
Hanna diseret paksa menuju sebuah villa di tengah hutan. Dengan tembok kokoh menjulang, pepohonan tinggi dan juga besar mengelilinginya. Tak yakin jika bangunan itu akan terlihat dari luar.
Martin Delopez adalah seorang pria asal Amerika yang mendirikan pabrik di Indonesia dan menikah dengan seorang wanita blasteran bernama Belinda Caroline. Dia mempunyai tiga anak, yang pertama bernama Michael Fernando Delopez, Laura Caroline Delopez dan ketiga David Frangky Delopez.
Dari ketiganya, Michael dan Laura yang mau terjun membantu perusahaan sang ayah. Sedangkan si bungsu David, memilih stay kuliah dan bekerja di Amerika. Saat ini pun kedua orang tua mereka sedang melakukan pengobatan di negara kelahirannya.
Villa yang awalnya milik sang ayah itu, kini menjadi tempat favoritnya untuk menjalani sisi lain dirinya. Sebagian teman bahkan pernah menjulukinya psikopat. Tentunya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Yang mereka tahu Michael adalah seorang anak berbakti dan dapat diandalkan. Meski sedikit keraguan tersirat di benak Martin, soal skill yang masih minim ia miliki untuk menjalankan perusahaan sebesar itu.
Maka dari itu, saat Ansell menyerahkan surat pengunduran dirinya karena merasa tak senang dengan pergantian bos baru Martin menahannya. Malah memberinya pilihan untuk bekerja dibagian lain supaya tidak jenuh dengan jobdesk yang monoton. Akhirnya ia pun menerimanya, tapi tetap saja ia masih harus berurusan dengan bosnya itu meski jarang.
"Lepaskan! Apa salah saya, sampai kalian tega seperti ini?" teriaknya berkali-kali.
Tapi tak pernah mendapat respon apa pun dari keempat anak buah Michael itu.
"Heh, kalian budeg? Gue tanya dari tadi nggak ada yang berani jawab! Segitu takutnya ya kalian sama bos gila itu!" bentak Hanna putus asa.
"Iya kami takut. Kenapa? Lu nggak takut? Lu bakal tau sendiri akibatnya membuat dia marah." Akhirnya salah satu dari mereka menjawab.
"Gue? Buat dia marah? Kenal juga kagak, stres kali tuh orang."
"Pak Michael paling nggak suka rencananya diganggu, apalagi sampe gagal gara-gara seseorang yang menurut dia nggak penting. Coba kamu pikirkan, apa yang udah kamu lakukan ke dia?" Agra menimpali.
Pria bernama Agra itu bertubuh kekar, sorot matanya dingin, dia juga terlihat paling muda dibanding yang lainnya.
Hanna terdiam sejenak memandang sinis mereka satu persatu.
Wanita malang itu, mencoba beberapa kali melepaskan tangannya. Tetapi, cengkraman para pria tentu saja lebih kuat. Jarak yang lumayan jauh dari gerbang menuju pintu rumah, membuat Hanna terkulai lemas saat sampai di depan bangunan megah bercat serba putih itu.
Agra langsung membopong tubuh mungil itu di pundaknya. Pria itu terus membawanya menaiki tangga melewati lorong deretan kamar. Mirip seperti di hotel-hotel mewah.
"Tempat apa ini? Kenapa banyak sekali kamar? Apa dia sindikat penjualan orang? Atau organ dalam?" tanya Hanna dalam hati.
Mendadak tubuhnya merinding, lututnya gemetar, air mata tak dapat lagi dibendung mengalir deras meratapi nasibnya. Dengan kedua tangan diikat dia dibopong dan dimasukkan ke dalam salah satu kamar.
Pria bernama Agra itu merebahkan tubuh Hanna di atas ranjang besar dan mewah. Sekelilingnya terlihat dilapisi emas. Berkilauan. Deretan lemari kaca memantulkan gambar dirinya yang sudah acak-acakan.
"Tunggu disini! Jangan harap kamu bisa kabur lagi!" bentaknya.
"Saran saya, kalo kamu mau selamat dan hidup turuti saja semua perkataan tuan Michael dan layani dia." sahutnya lagi saat hendak menutup pintu.
"Tunggu!" cegah Hanna.
"Apa maksudmu melayaninya? Apa dia bakal melakukan hal serendah itu?"
"Semua tergantung sikapmu," timpalnya.
"Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya konfirmasi, apa anda pernah menjadi sekertaris Pak Martin?"
Hanna tak langsung menjawab dia memalingkan wajahnya.
"Anak dan ayah yang jauh berbeda, bagaikan langit dan bumi. Pak Martin begitu sopan dan menghargai wanita, tapi anaknya pengecut juga pecundang." kata Hanna dengan mata yang berapi-api.
__ADS_1
"Apa wanita ini orangnya? Yang dulu pernah diceritakan Bapak?" kata Agra dalam hati.
"Persiapkan dirimu, jika kau beruntung dia tak akan melakukan apapun. Tetapi, jika takdir tak memihakmu saya tidak tahu apa yang akan terjadi." ucap Agra seraya menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Suasana hening, Hanna melihat sekeliling dengan tatapan kosong dan hati yang bergetar hebat. Rasa takut terus memeluknya. Berbagai pikiran buruk berseliweran di benaknya.
Ia merengkuh lututnya yang masih gemetar, membenamkan kepalanya di sana.
"Tolong aku ya Rabbi," desahnya pasrah dan putus asa.
