Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
CLBK


__ADS_3

Viona yang masih berdiri di dapur terus memperhatikan sikap Siska yang murung. Firasatnya benar, "sepertinya Hendi berubah atau memang dari awal hanya keterpaksaan saja?" bisiknya dalam hati.


Lantas ia mendekati wanita itu, "Hendi lagi banyak urusan mungkin, Sis. Nggak usah mikir macem-macem, ayo sarapan bareng tante kasian bayimu nanti." Viona mencoba menghiburnya.


Tak lama terlihat Chandra menuruni tangga menuju dapur, "Hendi mana?" tanyanya.


"Dia berangkat ke kantor," jawab Viona.


"Ngantor? Gila bener tuh anak! Ya udah Papi susulin dia dulu," jawabnya seraya bergegas kembali ke kamarnya.


"Eeehh Papiii! Ini sarapannya dulu!" teriak Viona yang dibalas hanya lambaian tangan dari suaminya itu.


Dia pun pasrah hanya bisa geleng-geleng kepala, "Om sama ponakan sama aja!" gerutunya kesal.


"Aku masuk kamar dulu ya tante," ucap Siska yang langsung masuk kamar tamu tanpa menunggu jawaban Viona.


"Lhoo, kamu nggak jadi sarapan? Eehh kenapa kamu masuk kamar itu?" tanyanya yang sudah pasti tak akan terdengar karna wanita itu sudah menutup pintunya.


"Ini ada apa sih? Nggak habis pikir deh sama mereka, dimana-mana pengantin baru itu seneng, bahagia, lagi indah-indahnya. Lha ini? Ko auranya surem amat yah," keluhnya seraya mengelus pelipisnya yang terasa pening.


Wanita itu segera menaiki tangga menyusul suaminya.


"Pi, sepertinya terjadi sesuatu deh sama Hendi dan Siska. Masa Si Siska masuk ke kamar tamu, atau jangan-jangan koper semalem itu...."


"Udah deh, nggak usah jadi detektif dadakan. Nggak usah mikir macem-macem, inget ucapan itu doa mi!" potong Chandra yang tengah mengganti pakaian.


"Bukan gitu, tapi ini aneh aja kenapa coba Siska masuk kamar tamu?"


"Ya mana papi tau, tanya sendiri sana. Udah ah, Papi mau nyusulin Hendi. Berangkat yaa," ucapnya seraya menyambar tas laptop di sofa.


Viona yang masih terbengong hanya mengangguk, pikirannya terus meruntutkan kejadian aneh itu.


"Berati semalam itu mereka ribut-ribut bukan lagi perang malam pertama donk, Pi? Perang beneran? Astaga Hendii, baru menikah sudah begini. Ngurus perusahaan aja pinter, tapi rumah tangganya malah bakal surem gini sih, Papi!" gerutunya sambil bolak-balik berkacak pinggang. Kepalanya celingukan mencari sosok suaminya itu.


"Lho Papii, Papiiii!" teriaknya baru sadar kalo laki-laki itu sudah keluar kamar duluan.


Ia pun segera menuruni tangga dan mendapati mobil putih sudah melaju meninggalkan gerbang rumahnya.


"Diajak ngobrol malah ngilang gitu aja, ampun ya laki. Untung cinta, euh!" Dia berniat kembali ke dapur sesaat berhenti di depan pintu kamar Siska.


"Gue tanya nggak yah?" bisiknya dalam hati. "kasian kan lagi hamil tuh anak, jangan sampe stres apalagi depresi. Gue yakin masalah diantara mereka belum selesai," lanjutnya. Tangannya sudah bersiap mengetuk pintu, tapi diurungkannya.

__ADS_1


"Ah, nanti aja deh tunggu Hendi biar gue denger penjelasan dari mereka berdua." pungkasnya meninggalkan kamar itu dan menuju meja makan untuk sarapan, tentunya sendirian.


******


Mobil yang dikendarai Hendi melaju dengan cepat, ia tak menghiraukan teriakan Hanna di sampingnya dan juga Reyhan di belakang mengejar mobilnya.


"Hendi hentikan mobilnya!" pekik Hanna berulang kali.


"Kalo nggak begini kamu nggak bakalan mau ngomong sama aku kan?" serunya.


"Apa lagi yang mau dibicarakan Hen? Kamu udah ninggalin aku dan sekarang sikapmu kaya gini, mau kamu apa?"


"Jangan resign dari kantor! Aku nggak mau kehilangan kamu!"


"Egois! Cepet hentikan mobilnya. Kalo kamu tetep nggak mau berhenti, selamanya aku nggak bakalan ngomong sama kamu!" ancam Hanna.


