Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Bingung


__ADS_3

"Bukankah selama ini kalian sudah mengganti design-nya? Dan juga mengurus semua surat-suratnya. Sepadankan? Dirimu dengan harga tanah dan bangunan itu?" lanjutnya membelai rambut istrinya.


"Agra!" pekik Hanna dalam hati.


"Sejak awal itu tanah orang tuaku! Kamu yang seenaknya merampas dan membangun kantor di sana. Apa kamu pernah berpikir bagaimana nasib mereka? Akan tinggal dimana mereka nantinya jika tanah itu kamu bangun kantor?"


"Tanah orang tuamu hanya 200 meter sisanya kuberikan cuma-cuma untuk mereka sekarang. Jika kamu menanyakan mereka tinggal dimana, aku berencana membelikan rumah untuk mereka di dekat sana. Tapi setelah mengetahui design-nya dirubah aku berubah pikiran dan akan melihat sejauh mana kamu bertindak."


Hanna terdiam ia mencerna perlahan perkataan suaminya.


"Apa aku terlalu terburu-buru menilai pria ini? Kupikir tak ada sedikit pun niat baik yang dia rencanakan untukku dan keluargaku," gumamnya dalam hati.


"Kamu pikir aku tidak akan tahu semua ini? Perlu kamu tahu, bahkan dinding di rumah itu pun punya telinga. Apa pun yang kamu rencanakan pasti akan sampai kepadaku. Termasuk soal tanah Pak Wiyatna itu!" sambungnya menatap tajam sang istri.


"Aku hanya bersikap waspada! Karena tak akan mungkin seorang Michael bersikap baik pada orang lain."


"Jadi kamu masih belum mengerti. Baiklah, whatever semua itu yang jelas kamu tidak boleh lagi pulang ke rumah orang tuamu!" serunya sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar egois! Mentang-mentang dia punya duit seenaknya aja ngatur orang! Membeli aku? Dia pikir manusia bisa diperjualbelikan apa!" gerutunya.


Mood-nya mendadak buruk tak ada lagi selera untuk pergi ke salon. Rencana yang sudah dibuat matang harus terhempas sebelum ia mengatakannya.


"Siapa yang mengadukan semua itu kepada Michael? Agra jelas-jelas belum tahu soal tanah Pak Wiyatna itu. Apa bapak sudah bicara pada orang lain?" tanyanya dalam hati.


Akan lebih sulit mengambil hati sang suami jika seperti ini, dia harus mencari momen yang tepat untuk mengatakan kehamilannya.


"Anak ini harus bisa mengubah keadaan," gumamnya sembari meraba perutnya.


"Kak Hannaa!" teriak Laura di luar pintu.


"Iya sebentar!" jawabnya.


Hanna berniat berpamitan pada suaminya, baru saja hendak mengetuk pintu kamar mandi pria itu sudah membukanya dengan mengenakan handuk setengah badan.


Sontak wanita itu berbalik dan berjalan menjauh.


"Kenapa?" tanya Michael.


"Aku mau ke salon bareng Laura," ucapnya tanpa menoleh pada suaminya.


"Tunggu."


Pria itu tampak membuka lemari dan memakai kaos warna hitam serta celana jeans panjang biru. Lalu memakai minyak rambut dan menyisir rambutnya hingga klimis. Ia melempar handuk di atas kasur, seperti biasa Hannalah yang selalu bertugas menjemur handuk itu ke kamar mandi.

__ADS_1


"Kak Hannaa! Kak Mich! Ayoo," teriak Laura lagi.


"Sabaarrr!" teriak Michael di balik pintu.


"Yee, biasa aja kali!" jawab gadis itu kemudian duduk di sofa membuka ponselnya.


Setelah selesai bersiap ia melihat Hanna sejenak yang tengah berganti pakaian. Tadinya Hanna berniat memakai baju kemarin saja, tapi begitu melihat sang suami berpakaian casual ia jadi terlihat kurang cocok jika berjalan bersamanya.


Beberapa menit kemudian mereka keluar kamar disambut senyum sumringah dari Laura.


"Aseeeekkk hari ini kita disupirin Kak Michael!" serunya girang.


"Enak aja! Gue capek," tukasnya sambil berjalan menuju parkiran.


"Agra, antar Laura ke salon!" perintahnya pada asistennya ya g standby di depan rumah itu.


Sementara dirinya berjalan menuju mobil lainnya.


