
Dalam perjalanan pulang, Hanna sempat memberitahukan sang mama perihal rencananya untuk menikah. Dan ia akan datang minggu ini bersama calonnya.
Tak ayal kabar itu membuat kedua orang tuanya bahagia. Akhirnya, anak mereka bisa move on dan bisa kembali menata hidupnya. Perihal Anin, Ratna meminta untuk tetap bersamanya. Ia ingin Hanna bisa hidup bebas tanpa bayang-bayang masa lalu.
"Kita ke rumah pak Chandra ya, Pak." ucapnya pada Ujang yang tengah fokus menyetir.
"Baik, bu." jawab sang supir.
Hanna belum pernah ke rumah itu, entah mengapa saat ini dia ingin mampir kesana untuk mengembalikan mobil Hendi. Dan juga sekalian memberi tahu keluarganya untuk datang minggu depan.
*****
Sementara itu, di dalam rumah Chandra suasana sudah sedikit lebih tenang. Semua orang terduduk di sofa, tentunya masih dengan dada yang bergejolak setelah pertunjukkan jebakan Hendi.
Siska tampak berkeringat, menunduk ketakutan. Ia tak menyangka, yang sedang ia hadapi bukanlah laki-laki biasa.
"Bagaimana? Kamu masih ingin dinikahi Hendi?" tanya Chandra membuka percakapan.
"Satu hal yang selalu saya tanamkan pada keluarga ini adalah, tidak mentolerir kebohongan dalam bentuk apa pun. Kejujuran adalah kunci segala hal, jika kamu mau jadi bagian keluarga ini maka, jujur adalah syarat utamanya. Itulah mengapa Hendi memberikanmu pelajaran pertama," sambung pria berkaca mata itu.
"Aku tak mungkin menyerah, sudah sejauh ini. Lagi pula, jika Hendi benar-benar ingin membunuhku pasti sudah dilakukannya tadi." gumam Siska dalam hati.
"Sa-saya hanya ingin pertanggung jawaban Hendi sebagai ayah kandung calon bayi ini," ucapnya terbata.
Hendi terdiam, dia melirik wanita itu kemudian mengusap wajahnya.
"Baiklah, jika itu maumu. Aku akan menikahimu,"
__ADS_1
Hanna yang baru saja tiba di depan pintu, tak sengaja mendengar kalimat yang terakhir Hendi lontarkan. Dokumen dan kunci mobil yang dibawanya jatuh ke lantai, membuat semuanya menengok ke arahnya.
"Hanna!" ucap mereka bersamaan.
Mata Hendi terbelalak, begitu pula Chandra dan Viona. Mereka saling berpandangan bingung, tak menyangka wanita itu akan datang kerumah ini dalam keadaan yang tidak tepat.
Hendi berdiri, menghampiri Hanna yang sedang gemetar mencoba tegar menahan air matanya. Ia memungut kunci mobil, dan meletakkannya di atas meja.
"Maaf, mengganggu." pungkasnya seraya membungkukkan sedikit badannya dan hendak memutar badannya pergi dari situasi yang canggung itu.
"Tunggu Hanna!" seru Hendi berlari ke arahnya.
Kaki Hanna seolah kaku diam mematung, berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Ia masih sibuk mencerna, kata-kata yang baru saja didengarnya.
"Apa yang kamu dengar barusan, hanya sepenggal kata yang masih ada lanjutannya." jelas Hendi meraih tangan Hanna.
Hendi terdiam, sibuk mencari kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Hanna.
"Hanna, kemarilah." panggil Viona lembut.
Wanita itu hanya menundukkan kepalanya, menolak secara halus. Sejurus kemudian, Viona berjalan menghampirinya. Ia memeluk tubuh mungil Hanna, seraya mengusap lembut rambut hitam panjang itu.
"Sebenarnya ada apa ini, Bu?" tanya Hanna yang heran melihat perubahan sikap Viona.
"Hendi, tolong kamu jelaskan pada Hanna. Bawa dia ke atas," perintah Chandra. Ia pun merasa malu pada wanita itu atas kelakuan keponakannya.
"Tidak! Saya ingin dijelaskan di sini aja." tolak Hanna. Lalu ia duduk di sofa bersebrangan dengan Siska.
__ADS_1
"Siapa wanita ini?" tanyanya pada Hendi.
Tapi, pria itu terdiam mulutnya seolah terkunci. Bahkan, untuk menatap mata Hanna pun ia tak berani.
Melihat reaksi Hendi yang diam saja, Siska pun akhirnya buka suara.
"Perkenalkan saya Siska," ucapnya datar.
"Siska? Oh jadi ini wanita yang diceritakan Sinta. Dugaanku benar ada sesuatu yang Hendi sembunyikan," bisik Hanna dalam hati.
"Ada yang bisa tolong jelasin situasi ini? Supaya saya tau diri dan tidak salah paham," pintanya.
"Hanna, sebelumnya aku minta maaf. Apa yang akan aku sampaikan ini mungkin, bukan mungkin lagi tapi akan menyakitimu. Tapi, jujur ini benar-benar di luar kendaliku ...."
"Tolong to the point Hendi, jangan berbelit." pungkas Hanna, hatinya sudah tak karuan tubuhnya terasa panas dingin.
"Aku tak sengaja menghamili Siska,"
Jlegeeerrr!
"Tak sengaja kamu bilang?" Hanna menahan air yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Dia telah mencampurkan sesuatu pada minumanku dan aku sama sekali tak mengingat apa pun." jelasnya dengan sungguh-sungguh berharap wanita itu mengerti.
Untuk sejenak Hanna terdiam, tiba-tiba pikirannya flashback beberapa tahun lalu. Saat Zea melabraknya di klinik. Hatinya kembali hancur, luka yang masih dalam proses penyembuhan kembali ternganga.
"Ya benar, karma itu nyata. Padahal aku pikir, dengan kepergianku sudah cukup menebus dosa karena telah menyakiti perempuan lain. Nyatanya sekarang Allah ingin aku juga merasakannya," bisiknya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...