Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Gagal


__ADS_3

"I ... itu dia ... dia ...."


"Siapa wanita ini Elmer? Apa dia kekasihmu?" bentak sang ayah memotong ucapan anaknya yang terbata-bata itu.


Di sampingnya Esther sedikit bergeser dari tempat duduknya, untuk melihat sosok yang membuat suaminya naik pitam. Benda pipih itu diambilnya dan menggeser setiap gambar dalam layar itu.


Sekarang Laura sedikit mengerti apa yang terjadi, wajah yang sepanjang tadi berseri-seri mendadak dingin. Ia menunggu bibir pemuda itu menjawab.


"Tenang pa, biarkan Elmer menjelaskannya. Tidak mungkin anak kita menjalin hubungan dengan wanita itu. Liat saja usianya jauh lebih tua darinya," kata Esther meletakkan ponsel itu di meja.


Gorda segera mengambil ponselnya dan kembali keluar rumah.


"Ya ... dia adalah kekasihku."


Elmer akhirnya buka suara setelah beberapa saat terdiam.


Tiba-tiba Santiago berdiri dan menampar pipi kanan sang anak.


"Tidak tahu malu! Beraninya mencoreng muka papamu sendiri!" bentaknya keras membuat seisi rumah hanya bisa diam tak bergeming.


“Dan apa maksudmu mengikuti anakku, Martin?”


Pria bertubuh gempal itu menatap teman lamanya dengan darah yang mendidih, merasa dihina dengan kejadian ini.


“Seharusnya tak perlu lagi kujelaskan, aku tidak mungkin menyerahkan putriku pada seorang yang tak kuketahui latar belakang dan sepak terjangnya.”


“Jadi kau meragukan keluargaku?” tanyanya kembali duduk dengan tegak.


“Kenyataannya? Putramu sudah kuberi kesempatan menjawab dengan jujur tadi, tapi dia tetap memilih berbohong.”


“Bagaimanapun menguntit adalah perbuatan yang melanggar hukum kami tidak akan tinggal diam!” Esther meraih tasnya dan menyeret putranya keluar.


“Tunggu!” teriak Belinda.


“Apa seperti ini cara kalian menyelesaikan masalah?” lanjutnya.


"Lagipula, di Indonesia tidak ada undang-undang yang menjerat pelaku menguntit. Kecuali, kami melakukan kekerasan, pengancaman atau tindak pidana lain." Michael menimpali.


"Kalian duduk, urusan kita belum selesai." Santiago melihat ke arah istri dan anaknya itu.


Wanita itu memalingkan wajahnya menahan malu, tangan sang anak dilepaskannya.


“Apa lagi yang akan dibahas? Kalian telah mempermalukan kami, kenapa kalian tetap menyuruh kami datang jika sudah mengetahui hal ini?”


“Maaf nyonya Santiago, kami mendengar kabar itu setelah kalian mungkin sudah menuju kemari. Tidak fair kan jika kami membatalkan pertemuan ini sepihak, tanpa penjelasan dan bukti yang kuat.” sahut Michael menggeser duduknya lebih tegak.


“Lagi pula seharusnya kami yang kecewa, kenapa malah kalian yang kalang kabut?” Belinda menimpali.

__ADS_1


“Ayolah, kita duduk kembali coba selesaikan. Dalam konteks ini, di antara kita tidak ada yang dirugikan. Jika Elmer telah memiliki kekasih maka perjodohan ini tidak dapat diteruskan. Kecuali dia mau meninggalkan perempuan itu demi Laura," ajak Martin dengan suara melemah.


“Kau akan meninggalkan dia kan Elmer?” tanya mamanya melihat anaknya lekat.


Pemuda itu tampak bergeming, ia menundukkan kepalanya. Lidahnya terasa kelu, bukan situasi ini yang dia harapkan. Dan bukan akhir seperti ini yang dia rencanakan.


"Elmer, lanjut atau tidaknya perjodohan ini kamu tidak mungkin memilihnya kan?" sambung sang mama terus mendesak anaknya yang masih saja terdiam.


“Aku membatalkan perjodohan ini! Anggap saja hal ini tidak pernah terjadi di antara keluarga kita!" teriak Laura.


