
"Stok karet sintetis kita tidak cukup sampai akhir bulan ini," ucapnya pelan melirik tangan Michael.
"Ko bisa? Bukankah mereka selalu menghitung dan order kebutuhan bahan baku sebelum produksi?"
Michael mengurungkan niatnya membuka ponsel itu, lalu bergegas membuka laptopnya. Seketika Hanna menghela napas lega dan meraih ponselnya cepat.
"Iya makannya tadi aku heran, apa bagian sample membutuhkan lebih banyak bahan? Atau penggunaan mereka yang boros."
"Ini di laporannya masih cukup ko," ucap Michael menatap layar laptopnya.
Data yang ia miliki terhubung langsung dengan laporan harian karyawannya yang di input setiap hari.
"Besok coba kamu cek gudang dan produksi, kalo sampe beneran kurang akan kupecat semua tim ppic!" serunya dengan dada turun naik.
"Bagus. Dia memakan umpanku dengan lahap," batin Hanna.
"Aku akan menghubungi James untuk mempersiapkan import barangnya kalo memang kurang," sambungnya.
"Oke, aku coba cek besok."
"Jangan lupa kamu minta mereka audit, cek data dan stok di lapangan langsung. Balance atau tidak. Apa saja yang harus diorder dalam waktu dekat ini. Jadi, bisa sekalian ikut pengiriman," kata Michael masih memeriksa laporan perusahaannya.
Sebagian bahan baku perusahaan mereka memang masih import, terutama karet sintetis yang besar. Itu adalah produk komoditi biasanya dari Jepang, Korea selatan atau China.
Untuk karet alam sendiri memang dari Indonesia, juga kadang dari Malaysia jika dirasa kurang memadai.
Meski sekitar 50% komponen mereka impor, tapi tidak mempengaruhi keuangan perusahaan itu. Pasalnya target market mereka memang ekspor jadi dari dolar ke dolar.
"Oke," jawab Hanna singkat.
"Mengenai tim ppic kamu beneran mau pecat mereka?"
Dia melirik suaminya ragu.
"Tentu saja, kalo memang mereka melakukan kesalahan fatal. Untuk apa memperkerjakan orang yang tidak teliti," sahutnya dingin.
"Kenapa? Kamu mengkhawatirkan Ansell?" tanya Michael seolah paham apa yang dipikirkan istrinya itu.
"Sebentar, bukannya tempo hari kamu ingin aku memecatnya?" lanjutnya lagi.
"Iya. Kalo memang dia melakukan kesalahan ya bagus, jika Daddy bertanya kita punya jawaban yang logis. Karena setahuku dia adalah salah satu karyawan terdekatnya dulu."
"Apa yang membuatmu merasa tidak nyaman dengan dia?"
Michael tak mengindahkan jawaban istrinya itu, ia lebih terusik alasan dibalik rasa tak nyamannya.
"Tadi gimana acara perjodohannya, sukses kan?" lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Gagal total pria itu brengsek rupanya," sahut Michael menutup laptopnya dan merebahkan tubuhnya di samping Hanna.
"Brengsek gimana?"
"Semalam dia abis cek in sama cewek tante-tante pula."
"Astaga. Laura pasti kecewa banget."
"Mending ketahuan dari sekaranglah timbang nanti pas mereka udah lebih jauh lagi."
"Kamu dapat info dari mana?"
"Daddy nyuruh Gorda buat nyari informasi tentang pria itu dan menemukan fakta yang sangat ekskusif. Kamu belum tau sih gimana mereka, info sekecil apa pun tak akan luput dari kejarannya."
"Waahh hebat Daddy, sampe menyewa detektif untuk mencari informasi calon menantunya."
__ADS_1
"Harus donk, nggak boleh orang sembarangan yang masuk di keluarga Delopez." sahutnya membusungkan dada bidangnya.
Hanna menelan ludah, merasa tersindir bahwa ia bukanlah siapa-siapa yang kini menjadi bagian keluarga ini.
"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan? Nggak mau jawab pertanyaanku tadi?"
Michael baru tersadar telah ganti topik pembicaraan.
"Kenapa kau memilihku?" tanya Hanna masih tak mau menjawabnya.
Michael terdiam sesaat melihat wanita di sampingnya. Bukan apa, dia juga sebenarnya bingung kenapa sampai sejauh ini menjalin hubungan dengan salah satu mangsanya dulu. Padahal sebelumnya dia selalu memutuskan hubungan dengan wanita yang sudah tau sisi gelapnya.
Baginya Hanna berbeda, selain dia wanita rekomendasi sang ayah hatinya juga tak sanggup menolak kala itu. Terlihat jinak tapi ternyata susah ditaklukan. Terasa pasrah tapi ternyata penuh keberanian.
"Kenapa kamu mau?" Ia bertanya balik.
"Tak ada pilihan lain," jawab Hanna.
"Tidak mungkin, kamu bisa aja menolak dan pergi jauh."
"Bagaimana bisa, sementara kamu menguasai rumah dan tanah orang tuaku."
"Jadi kamu mau bilang aku memaksamu?"
"Memang kenyataannya begitu kan?"
"Siapa suruh mau dipaksa."
"Nggak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang mau dipaksa. Aku terpaksa karena tak ada pilihan lain," ucapnya dengan nada meninggi.
