
Ansel kembali menyatroni rumahnya yang lama, kali ini ia membawa balon, mainan dan beberapa baju baru untuk buah hatinya. Ia bertekad tak akan menyerah pada mantan istrinya itu, demi cintanya pada anak-anak.
Sesampainya di depan gerbang, seperti biasa ia memencet bel dan menunggu dengan sabar. Sebuah mobil putih miliknya, terparkir di garasi. Menandakan Zea pasti ada di dalam. Ansell memang tidak mempermasalahkan harta gono gini di pengadilan saat mereka bercerai. Semua dia berikan pada wanita itu, karena kedua anaknya di sana.
Rasa letih sepulang bekerja, mendadak hilang saat membayangkan akan bertemu dengan dua jagoannya. Ansell terus memandangi apa yang ada di tangannya seraya tersenyum. Wajahnya mendongak ke atas, sepertinya akan turun hujan langit mendung menggantung di atasnya.
Sepuluh menit berlalu ...
Dua puluh menit terlewati ...
Namun, tak ada tanda-tanda seseorang keluar. Ia kembali ke mobil mengambil ponsel dan menekan nomor Zea. Beberapa kali tak ada jawaban. Pria itu pun menghubungi telepon rumah dan hasilnya sama saja. Nihil.
Lalu ia coba mengetik sebuah pesan, "Zea, kau boleh membenciku. Tapi jangan paksa anak-anak untuk mengikuti keegoisanmu. Mereka masih sangat kecil untuk bisa memahami ketidakhadiran kita berdua. Jangan kau tambah dengan menghalangiku menunaikan kewajiban sebagai seorang ayah. Karena sampai kapanpun tak akan ada yang namanya bekas ayah."
Ponselnya hening, wanita keras kepala itu hanya membacanya tanpa membalas.
Di dalam kamarnya Zea terus memandangi mobil kijang di depan gerbang. Tangannya hendak mengetik sesuatu, tapi buru-buru ia hapus kembali. Begitu terus sampai 10 menit berlalu sejak Ansell mengirim pesan.
Hujan pun turun dengan derasnya, disertai angin kencang. Zea terlonjak kembali mengintip Ansell di depan sana. Terlihat pria itu tengah mencari sesuatu di dalam mobilnya. Tapi, sepertinya tak ia temukan. Kemeja navy yang dikenakannya tampak basah, bukannya masuk mobil dia malah terus memencet bel.
Tiba-tiba, dua anak kembarnya memasuki kamar seraya berkata, "Mamah, bel bunyi ... bel bunyiii! Papa ... papaaa!" teriak keduanya menunjuk arah pintu.
Sejujurnya hati kecil di dalam sana sudah tak kuasa dengan keadaan seperti ini. Sejak resmi bercerai ia mendendam kepada mantan suaminya itu. Hingga bertekad memisahkannya dari anak-anak.
"Buka gerbangnya, Mba." perintahnya pelan pada baby sitter.
Gunung es itu pun akhirnya sedikit mencair. Entah karena kata-kata Ansell yang ada benarnya juga, atau melihat mata kedua anaknya yang pasti sangat merindukan sosok papanya. Atau karena hujan yang menyapa sore itu. Menghadirkan kembali, kenangan lama di antara mereka.
Ketika Ansell hendak berbalik menuju mobil, tiba-tiba ia mendengar suara pintu dibuka. Hatinya terlonjak saat pembantu itu berjalan membawa kunci, lalu membuka gerbangnya. Pria yang sudah basah kuyup itu pun masuk mengekor, tapi berhenti di teras rumah.
"Terimakasih ya Tuhan, atas hujan yang bermanfaat ini!" serunya dalam hati seraya memandangi tetesan air itu.
"Ah, sial! Bajuku basah!" gerutunya. Untungnya baju dan mainan yang dibawanya tertutup plastik hingga luput dari sentuhan air.
