Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Suap


__ADS_3

“Bagaimana ceritanya Kak Michael bertemu dan menikah dengan Kak Hanna, Tante?"


Jessica yang penasaran melirik kamar pengantin baru itu dengan ekor matanya, ketika keduanya menaiki tangga menuju kamar Laura.


“Entahlah, ceritanya panjang Tante juga tidak menyetujuinya. Tante bahkan berharap, kamulah yang akan menjadi menantu keluarga ini. Entah Michael atau David yang menjadi suamimu,” jawab Belinda dengan sudut bibir ditarik.


"Ah Tante, selalu saja seperti itu. Keduanya pun sepertinya tidak pernah tertarik padaku," ucap gadis itu lirih.


"Bukankah waktu itu, Michael sempat mengejarmu ke bandara? Laura pernah cerita ke Tante."


“Iya, padahal saat itu Kak Michael hampir saja mengungkapkan perasaannya padaku. Entah apa yang ingin dia bicarakan, sampai saat ini sebenarnya aku masih penasaran. Tapi seseorang datang mengacaukan segalanya," jelasnya seraya tertunduk menapaki lantai marmer itu.


Mereka sampai di anak tangga terakhir.


“Hanya ada satu cara untukmu bisa mengetahui perasaan Michael."


“Apa, Tante?” tanya Jessica antusias.


"Tanyakan langsung."


"Jika dia sebenarnya menyukaiku pun, tetap saja tak ada jalan untuk kita bersatu kan?"


"Tentu saja ada," jawab wanita paruh baya itu menyeringai.


"Menggeser posisi wanita yang sekarang ada di sampingnya atau bahkan menyingkirkannya," lanjutnya dengan sorot tajam.


“Caranya?”


“Kamu coba pikirkan. Lagi pula setau Tante, Michael tidak mencintai wanita itu.”


“Tapi dilihat dari sikapnya saat kita makan siang tadi, Kak Michael sangat perhatian padanya.”


“Bisa saja kan dia akting, terlebih wanita itu juga pilihan daddynya. Jadi mau nggak mau Michael harus menuruti kemauannya.”


“Pilihan Om Martin? Kenal dimana mereka?”


“Hanna adalah mantan sekertarisnya dulu, yang resign karena menikah dengan salah satu karyawan kesayangannya.” jelasnya.


“Sebentar … jadi Hanna sudah pernah menikah?”


“Tentu saja dan bahkan sudah mempuyai seorang anak perempuan. Hal itulah yang membuat Tante tidak menyetujuinya, selain latar belakang keluarganya yang tidak jelas juga tentang status divorce yang disandangnya."


Keduanya berhenti bicara saat sudah sampai di depan pintu kamar Laura. Mereka mengetuk perlahan pintu itu, tak ada jawaban. Belinda coba membukanya tapi terkunci.


“Nak, ini Mommy buka pintunya!” serunya seraya mengetuk lebih keras.


Hening tak ada juga jawaban ataupun pergerakan dari dalam kamar.


“Coba saya Tante,” ucap Jessica.


“Laura ini gue, Jessica! Lu jangan gini donk, cepet buka pintunya.” teriak sahabatnya itu.


Laura yang terlihat tengah menangis membenamkan wajahnya pada bantal, terasa enggan membuka pintu. Ditutupinya kepalanya dengan selimut. Tapi suara ketukan pintu berulangkali mengusik telinganya.


“Mereka salah apa yah? Sampe gue cuekin gini. Sebenernya yang salah gue kenapa menaruh harapan begitu besar pada orang itu.” Batinnya.


“Harusnya gue siapin opsi kedua untuk mempersiapkan hati yang siap terluka karena kecewa. Karena kadang, sesuatu berjalan di luar kehendak dan kendali kita sebagai manusia.” Lanjutnya masih berkecamuk dengan batinnya.


Akhirnya meski dengan langkah berat ia berjalan gontai menuju pintu dan membukakannya.


Terlihat dua orang berhambur memeluknya.


“Kamu nggak papa kan, Nak?” tanya Belinda khawatir.


“Lu baik-baik aja kan? Nggak kepikiran bunuh dir kan?” Jessica tak mau kalah bertanya.


"Apaan sih lu," ucap Laura merajuk.


“Laura baik ko Mom, lagi pengen sendiri aja.” jawabnya lirih.


“Ngapain kamu sedih dan menyiksa diri kaya gini, Laura? Dia itu nggak pantas buat kamu, jangan sampai kamu netesin air mata untuk orang yang sama sekali bukan siapa-siapa di hidup kita.”


“Jangan pernah berharap pada hal yang belum tentu jadi milik kita, kamu harus siapkan hati khusus untuk hal tak terduga seperti ini.” Jessica menimpali.


