Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Menyesal


__ADS_3

"Rey tunggu!"


Tiba-tiba Sinta melompat ke depan mobil silver itu, membuat Reyhan terkejut dan menginjak rem dengan cepat.


Ia tak terima diabaikan begitu saja oleh Reyhan. Bagaimana pun caranya dia harus bisa mendapat simpati pria itu.


"Lu gila yah? Hampir aja ketabrak! Apaan lagi sih?" pekik Reyhan menurunkan kaca mobilnya dan berteriak.


Sepertinya mood pria itu sedang tidak bagus, dia sensitif sekali hari ini.


Reyhan yang menyadari teriakannya terlalu keras, sehingga membuat Sinta termenung di tengah jalan lalu membuka pintu dan menghampiri gadis itu.


Terlihat air mata sudah kembali menganak sungai di pipi Sinta. Hatinya terhenyak mendengar bentakan pria yang sejak lama dikaguminya itu.


"Gue cuma mau bilang satu hal. Jika tidak lagi bisa dipaksakan maka lepaskan. Sesuatu yang digenggam terlalu kencang akan melukai dirimu sendiri," katanya seraya pergi meninggalkan pria yang bengong menatapnya.


"Kenapa sih dia? Apa mungkin yang diduga Hanna bener yah? Dia naksir sama gue?" batinnya.


Reyhan mengejar gadis itu, gadis yang sudah lama menjadi sahabatnya. Dan tak pernah menyadari perasaan sebenarnya yang dia rasakan. Perasaan yang berhasil ia pendam rapat-rapat. Perasaan yang selalu disembunyikan karena menyadari semua itu tak terbalas.


"Ayo naik," pintanya saat mobilnya sudah berada di samping gadis itu.


Sinta tertegun melihatnya.


"Bukannya lu mau ke rumah Hanna?" tanyanya pura-pura cuek dengan terus berjalan.


Reyhan menjalankan mobilnya pelan mengimbangi langkah Sinta.


"Iya, gue anterin lu dulu," ucapnya melihat gadis yang matanya sembab itu.


Tapi dia terus saja berjalan sambil menunduk, menghindari tatapan Reyhan. Akhirnya pria itu turun dan menarik paksa tangan Sinta dan membukakan pintu depan untuknya.


"Pakai seatbelt-nya," perintahnya sambil menutup pintunya.


Hati Sinta mendadak bergejolak. "Yes, berhasil," batinnya.


Lalu setengah berlari Reyhan menuju kemudinya. Mobil pun perlahan melaju bergabung dengan kendaraan lainnya. Jalanan padat karena jam pulang kantor.


Cukup lama mereka saling terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


Hingga akhirnya Reyhan memulai pembicaraan yang akan tampak kaku itu, "Maafin gue yah," ucapnya melirik sekilas gadis di sampingnya itu.


Sinta hanya mengangguk dengan seutas senyum yang dipaksakan tanpa menoleh.


"Gue lagi banyak pikiran soal kerjaan ... ditambah hubungan gue sama Hanna lagi ada problem," lanjutnya denhan tatapan kosong memandang ke depan.


"Lu tau kan, kaya apa perasaan gue ke dia? Gimana jalan berlikunya gue buat dapetin dia," imbuhnya masih melihat ke depan jalanan yang mulai tersendat.


"Bisa dibilang bucin parah gue ke dia. Masalah nyokap aja belum kelar, dia udah nyerah duluan. Dia mutusin gue tanpa alasan yang jelas. Serius gue nggak bisa terima," tambahnya lagi masih terus menuangkan isi hatinya.


Terlihat dia tertunduk, membenamkan kepalanya ke atas stir.


"Hanna itu nggak pernah serius menjalin hubungan sama lu," katanya mengalihkan pandangannya keluar jendela.

__ADS_1


Reyhan menoleh terhenyak mendengar kata-kata sinta.


"Salah. Gue bisa liat dari sorot matanya dia bener-bener cinta sama gue," tegas Reyhan.


"Terkadang, apa yang ditunjukkan di luar berbeda dengan apa yang dirasakan di dalam. Hanna masih terkurung di masa lalunya."


"Dia cuma trauma untuk memulainya lagi," bela pria itu tak terima.


"Trauma? Jika dia trauma, nggak akan bisa membuka hati kembali dengan pria lain."


"Ya dia berusaha untuk membuat traumanya hilang dan kembali memiliki harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Karena masa lalu, tak akan pernah bisa menjadi masa depan."


"Jadi, dengan kata lain lu cuma dijadikan alat penyembuhan traumanya? Setelah sembuh dia mencampakan lu dan memilih pria lain," kata Sinta masih tak berani menatap Reyhan.


Kini Reyhan terdiam, mencoba mencerna kata-kata gadis di sebelahnya itu.


"Rey, pernah nggak lu ngeliat gue lebih dari sahabat?"


Pria itu mengernyitkan kening menoleh sejenak pada Sinta yang kini tengah melihatnya dengan tatapan sendu.


