
"Kamu beli rumah meski om tidak setuju?" tanyanya menatap tajam sang keponakan.
Hendi mengambil kertas yang ternyata salinan invoice pembayaran sebuah unit perumahan elit, di kawasan tak jauh dari kantor.
"Om, kan nggak mungkin selamanya Hendi menumpang di rumah. Sementara Andrew juga sebentar lagi lulus kuliah dan balik ke Indonesia. Suatu saat dia akan menikah dan tinggal di rumah itu."
"Belum lagi, Hendi juga sudah mempunyai keluarga sendiri." Ia melirik Siska yang juga tengah melihat ke arahnya.
"Ijinkan kami untuk hidup mandiri, om. Tanpa mengurangi rasa hormat dan mengabaikan semua kebaikan om padaku." ucapnya seraya menunduk di depan pamannya itu.
Chandra menghela napas panjang, ia lalu duduk di sofa. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Om hanya ingin kamu tidak jauh dari kami. Kamu adalah satu-satunya peninggalan Kakak yang begitu ia sayangi," kata Chandra dengan nada yang bergetar.
"Lagi pula, itu bukan seutuhnya rumah kami. Ada kerja keras Papamu di sana," lanjutnya dengan kepala tertunduk mengingat perjuangan mereka mendirikan perusahaan bersama.
Hendi menghampiri pamannya itu, hatinya mendadak pilu mengingat penyakit yang bersarang di tubuhnya. Dan menerima kenyataan bahwa umurnya mungkin saja tak akan lama lagi.
"Om, jangan berkata seperti itu Hendi tidak mau om merasa terus menerus berhutang pada Papa. Apa yang om berikan pada Hendi sudah lebih dari cukup untuk membayarnya. Malah Hendi yang berhutang banyak dan mungkin sampai kapan pun tak akan bisa membayarnya."
"Ah sudahlah, tidak ada yang berhutang di sini. Jika memang keputusanmu sudah bulat maka om bisa apa?" Chandra melihat Hendi.
"Bagaimana kondisimu, Siska?" tanyanya kemudian menghampiri wanita itu.
"Saya baik om, kata dokter besok sudah boleh pulang."
"Syukurlah, jaga kandunganmu yah. Om jalan ke kantor dulu," katanya seraya menuju pintu Hendi mengikutinya dari belakang.
"Om, maaf yah Hendi ijin cuti dua hari ini."
"Nah gitu donk, jaga istri dan calon anakmu dengan baik." Chandra memegang pundak keponakannya seraya tersenyum.
"Loh, badanmu masih panas?" tanyanya terkejut saat merasakan suhu tubuh Hendi. Ia lalu memegang dahi dan leher keponakannya itu.
"Kamu sakit, Hen? Dari kemarin badanmu panas," tanyanya cemas.
"Tidak Om, Hendi baik-baik aja kok cuma pilek dikit doank." ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Nanti kalo Tantemu datang, gantianlah kamu balik, istirahat di rumah yah." perintahnya.
Chandra pun berlalu dari hadapan Hendi. Pria yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri.
"Om, maafkan Hendi mungkin tak lama lagi kita akan berpisah. Sebelum penyakit ini memisahkan kita, Hendi akan berusaha lebih menghargai hidup. Selama ini kita jarang menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga, lebih sering membahas pekerjaan ketimbang liburan bersama." bisiknya dalam hati.
"Tuhan, jika ini takdirku maka beri waktu sedikit lebih lama lagi. Ada beberapa hal yang harus kuurus. Termasuk anak dan juga istri yang belum sempat kuakui," kata Hendi dalam hati.
Air mata mendobrak kaca penahannya, bergulir membasahi pipi terasa panas dan menyesakkan dada. Ia terduduk di kursi dengan bahu terguncang. Cukup lama ia berada di sana menenangkan suasana hatinya.
Ia mengusap wajah menyembunyikan kesedihannya lalu memasuki ruangan.
"Kamu pulanglah, aku tak apa sendirian di sini. Lagi pula wajahmu terlihat pucat," ucap Siska melihat Hendi.
