
"Satu hal yang pasti, setidaknya anak-anak dalam keadaan baik dan terawat. Meski aku tidak bisa hadir membersamai mereka," batin Ansell pilu.
Dia memacu mobilnya dengan kencang, tiba-tiba tujuannya berpindah haluan untuk saat ini ingin sekali melihat wanita dambaannya. Akan tetapi, perutnya yang belum terisi apa pun sejak siang tadi meronta meminta haknya.
Ia pun memarkirkan kijang tuanya pada sebuah restoran ayam dan memilih untuk drive thru. Saat makanan sudah di tangannya, kembali dia menjalankan mobilnya menuju satu tempat.
Tiba-tiba saat ia melewati depan resto, matanya menangkap seorang pria yang familiar tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita seksi dan cantik. Terlihat wanita itu tampak tersenyum bahagia menatap pria di depannya.
"Gila! Tampang polos kaya dia bisa juga mainin cewek," gumamnya dengan senyum sinisnya.
Tooottttt ...!! Suara klakson mobil di belakang mengagetkannya. Dia segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan resto itu, dengan sesekali menengok ke belakang memastikan wajah pria itu.
"Ah, sial! Harusnya tadi gue fotoin mereka," Ansell memukul setirnya.
Setelah berkendara kurang lebih satu jam, sampailah dia di sebuah kostan berpagar besi warna hitam itu. Sejenak kembali berpikir, "apa yang akan aku lakukan di sini?" batinnya.
Namun, tetap saja ia melangkahkan kaki tanpa tujuan yang jelas menghampiri sebuah pintu. Meski sempat ragu, sesaat terpaku memandang tulisan kamar kost nomor 2 itu.
"Haruskah gue omongin ke dia soal tadi? Apa dia akan peduli? Terus kalo dia nanya gue mau ngapain, masa cuma bilang apa yang gue liat barusan doank?" batin Ansell berkecamuk, dia mengusap kasar wajahnya.
"Aahh, bodo amat! Gue ketemu dia dulu aja," gumamnya.
Tok ... tok ... tok
"Sebentar," teriak wanita dari dalam.
"Ya, gue cuma mau mastiin dia baik-baik aja!"
Tak lama kemudian, suara pintu berderit. Munculah Hanna dengan gaun warna mint selutut, rambut yang digerai hitam pekat serta riasan wajah yang flawless.
"Jam berapa in-i?" tanyanya ragu melanjutkan kata-katanya, saat melihat yang datang bukanlah pria yang ditunggunya.
"Ya Allah, cantik sekali dia." Kembali batinnya bergumam. "Gue yakin dia pasti menunggu seseorang, pria brengsek itukah?"
"A-Ansell? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Hanna heran. Matanya melirik pintu gerbang yang sedikit terbuka.
"Aduh, jangan sampai Hendi melihat ini." gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Ansell terus memperhatikan wanita cantik di depannya itu. Matanya seolah terhipnotis, mulutnya diam tanpa kata dengan tubuh yang mematung kaku. Hingga sejurus kemudian, pandangannya tertuju pada cincin berkilauan tertimpa sinar lampu.
"Cincin itu? Apa dia sudah bertunangan? Tidak ... tidak boleh! Hanna adalah milikku, tak ada satu pun yang bisa memilikinya." pekiknya dalam hati.
"Helooww! Ansell?" Hanna melambai-lambaikan tangannya di wajah pria itu.
"Eehh-iya, sorry, kamu cantik banget aku sampe terhipnotis. Lagi ada janji?" tanyanya berusaha mengaliri nadinya dengan darah dingin.
"Iya. Maaf, aku nggak mau ada keributan. Sepertinya di antara kita tak ada yang perlu dibahas dan sudah tak ada ikatan apa pun. Jadi, silahkan pergi!" usir Hanna.
"Kamu salah Hanna, kita berdua sudah terikat takdir. Hadirnya Lea jangan kau lupakan, selamanya kamu akan terikat denganku." ucap Ansell melirik dengan senyuman devil.
"Hahaha, Lea tak mengikat apa pun di antara kita. Aku pastikan, dia tak akan mengenalmu." ancamnya.
"Ingat kata-kataku, suatu saat nanti gadis kecilku itu pasti akan mencariku. Kita liat aja," Ansell menyudutkan Hanna dengan maju beberapa langkah memasuki kamar kostnya.
"Tolong keluar dari sini Ansell Arian Rendra!!" teriaknya mendorong tubuh pria tinggi itu.
"Kamu tenang aja, aku bakal keluar kalo pangeran yang kau tunggu itu datang. Tapi, aku yakin dia tak akan datang."
Kedua alis Hanna berkerut, "bagaimana dia tau aku sedang menunggu seseorang? Ah, sial sudah jam 9 Hendi masih aja belum datang!" gerutunya kesal dalam hati.
