
Langit sore itu terlihat mendung, deretan awan kelabu menggantung di atas sana. Semakin lama berubah menjadi pekat. Butiran air yang sudah mulai turun saling berebut mencapai tanah. Mengeluarkan bau semerbak tanah basah yang diguyur hujan.
Reyhan tengah berdiri di samping pintu mobilnya, wajahnya berulang kali menoleh pada pintu kaca tak jauh dari tempatnya parkir. Lalu, melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Ucapan kedua orang tuanya terus terngiang di telinganya sejak ia beberapa hari tak masuk kerja.
Flashback On
"Mau sampai kapan kamu begini, Rey?" tanya sang ibu saat mereka selesai makan malam dan anaknya itu akan beranjak masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sudah hampir satu minggu Reyhan tidak masuk kantor, ia mengurung diri di dalam kamar yang cukup luas itu. Terdapat kamar mandi dan ruang kecil tempatnya bekerja. Sesekali keluar hanya untuk makan dan minum, itu pun paling sekali atau dua kali dalam sehari.
Membuat kedua orang tuanya tampak khawatir dengan sikap anak lelaki satu-satunya itu.
"Maksud mama apa?"
"Kamu nggak ngerasa ada yang aneh dalam hidupmu?"
"Enggak, Reyhan baik-baik aja." celetuknya memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu terus-terusan di dalam kamar? Tidak bekerja, bersosialisasi, seolah tak punya semangat hidup."
"Aku kerja kok, emangnya kerja harus berangkat ke kantor aja? Bersosialisasi jaman sekarang, duduk manis dalem rumah aja udah bisa nyapa orang-orang di luar sana, mah."
"Tapi, mama nggak suka kamu murung kaya gitu."
"Kalau nggak suka ya jangan diliat," jawabnya cuek seraya melangkahkan kaki.
"Duduk Rey!" seru sang ayah yang sedari tadi diam.
Reyhan menarik napas dalam, lalu kembali duduk menghadap kedua orang tuanya. Namun mulutnya masih diam dengan wajah tertunduk.
"Masih nggak mau cerita juga sama kita?" sambung sang mama yang terus memperhatikan wajah sang anak.
Suasana hening seketika.
"Memangnya kalo aku cerita bisa mengubah keadaan?" tanyanya kemudian.
"Ya nggak gitu juga Rey, paling tidak kamu bisa merasa lega dan sedikit mengurangi bebanmu."
"Mungkin mama yang akan merasa lega," ucapnya menelungkupkan wajahnya ke meja.
Kedua orang tua itu saling berpandangan tak mengerti sikap sang anak. Sang ayah bangkit dari kursinya lalu duduk di samping anaknya itu.
"Kamu ada masalah apa? Jangan sungkan untuk cerita, jika memang saat ini belum siap untuk membagikannya pada kami its oke. Papa tunggu kapan kamu siap," kata pria setengah baya itu menepuk pundak anak laki-lakinya dengan lembut.
"Tapi, jangan pernah bersikap seolah kami tidak ada," lanjutnya.
__ADS_1
Lalu, pria berkumis putih itu berdiri dan hendak kembali ke kamarnya. Baru beberapa langkah, kakinya terhenti mendengar isakan tangis dari sang anak.
"Apa sih yang membuatmu sampai seperti ini?" tanya sang ibu menelisik wajah yang masih tertunduk itu.
Namun, mulut Reyhan masih saja terkunci rapat. Kata-kata yang ingin ia lontarkan sudah berada di kerongkongannya. Tapi, rasanya tertahan tak bisa mengeluarkan semuanya karena sesak di dada.
"Jika masih tentang wanita itu sampai membuatmu seperti ini, ya udah ayo secepatnya kamu nikahi dia." kata sang ayah kembali mendekati anaknya.
"Iya nak, mama sudah ridho jika memang jodohmu adalah dia. Mama tak lagi bisa melarang atau melawan takdir Allah."
Bukannya berhenti menangis, pemuda itu malah semakin tergugu. Dalam hatinya ia merutuk kerapuhan dirinya, sampai bisa terguncang dan mengeluarkan air mata untuk hal yang jelas sudah tak mungkin bisa dirubah.
Kedua orang tuanya kembali berpandangan, sang suami memberi isyarat untuk istrinya mendekati anaknya.
"Reyhaan, sudah nak." Wanita itu merangkul anak lelakinya.
"Hanna Mah, dia ... dia sudah menikah," ucap Reyhan terbata masih dengan posisi yang sama.
"Sudah menikah? Ko bisa? Bukankah kalian masih menjalin hubungan?"
Entah angin dari mana tapi benar adanya, kata-kata yang barusan di dengarnya membuat hati wanita setengah baya itu lega. Meskipun di sisi lain ia ikut merasakan kesedihan sang anak.
"Jadi hal ini yang membuat kamu hilang semangat hidup," ucap sang ayah kembali duduk di kursinya.
"Kamu tau kata Allah dalam surat Al Baqarah ayat 216, 'Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.' tau kan ayat itu?"
