
Suasana rumah dua lantai itu terlihat sepi, hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang tengah membersihkan bangunan megah dengan warna abu mendominasi itu.
Laura, anak kedua dari Martin pemilik perusahaan Gemilang Grup memasuki rumah dengan tergesa-gesa. Terlihat jelas wajah cemasnya yang berulang kali melihat ke lantai dua.
"Bi, panggil yang lainnya ayo bantu saya bawa Tuan ke mobil!" perintahnya pada asistennya yang tengah bersih-bersih.
Dia menaiki tangga dengan cepat, meski lututnya setengah gemetar tak dihiraukannya. Sang mommy mengabari kalo penyakit daddynya kambuh lagi, tangannya kembali tak bisa digerakkan dan harus segera dibawa ke rumah sakit.
Namun, supir dan beberapa pengawal lainnya tidak ada satu pun di sekitar rumah. Michael memerintahkan mereka semua untuk standby mengurus dan mengawasi pembangunan kantor di desa Hanna.
Di belakang terlihat pria bule itu segera berlari menyusul sang adik menuju kamar sang daddy. Langkahnya yang lebar dan cepat berhasil mendahului Laura.
"Kak, lu itu keterlaluan yah! Kemana semua orang?" tanya Laura geram.
"Udah berisik! Buruan bantu bawa daddy ke mobil!" perintahnya menghiraukan pertanyaan sang adik.
Laura yang kesal akhirnya cepat berlari mengikuti kakaknya. Di belakang beberapa aisten perempuan tampak menyusul mereka.
Sesampainya di kamar, Belinda tengah menangis melihat keadaan suaminya. Ia tak dapat menyembunyikan kesedihannya, tak menyangka lelaki kuat dan gagah seperti Martin harus tergolek lemah tak berdaya.
Mereka pun segera menggotong tubuh ringkih Martin menuju mobil Michael.
"Cepat kau panggil supir dan pengawal ke rumah sakit! Daddy lagi sakit, seenaknya saja kau perintahkan semua orang untuk mengurus proyek ambisimu itu!" gertak Belinda.
Sang anak hanya tertunduk, dan segera berlari menuju kemudinya.
"Kau telepon dulu mereka!" Biar Laura yang nyetir," perintah sang mommy yang tak bisa lagi menyembunyikan kekecewaan pada anak sulungnya itu.
"Sudah, Mom. Di jalan tadi, Michael menghubungi Agra untuk segera kembali kesini," jawabnya pelan.
"Kalo sampai terjadi apa-apa sama daddymu, mommy nggak akan memaafkanmu!" gertaknya seraya memalingkan wajahnya.
"Proyek apa si kak, di sana? Sepenting itu yah, sampai semua orang dikerahkan?" tanya Laura tak kalah kesal.
Michael tak menjawab pertanyaan adiknya, ia segera melesat menjalankan mobilnya.
"Lagian dokter Jeffry kemana sih, Mom? Dia kan harusnya standby ngurusin daddy."
__ADS_1
"Dia sedang di luar kota, memangnya pasien dia cuma daddymu!"
"Carilah dokter lain, kenapa harus ke rumah sakit? Kasian kan daddy," Laura melihat ke arah orang tuanya.
"Sudah mommy hubungi semua dokter yang kita kenal, tapi tak ada satu pun yang kosong. Lagian kan takut ada tindakan juga, Lau."
Mereka semua terdiam, fokus melihat jalan berharap tujuannya segera sampai.
Dalam hati Michael kata-kata sang mommy menancap jelas. Ia bertanggung jawab jika sesuatu terjadi pada lelaki yang sudah berjuang keras demi hidupnya dan juga keluarganya.
***
"Hei siapa kamu?" tanya seseorang dari depan pintu kamar.
Hanna terlonjak dan melempar kertas itu, ia segera keluar pintu. Khawatir mereka akan melakukan hal yang tak diinginkan kepadanya.
"Harusnya saya yang tanya, siapa kalian semua dan sedang apa di rumah saya?"
Para lelaki itu saling berpandangan heran.
"Apa anda Hanna Kartika?"
"Kalian semua tolong hentikan pembangunan rumah saya, karena ibu saya pun tidak menyetujuinya kan?" lanjutnya melihat semua terdiam.
"Maaf Mba, kami hanya menjalankan perintah untuk membangun kembali rumah ini. Bukankah anda calon istri dari Tuan Michael?" tanya seorang lagi yang baru saja keluar.
