
Tubuh lemas itu tergolek tak berdaya, bibirnya kering, matanya sembab dengan wajah pucat pasi membenam ke dalam bantal. Tak lama tangannya meraba ke atas nakas meraih gelas, lalu dengan enggan mengangkat kepalanya. Ia terbengong melihat gelas kosong di tangannya.
Wanita dengan perut besar itu, beringsut ke tepi kasur tenggorokannya tercekat kering tanpa setetes air pun sejak malam hingga menjelang sore ini.
Langkah terseoknya ia paksakan sekuat tenaga menghampiri pintu, seraya memegang perut yang seolah hendak jatuh itu. Diliriknya jam yang menggantung di dinding kamar remangnya. Sudah pukul 3 sore, ia berharap laki-laki itu belum pulang sehingga tak akan berpapasan dengannya.
Sudah beberapa hari sejak pembicaraan terakhir dengan suaminya itu mereka saling diam. Meski berulang kali, sang suami mencoba membuka percakapan dan berusaha meminta maaf. Tapi, dirinya seolah belum bisa menerima semua yang terjadi.
Baru disadari Hendi, selama ini telah bergantung banyak pada istrinya. Dari bangun pagi, telah tersedia kemeja dan celana serta dasi senada di atas kasur. Lalu, di dapur sarapan lengkap dengan segelas susu pun terhidang di meja makan. Belum lagi, sepatu yang telah disemir kinclong tergeletak di atas rak hampir tiap pagi.
Meski dengan perut membesar, Siska selalu menyiapkan segala keperluan suaminya tanpa kata. Ia berusaha meluluhkan hati keras itu dengan semua pengabdiannya, kecuali kewajibannya di atas ranjang yang tak pernah memiliki kesempatan untuk menunaikannya.
Tapi beberapa hari ini, semua perlakuan dan pemandangan itu tak lagi terlihat oleh Hendi. Hanya pintu sebuah kamar tamu yang tertutup rapat dan terkunci dari dalam, selalu ia ketuk setiap pagi yang menyambutnya. Namun tak ada suara apapun yang menyahut, apalagi keluar menemuinya.
Ia berusaha menerima dan menyadari, kesalahannya memang tak mudah untuk dimaafkan.
Kali ini malah sebaliknya, sang suami yang berusaha mengabdi atas kesalahan fatal yang ia lakukan. Segelas susu untuk ibu hamil selalu ia sediakan di atas meja. Terkadang, ia juga membuatkan sarapan sebelum berangkat ke kantor.
Tentu saja Siska hanya akan keluar jika suara mobil suaminya sudah terdengar menjauh dari rumah mereka. Sambil menangis ia meminum susu dan menyuap sarapan yang tergeletak di meja.
"Seandainya hal itu tidak terjadi, aku akan menjadi istri paling bahagia di dunia diperlakukan seperti ini." bisiknya di sela isak tangisnya.
***
Siska perlahan membuka pintu menuju dapur, entah kenapa hari ini tubuhnya lemas sekali. Mungkin karena seharian ia tak makan apapun.
Saat melewati meja makan, segelas susu dan sepotong sandwich yang disiapkan Hendi tadi pagi, masih tergeletak tak tersentuh. Ia hanya meliriknya dan terus menuju air putih berada.
Setelah dirasa cukup, dengan membawa segelas air putih ia kembali menuju kamarnya. Namun, baru beberapa langkah terdengar suara pintu depan dibuka. Siska terperanjat dan bergegas mempercepat langkahnya, ia masih tak ingin menemui lelaki itu sekarang.
__ADS_1
Sialnya kakinya tersandung kaki meja dan gelas pun terlepas dari genggaman tangannya. Untung saja perut besar itu tidak jatuh karena sebuah tangan dengan cepat dan sigap langsung menyangga tubuhnya.
"Kamu nggak papa?" tanyanya memandang khawatir wanita di depannya.
Siska hanya menggeleng dan berniat memungut serpihan kaca yang berserakan di bawahnya.
"Biar aku saja," cegah Hendi seraya membopong tubuh istrinya menuju kursi dengan hati-hati. Ia melirik segelas susu dan sarapan yang masih utuh itu.