Pembantu baru zea pun datang memberikan handuk dan 1 stel pakaian, yang ternyata adalah miliknya.
"Zea masih menyimpannya." bisiknya dalam hati. Sekilas ia melirik jendela yang ada di samping pintu ruang tamu, tempat kamar utama berada. Ansell yakin, wanita itu ada di sana.
Bergegas ia menuju kamar mandi dan mengganti semua pakaian basahnya. Saat tengah berganti pakaian, suara kedua anaknya sudah terdengar di depan kamar mandinya. Ansel pun tak sabar bertemu mereka.
Dan benar saja, saat ia sudah selesai dan membuka pintu, dua jagoan itu pun langsung berhambur memeluknya.
"Papaaaa!" pekik keduanya, memeluk erat Ansell.
__ADS_1
Zea yang berdiri di depan pintu kamarnya, membuang muka menyembunyikan haru dalam matanya. Sejurus kemudian, ia masuk ke dalam kamarnya tak kuasa melihat adegan itu.
Dia pun juga memberikan waktu pada anak dan papa itu, untuk bercengkrama di dalam kamar anaknya. Seperti biasa, Ansell bermain dengan mereka. Membongkar bawaannya, yang disambut tawa bahagia dari keduanya.
Setelah menjelang malam, tepatnya pukul 8 Zea memasuki kamar, "Mainnya disambung lain kali ya sayang, ini sudah waktunya tidur." ucapnya pelan pada kedua anaknya. Ia mengacuhkan kehadiran Ansell di situ.
"Beyuumm mama! Siniii ikut main!" ajak Lard anak tertuanya seraya menarik tangan sang mama dan mendudukkannya di samping papanya.
Mereka pun terlihat canggung, Zea hanya melirik sekilas raut wajah Ansell yang tampak sangat bahagia.
"Lard sama Lio mau main apa, sama papa dan mama?" tanya Ansell menatap lekat mata kedua anaknya bergantian. Dia berusaha seprofesional mungkin di depan kedua anaknya.
"Main apa ya, Maa?" Lio malah nanya balik pada Zea.
Zea tampak diam sejenak, tapi otaknya tak dapat berpikir jernih saat situasi seperti ini. Entah kenapa, jantungnya berdegup kencang saat Ansell menatap ke arahnya menunggu jawaban.
Semua mata tertuju padanya, "Main apa yaa? Mama juga bingung." keluhnya kemudian.
"Kita main petak umpet aja, gimana?" seru Ansell.
"Jangan! Jangaan! Ini kan sudah malam, Pa. Kasian mereka kecapean nanti," Zea yang tanpa sadar memanggil Ansell Papa langsung menunduk membenamkan wajahnya.
Ansel hanya tersenyum, dan meraih pundaknya. "oiya yah, mama bener juga. Gimana kalo kita baca buku aja, mau?"
"Mauuuu!" teriak kedua anaknya bersamaan.
Sedetik kemudian, mereka berbaring di tempat tidur dengan Ansell dan Zea di kanan kiri anak-anaknya. Buku pun sudah siap di tangan, dan sang papa bersiap mendongeng.
Setelah hampir 30 menit berlalu, terlihat kedua anak mereka sudah tampak terpejam. Ansell pun meletakkan buku di raknya, disusul Zea yang tengah merapikan mainan yang berserakan. Pria itu pun membantu menyusunnya dan tentu saja dengan suasana canggung tanpa kata.
Mereka keluar kamar anak-anaknya bergantian, tak lama sang baby sitter masuk dan menutup pintunya. Tapi, tak sampai di situ perempuan itu menempelkan telinganya pada daun pintu. Penasaran apa yang terjadi setelahnya.
"Sangat disayangkan, hubungan yang indah dipandang mata itu pun palsu," gumamnya pelan.
Ansell menuju kamar mandi, sementara Zea ke dapur membuatkan minum.
