Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Peperangan Di Mulai


__ADS_3

"Saya sedang tidak ingin diganggu silahkan anda datang lagi nanti," jawab Michael jutek.


Tatapannya fokus pada sang Ayah yang tengah terbaring lemah di ruang ICU melalui jendela kaca besar. Terlihat Ibu dan juga adik perempuannya berada di samping bed itu menunggui dengan setia.


"Heh! Jangan seenak jidatnya anda, ngancurin rumah orang dan ngilang dari tanggung jawab! Saya tunggu anda di sini atau akan saya bawa ke ranah hukum atas perampasan tanah itu," kata Hanna melihat sekeliling.


"Silahkan! Kamu tidak berkaca pada pelaporan yang kemarin? Saya masih bebas berkeliaran, kan?"


Dalam hati Hanna mengiyakan, sampai detik ini polisi belum bertindak lebih jauh atas kasus pelecehan yang ia alami. Hanya surat penyidikan yang sudah dua kali dilayangkan polisi, tapi tak satu pun ditanggapi pihak Michael.


"Saya dengar anda mangkir dari penyidikan polisi? Sepengecut itukah anda?" ejeknya.


"Bukti yang kamu berikan tidak cukup kuat, jadi buatlah bukti yang lebih kuat jika ingin melawan saya." ucapnya santai.


"Cepat datang kemari, atau saya akan menemui orang tua anda!" ancam Hanna geram.


Michael terdiam, pikirannya flashback beberapa hari yang lalu saat ayahnya bicara padanya.


Flashback On


"Mic, sudahi semuanya, nikahi dia. Daddy tidak mau jika ada berita kalo kamu melakukan pelecehan terhadap wanita itu. Mau ditaro dimana muka daddy?"


"Daddy tenang aja, fokus sama kesehatan daddy. Michael akan mengurus semuanya."


"Mana bisa daddy tenang, kemarin ada wartawan yang menunggu kamu kan di kantor? Dan surat penyidikan dari polisi, mau sampai kapan kamu berulah? Apa harus nunggu daddy mati kamu baru berhenti?" Urat leher pria itu menegang melihat anak laki-lakinya.


Sang anak hanya menunduk, tak berani menatap mata sayu itu.


"Seandainya umur ini hanya sampai beberapan bulan atau bahkan hari lagi. Biarkan daddy mati dengan tenang," pintanya dengan wajah memelas.


"Jangan bicara kemana-mana cepat minum obatmu," suruh Belinda sang istri yang muncul membawa segelas air putih dan beberapa pil obat untuk suaminya.


"Jika aku mati, tolong pastikan wanita itu dapat keadilan. Kalo Michael tak menikahinya, berikan posisi strategis di perusahaan untuknya." ucap Martin serius.


"Cukup Daddy! Mati, mati terus yang daddy bicarakan. Apa tak ada lagi rasa sayang pada kami, sehingga Daddy lelah untuk berjuang? Apa tak tersisa sedikitpun semangat hidup hingga daddy pasrah pada penyakit itu?"


Michael tampak tersulut emosi dan berdiri. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Anak itu, apa dia bisa mengurus semuanya? Ambisinya masih terlalu besar untuk tanggung jawab seberat ini," ucap sang Ayah pandangannya kosong menatap langit-langit kamarnya.


Sang anak belum jadi pergi, dia berdiri di balik pintu mendengarkan percakapan kedua orang tuanya.


"Kalo bukan dia siapa lagi? David sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan. Laura juga powernya tak cukup kuat, Dad," keluhnya.


"Kenapa kau yakin ingin menikahkan Michael dengan wanita itu? Apa dia pantas untuk keluarga kita?" tanya Belinda.


"Ini bukan lagi soal pantas atau tidak, tapi bentuk tanggung jawab Michael padanya. Coba bayangkan jika ada seorang lelaki yang berbuat seperti itu pada Laura, akankah kita diam saja? Lagipula seingatku dia adalah perempuan yang baik dan juga pintar," jawabnya.


Michael melangkahkan kaki, setelah mendengar perkataan itu. Entah apa yang ada di pikirannya, ia sendiri pun bingung mencerna ucapan sang ayah.


Flashback Off

__ADS_1


"Tunggu di ruanganku," jawabnya kemudian dan mematikan ponselnya.


Ia hendak melangkah meninggalkan ruangan ICU itu, tiba-tiba Laura memanggilnya.


"Kak, Daddy sudah siuman."


Setengah berlari Michael memasuki ruangan itu.


Tampak pandangan lemah sang ayah yang menatap mereka bergantian.


"Daddy baik-baik aja kan? Apa yang dirasa sekarang?" tanya Belinda tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.


