
Sinta tampak khawatir mendengarkan percakapan Reyhan di ponselnya. Pria itu tampak kesal seraya memijat kepalanya perlahan.
"Kenapa Rey?" tanya Sinta saat dia melihat pria itu sudah mengakhiri panggilannya.
"Ada masalah di kantor, kamu mau makan apa? Agak cepat yah, aku ada urusan urgent sebenernya."
Dia kembali menjalankan mobilnya.
"Mmm, ya udah aku pulang aja. Kamu selesaikan dulu masalahnya, kita kan bisa jalan lain waktu."
"Kamu nggak papa?"
"Ya nggak papa, urgent kan tadi kata kamu."
"Iya sih, ya udah maaf yah. Next time kita atur waktu yang lebih panjang yaa," kata Reyhan memegang jemari gadis itu.
Dia hanya tersenyum dan meminta turun di halte depan.
"Nanti aku hubungi lagi yah," ucapnya saat Sinta turun dari mobilnya dan dibalas anggukan oleh gadis itu.
Lalu, dia menancap gas dengan cepat menuju kantornya.
"Sialan! Kenapa mereka menarik sahamnya kembali?" pekiknya sambil memukul stir kemudinya.
***
Mobil sport hitam itu tiba di salon, dengan cepat Michael memasuki bangunan yang di dominasi cat pink putih itu.
Ia celingukan mencari sosok yang dikenalnya. Tapi, tak nampak dalam pandangannya.
"Maaf Mba ...."
Baru saja ia akan bertanya pada salah satu karyawan di sana, terlihat sekelebat bayangan Hanna keluar dari sebuah ruangan bertirai pink itu.
Tanpa menunggu lama pria itu langsung menemui istrinya.
"Sudah selesai kan?" tanyanya menggenggam jemari wanita itu.
"Eh, itu ... Laura masih di dalam," jawabnya kaget melihat suaminya sudah di depannya terlebih sentuhan jemarinya yang membuatnya gugup.
"Udah nggak papa, ada Agra di luar."
Setelah menggesekkan kartu menyelesaikan pembayaran, keduanya berjalan keluar pintu dan segera menuju mobilnya.
"Agra, nanti kamu antar Laura pulang yah."
"Siap Tuan."
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dengan masih saling terdiam.
"Ini milik siapa?" tanya Michael yang sudah tak sabar mengeluarkan tespack dari saku celananya.
Hanna terperanjat melihat benda itu.
"Kamu bongkar-bongkar tas aku?" serunya merebut tespack miliknya.
"Aku tanya ini punya siapa?" tegas pria itu lagi.
"Ya mana mungkin punya orang ada di tas aku kan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu sedang hamil?"
Hanna terdiam melempar pandangan kedepan jalanan yang mulai panas.
"Kamu mau nutupin ini dari aku?" tanyanya lagi melihat istrinya yang masih terdiam itu.
"Ya enggak, belum ada waktu yang pas aja."
"Nggak ada waktu yang pas gimana? Dari tadi kan kita bareng," protesnya.
"Ketika aku baru sampe rumah, Laura langsung menyambutku dan mengajak ke salon kan? Lalu, saat di kamar tadi pun, kamu langsung menghakimi, mengancam dan bicara yang tidak enak di dengar. Bikin mood-ku males buat bahas ini," jelasnya menunjuk pada alat yang berisikan 2 garis merah.
Kini Michael yang terdiam, dia menyadari sikapnya terlalu kasar pada sang istri saat mereka di dalam kamar tadi.
Tiba-tiba tangan Hanna ditarik dan kepalanya ditelungkupkan pada dada bidang suaminya. Pria itu merengkuh erat tubuh sang istri.
"Maafin aku," bisiknya.
"Kamu mau kan maafin semua kesalahanku padamu?" lanjutnya merasakan tubuh itu tak bergeming.
Hanna merasa tak nyaman karena posisi mereka terhalang rem tangan di tengah kursi. Michael yang menyadari itu langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf sudah memulai semua ini dengan luka, maaf untuk semua perlakuan kasarku padamu."
"Segampang itu kamu ucapkan maaf!" gertak Hanna dalam hati.
"Aku punya satu permintaan," kata Hanna menatap suaminya itu.
"Apa? Katakan."
"Aku ingin membangun gedung baru perusahaan di desa orang tuaku. Aku ingin kamu percaya penuh padaku atas semua prosesnya."
"Aku tidak bicara begitu, yang kupikirkan adalah gaji karyawan di sana jauh lebih murah. Sehingga kita bisa menekan cost perusahaan hingga beberapa persen. Selain itu bisa memberikan lapangan pekerjaan pada warga di sana agar membantu perekonomian mereka."
"Lalu, biaya transport? Pengambilan dan pengiriman barang? Entah itu barang mentah atau pun barang jadi. Bagaimana kamu akan menekan itu?"