Tak berselang lama, secangkir teh hangat ia bawakan ke atas meja yang ternyata sudah ada mantan suaminya di sana.
"Terimakasih," ucapnya pelan seraya menyusup ujung gelas. Zea terlihat diam, tak membalas apa pun dan melangkah ke dapur.
Beberapa menit kemudian, ia kembali dan langsung menuju kamar. Saat akan membuka pintu Ansell menghentikannya.
"Tunggu!" pintanya.
__ADS_1
Wanita itu menengok, dengan rasa yang sudah tak karuan. Diliriknya jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Sudah malam, baiknya anda pergi setelah menghabiskan teh itu." perintahnya tanpa menatap Ansell.
"Baiklah, aku akan pergi setelah mengatakan ini." ucapnya lirih. "kumohon jangan pisahkan kami. Ijinkan aku untuk terus mengunjungi mereka dan memberikan kasih sayang padanya." sambungnya.
Zea terlihat hanya diam, tak menanggapi apa pun. Ia bersandar di tembok samping pintu kamarnya.
"Dengan kita bercerai saja, sudah melukai psikis mereka. Jika ditambah dengan kurangnya kasih sayang dari orang tua yang lengkap, aku khawatir akan mempengaruhi tumbuh kembangnya." lanjutnya.
"Saya tak habis pikir dengan anda! Dulu dengan bangganya menceraikan saya, meninggalkan anak-anak tanpa belas kasihan dan saat ini berbicara masalah psikis anak?" tanyanya kembali geram dengan pola pikir Ansell.
"Baru nyadar, iya? Kemana aja selama ini? Saya berjuang mempertahankan semuanya semata-mata bukan karna CINTA, Ansell! Tapi demi mereka! Demi psikis yang baru bisa kamu pahami sekarang!" sambungnya.
"Zea, aku sedang bicara baik-baik. Kenapa kamu selalu saja penuh emosi? Yang udah berlalu biarkan lewat, jangan diungkit kembali. Saat ini adalah bagaimana kita memperbaiki semuanya!" protes Ansell.
"Memperbaiki? Dengan cara apa?" Zea terdengar menantangi.
"Ya dengan-dengan pintaku tadi, biarkan aku bertemu mereka sesering mungkin."
"Lalu? Anda akan membuat mereka bingung saat ada orang baru yang mengekor di belakangmu, gitu?"
"Aku tak akan membawa siapa pun ke dalam rumah ini, Zea."
"Kalo akhirnya aku yang membawa orang lain, bagaimana?"
Ansell terdiam, dia tak siap dengan pertanyaan barusan.
"Apa Zea sudah berniat menikah lagi?" tanyanya dalam hati.
"Bagaimana Ansell? Kenapa diam?"
"Aku-aku tak tau!" jawab Ansellsekenanya. Dia benar-benar tak menemukan kata yang tepat.
"Nah kan! Kau itu selalu bertindak sesukamu, tak memikirkan konsekuensi apa yang terjadi atas tindakanmu!"
"Terlepas dari kamu atau aku yang akan menikah lebih dulu, itu urusan pribadi masing-masing. Yang jadi urusan kita adalah, anak-anak. Bagaimana caranya, meskipun kita bercerai tapi mereka tetap mendapatkan kasih sayang yang lengkap!" Ansell meninggikan nada suaranya.
"Pilihannya ada dua, rujuk atau aku akan menikah lagi!" seru Zea menatap tajam pria yang tengah mematung di depannya.
"Mencari laki-laki bertanggung jawab di luaran sana, yang mau memberikan kasih sayang pada kedua anakku!" lanjutnya melihat Ansell masih saja terdiam.
Jlegeeeerrr! Suara petir di luar sana seolah menyambar hati Ansell.
__ADS_1
"Apa yang barusan keluar dari mulutku? Rujuk? Astaga Zeaaa!" pekiknya dalam hati. Wajahnya memerah, mengalihkan pandangan.
Bersambung ....