
Saat Siska hendak memasuki kantor, dirut perusahaan itu terlihat tengah menuruni tangga. Belum sempat ia sembunyi, laki-laki setengah abad berkumis tipis itu sudah melihat ke arahnya.
"Apa kabar pak Chandra," sapanya ramah.
Sejenak pria setengah abad itu menyipitkan matanya, seolah mengingat sesuatu.
"Oh ya, baik. Cari siapa?" tanyanya.
"Buset dah, dia udah nggak kenal gue!" gerutunya dalam hati.
"Saya Siska, Pak. Mantan karyawan Bapak," tuturnya.
"Siska?" Dia tampak berpikir, sejurus kemudian, "oohh iya, Siska Maharani?" tebaknya.
"Nah iya, Alhamdulillah masih inget saya." ucapnya berbinar.
"Hahaha, nambah sukses aja nih sekarang. Ada perlu apa?"
"Pak Hendi ada, Pak?" jawabnya sekenanya.
Siska berpura-pura mencari Hendi, karena memang tak ada alasan apa pun untuk bisa dijadikan tujuannya.
"Hendi ... tadi dia keluar sama sekertarisnya." Chandra melirik penampilan Siska sekilas.
"Kamu, masih sering kontekan sama Hendi?" selidiknya.
"Ah, iya pak. Beberapa bulan ini aja ko, pas nggak sengaja ketemu di mall." Wanita itu berbohong demi mendapat perhatian dari Chandra.
"Oh gitu." Chandra tampak berpikir.
"Atau jangan-jangan sikap Hendi tadi, ada hubungannya dengan Siska?" tebaknya dalam hati.
"Siang pak bos," sapa Sinta yang baru kembali dari makan siangnya. Dia melirik Siska penuh selidik.
"Gila nih cewek! Gue kira dia balik, eeh nekat nyamperin ke kantor." gumamnya dalam hati.
"Siang, Hendi sama Hanna belum balik, Sinta?" tanya Chandra.
"Belum pak," jawab Sinta.
"Kamu ada kontaknya Hendi kan, Siska? Dicoba hubungi aja, saya ada keperluan." Ucap Chandra seraya melangkah keluar kantor.
"Baik, Pak. Terima kasih." Wanita itu membungkukkan sedikit badannya. Kemudian matanya bertemu dengan Sinta yang tengah meliriknya.
"Jadi tunangannya Hendi satu kantor sama dia?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Heem, kenapa? Sepertinya Mbanya terlalu kepo banget ya sama urusan Pak Hendi," tegur Sinta.
"Lha, suka-suka saya donk mau kepo sama calon suami saya! Apa urusannya sama situ?" ejek Siska yang sudah mulai menunjukkan sifat aslinya.
"Calon suami? Nggak usah halu deh, Mba. Emang saya nggak tau, kalian baru ketemu beberapa minggu yang lalu kan?" tebak Sinta. Dia terkekeh melihat raut wajah Siska yang memerah.
"Tolong kamu bilangin sama temen kamu yang namanya Hanna! Kalo gue bakal laporin ke pak Chandra mereka pacaran! Tau kan aturan kantor itu nggak boleh ada hubungan pribadi? Dan satu lagi, tolong jauh-jauh sama calon suami orang, oke?" ancamnya tepat di telinga Sinta.
"Mba cantiikk, tolong dengerin yaa! Hendi itu BOS di sini, dia pasti udah tau aturan itu. Dan lagi, Pak Chandra itu Omnya pastilah dia juga udah tau hubungan keduanya. Sampe sini paham?" Ucapnya seraya berlalu meninggalkan Siska yang menahan amarahnya dengan wajah yang memerah.
"Idih, songong amat sih tuh karyawan! Liat aja, gue pastiin lu sama si Hanna itu bakal di depak dari sini!" serunya dalam hati.
Dia melangkah keluar kantor, beberapa orang yang memanggilnya tak dihiraukannya.
******
"The Wedding Boutique?" tanya Hendi dengan alis berkerut.
"Aduuhh, jangan sampe deh om Chan nyuruh kita nikah sekarang juga?" tebak Hendi panik.
"Ya nggak tau, apa coba kita kesana aja buat jelasin kalo di antara kita semalam itu nggak ada kejadian apa-apa." terang Hanna.