Hanna dan Laura saling berpandangan bingung.


"Iiihh dasar nyebelin!" teriak Laura kesal.


"Ayo Kak, kita jalan-jalan keliling salon tanpa dia kita juga bisa!" ucapnya menggandeng tangan kakak iparnya.


"Kamu minggir! Saya bawa sendiri aja!" usirnya pada Agra yang baru saja hendak membuka pintu kemudi.


"Masuk ke mobilku," ajak Michael melihat Hanna.


"Kakaaaakk! Keterlaluan banget sih! Aku minta ditemani Kak Hanna ke salon, masa gitu aja nggak boleh?" protes Laura kesal.


"Yang bilang nggak boleh siapa? Kamu disupiri Agra, kami berdua naik mobil sendiri. Salon langganan mommy kan?"


Laura mendengus kesal tak menjawab pertanyaan sang kakak. Ia masuk ke dalam mobil belakang yang akhirnya disupirin Agra.


"Apa salahnya sih kita satu mobil aja sama mereka?" protes Hanna.


"Nggak usah ikut-ikutan protes. Memang salah suami pengen berdua istrinya aja?" tegasnya.


Hanna terdiam mengalihkan pandangannya. Di belakang terlihat Belinda dan Martin yang geleng-geleng kepala.


Keluarga ini sebenarnya baik, mereka solid jika menghadapi masalah. Meski otoritas sang daddy lebih dominan memimpin dan semua harus menuruti tanpa bisa protes. Walaupun kadang-kadang tetap saja perdebatan tak bisa dihindari.


Seperti halnya Michael yang harus menikah dengan perempuan pilihan sang ayah. Meskipun jauh di dalam hatinya sebuah rasa sudah muncul sebelum perintah itu didengarnya. Entah rasa apa dia pun masih sulit mengenalinya.

__ADS_1


"Sikapnya benar-benar membingungkan!" gerutunya dalam hati.


"Aku yakin suatu saat nanti Michael akan menurut pada istrinya," ucap Martin melihat mereka pergi dengan mobil masing-masing.


"Entahlah, yang jelas untuk saat ini anak itu sudah mulai berubah. Tidak pernah pergi ke bar lagi, pulang selalu tepat waktu dan weekend di rumah."


"Ini semua karena wanita itu, dia bisa membawa pengaruh yang baik untuk Michael."


"Kamu percaya sekali padanya yah?"


"Aku punya keyakinan, anak itu memiliki hati yang teguh sejak dulu."


"Kita liat aja, apa dia bisa kasih kita keturunan dalam waktu dekat ini." ucap Belinda sembari mendorong kursi suaminya ke dalam rumah.


"Oh iya, sudah satu bulan lebih ya ini?"


"Hampir dua bulan sejak mereka menikah malah."


"Aku harus bicara pada anak itu nanti," kata Martin mengecek catatan di ponselnya.


"Sekarang kita persiapkan untuk Laura dulu, dua jam lagi mereka akan sampai kan?"


"Oke, apa masakan sudah siap?"


"Sepertinya belum, si mba masih sibuk di dapur."


"Kamu yakin keluarga Santiago memiliki reputasi yang baik?" tanya Belinda khawatir.


"Menurut informasi yang beredar seperti itu. Perusahaannya masuk lima besar terbaik di Indonesia," tuturnya bangga.


"Bagaimana anaknya?"


"Kita bisa mengenalnya nanti."


"Jadi kamu belum tahu informasi apa-apa mengenai putranya ini?" Belinda menghentikan langkahnya.


"Belum. Tapi aku sudah menyuruh si Gorda untuk mencari informasi tentang anak itu. Dan sampai sekarang tidak ada laporan apa pun, sepertinya tak ada yang mencurigakan mengenai dia. Kenapa?"


"Tidak apa-apa, hanya saja aku sedikit tidak nyaman dengan mereka karena sudah lama sekali tidak pernah bertemu."


"Ayolah, pikirkan yang terbaik untuk anak perempuan kita."


Wanita itu terdiam mencoba menenangkan pikirannya yang sedikit gelisah. Mereka akan menjodohkan anak perempuan satu-satunya dengan pria yang belum begitu baik dikenalnya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil lainnya milik Martin memasuki halaman. Terlihat pria bertubuh kekar tinggi besar memasuki rumah dengan setengah berlari.


Bersambung...


__ADS_2