__ADS_1
Pria itu hanya diam saja, dia merapikan bekas sarapan istrinya dan menyimpannya di meja.
"Kamu belum makan juga yah? Di sini pasti ada kantin kan ...."
Perkataan Siska terhenti saat Hendi menyelimuti tubuhnya. Meski tanpa melihat ke arahnya wanita itu merasakan kecanggungan dari riak wajahnya.
Lalu, dia duduk di atas sofa membuka laptop yang diambilnya semalam dari mobil. Masih tanpa kata.
"Aku hanya bingung, harus mulai dari mana mengatakan semua ini padamu." bisik Hendi dalam hati.
Matanya tertuju pada layar, tapi hatinya bergejolak. Haruskah ia memberi tahu Siska tentang penyakitnya? Dan mungkin ke depannya, akan sulit baginya untuk menyentuh wanita itu. Meski pikirannya sempat terbersit memakai pengaman.
Dia melirik wanita di depannya itu dan ternyata Siska pun tengah melihat ke arahnya. Seketika dia menggeserkan laptop menutupi wajahnya.
"Ni orang kerasukan apa ya? Dari kemaren baiiik banget, eehh sekarang udah berubah dingin lagi." bisik Siska dalam hati, matanya terus tertuju pada orang di balik layar kotak itu.
"Kenapa aku jadi deg-degan gini sih, dia ngeliatin mulu lagi." gumamnya pelan yang mulai salah tingkah.
***
Lamaran Hanna
"Assalamualaikum," ucap Reyhan dengan wajah sumringah mengetuk pintu rumah kekasihnya itu.
Di belakang kedua orang tuanya kompak memakai batik warna coklat dengan sepatu senada. Reyhan sendiri juga memakai kemeja coklat, celana jeans hitam dan pantofel senada. Tak lupa rambut klimisnya ia sisir dengan rapi sebelum turun dari mobil tadi.
"Waalaikumsalam," jawab Ratna dari dalam seraya membukakan pintu.
"Alhamdulillah baik, Maa Syaa Allah, ganteng sekali Nak Reyhan." ucapnya seraya melihat dua orang di belakangnya dan tersenyum ramah.
"Kenalkan ini Papa dan Mama Rey, Bu." kata Reyhan mempersilahkan kedua orang tuanya maju.
"Saya Ratna, Mamanya Hanna." Mereka pun bersalaman ramah dengan saling melempar senyum.
Setelah Ratna mempersilahkan calon besan masuk, ia pergi ke dalam memanggil Hanna.
Tak lama kemudian Hanna yang memakai kebaya warna pink dengan rok di bawah lutut serta rambut yang disanggul muncul di hadapan mereka.
Reyhan terlihat tak berkedip, jantungnya berdegup kencang, setengah mulutnya ternganga, matanya berbinar melihat ke arah calon istrinya itu.
Ia tak sadar Hanna sudah mengulurkan tangan padanya, jika saja sang papa tidak menyenggol lengannya mungkin liur yang sudah tergenang akan luber mengalir bebas.
"E-eh iya, sorry." Reyhan salah tingkah meraih jemari Hanna.
Kemudian Hanna menyalami kedua orang tua Reyhan bergantian. Mereka pun terlihat ramah tersenyum pada calon menantunya itu.
Tak berselang lama Anindira keluar dengan boneka pink di tangannya.
"Hai Anak cantik," sapa Reyhan menghampiri Anin. Dia langsung menggendong gadis kecil itu.
Papa dan mamanya terlihat saling melirik, lalu gadis itu dibawa ke depannya untuk bersalaman oleh Reyhan.
__ADS_1
"Perkenalkan, mereka calon opa dan omanya Anin." Kata Reyhan dengan senyum terus terkulum di bibirnya.
"Hai opa, oma." Anin menyalami keduanya lalu duduk di pangkuan Reyhan.
Ratna terheran, Anin bisa sedekat dan senyaman itu bersama Reyhan.
"Biasanya dia tipe penakut kalo sama orang baru, loh."
"Iyakah? Berarti Anin tau kalo saya bukan orang baru dalam hidupnya," ucap Reyhan membelai rambut anak itu.