"Untuk masalah upah karyawan kita sudah banyak mesin otmatis, hanya akan butuh beberapa pekerja saja untuk mengoperasikannya. Lagipula tanah di samping perusahaan kita dijual murah karena letaknya terhimpit beberapa tanah lainnya. Sehingga mereka tidak punya akses jalan," jelasnya sambil menyalakan mobilnya.
"Lalu untuk apa kamu membuat kantor di sana?"
"Kamu ternyata masih belum paham juga."
"Paham apa maksudmu?"
"Itu hanya alasanku untuk memuaskan rasa penasaranku padamu."
"Gila, gabutnya orang kaya bangun kantor segede gitu," gumam Hanna dalam hati.
"Coba kamu pikirkan, untuk apa aku hanya membuat kantor di sana, sedangkan perusahaan dan produksi di sini."
"Bukankah dulu kamu bilang untuk mengurus dokumen ekspor import?"
"Ya, itu alasanku kepada daddy."
"Sekarang kita akan menemui daddy, untuk mengatakan perihal kehamilanmu. Dengan begitu, dia akan percaya penuh padaku untuk mengelola perusahaan dan memberikan hak atas semuanya. Dan si ingusan itu nggak akan punya celah untuk merebutnya."
"Ingusan siapa? David maksudmu?"
"Anak itu, selalu menunjukkan kepolosannya padahal hatinya rakus. Dia selalu pura-pura tulus dan bodoh. Di otaknya banyak ide-ide yang terkadang mampu menggoyahkan keputusan Daddy."
__ADS_1
Hanna terjebak. Saat ini rencananya untuk mandiri membangun perusahaan sendiri terancam gagal. Bahkan, kantor yang dia pikir akan berjalan hanya perusahaan cangkang yang sengaja dibangun sang suami.
"Bagaimana aku bisa lepas dari pria ini? Aku nggak mau selamanya berada di bawah kendalinya! Saat ini mungkin aku masih aman karena tengah mengandung anaknya, tapi ke depannya tak ada yang bisa menjamin ketika anak ini sudah lahir!" serunya dalam hati.
Tak berapa lama mobil mereka tiba di rumah.
"Keluarga calon Laura sudah datang?" tanya Hanna saat melihat sebuah mobil terparkir di halaman.
"Itu mobil Jessica teman Laura," jawabnya datar.
Ada perubahan pada raut wajah Michael saat nama itu disebut.
"Setelah acara ini kita ke rumah sakit, aku ingin melihat calon anak kita."
"Belum keliatan Mich, meskipun di usg."
"Nggak masalah, meskipun hanya setitik aku akan tetap melihatnya."
Dia membukakan pintu untuk Hanna dan menggenggam jarinya saat masuk ke dalam rumah.
"Tumben amat ni orang, seharian ini sikapnya berubah drastis. Nggak! Gue nggak boleh lengah. Michael yang gue kenal adalah bengis dan kasar. Ini hanya pura-pura!" tegasnya dalam hati.
"Laura mana?" tanya Jessica saat mereka sudah memasuki rumah.
"Dia naik mobil belakang sama Agra," jawab Michael.
"Jadi ini istri Kak Michael? Cantik dan imut yah, pantesan Kakak jatuh cinta sama dia." goda gadis itu mencium pipi kanan kiri Hanna.
"Terimakasih," ucap Hanna ramah.
Hanna dan Michael duduk bergabung bersama Martin dan Belinda yang juga ada di sana. Mereka pun terlihat mengobrol santai mendengarkan cerita Jessica kuliah di luar negeri.
"Sebentar lagi keluarga Santiago akan segera tiba, coba kamu hubungi Laura, Hanna." Martin tak tenang anak gadisnya itu belum juga datang.
Belum sempat Hanna menelpon, sosok yang ditunggu akhirnya muncul dengan senyum mengembang melihat sahabat lamanya.
"Jessicaaa!" teriaknya dari pintu berhambur memeluk gadis tinggi semampai itu.
"Lauraaa, oh my God! Cantik sekaliii!" pekiknya membalas pelukan sahabatnya.
"Udah lama nunggu?"
"Mmm, lumayan."
"Kenapa nggak bilang kalo udah sampai?"
"No problem, aku tadi ditemani sama daddy and mommy jadi nggak kerasa."
Selang beberapa menit, sebuah mobil jenis SUV model Range Rover itu memasuki halaman rumah keluarga Delopez, disusul sebuah mobil BMW di belakangnya.
"Mereka sudah datang, Tuan." kata Agra memberitahu.
Hati Laura berdebar tak karuan, jantungnya seakan mau lompat melihat dua mobil itu mendekati rumahnya. Begitu juga dengan Belinda, rasa takut dan khawatir akan keputusan suaminya terus menghantui pikirannya.
"Akankah Martin menyerahkan anaknya kepada seorang Elmer Santiago? Yang nyatanya sudah memiliki hubungan terlarang dengan seorang wanita yang jauh lebih tua usianya?"
Stay tune
Bersambung...
__ADS_1