"Tunggu di sini, aku buatkan susu." ucapnya tanpa menunggu jawaban ia langsung mengambil gelas.
"Tidak usah, aku akan kembali ke kamar." tolak Siska dan hendak bangun menuju kamar tamu.
"Setidaknya jangan siksa anak itu! Ia tak berdosa sama sekali. Aku sudah cukup sering membuatnya menderita di awal kehadirannya, jangan sampai di akhir pun ia harus menderita karena kesalahan orang tuanya." kata Hendi memandang sendu sang istri yang berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
"Dia memang hadir di atas penderitaan orang, jadi biarkan kami terbiasa dengan hal ini."
"Maafkan aku Siska," bisiknya lirih. Air mata meluncur bebas di sudut matanya.
"Maaf, atas segalanya. Tolong jangan kau siksa dia, cukup kau diamkan aku dan lakukan sesukamu tapi jangan calon bayi kita. Bagaimana pun yang terjadi, anak itu tidak berdosa. Tak adil baginya jika harus ikut menanggung semua ini," bisiknya lagi di sela tangisnya.
Sekuat apapun wanita itu menahan sakitnya, matanya tak bisa dibohongi. Pundaknya terguncang, tubuh lemasnya roboh di pelukan sang suami. Untuk sejenak kedua sejoli itu larut dalam isak tangis, raungan dan jeritan penyesalan menggema di rumah mereka.
***
Setelah mereda keduanya terduduk di lantai depan kamar tamu itu, dengan tubuh menyender ke tembok.
"Jujur aku tak ingin kehilanganmu dan aku bingung, apa yang harus kulakukan atas semua ini?" tanya Siska.
"Cukup selalu berada di sini temani aku, dan ijinkan aku menjadi ayah terbaik di sisa umurku." kata Hendi memegang jemari sang istri penuh harap.
__ADS_1
"Terdengar sangat menyakitkan." Wanita itu tertunduk, buliran air masih saja meluncur dari matanya.
"Bukankah semua yang di dunia ini mempunyai batas hidupnya masing-masing? Kita hanya menunggu kapan dan dimana batas itu datang."
"Tapi, jika tidak ada penyebabnya batas itu tidak akan datang secepat yang diperkirakan."
"Ada atau tidaknya penyebab, kematian selalu mengintai kita. Ini hanya soal waktu, Siska."
Wanita itu terdiam, matanya sayu memandang dengan tatapan kosong. Dunianya seolah suram, tak ada harapan dan keinginan yang terlintas di benaknya. Yang ia pikirkan sekarang adalah, rasa sakit atas pengkhianatan dan kehilangan di depan mata.
"Tunggu di sini, aku buatkan susu kasian bayi itu." katanya sambil berdiri dan berjalan menuju dapur.
Tak berapa lama ia kembali dengan segelas susu dan sepiring roti selai di tangannya.
"Makanlah, setelah ini kita ke dokter wajahmu terlihat pucat."
"Aku akan berganti pakaian, setelah ini kamu pun tolong bersiap dan jangan menolak. Akan ada waktu dimana kamu tak lagi melihatku."
Siska melirik punggung tegap yang telah berlalu dari sampingnya itu tengah menaiki tangga. Hatinya teriris mendengar kata terakhirnya.
"Kamu harus sembuh, Hendi." ucapnya getir memegang perutnya yang sedari tadi terasa tendangan calon buah hati mereka.
Lalu, ia menenggak susu dan memakan roti itu dengan lahap. Benar saja, rasa lapar telah membuatnya kehilangan harapan. Kini setelah terisi mendadak semangatnya kembali menyala.
"Aku harus bicara pada Om Chandra dan Tante Viona untuk mengupayakan pengobatan terbaik penyakit Hendi," bisiknya dalam hati.
"Tak akan kubiarkan penyakit itu merampas kebahagiaanku, ayo nak kita berjuang bersama untuk kesembuhan papamu." gumam Siska sambil mengelus perut besarnya.
Bersambung....
__ADS_1