Gadis itu merasa jengah, di luar kantor pun ia masih membahas sahabatnya itu. Sahabat, kata yang sudah terlalu lama dalam kepura-puraan.


"Maksud lu apa?"


"Gue siap gantiin Hanna, Rey."


"Coba kenalin gue ke orang tua lu, dan kita liat reaksi mereka. Jika mereka nerima, lu belajar mencintai gue. Sampai kapanpun gue bakal tunggu. Tapi, jika mereka menolak gue bakal sadar diri dan mundur," lanjut Sinta yang kini menghadap Reyhan dengan serius.


"Lu suka sama gue?" tanyanya kemudian.


"Anggap saja begitu," jawabnya santai.


"Ya nggak bisa gitu. Gue tanya, lu suka sama gue?"


"Ya lu pikir aja sendiri, mana ada cewe yang minta dikenalin ke orang tua si cowo kalo dia nggak punya perasaan apa-apa?"


"What? Gue masih speechless aja gitu. Ternyata dugaan Hanna benar."


"Maksud lu?"


"Hanna curiga gue selingkuh sama lu, dan jujur sejenak gue ngerasa nyaman sama lu. Tapi ...."


"Mari kita coba, kasih gue waktu 30 hari."


Sinta memotong perkataan Reyhan dan mereka kembali saling terdiam canggung.


***


Kedua pasien itu akhirnya berada dalam ruangan yang sama. Karena ruang VIP yang dipesan keluarga delopez masih penuh. Dan pihak rumah sakit, meminta mereka menunggu.


Tentunya menunggu di ruangan yang sebelumnya telah dipesan atas namanya.


Dengan wajah kesal, Belinda memasuki ruangan itu. Ekor matanya melirik pasien di sebelahnya.

__ADS_1


Laura memegang tangan sang ibu, melarangnya untuk berbuat macam-macam dan mempermalukan diri.


Selang beberapa lama, Michael tampak tersadar. Dia hendak bangun saat melihat kondisinya sedang berada di rumah sakit.


"Mana wanita itu, Mom? Gimana keadaanya?" tanyanya panik.


"Michael, akhirnya kamu sadar juga sayang."


Wanita itu memeluk anak sulungnya dan menghiraukan pertanyaannya tadi.


"Gimana Hanna, Mom? Apa dia baik-baik aja? Dia masih hidup kan?" tanyanya lagi meski dengan suara lemah.


"Hanna baik-baik aja, Kak. Dia sedang berbaring di sebelah," jawab Laura menunjuk tirai sebelah.


Sejenak Michael terdiam, merasa malu karena ternyata wanita yang dikhawatirkannya berada persis di sebelahnya.


"Ada apa dengan kaki dan tanganku, Mom?" tanyanya heran melihat ke bawah.


"Ini leherku juga? Apa ada cedera parah?"


"Kaki dan tanganmu patah, lehermu sepertinya baik-baik aja hanya menghindari trauma makannya dipasang penyangga ini."


"Apa! Patah? Seburuk apa keadaannya, Mom?"


Berbeda dengan Hanna, Michael tampak tak terlalu merasakan sakitnya. Ia bisa berbicara lancar menahan kesakitan hebat pada kaki dan tangannya. Sepertinya obat bius berangsur hilang. Hanya wajah yang tampak meringis menahan sakitnya.


"Kita masih menunggu hasil MRI dari lab. Sudah Kakak jangan banyak gerak dulu, apa obat biusnya masih bekerja?" Laura mendekat.


"Sepertinya sudah hilang Kakak mulai merasakan sakit pada tangan dan kaki," jelasnya seraya kembali meringis.


Ekor matanya melirik pada tirai di sebelahnya. Dalam hatinya ia ingin sekali melihat keadaan wanita itu, karena merasa bersalah atas kecelakaan ini.


"Mom, Michael haus," ucapnya.


"Baiklah, Mommy beli air dulu yah." jawabnya seraya memperbaiki selimut sang anak.


Setelah Ibunya keluar, Michael tampak memberi isyarat pada Laura untuk membuka tirainya.


"Kenapa? Kakak ingin melihat Kak Hanna?" tanyanya agak keras agar Bu Ratna di sebelah mendengarnya.


"Maaf Bu, Kakak saya ingin melihat kondisi Kak Hanna," ucapnya pelan mendekati tirai.


Tak lama kemudian, Ratna membuka sedikit tirainya. Hanya tampak kepala dan sebagian tubuh Hanna.


Michael yang ragu lalu melirik dengan ekor matanya. Wanita itu tampak terpejam.


Lalu dengan cepat ia memalingkan kembali wajahnya. Dan Laura menutupnya kembali.


"Makasih ya Bu," ucapnya meski tanpa jawaban dari perempuan tengah baya itu. Hanya isakan tangis yang masih terdengar.


"Mereka pasti sangat terluka dengan semua yang telah terjadi. Kakak harus tanggung jawab atas semuanya," batin Laura melihat sang kakak yang tengah menatap ke luar jendela.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2