Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Penyuapan


__ADS_3

Reyhan yang mendapat pesan singkat dari Hanna segera berlari menuju mobilnya. Hatinya membuncah bahagia, akhirnya kabar baik itu datang juga.


Teriakan Sinta yang membawakan segelas kopi, menuju tempat pria itu menunggu tadi tak dihiraukannya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah menemui kekasihnya.


Gadis itu menatap sendu kepergian mobil silver itu. Mendadak hatinya merasakan sakit, saat diabaikan pria yang baru saja membuatnya nyaman.


"Haish! Gue ini kenapa sih? Sadar Sinta, dia milik temen lu sendiri jangan sampe pagar makan tanaman tercap dalam hidup gue!" bisiknya dalam hati. Ia pun meneguk kopi yang dibawanya dan kembali ke ruangannya.


Reyham memacu mobilnya sangat cepat, tidak sampai satu jam pria bertubuh tinggi besar itu sudah berada di depan kantor polisi.


"Hannaa!" pekiknya saat melihat wanita itu keluar dari sana. Dia meraih kepala wanita itu dan memeluknya erat.


"Rey," sapa Hanna terisak dalam pelukan sang kekasih.


"Kamu baik-baik aja? Apa yang terjadi? Ada yang luka?" tanyanya sembari meraba pundak hingga tangan gadis di depannya.


"Aku baik-baik aja, Rey. Cuma sakit aja semua badan," keluhnya.


"Ya ampun, kamu pucat banget sayang. Apa sih yang terjadi? Cerita sama aku, jangan ada satu pun yang terlewat."


"Iya Rey, aku cerita di mobil aja yah." pintanya seraya menunjuk ke arah mobil yang terparkir tidak presisi itu.


"Oke baiklah, tapi kamu beneran nggak papa? Mau aku gendong?"


Hanna mengangguk, tubuh lemasnya langsung dibopong Reyhan menuju mobilnya.


Di dalam sana dia mulai menceritakan semuanya kepada kekasihnya itu. Reyhan yang geram kepada pria bernama Michael itu ingin segera menemui langsung. Namun, Hanna mencegahnya dia sudah menyerahkan semuanya pada polisi.


"Aku nggak percaya polisi, sayang. Apalagi mereka keluarga konglomerat, hukum mana berlaku?" tukas Reyhan.


"Kita liat aja nanti apa dia bisa semudah itu lolos dari hukum," ucapnya seraya menatap keluar jendela.


Mobil melaju lebih lambat dari ketika Reyhan berangkat. Hatinya sedikit tenang melihat Hanna baik-baik saja, meski sempat mendapat pelecehan dari pria itu. Pandangannya berulang kali menengok ke arah kekasihnya untuk memastikan keadaannya.


Ingin sekali wanita itu menanyakan perihal foto-foto akrab Reyhan bersama Sinta, tapi lidahnya kelu ia takut mendengar sesuatu yang di luar dugaannya. Akhirnya ia memilih diam dan akan mencoba menyelidikinya sendiri.


"Kita mampir makan dulu yah," ajak pria itu.


"Kayanya next time aja deh, Rey. Aku cape banget dan badanku juga sepertinya sedikit demam," keluhnya.


Reyhan dengan sigap meraba kening Hanna, yang memang terasa menghangat.


"Aku antar ke dokter yah,"


"Tidak usah, anter ke kostan aja yah. Aku pengen istirahat dulu."


Akhirnya pria itu menurut, meski rasa cemas menyelimuti pikirannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah hanya sebatas itu? Kenapa Hanna terlihat begitu lemas, apa jangan-jangan dia ...." gumamnya dalam hati. Dia terlalu takut untuk melanjutkan dugaannya itu.

__ADS_1


Sesampainya di kostan Reyhan langsung pamit pulang.


"Inget, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku." pintanya meraih kening Hanna dan mengecupnya lembut.


Wanita itu hanya mengangguk pelan dan melepas kepergian kekasihnya dari balik pagar kostannya.


Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan membenamkan kepalanya di bantal. Mencoba mencerna setiap peristiwa yang baru saja dialaminya.


Berurusan dengan mantan bosnya yang terpikirkan saja tidak pernah dalam hidupnya. Pak Martin adalah sosok atasan yang baik dan perhatian, jauh berbeda dengan sang anak yang arogan dan egois.


"Bagaimana bisa beliau memintaku menikahi putranya yang bergajulan seperti itu? Apa dia akan marah melihat anaknya kulaporkan ke polisi?" gumamnya.


"Ah, sekarang malah gue ragu. Udah untung bisa lepas dari mereka, masih aja mau berurusan dengan ngelaporin si brengsek itu ke polisi. Jangan-jangan malah bakal berbuntut panjang ini," keluhnya mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Apa gue batalin aja ya laporannya? Dan terima penawarannya?"


Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Tak lama kemudian dia tertidur di tengah kebimbangannya.


Tak lama kemudian tiba-tiba ponselnya berbunyi, saat dirinya tengah bergelut dengan pikirannya sendiri dalam mimpi. Nama sang mama terpampang di layar pipih itu.


"Iya Mah, ada apa?"


"Nak, kamu baik-baik aja kan?" tanyanya dengan nada cemas.


"Hanna baik, Ma. Suara Mama kenapa ko gemetar gitu?"


