
"Apa? Dia tidak mau kau ikuti?"
"Iya Tuan, saya diusirnya keluar."
"Baiklah tunggu saja dia keluar, kemudian kau cari informasi ke dalam."
Antara khawatir dan penasaran dirasakan Michael. Dia pun menutup panggilannya.
Tak lama kemudian dia menghubungi Ansell untuk meminta dokumen bulanan. Namun, karyawan lain yang menjawab telepon dan mengatakan pria itu tengah cuti.
"Bawa sini semua dokumennya!" perintahnya pada karyawan itu.
Untuk beberapa saat Michael tampak berpikir, mungkin ini bisa dijadikan alasan untuk pemecatannya. Meskipun nanti pasti akan ada protes dari ayahnya, karena Ansell merupakan salah satu karyawan yang diandalkannya.
Setelah menunggu beberapa menit, Hanna tampak keluar sambil meringis. Karena masih pagi, keadaan di klinik masih sepi jadi dia tidak perlu mengantre.
"Sudah selesai, Bu?" tanya Agra.
"Sudah, ayo kembali ke pabrik."
"Sebentar Bu, mendadak saya sakit perut. Saya ke toilet dulu yah," ucap Agra berpura-pura meringis seraya memegangi perutnya.
"Ya ampun kamu ada-ada aja sih, ya udah cepetan!"
Pemuda itu langsung masuk ke dalam klinik dan mencari kamar mandi, sementara Hanna membuka pintu mobil dan menunggu di dalam.
Agra celingukan setelah keluar dari kamar mandi dan mendapati seorang wanita muda di bagian pendaftaran.
"Permisi Mba, saya mau bayar atas pasien yang tadi sakit perut itu."
"Sakit perut?"
"Iya yang barusan keluar dia berobat sakit perut kan?"
"Ada juga ibu2 yang tadi mah suntik KB tapi, dia sudah bayar ko."
"Oohh, sudah bayar yah. Saya kira belum soalnya saya dari kamar mandi. Ya udah makasih yah," ucapnya seraya menundukkan kepalanya.
"Iya sama-sama," jawab wanita itu keheranan.
"Suntik KB? Kenapa dia harus suntik KB? Apa wanita ini tidak berniat memiliki anak dengan Tuan Michael?" gumam Agra sambil berjalan menuju mobil.
"Maaf ya Bu, lama nungguin."
"Nggak papa, ayo cepetan saya banyak kerjaan di kantor."
"Baik Bu," jawab Agra melirik Hanna lewat kaca spion.
Wanita itu tampak duduk kurang nyaman, karena bekas suntikannya. Ini adalah pertama kali baginya suntik KB.
Beberapa menit kemudian mobilnya sampai di lobi, dan dia langsung menuju ruangannya. Tak menghiraukan pandangan beberapa orang terhadapnya.
Michael menghentikan jarinya dari keyboard saat melihat istrinya membuka pintu. Mata mereka bertemu, kemudian saling memalingkan wajahnya ke segala arah.
Hanna langsung menuju mejanya dan mulai membuka laptop, dia akan membuat beberapa dokumen perihal kecurangan perusahaan Yukka.
__ADS_1
Sementara Michael tampak mengirim pesan kepada Agra.
Matanya membulat membaca balasan dari asistennya itu. Ia lantas menghampiri meja Hanna. Tangannya menekan sebuah remot, tak lama kemudian tirai abu-abu itu menutupi semua jendela kaca di ruangan itu. Dan pintu pun otomatis terkunci.
Kursi roda yang tengah diduduki istrinya itu ia dorong hingga membentur dinding belakangnya. Wanita itu terperanjat dan meringis kesakitan saat kepalanya membentur dinding. Ia melihat sekeliling yang tiba-tiba terasa sunyi.
"Apa ruangan ini kedap suara?" tanyanya dalam hati.
"Apa-apaan ini?" tanyanya seraya berdiri.
"Kamu yang apa-apaan?" bentak Michael sambil kembali mendudukan Hanna kasar di kursinya.
Dia memegang kedua tangan kursi itu seraya membungkukkan badannya sehingga wajahnya sangat dekat dengan wanita itu.
"Maksud kamu apa sih?" tanyanya heran.
"Jadi kamu tidak berniat mempunyai anak dariku, begitu?" gertak Michael dengan mata melotot.
Deg!
"Bagaimana dia tahu?" batin Hanna.
"Kamu tau, jika tidak bisa hamil maka tubuh ini tak ada gunanya bagiku." ucapnya mengelus wajah mulus di depannya.
"Dan kamu tahu, apa yang akan aku lakukan terhadap orang yang tidak berguna?" lanjutnya memegang rambut istrinya.
Tubuh Hanna mendadak gemetar, ia memejamkan matanya saat Michael menarik rambutnya ke belakang.
"Aaww! Sakit Mich!" teriaknya.
Pria itu mengusap bibir Hanna pelan dengan ujung jarinya. Tangan yang satunya lagi masih menarik rambutnya membuat wanita itu meringis kesakitan dalam diam.
