hubungan gue sama Hanna aja udah renggang," keluh Sinta seraya menundukkan kepalanya di meja.

__ADS_1


"Ayo perbaiki ini semua," ajak pria itu.


Tiba-tiba ponselnya mati.


"Ah sial! Batrenya habis," seru Reyhan.


"Semoga Sinta setuju dengan permintaan gue," ucapnya dalam hati.


Dia pun melanjutkan perjalanannya.


***


"Jadi, hubunganmu dengan Hanna renggang?"


Tiba-tiba Hendi muncul di belakang Sinta yang masih tertegun di depan pintu ruangan Hanna.


"Iya Pak," jawabnya lesu.


"Udah ayo pulang, kita bicarakan di mobil. Percuma juga kamu di sini dia tidak akan keluar," ajaknya melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


Gadis itu pun mengekor di belakangnya dengan wajah tertunduk.


Sementara di dalam ruangan Hanna kalang kabut mencari remot yang ia lempar ke sembarang arah karena kesal tadi.


"Saya cuma ingin istirahat makannya ditutup tirainya," ucap Hanna menuju kursinya.


"Tidak usah berpura-pura, pesan apa yang kamu dengar barusan dari gadis itu?"


Michael sudah berada di depan meja Hanna ia mencondongkan tubuhnya mendekati wajah wanita itu.


"Lalu?"


"Saya tolaklah," jawab Hanna seraya membuka laptopnya.


"Lalu, kenapa tirainya kamu tutup?"


"Say ...."


Belum juga Hanna menjawab tangan Michael sudah memegang kedua pipinya dan menyesap bibir tipis miliknya. Cukup lama ia memainkan lidahnya di sana membuat wanita itu meronta menahan tubuh kekar sang suami.


"Manis juga bibirnya," batin pria itu.


Tak lama kemudian ia melepasnya dan pergi begitu saja keluar ruangan sambil bersiul.


"Pria aneh!" gerutu Hanna merapikan rambut dan riasan wajahnya.


Sementara Michael terkekeh geli membayangkan kelakuan absurd-nya tadi. Entah kenapa setiap di kantor penampilan Hanna sukses menyedot fokusnya. Ia lebih tertantang melakukan hubungan intim di ruangannya itu dibanding di dalam kamar.


"Harus perintahkan Agra memasang tempat tidur di sudut ruangan," ucapnya riang dalam hati.


"Sebentar! Gue nggak jatuh cinta sama wanita itu kan? Tidak ... tidak! Gue cuma butuh tubuhnya untuk memiliki keturunan," serunya kembali dalam hati.


Pria itu pun menuju ruang meeting bertemu dengan beberapa bawahannya dan juga Laura. Membahas terkait pembangunan gedung baru untuk produksi style terbaru dari Gemilang dan juga pembangunan mini market yang dikhususkan mencukupi kebutuhan karyawan.


Hanna yang baru menyadari ada meeting setelah membaca email, bergegas setengah berlari kembali ke ruangan tadi.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti saat berpapasan kembali dengan Ansell yang membawa secarik kertas di tangannya.


"Pak Michael ada?" tanyanya kaku.


"Dia sudah menuju ruang meeting," jawab Hanna dingin seraya melanjutkan langkahnya diikuti Ansell di belakangnya.


"Kenapa dia ikut meeting juga sih?" rutuknya dalam hati.


Dia membuka pintu ruangan itu dan terlihat sudah berkumpul beberapa orang dan juga suaminya yang tengah melihat ke arahnya dari kursi paling depan.


"Sial! Main kabur aja setelah menciumku dan tidak memberitahu jika meeting dimajukan keterlaluan!" gerutunya dalam hati.


Di belakang Hanna, Ansell masuk dengan ragu. Ia melirik ke segala arah mencari kursi kosong dan hanya ada di samping Hanna.


Tak lama kemudian Michael memulai menyalakan proyektor membuat Ansell dengan cepat duduk di kursi kosong itu. Tentu saja Hanna tetap bersikap dingin seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka.


***


Chandra dengan hati bimbang menantikan kabar dari Hendi mengenai nasib perusahaannya. Jika Gemilang mencampakannya dia harus memutar otak mencari supplier kelas kakap lagi dan memulai semuanya dari awal.


Tangannya sudah gatal bolak balik melihat ke layar ponselnya. Tapi keponakannya itu masih belum memberinya kabar. Feeling-nya sudah tidak enak dia yakin terjadi sesuatu di sana.


Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan menenangkan diri. Baru saja ia membuka pintu ponselnya bergetar, terlihat nama Hendi di sana.


"Iya Halo, bicaralah," ucapnya cepat tak sabar mendengar hasil keputusannya.


"Gagal om, Gemilang punya bukti kuat."


Seketika tubuh Chandra lemas, tapi ia berusaha menguasai dirinya bersandar pada pintu.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan. Langsung pulang saja dan istirahat," ucapnya lemah.


Dia mengakhiri panggilannya dan kembali masuk ke ruangannya, kemudian duduk menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan wajah menengadah ke atas.


"Akhirnya sampai di sini hubungan Yukka dengan Gemilang. Ke depannya akan sangat sulit mendapatkan kepercayaan perusahaan besar jika sudah mencoreng reputasi buruk dari salah satunya. Berharap Gemilang tutup mulut dan melupakan semuanya," bisik pria itu dalam hati.


Di dalam mobil Sinta lebih banyak diam, dia memikirkan permintaan Reyhan yang tidak bisa terpenuhi. Wanita itu sepertinya sudah menutup rapat hatinya, bukan hanya untuk Yukka tapi untuk semua masa lalunya.


"Jadi Hanna sama Reyhan belum putus saat dia menikah?" tanya Hendi seolah paham apa yang dipikirkan bawahannya itu.


"Sudah Pak, hanya saja Reyhan masih tidak terima."


"Reyhan memang sangat mencintai Hanna, akan sulit baginya untuk bisa move on."


Sinta tersenyum getir membenarkan ucapan bosnya.


Meskipun kelak ia bisa memiliki raga Reyhan, percuma jika hatinya masih milik wanita lain. Cinta tak akan hadir jika luka belum sepenuhnya pulih.


"Tapi, seiring berjalannya waktu jika ia menemukan wanita yang tepat dan Tuhan telah menjodohkannya. Tak menutup kemungkinan luka itu akan pulih lebih cepat dan cinta akan hadir di waktu yang tepat."


Hendi yang sudah tau bahwa Sinta mencintai Reyhan mencoba memberinya semangat.


Dan terbukti, kata-kata Hendi barusan sukses membuat pipi gadis itu merona.


"Terus perjuangkan dan selalu ada di sisinya, kalo kamu mencintainya. Tapi ingat! Biarkan semua mengalir apa adanya, jangan dipaksa. Lelaki akan sadar siapa yang ia butuhkan pada akhirnya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2