"Ini ada seseorang yang mengirimkan bahan-bahan bangunan banyak sekali. Bilangnya mau ngerenov rumah ini atas suruhan calon menantu Mama, apa ini Reyhan Nak?"


"Lalu siapa yang mengirim ini semua? Info dari pengirimnya calon menantu Mama yang nyuruh." Nada bingung terdengar jelas di sebrang telepon.


Hanna tampak terdiam, keningnya berkerut.


"Mungkinkah Michael? Nggak-nggak mungkin dia!" tepisnya.


"Tapi siapa lagi yang bisa melakukan ini selain dia? Dan apa maksudnya merenovasi rumah Ibuku?"


"Gila, lama-lama gue bisa stres mikirinnya. Mana nggak punya nomor si pria gila itu pula!"


"Hallo Nak! Kamu baik-baik aja?" Suara sang Mama membuyarkan lamunannya.


"I-iya Ma halo, Pokoknya larang mereka melakukan apapun ke rumah kita ya Ma," perintah Hanna.


"Ini ada mobil putih berenti di depan, Han."


"Terus yang keluar orangnya kaya gimana? Agak kebule-bulean nggak?"


"Nggak ah, biasa aja orang kaya kita item pendek. Dia malah sepertinya penunjuk jalan beberapa mobil di belakang yang bawa pasir, semen dan batu bata terus nggak tau itu apa lagi banyak banget ini, Nak. Apa kita terpilih tim bedah rumah? Tapi kan rumah kita nggak jelek-jelek amat kan?" Sang mama terdengar semakin bingung.


"Astagaaa! Nggak mungkin bedah rumahlah, Ma."

__ADS_1


"Apa sih maunya tuh orang!" pekik Hanna gemas dalam hati.


"Kamu udah tau orangnya? Bener Reyhan? Nggak mungkin Ansell kan?"


"Bukan mereka, Ma. Hanna masih belum yakin, nanti coba aku cari tahu dulu yah. Udah dulu yah, nanti Hanna hubungi lagi." Dia segera mematikan ponselnya dan bergegas berganti pakaian.


Tujuannya adalah ke kantor, untuk mencari tahu nomor Laura adik dari Michael. Melalui dia, Hanna ingin meminta tolong perihal kakaknya itu.


***


"Pak, maaf sekali lagi, saya tidak merasa pesan semua ini. Tolong dikembalikan saja ke tokonya yah!"


"Tidak bisa, Bu. Pembeli sudah membayar lunas semua ini dan menyuruh saya mengantarkannya ke alamat Ibu. Mohon diterima," ucap sang supir menyerahkan invoice pembayaran yang berstempel lunas itu.


Ratna yang kebingungan tak bisa berbuat apa-apa lagi saat mereka menurunkan beberapa material bangunan di halaman rumahnya. Beberapa tetangga sudah berbaris menonton, ada yang melirik sinis, ada juga yang kepo menghampiri wanita setengah baya itu.


"Waahh Bu Ratna mau bangunan yah? Maa Syaa Allah, bakal gede banget ini rumahnya dilihat dari banyaknya material ini." ucap salah satu tetangganya melirik ke segala arah.


"Eh, anu Bu kayanya ini salah alamat deh. Saya ngerasa nggak pesan soalnya," kilahnya tersenyum tipis dan segera menghampiri seseorang yang baru keluar dari mobil putih.


"Dapet mantu sultan nih kayanya Bu Ratna," teriak Ibu-ibu yang lain.


Wanita itu tak menjawab apapun hanya senyum tipis dengan wajah penuh kecemasan.


"Pak, maaf ini semua dari siapa? Saya sama sekali nggak pesen," katanya setengah putus asa.


"Udah Ibu tenang aja, tinggal duduk manis dan terima hadiah ini."


"Ya nggak bisa gitu donk, pak. Saya takut ada apa-apanya gimana? Anak saya pun tidak tahu menahu soal ini," protesnya lagi.


"Bapak tinggal sebutkan saja nama pembelinya atau yang bayarnya, gitu aja ko. Kalo nggak saya bakal laporin ke pak RT atau pak lurah buat ngusir bapak-bapak semuanya!" ancamnya menatap tajam pria di depannya.


"Aduh Bu, dikasih rejeki ko malah ditolak. Saya nggak habis pikir deh. Tunggu sebentar!" ujarnya seraya menjauh dan terlihat menghubungi seseorang.


Tak lama kemudian dia kembali, ke hadapan Bu Ratna.


"Semua ini atas nama Michael Fernando Delopez."


"Siapa? Micel-Micel siapa dia?" tanya Bu Ratna nambah bingung.


"Saya juga nggak kenal Bu, saya cuma jualan dan nurutin apa kata pembeli aja."


Bersambung...


Mohon maaf readers, maaf banget, sempet hiatus sebulanan. Ada satu dan dua hal yang sedang terjadi sehingga mengganggu pikiran saya dan tidak bisa berimajinasi dengan bebas.


Tapi Alhamdulillah, pelan-pelan saya akan kembali meneruskan kisah ini. Bagi yang tidak suka dengan alur ceritanya monggo jangan diteruskan. Saya hanya menyalurkan hobi menulis yang kebetulan masih seperti role coaster naik turun moodnya.


Mohon bantuan support dan likenya ya readers 🙏🤗

__ADS_1


Semoga Allah memudahkan urusan readers semuanya 🤲🏻


Terimakasih yang sudah setia menunggu, salam sayang 😚


__ADS_2