"Hanna, Hanna, aku memang pernah membohongimu dan berharap itu pertama dan terakhir kalinya kebohonganku untukmu. Seterusnya aku selalu berjanji pada diri ini, untuk memperbaiki segalanya bersamamu. Aku pastikan, kamu akan kembali terluka jika tetap menunggu pria itu." paparnya seraya menyentuh lembut wajah wanita di depannya.
Reflek Hanna mundur dan menepis tangan Ansell. "jangan kurang ajar tangannya!"
"Sekasar itu kamu sama seseorang yang pernah begitu dicintai?"
"Kesalahan terbesarku adalah mencintai pria yang salah! Dan itu tak akan terulang lagi,"
"Kita liat aja, apa sejarah itu tak akan terulang. Tapi, saranku siapkan hatimu untuk kembali terluka saat menyadari kekeliruanmu." Ansell menatap Hanna, jauh di lubuk hatinya ia amat menyesali ucapannya. Hatinya bergetar, melihat wanita yang begitu dicintainya akan kembali terluka.
"Cukup ngarangnya Ansell! Pergi nggak! Kalo nggak aku bakal teriak maling nih!" teriak Hanna, entah kenapa dadanya terasa sesak.
"Aku yakin pria ini hanya ingin menggoyahkan pilihanku saja." gumamnya dalam hati.
"Oke, aku akan pergi. Satu hal yang harus kamu tau, sampai kapanpun aku akan menunggumu. Jadi, kalo hatimu kembali terluka ingatlah ada satu pria yang dengan sabar menunggumu dan siap mengobati luka itu."
__ADS_1
"Dasar gila! Pergiiiii ...!" teriaknya mendorong tubuh Ansell dengan kuat keluar pintu dan menutupnya kencang.
Bruaaakkk!
Lututnya lemas, dadanya sesak dan seluruh tubuhnya gemetar. Dia terduduk di belakang pintu, netranya berkaca-kaca dan akhirnya air yang sudah tak dapat dibendungnya mengalir tanpa batas.
"Ansell ... sampai kapan kau akan terus jadi bayang-bayang hidupku!" ucapnya di tengah isak tangisnya.
Sementara di luar, Ansell pun memandang pintu yang tertutup itu dengan iba. Matanya nanar memandang sekitar, hatinya terasa sakit. Tangannya mengepal, menahan emosi yang ditahannya.
"Hendi, setelah gue coba ikhlasin lu buat Hanna karna gue pikir lu laki-laki baik ternyata salah. Wajah polos brengsek itu, harus gue kasih pelajaran!" teriaknya dalam hati.
Dia melangkahkan kaki menuju mobilnya dan berharap mereka masih ada di resto itu.
Namun, sesampainya dia di sana tak ada lagi sosok yang dicarinya. "sial! Harusnya tadi gue hajar aja dia di sini!" pekiknya memukul kemudinya keras.
Hanna terus melirik ponselnya, tak ada kabar apa pun dari Ansell. Dia mengusap cincin berlian di jari manisnya.
"Hendi, apa yang membuatmu tak datang? Apa terjadi sesuatu padanya?" Dia segera meraih ponselnya dan memencet nomor pria itu. Tapi, tak ada jawaban. Dia terus mencoba menghubunginya berkali-kali dan tetap saja, terabaikan.
Tiba-tiba ucapan Ansell kembali terngiang di kepalanya. "apa aku tak berhak bahagia ya Allah? Untuk sesaat Engkau hadirkan kebahagiaan, tapi dalam hitungan jam luka kembali kau hadirkan." batinnya.
"Aku nggak boleh suudzon, mungkin aja Hendi ada sesuatu hal yang mendesak. Jangan sampe termakan ucapan pria gila itu." lanjutnya seraya mengusap air matanya.
"Tapi kenapa dia tak sempat mengabariku? Percuma donk dandan ke salon berjam-jam! Aaahhh, stres gue!" Hanna membaringkan tubuhnya ke kasur dan memukul-mukul bantal dengan keras. Sampai akhirnya ia tertidur dengan riasan yang berantakan.
Tepat pukul 12 malam, pintu kostnya diketuk seseorang. Hanna dengan terhuyung membuka kunci.
"Hendii!" gumamnya seraya menyipitkan mata tak yakin pria itu adalah Hendi.
Bruuaaakkkk! Tiba-tiba tubuh lemas Hendi ambruk di pelukannya. Bau alkohol tercium sangat menyengat.
"Ma-afkan a-aku Ha-Hanna ..." ucapnya terbata dengan lemas.
"Hendi! Sadar Hen, ada apa ini?" teriaknya panik.
Bersambung...
__ADS_1
Akankah Hanna tetap melanjutkan dengan Hendi? Atau hatinya akan kembali membeku? Atau balik lagi ke Ansell?
Yookk kasih masukkan bestie 😁