"Tapi, seandainya saat itu kalian merestui hubungan kami. Mungkin dia tidak akan meninggalkanku," protesnya melihat kedua ornag tuanya.
"Belum tentu! Bisa jadi setelah kalian menikah, pada akhirnya akan berpisah di kemudian hari. Karena memang kalian tidak ditakdirkan untuk bersama. Dan bisa jadi juga, meskipun saat ini dia belum jadi jodohmu suatu saat nanti akan ada jalan untuk kalian bersama."
"Kita tidak pernah tahu takdir Allah dan tidak akan bisa mendahuluinya. Yang bisa kita lakukan adalah berencana sebaik mungkin, tugas akhirnya hanya Dia yang mengetahuinya." sambung sang ayah melihat anaknya yang tengah melamun itu.
Cukup lama mereka kembali terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Ada sebuah kekecewaan pada diri sang ibu, ia merasa bersalah karena terus menentang hubungan anaknya itu.
"Maafin mama ya, Nak." ucapnya lembut seraya membelai rambut ikal itu.
"Sudahlah mah, semua telah berlalu. Reyhan hanya meminta waktu untuk sendiri dan mencoba melupakan segalanya."
"Iya sayang, mama yakin kamu pasti bisa melewati ini. Lupakan dia yang memang bukan untukmu. Jangan lewatkan sekelilingmu. Allah pasti telah mempersiapkan pengganti yang In Syaa Allah jauh lebih baik."
Flashback Off
Beberapa menit kemudian, keluarlah seorang gadis yang memakai mini dress selutut dengan sepatu high heels 7cm. Wajahnya tampak dipoles riasan ringan dan rambut terurai sebahu. Ia berlari kecil menutupi kepalanya dari tetesan air dengan tas.
Wajahnya memang tak secantik Hanna, tapi dia manis dan memiliki kulit sawo matang.
"Diakah yang dimaksud mama? Baiklah, akan kucoba membuka hati secepatnya dan membuktikan pada Hanna kalo aku bisa melupakannya." gumam Reyhan dalam hati.
__ADS_1
"Hai, sorry yah lama nunggu," sapa gadis itu menghampiri Reyhan.
"Nggak papa ... eemm ... kamu cantik banget," celetuknya melirik gadis itu sekilas sebelum kemudian membukakan pintu mobil.
"Dari dulu keles, kemana aja lu?" selorohnya seraya menyembunyikan kedua pipinya yang merona.
"Dih, lagi belajar romantis juga. Harusnya jawab, 'masa sih, ah kamu bisa aja' gitu donk," kata Reyhan sebelum menutup pintu.
Kemudian dia berlari kecil menuju kursi kemudinya.
Sinta tak dapat membendung rasa bahagianya, saat Reyhan menghubunginya kemarin malam. Pria itu untuk pertama kalinya bicara formal dan serius padanya. Ia meminta bertemu dan menyebut pertemuan mereka adalah kencan pertama.
"Romantis ko belajar harus dari hati dan reflek donk," ucapnya sambil memakai seatbelt. Saat pria itu suah duduk di sampingnya.
"Yaaahh namanya juga amatiran, kalo ngga belajar gimana mau bisa dan terbiasa?" sahutnya sembari menjalankan laju mobilnya perlahan.
"Amatiran lu bilang? Jagonya kaya gimana kalo amatirnya kaya lu?"
"Boleh nggak mulai sekarang manggilnya aku kamu?" pintanya melihat sejenak wajah yang tengah merona itu.
Sinta tersipu mengalihkan pandangan ke jendela di sampingnya, dengan senyum yang ditahan. Terlihat buliran air mulai memenuhi kaca mobil itu. Jalanan yang tersendat karena bertepatan jam pulang kantor, ditambah hujan membuat Reyhan leluasa memperhatikan wajah di sampingnya itu.
Ia baru sadar Sinta ternyata memiliki senyum yang manis dengan bulu mata lebat.
"Kalo senyum nggak usah ditahan dan nggak usah ngumpet juga," ledek Reyhan melihat ekspresi Sinta dari spion.
"Apaan sih lu!"
Reyhan hanya terkekeh melihat wajah bingung sahabatnya itu.
Sinta merasa aneh dengan perubahan sikap drastis pria di sampingnya itu. Suasana canggung jelas terlihat di sana. Mereka tampak saling terdiam fokus melihat ke depan.
"Lu nggak salah minum obat kan?" tanya Sinta memecah keheningan.
"Obat? Aku kan nggak sakit, ngapain minum obat?"
"Aneh aja, sikap lu jadi kaya gini."
"Nggak suka?"
"Ya bukan, maksudnya ada apa?"
"Nggak ada maksud apa-apa, cuma pengen menjalin hubungan yang lebih serius aja."
Tiba-tiba hati Sinta berdebar tak karuan, bunyi air hujan yang semakin deras tak membuat kata-kata Reyhan hilang di telinganya.
"Haduuhh ya Tuhaaann jangan bikin aku salting begini," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...