“Aku nggak nyalahin siapa-siapa ko, nggak mikirin dia juga. Justru aku menyesal telah menjadi orang bodoh seperti ini. Ribut ke salon dan berdandan nggak jelas kaya gini," tunjuknya pada rambut yang sudah dicatok bergelombang itu.


“Eeeiittss, ini nggak sia-sia, ini bukti usaha kamu memberikan yang terbaik atas proses yang disiapkan tuhan. Siapa tau setelah ini kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari si brengsek itu," ucap Jessica memegang pundak sahabatnya.

__ADS_1


“Oke-oke, terimakasih banyak Mommy dan kamu Jessica sudah mengkhawatirkanku. Tapi maaf banget, hari ini aku lagi bener-bener pengen sendiri.”


Laura menelungkupkan kedua tangannya memohon.


Belinda dan Jessica terdiam saling berpandangan.


“Baiklah, jika memang itu mampu membuat hatimu jauh lebih tenang, kami akan memberikanmu kesempatan untuk merenung kejadian tadi. Ingat ini merupakan petunjuk dari tuhan untuk menjauhkanmu dari hal buruk.” ucap Belinda sambil menghela napas berat menasehati anak perempuannya.


Mereka pun berjalan menuju pintu dan menutupnya pelan.


***


Semua mata tampak terbelalak melihat tubuh yang berguling dari tangga yang lumayan tinggi itu. Michael yang baru saja keluar kamar langsung berlari sangat cepat, begitu juga Martin yang tanpa sadar ia bangkit berdiri dari kursi rodanya.


Dengan langkah terseok pria tua itu memaksakan diri memburu tubuh yang tergeletak dengan darah mengalir dari kepalanya.


"Hannaaa!" pekik mereka bersamaan.


Belinda tergopoh dari arah dapur, juga asisten rumah tangga mereka beserta pengawal yang tengah berjaga di depan. Semua memburu ke arah teriakan itu.


Jessica yang terlihat panik segera menuruni sisa anak tangga di bawahnya, ia lantas berbaur melihat tubuh yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Bawa dia cepat!" teriak Martin melihat Michael malah diam terpaku.


Matanya nanar melihat darah segar keluar dari kepala dan juga kaki istrinya itu. Kakinya mendadak kaku dengan tangan yang sudah bersiap mengangkat tubuh Hanna.


Seketika Martin langsung teringat calon bayi yang tengah dikandung menantunya itu. Tubuhnya mendadak gemetar dengan kaki yang terasa berat.


"Cepat siapkan mobil, Agra!" perintah Michael sambil membopong tubuh lemas Hanna.


Pemuda itu lari secepat kilat menuju parkiran dan menyalakan mobil yang terdekat.


"Hanna sadar! Buka matamu!" teriak pria itu mendekatkan telinganya pada wajah istrinya.


Hanna mendengar kegaduhan di sekitarnya, namun mata dan tubuhnya terasa berat untuk digerakkan.


"Dia masih bernapas!" pekiknya mempercepat langkahnya.


"Cepat Michael!" Martin kembali memekik dari kejauhan.


"Mm ... i-itu ... tadi Kak Hanna kepleset," jawabnya berbohong.


Martin melihat dengan khawatir mobil yang melaju sangat cepat itu, ia sandarkan tubuhnya di tepi pintu. Tangannya memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.


"Hei Gorda! Cepat siapkan mobil!" titahnya pada pengawal yang standby di depan rumah.


"Loh, Daddy sudah bisa berdiri?" tanya Belinda yang baru menyadari sang suami sudah tidak di atas kursi roda lagi.


Pria itu pun baru sadar, kalau ia kini berjalan tanpa kursi roda. Matanya melihat ke bawah dan meraba kedua kakinya.


"A-aku sembuh, Belinda?" serunya memegang kaki jenjangnya.


"Iya ... kamu sudah bisa berjalan tanpa kursi roda," ucap wanita itu menutup mulutnya menahan bahagia.


Matanya berkaca-kaca memeluk suaminya. Meski masih sempoyongan dan belum bisa berdiri tegak, tapi ini sudah merupakan kemajuan besar dalam perkembangan kesehatan Martin.


Dibalik musibah ada anugerah Tuhan yang terlihat nyata.


"Ayo cepat kita ke rumah sakit," ajaknya menghiraukan keajaiban yang tengah terjadi padanya.


"Mau pakai kursi roda, Tuan?" tawar Gorda dengan sigap mengambil benda itu.


"Tidak usah! Kamu bantu saya ke mobil," katanya berjalan pelan menuju halaman.


Belinda yang masih terheran menyusulnya dari belakang lalu, membantu sang suami memapah jalanya.


“Sebentar, aku ambil tas dan ponselku dulu.” ucap Belinda kembali berlari ke dalam kamarnya.


Ia mendapati Jessica masih termenung kaku di sisi tangga.


“Kamu kenapa Jessica?” tanya Belinda.


