Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Gelagat Aneh Hendi


__ADS_3

"Gimana pun caranya, gue harus bisa dapetin Hendi. Nggak mungkin gue balik kerja kaya dulu lagi. Setelah image yang udah susah payah gue bangun beberapa bulan ini." Tutur wanita itu seraya membuka tutup botol kecil.


Dia mencampurkan bubuk ke dalam minuman yang tengah dibuatnya. Sesekali matanya mengawasi, khawatir sosok pria itu memergokinya.


Pasca cerai dengan suaminya, ia diusir dari rumah mewah tanpa membawa harta apa pun. Hanya mas kawin yang sudah dijualnya kemarin. Aksi protes menuntut keadilan sebagai istri berbuntut perceraian. Pasalnya, sang suami yang kepergok tidur bersama seorang laki-laki itu tetap tak mau memberikan nafkah batin untuknya.


Meski sang suami bergelimang harta, Siska tetap menuntut nafkah batin yang sangat ia butuhkan. Naasnya, sang suami tak bisa memenuhi itu karna ia seorang gay. Akhirnya ucapan talak pun meluncur dari mulutnya. Setelah kata-kata pedas terlontar dan memekakan telinga.


"Kamu itu nggak tau diuntung yah! Udah syukur aku nikahin, apa pun yang kamu minta selalu tercukupi. Tas branded? Sepatu? Baju? Perhiasan dan semuanya! Kalo bukan denganku, nggak mungkin kamu bisa dapetin itu semua!" teriak suaminya saat keributan besar itu terjadi.


"Buat apa menikah hanya sebatas status, tiap malam tidak tau suamiku dimana?" Batin Siska.


Ucapan itu terus terngiang, hingga akhirnya ia bertemu dengan Hendi mantan kekasihnya beberapa tahun lalu.


Wanita yang sengaja berpakaian seksi itu pun, melenggang masuk kamar membawa segelas minuman. Dilihatnya Hendi yang tengah sibuk memindahkan barang. Tak butuh waktu lama, pria di depannya itu langsung meneguk habis air di dalam gelas.


Selang beberapa menit, tubuh penuh gairah itu tengah melancarkan aksinya. Senyum puas terlihat jelas di wajah Siska. Ia tak mengira, bisa segampang ini menjebak Hendi.


******


"Kamu dari mana semalam, Hen?" Viona masuk ke ruangan Hendi tanpa mengetuk.


"Nginep di rumah temen," jawab Hendi tanpa menoleh. Ia sibuk merapikan rambutnya di depan cermin wastafel.


"Temen? Sejak kapan kamu punya temen deket sampe nginep segala?" Tanyanya penuh selidik.


"Aku mau kerja, tolong jangan ganggu." Sergahnya berlalu dari hadapan Viona.


Viona terdiam, saat parfum wanita terendus hidungnya ketika pria itu lewat.


"Wanginya ... beda sama yang tadi," bisiknya dalam hati.


Dia tak lagi berkomentar, hanya menatap keponakannya sekilas lalu pergi meninggalkan ruangan.


Huuuffttt.... Hendi bernapas lega melirik ke arah pintu, segera ia menguncinya.


"Gila! Jantung gue. Bisa-bisanya ketemu Hanna dalam keadaan kaya gini?" Liriknya pada setelan yang kusut, pria itu sibuk mondar mandir sedari tadi.


"Apa yang harus gue omongin ke Hanna? Dia kayanya tadi ngobrol sama Tante Vio juga! Aaarrrgghhh!" Teriaknya seraya menggebrag meja.


Triinggg! Sebuah notifikasi pesan masuk. Hendi segera menyambar ponselnya.


[Kamu udah sampe kantor?] Tulis Siska.

__ADS_1


"Kenapa harus ketemu Siska, saat gue udah mantapin hati ke Hanna?" Gumamnya.


Tok ... tok ... tok! Pintu terketuk, Hendi menengok penuh kekhawatiran. Perlahan ia bangkit, dan melirik sekilas melalui kaca di tengah pintu.


"Ha-Hanna!" Pekiknya dalam hati dengan mata yang membulat.


"Silahkan masuk," kata Hendi membuka pintu seraya menenangkan degupan jantungnya.


"Tumben dikunci?" Hanna melirik wajah Hendi yang tertunduk menghindarinya.


"Nggak papa ... eemm ... tadi sempet mau ganti baju eh ternyata nggak jadi, lupa bawa bajunya " jawab pria itu gugup.


"Jadi meeting hari ini?"


"Jadi, tapi nanti mampir rumah dulu yah. Aku ma-mau ganti baju," ucapnya memberanikan diri menatap mata sendu wanita di depannya itu. Bulu mata lentik dan hidung minimalis tengah menatapnya heran.


"Mmm, oke." Jawabnya kemudian, seraya beranjak menuju pintu. Kemeja putih dan rok selutut hitam mencuri perhatian Hendi.