Hendi melirik wanita itu, perlahan ia menstabilkan laju mobilnya.


"Hanna, kamu tau kan aku cinta sama kamu dan apapun yang terjadi antara aku sama Siska itu kecelakaan. Jadi, setelah bayi itu lahir aku akan menceraikannya dan kita bisa kembali bersama!" serunya antusias memegang jemari Hanna.


"Kembali bersama? Segampang itu kamu ngomong?"


"Lalu, aku peduli? Kamu tidak menyentuhnya semalam pun, dia sudah hamil kan? Karena mata lelakimu yang nggak bisa dijaga!" tunjuknya pada wajah Hendi.


"Buka pintunya!" teriaknya lagi.


Hendi menekan tombol di sampingnya dan bergegas keluar mobil menyusul Hanna.


"Tolong kamu pikirkan baik-baik, selain karir kamu yang lagi bagus-bagusnya serius aku ngomong kaya gini demi kamu. Pak Chandra ada rencana membuka cabang dan dia sedang mencari kandidat yang tepat untuk mengelolanya di sana. Aku bisa rekomendasiin kamu, Hanna." bujuknya lagi.


"Aku akan menikah," pungkasnya.


"Menikah? Tidak Hanna! Jangan, Reyhan itu tidak sebaik yang kamu kira."


"Lalu, kamu pun yang kukira baik ternyata tidak sebaik itu kan?"


"Tapi dia itu penjahat kelamin Hanna, udah banyak korbannya. Jangan sampai kamu nyesel dan berakhir seperti pernikahan pertamamu."


"Udah deh, kamu itu kaya ngomongin diri kamu sendiri tau. Geli dengernya, udah yah aku mau pulang. Tolong jangan ikuti." pintanya memelas seraya berlalu dari hadapan Hendi.


"Tapi kamu nggak akan resign kan, Hanna! Hannaaa!" teriaknya frustasi sambil memukul kap mobilnya.

__ADS_1


******


Suasana canggung terlihat jelas antar keduanya, meski anak-anak mereka berulang kali membuat kedeketan, tetap saja setelah urusannya selesai Zea dan Ansell kembali saling terdiam.


Hanya sesekali Ansell menyiramkan air pada anak mereka, yang tengah asik berenang di kolam yang dangkal bersama asistennya. Zea pun memalingkan wajahnya saat mata mereka tak sengaja bertemu.


"Aduh, kenapa hati gue deg-degan gini sih. Inget Ze, dia udah nyakitin lu, nyia-nyiain juga jangan sampe sikap baiknya bikin lu melupakan itu." bisiknya dalam hati.


Ansell pun tak kalah gugupnya, ia berusaha menenangkan hatinya yang tak karuan. Apalagi saat melihat Zea memakai pakaian renang, "apa yang gue pikirkan? Jujur meski dia sudah beranak dua tubuhnya masih saja sintal dan seksi," gumamnya dalam hati dan terus mencuri pandang pada mantan istrinya itu.


"Mau makan mie?" tanyanya kemudian membuka percakapan.


"Engga, nanti anak-anak malah minta," tolaknya.


"Ya seperti biasa kita ngumpet kan kalo makan mie," ucap Ansell melirik dengan seutas senyum.


Deg ... hati Zea tambah ketar ketir melihat senyuman manis itu.


"Mba, kita beli mie dulu yah. Tolong jaga anak-anak," ujarnya pada wanita yang tengah mendampingi anak kembar mereka itu.


"Baik, pak." jawabnya.


Ansell disusul Zea di belakangnya pergi menuju warung di pojok wahana. Mereka pun memesan dua mangkuk mie instan dan es jeruk.


"Cinta lama bersemi kembali," gumam asistennya Zea seraya cengengesan memandangi mereka.


"Aku minta maaf yah, atas semua kesalahanku padamu." Ansell kembali memulai percakapan setelah mereka berdua duduk berhadapan.


"Sudahlah, nggak usah bahas masa lalu." Zea menyeruput es jeruk yang sudah terhidang di meja.


"Apa artinya kita bisa bahas masa depan?"


Sontak Zea menoleh pada lelaki yang masih mengisi tahta tertinggi di hatinya itu.


"Maksudnya?" Dia berusaha menyembunyikan gugupnya.


"Aku mau kita kembali seperti dulu," ucap Ansell. Tangannya perlahan meraba jari Zea.


Hawa dingin menghinggapi mereka yang hanya memakai kaus tipis, saat sebuah ember besar di wahana kincir air itu menumpahkan isinya. Cipratan air pun mendarat di segala sisi, termasuk tubuh Zea yang mendadak terasa panas mendengar ucapan Ansell. Terlebih, getaran yang hebat saat jemarinya tersentuh tangan itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2