“A-aku … aku tunggu di sini aja ya tante.” jawabnya terbata.


“Oke, kamu istirahat di kamar tamu aja. Minta Bi Parmi siapkan kamarnya yah.”


“Baik tante, terimakasih."

__ADS_1


“Sebentar,” Belinda mendadak mendekati Jessica.


“ini bukan ulahmu kan?” tanyanya setengah berbisik melihat gadis itu lekat.


“Bu-bukan tante, tentu saja bukan tadi itu Kak Hanna terpleset dan pegangan tangannya terlepas.” jelasnya dengan mata membulat.


“Oke, baiklah semoga kamu tidak salah paham dengan kata-kata tante tadi.”


Gadis itu pun terdiam melipat bibirnya menutupi kegugupan dalam raut wajahnya.


“Semoga wanita itu hilang ingatan atau koma lebih bagus," bisiknya dalam hati.


Mobil hitam metallic itu meluncur sangat cepat meninggalkan halaman rumah keluarga Delopez. Ia terus mengejar mobil sport yang dikendarai Agra yang sudah tak nampak sama sekali di depannya.


“Siapa yang jaga di rumah?” tanyanya pada Gorda.


“Ada Santo, Tuan,” jawabnya.


“Berikan ponselku,” perintahnya pada sang istri.


Martin lalu menghubungi pria bernama Santo itu seorang satpam yang menjaga rumahnya.


“Halo Santo! Kamu cepat periksa cctv di lantai atas dan kirimkan videonya kepada saya!" perintahnya tegas.


“Kamu ngapain pake lihat cctv segala?” protes sang istri.


Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak terlebih melihat gelagat aneh Jessica yang seolah tampak panik dan gugup tadi.


“Aku mau lihat seperti apa posisi jatuhnya Hanna, siapa tau bisa membantu tim medis untuk memberikan pertolongan pada calon cucu kita.”


“Apa? Calon cucu? Ja-jadi Hanna sedang hamil?” Belina terhenyak bersandar pada kursi mobil.


“Iya, Michael baru saja memberitahuku. Wajahnya terlihat berseri-seri saat bicara mengenai hal itu padaku. Jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya, atau dia akan kecewa." ucapnya menerawang keluar jendela menyesali tindakannya tadi yang membiarkan menantunya itu menaiki tangga.


"Pantas saja ada darah keluar dari kakinya," gumamnya Belinda nyaris tak terdengar.


"Darah apa?"


"Kita doakan yang terbaik untuk kandungannya," kata wanita itu menepis kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


***


Sementara di dalam rumah Jessica mengendap-endap menuju lantai atas. Ia celingukan memperhatikan ke arah plafon.


"Mati gue! Ada cctv di sana!" teriaknya dalam hati.


"Dimana ruangan pusat cctv mereka yah? Sepertinya gue pernah lihat di pos depan deh." gumamnya lagi maju mundur antara turun atau naik.


Lantas gadis itu memilih terus menaiki tangga hendak menuju kamar Laura, telinganya menangkap suara derap langkah kaki memasuki rumah. Ia menghentikan langkahnya melihat ke arah pintu.


Seorang satpam dengan langkah cepat menuju tangga ke arahnya. Ia langsung bersikap biasa saja berjalan santai.


"Mau kemana Pak?" tanyanya penasaran saat tubuh kekar itu sudah berada di dekatnya.


"Ke ruang kendali cctv, Non." jawabnya sambil melewati gadis itu.


"Bukannya ruang cctv ada di pos?" tanyanya lagi.


"Itu untuk cctv luar rumah saja, kalo yang di dalam ada di atas. Mari non," ucapnya sopan.


Jessica tak menjawab, jantungnya terasa berdegup kencang. Sebentar lagi, perbuatannya akan diketahui oleh orang itu. Ia berpikir cara untuk menyumpal mulut satpam itu.


Dengan perlahan ia mengikuti pak satpam itu menuju sebuah kamar yang terletak di ujung lorong.


"Pak-pak tunggu!" teriaknya sebelum pria itu membuka pintunya.


"Saya boleh ikut lihat nggak, Pak?"


Pria itu mengernyitkan dahinya menatap heran Jessica.


"Untuk apa, Non? Saya sedang buru-buru Tuan Martin menyuruh saya mengirim video itu padanya."


"Gawat! Apa mereka sudah mencurigaiku?" jeritnya dalam hati.


"Pak, jika saya memberi kesempatan bapak untuk menjadi orang kaya apa bapak mau? Membeli apa pun kebutuhan dan keinginan bapak tanpa repot lagi memikirkan uang, bapak mau?"


Jessica menelisik penampilan pria paruh baya itu, rambutnya sudah terlihat sedikit memutih meski tertutup topi hitam bertuliskan security. Namun, tubuhnya masih kekar, tegap dan gagah.

__ADS_1


__ADS_2