"Dia nggak bakal percaya, Han. Bayangin aja, dua anak manusia beda kelamin dalam 1 ruangan posisi malem, dingin nggak ngapa-ngapain mustahil kan?"
"Lha, ko malah ikutan mikir yang enggak-enggak sih! Boro-boro aku gerayangin kamu, nahan kepala sakit aja nggak kuat."
"Terus sekarang gimana?"
"Ya udah ayolah, kita coba datengin dulu." ajaknya kemudian menggandeng tangan Hanna.
"Eits, bentar! Kamu udah maafin aku kan?" tanyanya menghentikan langkahnya.
"Mmm, belum sih! Lagian minta maafnya juga belum tuntas," jawabnya melengos.
"Oje baiklah, tunggu di sini aku bayar dulu." Pria berjas hitam dengan kemeja krem itu pun berlalu menuju meja kasir.
"Gue baru sadar dia ganteng banget," gumam Hanna dalam hati menatap punggung Hendi.
"Mba, berapa?" tanya Hendi pada meja kasir.
"Totalnya 298.000, Pak." Kasir perempuan itu menyodorkan sebuah nota.
"Oiya, Mba. Saya boleh ikut beli bunga ini nggak?" Tunjuknya pada bunga mawar sintetis, dalam vas yang ada di meja itu.
"Wah, nggak bisa, Pak. Nanti saya bisa kena marah atasan," jelasnya seraya tersneyum geli dengan permintaan pria di depannya itu.
__ADS_1
"Tolong saya, Mba. Istri saya itu nyidam banget sama bunga yang diliatnya. Tadi pas ke toilet dia liat bunga ini, dan nggak mau pulang sebelum saya bawa ni bunga." Terang Hendi berbohong dengan wajah memelas seraya melihat Hanna yang juga tengah menatapnya.
"Sekali-kali bohong demi kebaikan nggak papakan ya Tuhan?" batinnya.
"Mmm, gimana yah?" Sang kasir pun bingung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nanti Mbanya beli lagi aja yah? Boleh yah?" Dia menyodorkan uang seratus ribu lima lembar kepada kasir itu. Dan bergegas menyambar 3 tangkai mawar merah dari vas.
"Eehh, Pak ini kebanyakan!" serunya.
"Nggak papa! Buat tips mbanya," ucap Hendi seraya mengisyaratkan mulut terkunci dengan jarinya.
Pria itu pun kemudian menyembunyikan bunga di belakang punggungnya. Dan meghampiri Hanna yang tengah meliriknya curiga.
"Lama banget, sih?" protesnya.
Tak menjawab pertanyaan Hanna, Hendi malah menarik tangannya keluar resto. Wanita itu sempat beberapa kali menengok ke belakang melihat apa yang disembunyikan kekasihnya.
"Apaan sih itu?" tanyanya penasaran.
"Udah ayo ke masuk!" perintahnya seraya membukakan pintu mobil.
Sesampainya di dalam mobil, Hendi mengeluarkan bunganya dan menyodorkan ke wajah Hanna.
"Kalo aku minta maafnya pake ini, masih nggak tuntas?" tanyanya kemudian.
"Ya Allaaahh, Hendii! Dari mana bunga ini?" serunya terheran.
"Dari langit untuk bidadariku," ucapnya menatap lekat Hanna.
"Jangan bilang kamu beli di kasir yah?" tebak Hanna.
"Ko tau?" Hendi terkekeh mendengar tebakan Hanna benar.
"Tadi kan aku sempet liaaatt!"
"Hahahaha, berarti aku nggak bohong donk sama kasirnya." Ucapnya sambil sibuk melihat spion untuk menjalankan mobilnya.
"Iiihh dasar kamu! Bye the way thanks yaaa ...!" Ucap Hanna seraya memeluk Hendi.
Seketika Hendi menghentikan mobilnya yang memang masih di area parkir resto. Dia meraih tekuk Hanna dan mendekatkan wajahnya, serta mengecup lembut bibir wanita itu. Mereka berdua pun, saling membalas kecupan dengan mesra. Membuat darah berdesir dan membangunkan yang tengah tertidur.
"Jika kebohongan bisa membuatmu tetap bersamaku, aku tak punya pilihan lain, Hanna," bisik Hendi dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1