Lagi-lagi kedua orang tuanya hanya saling menatap. Mereka heran anaknya bisa dekat dengan anak kecil. Selama ini tak pernah mereka melihat pemandangan seperti ini. Terlebih, kakak perempuannya yang sudah menikah memang tinggal bersama suaminya berbeda pulau dengannya jadi jarang sekali pulang.
"Baiklah, maaf mungkin kedatangan kami kesini mengganggu waktu ibu dan Hanna. Saya hanya ingin membuktikan keseriusan saya, dengan membawa kedua orang tua. Supaya saling mengenal." Reyhan memulai pembicaraan di antara mereka.
"Maaf sebelumnya, Papanya Hanna dimana?" tanya sang papa menyela.
"Oh iya, maaf suami saya sedang di luar pulau dia tidak bisa datang jika mendadak seperti ini. Beliau menitipkan salam untuk papa dan mamanya Reyhan." jawab Ratna.
"Iya, kita juga yang salah tidak memberi tahu hal ini jauh-jauh hari. Reyhan sepertinya sudah tidak sabar ...."
"Papaaaa," Reyhan memotong kata-kata papanya pelan dengan wajah tersipu. Begitu pula Hanna yang masih menutup mulutnya. Ia hanya menanggapinya dengan senyum.
"Alhamdulillah, jika Nak Reyhan benar-benar serius dengan anak Ibu. Yang pastinya sudah tau kekurangannya. Tapi, satu hal yang ibu bisa pastikan dia anak yang baik, setia dan jujur." Kini mata sang ibu berkaca-kaca melihat anaknya itu.
"Saya tau itu, anak saya sudah banyak cerita soal Nak Hanna. Makanya kedatangan saya kesini selain bersilaturahim, juga ingin meminta ijin untuk meminang Hanna menjadi menantu kami," kata sang papa menimpali.
Reyhan mengeluarkan cincin dengan batu permata di atasnya. Hanna terlihat menunduk, ia menyembunyikan kebahagiaan, haru dan juga sejuta rasa lainnya. Ia merasa sangat dihargai. Tiba-tiba bayangan lelaki di masa lalunya melintas di benaknya.
"Lihatlah Ansell, aku menemukan pria yang jauh lebih baik dari kamu." bisiknya dalam hati.
"Sebagai orang tua, saya menyerahkan semuanya kepada Hanna. Karena dia yang akan menjalani bahtera rumah tangga ini," paparnya kembali melihat anaknya.
"Tolong jangan sakiti dia, hiduplah bahagia dan bimbinglah Hanna selalu di jalan Allah. Satu hal lagi, kalau bisa tutupilah auratnya. Karena selangkah saja dia keluar rumah tanpa menutup auratnya, maka selangkah juga ayahnya lebih dekat ke neraka. Dan jika dia sudah menikah masih tidak menutup auratnya, maka suaminya yang akan menanggung dosanya."
Deg, Hanna tersentak sang mama memang sering mengucapkan itu. Tapi, dia baru tau jika suaminya nanti pun akan menanggung dosanya.
"Baik, Bu. In Syaa Allah, nanti Reyhan akan banyak belajar lagi memahami tugas dan kewajiban sebagai suami."
"Maaf sebelumnya saya punya satu permintaan, Nak Hanna, Bu Ratna." Kata mama Reyhan yang sedari tadi terdiam.
"Iya silahkan, Bu."
"Saya mohon, bisakah ketika pernikahan nanti Hanna menyembunyikan status jandanya. Lagi pula yang saya dengar dia menikah siri kan dengan suami sebelumnya? Jadi belum terdaftar di KUA, kan?"
Deg, semua terkejut saling berpandangan. Terutama Hanna yang kini pandangannya tertuju pada Reyhan.
Bersambung...
Haelaahh, rempong amat idup lu nyah macem oreo yak readers. Mau dimakan aja ndadak diputar, dijilat, dicelupin. Ruwet pokoknya. Tinggal plok beres deh.
Hayoo, ada yang belum like? Atau love, kirim hadiah mungkin 🤠yuklah biar tambah semangat akunyaa 😚
__ADS_1