"Dari belakang kaya anak magang," goda Hendi.


"Dari depan?"


"Eemmm ... cantik." Senyum menggoda tersungging dari bibir erotis itu.


Hendi segera meraih ponselnya dan membalas pesan dari Siska. Ia sempat termenung cukup lama, memilah kata yang pas untuk dikirim. Berulang kali tulis dan hapus penuh keraguan.


[Udah, makasih atas waktunya semalam.] Tulisnya kemudian.


Hendi menyandarkan bahu bidangnya ke kursi, pikirannya kembali berkelana pada peristiwa panas yang baru saja dinikmatinya. Sejenak, darahnya berdesir, tubuhnya terasa panas membayangkan aksi dari wanita yang pernah menjadi ratu dalam hatinya beberapa tahun lalu itu. Matanya terpejam, seolah tengah merasakan kembali buaian dan sentuhan lembut Siska.


"Ah, gila! Gue udah gila!" Teriaknya menampar pipinya sendiri. "Come on Hendi! Lu apa-apaan? Gimana dengan Hanna?!" Gumamnya seraya memijit pelipisnya yang terasa masih sedikit pening.


Kriiinngg ... telepon kantor berdering nyaring mengagetkannya.


"Halo," sapanya. "saya sudah siap pak." jawab suara di seberang. "oke, kamu tunggu di bawah." suruhnya seraya menutup gagang telepon dan bersiap.


"Kerja, kerja!" ucapny menyemangati diri. Ia pun segera menyambar jas dan kunci mobil, tak lupa tas laptop di tentengnya. Tiba-tiba sebuah benda jatuh dan menggelinding tanpa sepengetahuan Hendi.


Sampai di bawah, Hanna sudah menunggu. Dengan sekotak bekal di tangannya.


"Sejak kapan kamu bawa bekal?"


"Dikasi mama," ucapnya seraya menutup kotak pink itu.

__ADS_1


"Eh, mau donk." Hendi menyondongkan wajahnya ke arah Hanna. Berharap wanita itu menyuapinya.


"Nih!" tawarnya mendekatkan kotak itu.


"Nggak bisa," dia mengangkat kedua tangannya yang penuh barang.


Lantas Hanna pun menyuapi udang ke mulut Hendi sambil celingukan.


"Thanks, yuk!" ucap pria itu dengan senyum merekah di bibirnya.


Mereka pun menuju mobil dengan senyum merona dari keduanya.


******


Ansell berdiri cukup lama di depan gerbang sebuah rumah. Tempat ini adalah harta pertama yang ia bangun dari keringatnya sendiri. Dan memang menjadi hadiah untuk Zea. Matanya menyapu setiap sudut bangunan itu.


Hatinya menggebu menahan rindu kepada dua buah hatinya. Ia lantas memencet bel dan menatap ke arah pintu. Sekali dua kali, tak kunjung pintu terbuka. Rumah itu memang terlihat sepi, tak ada tanda-tanda orang di dalam.


Ia merogoh ponsel di saku celananya, menekan nomor Zea mantan istrinya. Lama dan tak ada jawaban. Laki-laki itu kembali ke dalam mobil. "Kemana perginya Zea?" tanyanya dalam hati.


Cukup lama mobilnya terparkir di halaman depan rumah itu, hingga membuatnya tertidur. Ia berniat untuk menunggu Zea pulang, karena kerinduannya kepada dua anak kembarnya.


Menjelang malam, sebuah klakson mengagetkannya. Ansell terlonjak, menengok belakang. Sebuah mobil yang dikenalnya, persis di belakangnya. Terlihat Zea turun dan menghampirinya lalu mengetuk kaca mobil.


"Ngapain kamu di sini?" tanyanya setelah Ansell menurunkan kacanya.


"Mau ketemu anak-anak," jawabnya merapikan rambut dan bajunya.


"Anak-anak tidur! Singkirkan mobilmu! Aku mau masuk," perintahnya menatap Ansell tajam.


"Biarkan aku yang gotong anak-anak ke kamarnya," Ansell segera turun dari mobil tetapi Zea menarik tangannya.


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri," jawabnya menghalangi langkah pria itu.


"Zea, kamu ini apa-apaan? Sengaja mau jauhin aku dari anak-anak?!" kata Ansell dengan suara meninggi.


"Bukannya kamu sendiri yang menjauh dari mereka?" Wanita itu menatap Ansell sinis.


"Sampai kapanpun kamu nggak akan bisa ngilangin aku dari hidup anak-anak Zea! Ikatan darah itu lebih kental dari air, camkan itu!" ancam Ansell.


"Dan sampai kapanpun, aku akan berusaha mencairkan darah yang kental itu." bisik Zea di telinga Ansel.


"Lagi pula, mereka pun tak akan sudi punya ayah yang tergila-gila perempuan lain dan tega meninggalkannya." tambahnya lagi seraya menunjuk dada pria yang mematung di depannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2