
Niat Ansell untuk menceraikan Zea terurung, terlebih ketika melihat perjuangan istrinya melahirkan anak kembar dengan bertaruh nyawa. Rasa iba menghinggapinya, melihat dua bayi kembar laki-laki di hadapannya.
Matanya berkaca-kaca, bukan hanya rasa bahagia yang memuncak namun juga sedih, teringat akan bayi perempuannya yang entah dimana. Ansell mendapatkan tiga anak sekaligus setelah penantian selama lima tahun, tentunya dari dua wanita yang berbeda.
Setelah pertemuannya dengan Hanna, pikirannya kembali bimbang. Antara ingin memiliki wanita itu lagi, tetapi tak sanggup menyakiti Zea istrinya.
Akhirnya Ansell pulang kerumah Athifa dengan wajah kusut. Dia terduduk di sofa dengan kepala menengadah ke atas.
"Kau kenapa? Tumben balik sini ... si kembar udah bisa ngapain sekarang?" tanya sang kakak sembari membawakannya teh hangat.
"Kak ... aku ketemu Hanna." tuturnya sendu menghiraukan pertanyaan sang kakak.
"Apa? Hanna! Ketemu dimana?!" Wanita berumur 40 tahunan itu kaget mendengar penuturan adiknya. Segera ia duduk di sampingnya.
"Dia bekerja disalah satu partner perusahaanku."
"Dunia memang sempit yah, hari ini kau kembali dipertemukan dengannya. Kenapa kau tak ajak dia pulang kesini?"
"Awalnya aku ragu apakah itu benar Hanna, wanita yang kita kenal dulu. Sikapnya sangat dingin seolah tidak pernah mengenalku. Tapi, entah kenapa aku yakin dari sorot matanya, bahwa dia menyimpan sesuatu, sepertinya dia sangat membenciku." Ansell tertunduk lesu.
"Pastilah dia membencimu, mana ada wanita yang mau diduakan. Kakak kan sudah sering bilang kau pilihlah salah satu dari mereka, tapi tak pernah mau dengar yaa beginilah jadinya."
"Aku masih cinta dia, Kak. Dan ingin memilikinya kembali."
"Sudah cukup, Ansell! Dulu kau bilang mau ceraikan Zea, setelah dia melahirkan. Tapi kau urungkan dan sekarang kau mau Hanna kembali? Bagaimana bisa kau hidup dengan dua wanita sekaligus? Mereka pasti tidak terima, tak ingat kau kejadian di klinik saat itu? Hampir saja si Zea itu bunuh Hanna." Jawaban Athifa dengan nada tinggi mengingat kembali kejadian itu.
Ansell tertunduk, hatinya bimbang dan kalut, di sisi lain dia masih sangat mencintai Hanna. Tapi, tak sanggup menceraikan Zea yang sekarang selalu ada di sisinya.
"Sudahlah, kau lupakan saja Hanna. Toh dia juga sudah punya kehidupan yang baru kan? Itu artinya dia bisa melupakanmu dan semua masa lalunya."
"Tidak segampang itu Kak, kau tak pahamkah selama ini aku sekuat tenaga melewati kegilaan ini. Aku rindu anakku juga."
"Memanglah aku tak paham, laki-laki macam kau itu egois, keras kepala dan semau gue. Kau tanya aku untuk yang kedua kalinya, dulu mungkin jawabanku nikahi wanita kedua dan ceraikan Zea. Karna kau tak sungguh-sungguh mencintainya, jika diteruskan pun tak akan sehat hubungan kalian. Tapi, kali ini kau harus melupakan yang telah pergi, selagi yang di sisimu telah memberikan segalanya."
"Tapi, Hanna pergi karena kesalahanku, Kak. Jika saja aku tidak membohonginya mungkin dia tak akan pergi meninggalkanku." Sergahnya.
__ADS_1
"Aku tak yakin Hanna akan menerimamu sebagai suaminya kala itu, jika dia tau kau sudah beristri."
Ansell kembali tertunduk kali ini matanya berkaca kaca. Ia terdiam cukup lama, menyadari ucapan kakaknya memang benar.
"Haruskah aku kembali mengubur rasa rindu, cinta dan ingin memilikinya kembali?" bisiknya dalam hati.
************
Hendi tidak dapat memejamkan matanya, pikirannya terus teringat kejadian siang tadi. Dia melirik jam sudah pukul dua pagi, tapi rasa kantuk belum juga menghampirinya. Setelah mengantarkan Hanna ke kostnya, dia langsung pulang dan terus memikirkan wanita itu.