"Wuih selow donk, ko naik 1 oktaf ya nadanya. Mau ngajak berantem nih?"
"Kamu yang mulai duluan," sahut Hanna memalingkan wajahnya.
"Idih, masih lanjut aktingnya nih?"
"Aku serius."
"Terserah! Aku mau ke kamar Laura."
Hanna bangkit berdiri menuju pintu menghindari suaminya, ia takut jika di sana terus akan terlihat salah tingkah dengan wajah yang mulai merona. Belum lagi pertanyaan seputar Ansell yang sudah dua kali dia dengar dan sengaja mengabaikannya.
"Berenti di situ!" seru Michael.
"Stop Hanna, jangan sampai kamu larut dalam rayuannya. Ingat, luka yang pernah dia kasih tak akan bisa sembuh begitu saja meski sikapnya sudah mulai berubah." batinnya meringis.
"Apa sih? Aku mau ke kamar adikmu."
"Sudah ada Jessica dan Mommy di sana, lebih baik kamu siap-siap kita jalan sekarang." titahnya.
"Aku mau liat keadaannya dulu sebentar," ucapnya sedikit merengek.
Michael menghela napas.
"Oke, sebentar saja." jawabnya kemudian.
Tanpa menjawab lagi Hanna membuka pintu dan langsung berlari menuju tangga, baru satu anak tangga tiba-tiba namanya dipanggil.
"Hannaa." Suara bariton itu mengagetkannya, ia tak menyadari ayah mertuanya ada di ruang keluarga itu.
"Kamu mau kemana?" tanyanya terkejut melihat menantunya hendak menaiki tangga.
"Ke kamar Laura, Dad."
__ADS_1
"Hati-hati naik turun tangga, jangan sambil lari."
"Daddy tenang aja," jawabnya sambil tersenyum.
"Apa aku harus membuatkannya lift?" bisik Martin dalam hati.
"Sebentar ... Jangan bilang Daddy sudah tau kehamilanku?" tanya Hanna dalam Hati.
Tapi ia mengurungkan niatnya untuk bertanya dan memilih melangkah ke lantai atas.
Setelah sampai di ujung tangga, terlihat dua wanita keluar dari dalam kamar Laura.
"Mau kemana kamu?" tanya Belinda sinis.
"Mau ketemu Laura, Mom," sahutnya pelan.
"Dia sedang tidak ingin diganggu, Kak." timpal Jessica kembali menelisik penampilan Hanna yang hanya memakai piyama itu.
"Tapi dia baik-baik aja kan, Mom?" tanyanya khawatir.
"Ya, dia sepertinya baik-baik aja. Lebih baik biarkan dulu," ucapnya dingin.
"Syukur deh," gumamnya nyaris tak terdengar.
"Ayo turun," ajak Belinda.
"Sebentar Tante, ada yang mau aku bicaraka sama Kak Hanna boleh?" jawab gadis itu.
Belinda terdiam sejenak melihat keduanya. Perbedaan dari cara berpakaian mereka terlihat sangat mencolok. Meskipun wajahnya tak kalah cantik dari Jessica. Gadis yang pernah diharapkannya jadi menantu keluarga itu.
"Jangan sampe ganggu Laura yah," kata wanita paruh baya itu berlalu menuruni tangga.
"Berpacaran berapa lama dengan Kak Michael?" tanyanya membuka obrolan.
Mereka kini bersandar pada pembatas lantai atas itu.
"Tanpa pacaran," jawab Hanna singkat.
"Cara apa yang Kakak gunakan untuk menjebak Kak Michael?"
"Maksud kamu apa?" tanya Hanna mulai curiga dengan arah pembicaraan gadis yang usianya terpaut jauh darinya itu.
"Apa Kakak tau kalo Kak Michael sebelumnya menaruh hati padaku?"
Deg!
Hanna terdiam, menelisik lawan bicaranya itu. Ia melihat dengan seksama dari ujung rambut hingga kaki jenjangnya.
"Apakah sampai saat ini dia masih menaruh hati padamu?" Hanna bertanya balik.
"Bisa jadi, Karena beberapa bulan lalu dia sempat mengejar saya ke bandara. Tapi tak berhasil, karena seorang wanita sialan telah menghalangi jalannya," kata Jessica melirik Hanna dengan senyum mengejek.
"Gadis kecil ini ingin bermain denganku rupanya," bisik Hanna dalam hati.
"Kamu tau, hati seseorang mudah sekali berubah. Jangankan beberapa bulan lalu, bahkan sedetik kemudian hal itu bisa saja terjadi. Dan cara yang kugunakan adalah, mengambil hatinya yang saat itu tengah kosong dan butuh seseorang yang selalu di sampingnya."
Hanna tersenyum simpul lalu berjalan menuruni tangga ia malas meladeni gadis itu. Terlihat jelas raut wajah kesal dari gadis itu saat dia menyusul Hanna dari belakang.
Tanpa disadari, tangan Jessica mendorong kuat tubuh Hanna hingga kakinya kehilangan keseimbangan. Seketika tubuh mungil itu terpelanting dan berguling membentur setiap anak tangga lantai marmer yang dilewatinya.
Teriakan keduanya yang hampir bersamaan, mengagetkan semua seisi rumah termasuk Michael yang baru saja hendak membuka pintu kamarnya.
Bersambung...
__ADS_1