Air mata sudah menganak sungai di pipinya, tak pernah terpikirkan hal ini akan terjadi dalam hidupnya. Berurusan dengan pria arogan bernama Michael.
***
Percakapan antara Reyhan dan Sinta masih seputar Hanna, pria itu meminta saran apa yang seharusnya ia lakukan menghadapi masalah pelik soal restu ini.
Dalam hati Sinta mengagumi keseriusan Reyhan dalam mempertahankan cintanya pada Hanna.
Ia pun tanpa sadar berharap, pria seperti Reyhanlah yang akan memperjuangkannya kelak.
"Hei, ditanya malah bengong." Reyhan menyenggol lengan Sinta yang fokus melihat ke depan.
"Eehh iya sori, kenapa tadi?"
"Lu kenapa sih? Mikirin pacar yah?"
"Kagak, gue mana ada pacar."
"Cakep?" Mendadak hati Sinta berbunga-bunga dipuji seperti itu. Senyum terkulum di bibirnya.
"Makannya kenalin gue donk, masih ada stok yang kaya lu ga? Yang serius dan pantang menyerah gitu," candanya melirik Reyhan.
"Gue mah limited edition nggak ada duanya," kata Reyhan bergaya sok cool.
"Yaaahh, sayang sekali. Hanna beruntung banget dapetin lu," seloroh Sinta.
"Jelas donk. Tenang aja nanti gue cariin deh," ucap Reyhan.
"Serius? Bonus ganteng yaa, jangan gendut-gendut kaya lu tapi."
"Eeehh empuk tau gendut gini! Sekali lagi lu ngatain gue gendut, gue turunin nih!" ancamnya.
"Iya, iya ampuun pak. Tolong jangan turunin gue tengah jalan, pliiiss."
Mereka pun terkekeh bersama.
Tanpa sadar selorohan Reyhan sukses membuat Sinta nyaman dan salah tingkah.
Sebelum gadis itu turun ia berkata, "Restu itu masalah yang paling sulit dihadapi, ibarat langit dan bumi. Jarak yang harus ditempuh sangat jauh. Tapi, jika kau berhasil menemukan roket untuk mencapainya maka jarak itu menjadi tak berarti."
Reyhan tampak termenung sejenak lalu mengangguk.
__ADS_1
Setelah mengantarkan gadis itu ke rumahnya, Reyhan memutuskan untuk tetap menemui Hanna ke kost-nya. Dia memacu mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di depan pagar hitam itu ia langsung menuju kamar Hanna lalu mengetuk pintunya. Tapi, beberapa kali diketuk tak terdengar jawaban apa pun. Reyhan meraih ponsel di sakunya menekan nomor kekasihnya itu. Nada dering terus berbunyi tapi tak kunjung dijawab.
"Kemana dia? Apa belum balik dari kantor? Sepatunya pun nggak ada," gumamnya sambil celingukan mencari selop hitam milik kekasihnya.
Ia melirik arlojinya sudah pukul 7 malam.
"Nggak biasanya Hanna tak menjawab panggilanku. Apa dia masih marah? Coba gue ke kantornya aja deh sepertinya dia masih di sana," ucap Reyhan kembali menjalankan mobilnya.
Namun, ketika ia sampai di kantor suasana sepi. Semua gelap. Dia terus mencoba menghubungi Hanna, tetap saja nihil. Tak ada jawaban dari sana.
"Atau jangan-jangan Hendi membawa Hanna lagi?" tanyanya dalam hati.
Akhirnya dia mencoba menghubungi pria yang paling dibencinya itu.
Setelah mendapat jawaban bahwa Hanna tak bersamanya, ia kembali ke dalam mobil.
"Mungkin Hanna masih marah, gue coba tunggu saja deh di kostnya." Reyhan melangkah lunglai menuju mobil.
***
Hanna yang terlonjak mendapat telepon bingung mencari cara untuk melepaskan ikatan tali di tangannya. Sedari tadi kepalanya celingukan berharap ada benda tajam untuk memotongnya.
Tapi nihil, ia berjalan kesana kemari tak satu pun benda yang bisa ia gunakan.
Dalam keputusasaan, tiba-tiba suara pintu dibuka. Segera Hanna berjalan ke sudut jendela. Jantungnya berdegup kencang. Matanya nanar memandang arah suara. Bayangan pria kejam itu menari-nari di otaknya.
Dan benar saja, Michael melenggang masuk dengan senyum terkulum di bibirnya menatap tajam Hanna. Tak lupa ia menutup kembali pintu dan menguncinya.
Sejenak dia terdiam mendengar suara ponsel yang berdering di dalam saku baju Hanna. Perlahan ia berjalan mendekati wanita yang tengah gemetar seluruh tubuhnya itu.
"Mari kita liat siapa yang mengganggu waktu kita?" ujarnya seraya merogoh saku blazer Hanna.
"Jangan sentuh!" Hanna mencoba menghindar dengan berlari.
Namun, langkah jenjang pria itu melebihi langkah mungilnya. Tubuhnya terdorong ke atas kasur dengan pria itu di atasnya.
Deg! Lagi-lagi jantungnya berdetak sangat kencang saat tubuh mereka saling menempel. Reflek Michael langsung bangun setelah sebelumnya ia merogoh saku Hanna.
"Wow, Reyhan! Bukankah dia kekasihmu?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Reyhan tolong akuu," gumamnya dalam hati.
"Apa maumu?" gertak Hanna.
"Aku mau kamu ...."
Bersambung...
Jangan lupa like dan jajarannya ya bestie 🤗
__ADS_1
Haturnuhun 😚