"Katakan, apa alasanmu melakukan itu?" tanyanya kasar.
"Lepaskan dulu rambutku!" gertak Hanna menendang pangkal paha suaminya. Tak ayal pria itu mundur seraya memegangi dua buah jakarnya yang kesakitan.
"Heh! Beraninya kau menendang pusakaku!"
Michael berlari mendekati Hanna kembali, tapi wanita itu berhasil menjauh dan hendak menuju pintu. Namun, sialnya pintu itu terkunci dan sekuat apa pun dia berusaha membukanya tetap tak bisa bergerak dari tempatnya semula.
Dalam hitungan detik tubuh wanita itu sudah berhasil di raih sang suami. Michael membopongnya menuju sofa dan membantingnya kasar. Lalu, tubuhnya berada persis di atasnya. Wajahnya memerah, nafasnya memburu seraya mendengus kesal. Ia teringat ucapan sang ayah yang harus membuat istrinya hamil dalam waktu satu bulan.
"Kau akan menggagalkan rencanaku, hah?" bentaknya lagi.
"Sori, sa-saya cuma ..."
Tok ... tok ... tok!
Belum saja Hanna menyelesaikan kata-katanya suara pintu terdengar diketuk seseorang.
"Sialan!" seru Michael seraya bangkit berdiri.
"Kak! Buka pintunyaa, urgent nih!"
Suara Laura terdengar berteriak.
__ADS_1
Hanna merapikan kembali kemeja yang lusuh dan rambut berantakannya. Begitu juga pria di depannya dia menghentakan celananya yang terasa sesak itu karena sesuatu di dalamnya terlihat ikut berdiri.
"Aku belum selesai denganmu!" gertaknya.
Dia mencari remot tadi lalu menekan tombolnya. Otomatis tirai dan kunci pintu itu terbuka. Hanna dengan cepat berjalan ke kamar mandi yang ada di sudut ruangan itu.
Laura yang menyadari telah terjadi sesuatu di ruangan itu mendadak salah tingkah melihat kursi Hanna berada di dekat dinding dan bantal sofa yang tergeletak di lantai.
"Sorry, kalo kedatanganku mengganggu," ucapnya lirih dengan seutas senyum menyeringai. Matanya menyapu ruangan mencari sosok kakak iparnya.
"Ada apa?" tanyanya menghiraukan ucapan sang adik.
"Yukka mengajukan somasi, ia tak terima kita membatalkan kontrak sepihak."
Laura menyerahkan selembar kertas ke meja Michael. Pria itu lantas mengambilnya dan membaca surat itu. Matanya menyipit sesaat kemudian meletakkan kertas itu kembali.
Terlihat Hanna keluar kamar mandi, semua mata tertuju padanya.
"Hai kak, Kakak baik-baik aja?" tanyanya melihat wajah pucat sang kakak ipar.
"Aku? Baik ko, kenapa?" jawabnya singkat dengan senyum yang dipaksakan.
Hatinya merutuk perbuatan suaminya tadi yang dinilai keterlaluan. Mode psikopatnya tak berubah dari pertama mereka bertemu.
"Baca nih," kata Michael menyerahkan kertas itu.
Hanna meraihnya, seutas senyum tersungging dari bibirnya setelah membaca habis semua tulisan itu.
"Cepat katakan apa yang kamu tahu perihal kontrak itu? Saya merasa tidak tenang. Ini bisa mengancam kredibilitas perusahaan jika alasannya tak masuk akal," kata Michael melirik Hanna.
"Pertama, mereka membayar upah karyawan di bawah standar, tentunya di bawah nominal yang ditulis dalam perjanjian itu. Kedua, mereka memilih bahan baku yang harganya juga sangat jauh dari apa yang diajukan kepada perusahaan. Tetapi sekilas tidak akan tahu perbedaan keduanya karena dibuat semirip mungkin. Itu sih poin pentingnya," terang Hanna seraya berjalan ke mejanya.
"Wah - wah selama ini kita tertipu oleh mereka," jawab Laura berdecak.
Michael tampak berpikir dan menatap laptop di depannya mencari file dari perjanjian itu.
"Laura, kamu forward dokumen perjanjian itu sekarang."
"Baik, Kak." jawab gadis itu seraya berbalik.
"Tunggu Laura!" Hanna tampak berkemas.
"Kakak mau kemana?" tanyanya heran.
"Kakak mau ke ruanganmu, sekalian bantuin membuat balasan untuk mereka." jawab Hanna sudah siap dengan laptop dan tasnya.
"Tetap di situ!" seru Michael menatapnya tajam.
Hanna memejamkan matanya.
"Sori, Laura balik ruangan dulu yaa," ucapnya menuju pintu dengan hati-hati. Ia menyadari ada sesuatu yang harus diselesaikan antar kedua orang ini.
"Mati gue! Harus alasan apa ini?" pekik Hanna dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1