"Jadi benar dugaanku, Hanna adalah wanita baik-baik. Dia seorang wanita yang tegar dan kuat. Rela meninggalkan cintanya, karna ada cinta yang lebih dulu memiliki suaminya." gumamnya dalam hati
"Sikap dinginnya selama ini di kantor, kemungkinan karena dia masih trauma dengan sebuah hubungan. Atau mungkin juga dia masih menyimpan luka," lanjutnya.
Hendi mulai merangkai setiap peristiwa selama ini, membuatnya semakin takjub dengan seorang Hanna. Hanya satu kesalahan yang dia lakukan, yaitu tentang anaknya. Dia tak menginginkan anak itu, karna begitu melihatnya, semua kisah pahit masa lalunya kembali muncul. Terlebih karena kehamilannya membuat dia meninggalkan impiannya untuk jadi wanita karir.
"Hanna, perlahan tapi pasti rasa cinta ini hadir untukmu. Aku tak tau, apa ini cinta atau sekedar empati pada kisah hidupmu. Yang jelas, aku selalu ingin bersamamu untuk menghapus semua luka. Jika saja kau mau membukakan pintu hatimu, aku akan berusaha mengobatinya." Tak lama kemudian dia terlelap tepat pukul tiga.
*********
Dia berpapasan dengan Reyhan, sebuah senyum tersungging di bibir pria baby face itu. Hanna membalasnya dengan sedikit dipaksakan.
"Selamat pagi cantik," sapanya.
"Pagi, Rey," jawabnya singkat.
"Kamu abis nangis?" selidiknya.
"Engga, semalem nggak bisa tidur jadi begitu bangun bengkak deh." elaknya seraya tertunduk, menyembunyikan wajahnya.
"Nggak bisa tidur, terus nangis? Ada apa? Ceritalah kemarin kamu meeting sama Hendi keluar kota kan?"
"Iya, aku nggak papa ko' masuk duluan ya." Hanna berlalu menaiki tangga meninggalkan Reyhan yang masih berdiri kaku.
"Aneh, ada apa dengannya?" bisiknya.
__ADS_1
Pagi itu Hanna tak bersemangat kerja, rencananya dia ingin pulang setengah hari badannya berasa sakit sepertinya flu mulai menyerangnya.
Hendi yang bangun kesiangan tiba di kantor pukul sepuluh. Dengan tergesa-gesa dia berjalan menaiki tangga, sebelum naik ke lantai tiga ruangannya, dia tertegun di pintu lantai dua. Tiba-tiba seperti ada dorongan di hatinya untuk melihat Hanna. Perlahan dia mendorong gagang pintu dan secara bersamaan dari dalam wanita berkemeja merah mudah itu pun sedang membuka pintu.
Hanna terkejut begitu juga Hendi, sejenak mata mereka bertatapan. Dari dalam Sinta dan karyawan yang lainnya saling melirik. Setelah pintu tertutup, mereka berebut menuju pintu berniat menguping dengan menempelkan telinga.
"Gi-gimana keadaanmu?" Akhirnya Hendi memberanikan bertanya saat Hanna sudah di luar ruangan, meski terdengar canggung.
"Saya baik pak, terimakasih semalam sudah repot-repot mengantarkan saya." ucapnya pelan.
"Nggak repot ko lagian udah malam, mana ada angkutan toh kita searah kan."
Hanna tersenyum tipis. Sinta loncat-loncat di dalam sambil teriak tanpa suara.
"Nanti sore, boleh saya antar pulang?"
"Mmm ... Tidak usah pak, saya biasa naik angkutan."
"Oh gitu ya ... eemm ... oke deh, saya naik dulu ya." Hendi jadi salah tingkah.
"Iya, pak silahkan."
Baru beberapa langkah Hendi menaiki tangga, seorang OB menghampiri Hanna. Langkah pria itu terhenti, memasang telinga.
"Mba Hanna, ini ada kiriman bunga." ucap OB seraya menyerahkan buket bunga mawar merah.
"Bunga?? Dari siapa?"
"Kurang tau mba, mungkin bisa dilihat di kartunya."
Hendi melirik dari atas dan memutar badannya, dia terus memperhatikan Hanna yang tengah membuka kartunya.
Deg ... mata itu terbelalak seketika bunga itu terjatuh dari tangannya.
Bersambung...
__ADS_1