Hanna mulai muak mendengar kata calon istri, ia merasa percuma bersitegang dengan para pria bayaran ini. Pasti mereka akan mendengar bosnya dibanding dirinya.
"Aku tidak mungkin melawan Michael dengan cara ini, dia akan melakukan apa saja demi mencapai ambisinya. Bahkan merebut tanah-tanah warga sini, dengan ganti rugi yang cukup besar." batinnya.
"Katakan dimana ibu saya? Apa kalian tau dia membawanya kemana?"
"Saya tidak tahu, Mba. Yang jelas pria bernama Agra itu yang membawanya," jelas seorang yang hanya memakai kaus dalam dan sarung itu.
Sepertinya mereka para kuli bangunan yang diperintah merenovasi rumah ini.
Tak lama kemudian beberapa lelaki yang berbadan besar muncul dari kamar lainnya. Hanna mengenali salah seorang di antara mereka karena pernah melihatnya di villa Michael.
__ADS_1
"Ibu anda dibawa ke villa, jika ingin menyusulnya silahkan hubungi Agra." Pria itu melempar kertas berisikan nomor ponsel.
Perlahan Hanna memungut kertas berlipat itu.
Sinar fajar perlahan muncur di cakrawala, embun yang menempel pada dedaunan sudah mencair menetes ke tanah. Suara hewan ternak saling bersahutan.
"Aku harus menemui Michael. Tidak! Pak Martin terlebih dahulu. Akan kuikuti permainan anaknya melalui power bapaknya." ucap Hanna dalam hati.
Ia pun bergegas meninggalkan rumah dan desa kelahirannya. Dalam hatinya ia tak rela rumah itu akan jatuh pada pria asing itu dan terlebih Zea, musuh bebuyutannya. Hatinya membara tatkala mengetahui wanita itu terlibat atas ketidakadilan ini.
"Aku sudah cukup diam selama ini, Zea. Karena menyadari kesalahan di masa lalu, tapi tidak untuk sekarang. Akan kupastikan semua tak berjalan sesuai rencana kalian," gumamnya.
***
"Apa-apaan ini Hendi? Setelah menghilang beberapa hari, kali ini dia malah mengajukan cuti tanpa keterangan urgent apa pun. Dianggapnya perusahaan ini apa? Seenaknya ninggalin kerjaan. Cepat cari penggantinya!" Chandra emosi membaca email singkat dari Hanna.
Sinta yang sedari tadi berdiri di pintu luar, urung masuk mendengar bos besarnya itu tengah marah-marah. Sayup ia mendengar ungkapan kekesalannya pada Hanna.
"Waktu itu dia diculik, Pak dan sekarang keluarganya juga sepertinya tengah ada masalah." jelas Hendi.
"Tapi, dia itu udah nggak fokus kerja Hen. Sedangkan kita butuh orang yang bener-bener bisa handle dan fokus ke kerjaan dia."
"Selama ini kan ada Sinta, Pak. Sejauh ini juga masih berjalan normal," jawab Hendi seraya menunduk.
"Ya itu karena kamu juga turut andil membantunya kan? Coba kalo semua dia yang pegang? Om yakin Sinta nggak akan sanggup!"
Chandra jarang sekali menumpahkan emosinya hingga meluap-luap. Kecuali jika dirasa sudah keterlaluan. Dan menurutnya menghilangnya Hanna ini tidak masuk akal.
"Tuh anak juga nggak bisa dong selamanya ngehandle kerjaan si Hanna. Yang ada kerjaan dia juga terbengkalai," sambungnya lagi.
Hendi menarik napas panjang, dia memijat kepalanya yang sedikit pusing.
Kerjaan memang sedang banyak-banyaknya, belum lagi beberapa proyek tebengkalai karena kurang follow up dari Hanna. Fokus wanita itu terpecah dengan masalah pribadinya.
Suasana sudah kembali lebih kondusif, Chandra telah duduk di kursinya dan sedikit lebih tenang setelah menumpahkan ganjalan di benaknya. Sedari tadi dia berjalan bolak balik di depan meja Hendi, membuat pria itu pening melihat pamannya itu.
"Cepat putuskan cari pengganti Hanna. Biarkan wanita itu fokus pada masalahnya," ucapnya pada Hendi seraya berjalan keluar pintu.
__ADS_1
Bersambung...