Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Jujur


__ADS_3

Jalanan kota yang cukup ramai saat jam pulang kantor, membuat mobil yang dinaiki Ansell tersendat. Dalam antrian gerbang tol yang panjang pria itu tampak melamun. Pikirannya tertuju pada kata-kata sang bos tadi.


"Menyuruh istri? Menghancurkan lamaran mantan istri?" gumamnya pelan.


"Apa jangan-jangan Zea melakukan sesuatu pada Hanna? Tapi, dari mana Tuan Michael tahu?"


Hatinya tak tenang, apa yang sebenarnya disembunyikan sang istri.


Satu jam kemudian, mobil Ansell memasuki gerbang rumahnya. Dia langsung menemui Zea, terlihat sang istri sedang menonton televisi di kamarnya.


"Sudah pulang sayang?" tanyanya mencium tangan sang suami dan melepaskan dasinya.


"Aku mau bicara sama kamu," ucap Ansell menarik tangan istrinya ke tepi ranjang.


"Ada apa? Serius banget?"


"Jawab jujur, apa telah terjadi sesuatu yang tidak kuketahui?" tanyanya menatap tajam Zea.


"Sesuatu? Ma-maksudnya apa?" Zea mengangkat pundaknya.


"Hanna. Apa kau menemuinya?"


Deg!


"Darimana Ansell tahu? Berarti benar perempuan itu masih berhubungan dengan suamiku. Atau Ibunya yang mengadu? Tapi nomor perempuan tua itu sudah aku blokir dari ponselnya," batin Zea.


"Ya, aku menemuinya. Kenapa? Dia mengadu padamu?"


"Ya ampun Zeaaa, apa sih yang ada di pikiranmu? Kenapa selalu saja tentang wanita itu!" teriak Ansell.


"Ya-aku penasaran aja! Gimana kehidupannya sekarang. Kalo dia miskin dan menderita oke nggak papa kamu kirim uang buat biaya hidup anaknya. Tapi kalo dia berkecukupan bahkan lebih ya ngapain kita bantu?"


Ansell mengusap wajahnya kasar kehabisan kata-kata.


"Jadi intinya, kamu nggak terima aku nafkahi anak aku sendiri, gitu?"


"Seperti yang kukatakan tadi, dia mampu ko menghidupi anaknya. Kamu juga kan punya tanggung jawab yang lebih besar, kedua anakmu dan juga aku." Zea tak kalah nyolot melihat suaminya.


"Ini lucu. Padahal itu juga uang hasil keringatku sendiri bukan minta ke kamu apalagi orang lain," gumam Ansell memalingkan wajahnya.


"Uang kamu ya uang aku. Aku berhak mengatur keluar dan masuknya. Jika dirasa pengeluaran tidak penting ya buat apa?"


"Tapi harus yah, datang ke sana dan merusak hubungan orang? Apa yang kamu katakan pada mereka?"


"Aku mengatakan kebenarannya, biar calon suaminya itu tau masa lalu calon istrinya."


"Bisa nggak sih kamu lepasin pikiran tentang masa lalu kita? Bisa nggak sih kamu juga nggak ikut campur urusan mereka!" Nada suara Ansell meninggi.


"Bisa! Asalkan kamu juga lepasin anak itu!"


Ansell mengepalkan tangannya geram, tatapan matanya tajam menerkam sang istri. Sejurus kemudian dia pergi meninggalkan kamar berjalan keluar rumah menuju mobilnya.


Kepalanya serasa mau pecah, emosinya pasti meledak jika ia masih tetap di sana. Zea tidak pernah berubah. Jika bukan karena anak-anak mungkin pilihan rujuk tak akan ia tempuh.


Dia terus melajukan mobilnya dengan kencang. Tak tahu mau kemana, yang jelas ia ingin meredamkan emosi. Jika terus menerus di sana, ia khawatir malah akan menyakiti Zea dan juga anak-anaknya.


Sementara wanita itu, terduduk lesu di tepi ranjang. Sejak masa lalu itu hadir dalam rumah tangganya, keharmonisan hanya berjalan semu. Sakit hatinya telah mendarah daging, merasa korban paling tersakiti.

__ADS_1


Dalam diamnya ia berpikir, wanita itu memang tidak pernah membuat masalah dengannya sejak pergi meninggalkan mereka dulu. Malah dia mengalah merelakan kehidupannya berantakan demi sebuah keutuhan rumah tangga orang lain.


Tetapi, Zea selalu berusaha menepis kebenaran itu. Keegoisan mendominasi otaknya.


Terkadang kebaikan apapun tak akan terlihat jika rasa benci sudah menguasai hati.


***


Hendi termenung setelah mendapat telepon dari Reyhan.


"Kamu kenapa?" tanya Siska yang berjalan lambat ke arahnya karena perutnya yang semakin membesar.


"Tadi Reyhan menghubungiku, katanya Hanna tak ada dikostnya. Padahal dari sore tuh anak udah pulang," kata Hendi dengan nada dingin.


"Ya mungkin cari makan atau main kemana gitu. Reyhan siapa?"


"Pacarnya Hanna," jawabnya sambil berlalu.


"Syukur deh perempuan itu sudah punya pacar," gumamnya dengan senyum mengembang.


Hubungan mereka memang belum sepenuhnya baik, sikap dingin Hendi masih sering terlihat. Apalagi jika di dalam kamar, mereka akan saling terdiam hingga pagi datang.


Meski kadang Siska mencoba mencairkan suasana, dengan membuat pertanyaan basa basi seperti tadi. Dia memang menjawabnya, meski wajahnya sedingin es.


