Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Belum Lulus Ujian


__ADS_3

Haruskah aku kembali melepaskan apa yang seharusnya menjadi milikku? Egoiskah jika kali ini aku ingin mempertahankan hubungan meski di atas penderitaan orang lain?" gumam Hanna dalam hati yang terus berkecamuk berperang dengan logikanya.


Semua mata tertuju padanya, seolah menunggu apa keputusan yang akan ia ambil. Termasuk Siska.


"Lalu, apa rencanamu?" Hanna ingin tahu bagaimana Hendi akan mengatasi semua ini.


"Seperti yang kau dengar tadi, aku akan menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab. Tapi, aku tak akan pernah menyentuhnya dan dia tal akan tinggal di sini. Sebagai gantinya semua fasilitas akan kuberikan untuk menunjang kelahiran bayi itu," terangnya.


Deg! Bagaikan sembilu mengiris ulu hati Siska. Sakit meski tak berdarah.


"Lalu?" Hanna menanggapi datar apa yang Hendi ucapkan.


"Tunggulah sampai bayi itu lahir, aku akan menikahimu, Hanna." ucap Hendi dengan tatapan memohon.


Chandra dan Viona hanya bisa berpandangan, seraya memijat pelipis mereka.


"Tidak perlu Hendi, berbahagialah dengannya. Aku akan pergi ... pergi dari kehidupan kalian!" sergahnya seraya berdiri.


"Sampai kapan kamu akan lari dari masalah, Hanna? Tidakkah kau belajar dari masa lalumu? Terima takdir, beserta luka dan segala hal di dalamnya. Pergi hanya akan menimbulkan luka yang membekas dalam." pungkasnya memegangi tangan Hanna.


"Lalu, apa aku harus terima berbagi suami dengan wanita lain? Berbagi hati? Atau harus bahagia di atas penderitaan orang lain? Itu maumu? Maaf, aku tidak seperti yang kau pikirkan!" sanggah Hanna berlari menuju pintu keluar.


"Aku akan menceraikannya, Hanna!" teriak Hendi.


Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi Hendi. Dengan wajah yang memerah Siska berkata, "kamu pikir aku barang? Seenaknya saja membuangku setelah memakai dan melukai! Dimana nuranimu?" seru Siska ia pun hendak pergi meninggalkan rumah itu.


"Berhenti semuanya! Saya mohon kalian berhenti!" pekik Chandra.


Dua wanita itu langsung menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tak ada yang boleh meninggalkan rumah ini, sebelum masalahnya selesai!" sambungnya mendekati Hanna dan Siska.


"Duduklah kembali," pintanya pelan menatap keduanya.


Viona menghela napas panjang, tak menyangka masalah menjadi serumit ini.


"Pak, saya anggap selesai. Karena saya akan mengajukan resign, satu minggu ke depan akan saya bereskan semua kerjaan. Jadi, biarkan saya keluar dari rumah ini." pinta Hanna dengan suara bergetar.


"Hanna, pikirkanlah kembali. Jangan sangkutpautkan urusan pribadi ke dalam pekerjaan. Sampai kapanpun kamu tak akan maju, jika mindset kamu seperti ini." ucap Chandra tak ingin kehilangan karyawan terbaiknya.


Hanna terdiam, dia memang selalu menghindari masalah tepatnya meninggalkannya seperti saat dengan Ansell dulu. Hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali untuk menyelesaikan yang sempat tertunda.


Kenyataannya alih-alih selesai, dia malah terjebak pada masa lalunya itu yang terus memaksanya untuk selalu berhubungan.


"Jika masalah yang sama datang berulang, berarti kamu belum lulus untuk ujian itu, Hanna." Viona yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Lalu, saya harus bagaimana Bu?" tangis Hanna pecah memeluk wanita setengah baya itu.


"Dan satu lagi, bagaimana kamu akan menemukan orang yang tepat jika kamu tidak berpisah dengan orang yang salah?" lanjutnya yang sukses membuat hati Hanna bergetar.


"Tapi, keputusan saya sudah bulat. Saya tidak ingin bahagia di atas penderitaan wanita lain," ucapnya.


"Hanna, maafkan saya sudah salah menilai kamu selama ini." tutur Viona dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nggak papa, Bu." jawabnya seraya tersenyum penuh kegetiran.


*****


Beberapa hari berlalu sejak kejadian di rumah mewah itu. Hanna memutuskan untuk cuti satu hari dan mengurung dirinya di kamar. Ia mengabari orang tuanya perihal kegagalan rencana yang tinggal wacana itu.

__ADS_1


Pagi ini seperti biasa, ia hendak berangkat ke kantor tiba-tiba Hendi sudah berdiri di depan gerbang bersandar pada sedan hitamnya. Tak dapat dipungkiri lelaki itu tampak sangat tampan dan mempesona.


"Astagfirullahaladzim! Hampir aja lupa, gue mau meluk dia." serunya dalam hati. Ia sudah berjanji untuk bersikap profesional dan membuang jauh perasaannya.


Tanpa memperdulikan Hendi, ia berlalu melewatinya.


"Hanna, kau sudah pikirkan jawabannya?" tanya Hendi memegang lengannya.


"Apa bapak nggak ada kerjaan, pagi-pagi sudah nongkrong di sini?" tanyanya tanpa melihat wajah Hendi.


"Aku nggak bisa tidur dari kemarin, mikirin kamu Hanna."


"Halah! Kalo bapak nggak bisa tidur, tuh pasti kantong mata udah tebel. Nyatanya baik-baik aja," ejeknya.


"Haruskah aku bilang, kalo sudah kukompres dengan batu es? Nggak lucu kan seisi kantor melongo lihat mata pandaku," jelas Hendi.


"Mana saya tau! Maaf, saya buru-buru!" ucapnya seraya berjalan menuju ujung gang.


"Hanna plis, jangan kaya gini. Jangan seolah-olah kamu tidak mengenalku, dan tak terjadi apa-apa di antara kita." pintanya.


"Pak, saya nggak mau ya nanti ada rumor kalo saya merebut calon laki orang! Dan satu lagi, anggap saja memang kita tidak saling mengenal dan tak pernah ada hubungan pribadi apa pun selain urusan kantor. Sampe sini paham kan jawaban saya?"


Wanita itu segera berlari mengejar angkutan umum yang kebetulan lewat.


Lagi, ia harus mengubur rasa itu kembali sebelum benar-benar tumbuh mengakar. Bahkan, bunga-bunga indah tampak sedang mekar dengan cantiknya.


"Rasanya seperti diangkat tinggi-tinggi, kemudian terhempas ke dasar. Mungkinkah akibat keraguanku selama ini? Atau karena ketidaksiapanku membuka lembaran baru." gumamnya dalam hati.


"Kalo bukan dia lantas siapa? Jika bukan saat ini, lalu kapan waktu dan orang yang tepat untukku?" bisiknya lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2