Pria itu hanya mengedipkan matanya dan mengangguk pelan. Michael tertahan, ia tak mungkin meninggalkan sang ayah sekarang.


***


Menjelang sore Ansell tiba di perusahaan tempatnya bekerja. Ia langsung menuju ruangan Michael.


"Tak ada cara lain selain bertanya pada pria itu perihal masalah ini," gumamnya.


Baru saja ia hendak mengetuk pintu, Renata sang sekertaris baru Michael menghampirinya.


"Pak Ansell tunggu!" serunya.


"Iya, kenapa? Michael ada di dalam kan?" tanyanya.


"Tidak ada, Pak. Di dalam ada wanita aneh yang sombongnya luar biasa," gerutunya kesal.


"Hanna Kartika, dia mengaku mengenal secara pribadi Pak Michael. Bahkan tadi ...."


Belum saja wanita itu meneruskan kata-katanya Ansell sudah langsung membuka pintu itu dengan buru-buru.


"Pak Ansell!" panggilnya. Tapi, pria itu tak menghiraukan panggilannya.


Matanya membulat melihat Hanna duduk sendirian di sofa. Di tangannya ada buku tebal tentang bisnis yang diambilnya dari rak buku milik atasannya itu.


"Akhirnya anda datang juga Tuan Mich ...."


Hanna tak melanjutkan ucapannya saat melihat ternyata bukan Michael yang datang melainkan Ansell, mantan suaminya dulu.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Hanna terkejut.


"Aku yang harusnya nanya Han, kamu ngapain di sini? Apa yang terjadi dengan rumahmu? Bu Ratna dan Alea dimana?"


Berondong pertanyaan keluar dari mulut Ansell tak sabar mendengar jawaban dari wanita di depannya itu.


"Darimana kamu tahu? Apa istrimu yang memberitahumu?"


"Rupanya kamu juga tahu Zea bekerja di sana?"


"Aku mengikuti Zea ke tempat kerjanya yang baru, ternyata itu adalah rumahmu yang tengah dibangun," lanjutnya.

__ADS_1


"Ya, Michael akan mendirikan kantor. Zea akan menjadi manager di sana atas perintah Michael. Dan tentu saja istrimu itu menerima dengan senang hati."


"Jadi sebenarnya ada apa? Apa ini kebetulan saja dia membeli tanah itu atau emang ada konspirasi di sini?"


Hanna menghela napas panjang, melihat Ansell.


"Ceritanya panjang, yang jelas aku pun sekarang tidak tau dimana mama dan juga anakku." Wanita itu tertunduk, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Jadi, orang ini telah merampas tanah itu? Dan menculik Bu Ratna serta anakku, begitu?"


"Ya, anggap saja begitu. Karena aku pun tidak tahu kapan tanah itu menjadi milik mereka dan sampai detik ini Michael belum memberitahuku dimana orang tua dan anakku."


"Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengusik anakku," umpat Ansell. Tangannya mengepal dengan emosi.


"Kemana dia sekarang?"


"Nggak tahu. Tadi dia bilang lagi ada urgent, makannya aku tunggu di sini sampai dia datang."


Ansell terlihat keluar ruangan menghampiri Renata.


"Kemana Michael?" tanyanya dengan wajah yang memerah menahan amarah.


"Pak Martin masuk rumah sakit tadi pagi, jadi Bapak langsung berlari menuju kesana."


"Ini sudah sore, apa tidak ada kabar dia akan kembali?"


"Belum, dia tidak menjawab panggilanku."


"Pak Ansell juga kenal wanita itu?" lanjutnya melihat Hanna yang juga tengah menatapnya.


"Iya, dia dulu mantan karyawan sini."


"Juga mantan istriku," gumamnya dalam hati. Tak sampai keluar karena tertahan di lidah.


"Ooh jadi dia mantan karyawan sini, pantas tingkahnya begitu." gerutu Renata.


"Sudah berapa lama dia di sini?"


"Lumayan lama, Pak. Sekitar dua jam. Oh iya, saya mau pulang. Gimana dengan dia? Saya usir aja?"


"Nggak usah, kamu pulang aja. Biar saya yang urus dia, lagian kita lagi nunggu Michael."


Renata mengernyitkan dahi, curiga ada sesuatu di antara mereka bertiga. Apalagi, Ansell terlihat marah dan gelisah beberapa kali melihat ke pintu.


"Sedang apa anda di sini, Pak Ansell?"


Suara bariton terdengar di kejuahan.


"Michael!" pekik Ansell dalam hati.


Darahnya mendidih melihat pria itu. Ingin rasanya ia menonjok muka bosnya itu, tapi semua harus tertahan karena statusnya sebagai bawahannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2