Hendi menuju kamar diikuti Siska dari belakang. Sudah dua minggu mereka menempati rumah barunya. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan Siska pun melakukan hal yang sama menjejerkan tubuhnya di samping suaminya.


Ia memandang wajah Hendi, membuat pria itu salah tingkah.


"Nggak usah liat-liat," ucapnya dengan mata fokus ke gadget-nya.


"Aku ingin anak ini mirip sama kamu," kata Siska.


"Katanya kalo anak mirip papanya berarti emaknya cinta banget. Begitu juga sebaliknya,"


Hendi terdiam merasa canggung.


"Mitos."


"Oh iya yah, kamu kan emang nggak pernah cinta aku." ujar Siska seraya tersenyum yang dipaksakan.


"Kamu nggak pengen ngelus anak kamu? Biar dia kenal sentuhan papanya sejak dalam kandungan," sambungnya.


"Nggak usah modus."


"Ih siapa yang modus? Emang gitu ko coba aja browsing."


Tiba-tiba Siska menempelkan tubuhnya ke lengan Hendi seraya merebut ponselnya. Lalu dia mengetik sesuatu di sana.


"Nih baca," katanya kembali menyerahkan ponsel itu.


Sedetik tadi jantung Hendi berdegup kencang merasakan benda kenyal menempel pada lengannya. Segera ia menggeserkan sedikit tubuhnya merasa tak nyaman.


Dia pun membaca artikel yang diberikan istrinya itu.


"Hen, apa setelah ini kita akan bercerai?" tanya Siska serius memandang Hendi lekat.


Pria itu terdiam, fokusnya masih pada benda pipih itu. Meski hatinya tak karuan mendengar pertanyaan sang istri.

__ADS_1


"Tergantung kamu," jawabnya kemudian.


"Aku? Aku tak mau bercerai, anak ini pasti butuh sosok ayah."


Napas Hendi tercekat, ia teringat penyakitnya yang semakin hari terasa gejalanya. Terlebih, ia jarang sekali punya waktu untuk ikut terapi penyembuhan.


"Tapi, sejak kita menikah sampai detik ini kamu tak pernah menyentuhku. Ada hakku di sana Hen," Suara Siska parau tertunduk di sampingnya.


"Sebenci itukah sampai waktu pun tak bisa membuatmu memaafkanku?" imbuhnya lagi.


"Cukup Siska, ada hal yang belum siap kuceritakan tentang diriku. Aku tak yakin, kamu masih akan tetap memintaku di sisimu setelah mengetahui ini."


"Apa yang belum kuketahui tentangmu? Bukankah di antara suami istri tidak ada yang namanya privasi? Bahkan orang yang kamu cintai pun aku tau, apa ada luka yang lebih sakit lagi dari itu?"


Hendi terdiam cukup lama.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kapanpun kamu siap menerimaku kembali." kata Siska menarik selimutnya.


Saat hendak membenamkan kepalanya di bantal Hendi meraihnya. Ia mengecup lembut bibir itu.


Sejenak mereka saling terpagut menumpahkan segala rasa lewat sentuhan pertama itu. ******* napas yang memburu terdengar dari keduanya. Sudut mata Hendi menetes air yang entah dari mana asalnya.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Siska yang menyadari air mata meluncur di pipi sang suami. Wajah mereka masih saling dekat dengan kening yang menempel.


"Aku terkena HIV," ucapnya kemudian.


Deg! Hatinya tersentak. Sontak kedua alis Siska berkerut dia menjauhkan wajahnya dari Hendi menatap tajam pria di depannya.


"A-apa? HIV? Bagaimana bisa ?" tanyanya memegang pundak suaminya itu.


Hendi hanya bisa tertunduk menyembunyikan raut wajahnya. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Sejak kapan, Hen? Dan bagaimana itu bisa terjadi?" Siska menarik paksa kain itu.


Pikiran Siska jadi teringat saat dokter membacakan tes HIV miliknya di rumah sakit dan ia dinyatakan negatif.


"Kamu main dengan perempuan mana, Hendi? Jawab!" teriaknya.


Suara Siska bergetar menahan sesak, menyadari bahwa bukan dirinya yang menyebabkan ini.


"Kamu menelantarkan kewajibanmu, aku masih bisa terima. Kamu tak perhatian, tak pernah menyentuhku aku juga terima semua itu. Tapi kamu meniduri wanita lain dan pulang membawa penyakit mematikan itu rasanya ini di luar batas Hendi! Aku tak bisa menerimanya!" pekiknya.


"Aku tidak sengaja melakukannya. Saat itu aku mabuk berat dan tidak tahu tiba-tiba sudah di kamar hotel dengan pelacur itu." jelasnya.


"Pelacur? Sungguh miris. Istri sendiri tidak pernah disentuh tapi wanita penyakitan malah ditiduri," kata Siska berderai air mata.


Hatinya hancur berkeping-keping, ia lalu berlari pergi meninggalkan Hendi menuju kamar lainnya.


Pria itu hanya memandang sendu, ia sudah yakin hal ini pasti terjadi cepat atau lambat. Tak mungkin berlama-lama menahan diri untuk tidak meniduri istri sendiri.


Maka dari itu ia membuka semuanya, alasan belum menyentuh istrinya sampai saat ini. Meski kata memaafkan tak pernah terucap, tapi jauh dari lubuk hatinya Hendi sudah memaafkan Siska.


Bersambung...


Siska bakal nerima Hendi nggak yah?


Nasib Hanna gimana itu?

__ADS_1


Tunggu besok yaaa readers 😚


Jangan lupa jempol dan jajarannya bestie 👍


__ADS_2