Tiba-tiba gadis itu berdiri dan pergi berlari ke arah tangga menuju kamarnya di lantai atas. Sekilas genangan air terlihat di sudut matanya.


“Elmer, jawab!” Esther terus menyudutkan anaknya.


“Hentikan ma!’


Edzard menarik tangan sang mama yang hampir saja akan mendorong anak sulungnya itu.


“Maafkan kami Pak Martin dan semuanya, jujur hal ini di luar kendali kami. Karena kini masalah ini sudah menjadi intern keluarga saya, kami mohon ijin pamit untuk pulang dan menyelesaikannya."


"Sekali lagi mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu dan membuat gaduh seisi rumah," kata Edzard sedikit membungkukkan badannya.


Santiago terlihat masih melempar pandangan ke samping, entah apa yang ia lihat. Tapi yang jelas, gurat di wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.


“Baiklah, kami juga meminta maaf, jika cara kami menunjukkan kebenaran telah lancang dan menyebabkan masalah di keluarga anda. Saya harap hal ini tidak menjadikan hubungan kita yang sedetik tadi membaik, malah jadi semakin memburuk.” ucap Martin melihat Santiago yang kini tertunduk menahan malu.


Elmer dan semuanya mengikutinya dari belakang. Wajah ceria ketika mereka datang tadi sama sekali tak terlihat, berganti dengan amarah yang ditahan dan rasa malu yang tak dapat dibendung.


Martin menghela napas panjang ia melihat ke arah kamar atas anak gadisnya.


“Anak itu pasti sudah terluka,” gumamnya dengan wajah risau.


“Biar Jessica yang coba hibur Laura, Om.”


Gadis yang sedari tadi diam tak bergeming menyaksikan hal yang seharusnya membahagiakan, malah berubah jadi kekecewaan antar kedua belah pihak bangkit berdiri menyusul sahabatnya itu.


“Baiklah, tolong jelaskan padanya lebih baik sakit dari sekarang dari pada mengetahuinya nanti setelah mereka sudah menikah. Karena akan terasa lebih menyakitkan dan sulit untuk mengakhirinya," jelas sang ayah.


‘Baik, om.”


Jessica disusul Belinda dari belakang naik ke lantai atas.


Sementara di ruang keluarga itu tinggalah Martin dan Michael yang larut dalam pikiran masing-masing.


“Bagaimana keadaan istrimu?” tanya sang ayah membuyarkan lamunan Michael.


Pria itu menggeser tempat duduknya mendekati ayahnya.

__ADS_1


“Hanna sedang hamil dad,” ucapnya dengan senyum yang terkulum.


“Oh ya? Bagus. Kamu memang paling bisa diandalkan. Jaga kandungannya, beri dia vitamin dan susu ibu hamil yang paling bagus.”


Wajah pria paruh baya itu mendadak sumringah kembali, senyum terus mengembang di bibirnya. Setidaknya ada kabar baik yang mengobati kecewanya pada keluarga Santiago barusan.


“Pasti Dad."


“Rencananya sore ini Michael mau ajak dia ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya," sambungnya.


“Apa Daddy boleh ikut?"


"Mmm, mau ngapain? Daddy mending istirahat aja."


"Pengen lihat calon cucu donk!"


"Yaelah Dad, belum keliatan kali."


Michael terkekeh melihat antusias sang ayah.


"Ya udah, Mich masuk kamar dulu ya."


Pria yang rambutnya sudah memutih semua itu hanya menjawab dengan anggukan.


Sementara di dalam kamarnya Hanna terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Cepat katakan apa kesalahan Ansell yang bisa kujadikan celah untuk memecatnya?"


"Dia tak akan bisa melakukan kesalahan, semua jobdesknya sudah tersusun rapi. Sulit untuk menemukan celahnya," jelas suara seorang pria di sebrang telepon.


"Lalu, katamu tadi bisa membuat dia hengkang dari perusahaan?"


"Jika tak ada celah sama sekali, maka kita yang harus bisa membuatnya sendiri."


"Cepat katakan bagaimana caranya?"


"Saya akan memanipulasi laporan bulanan miliknya."


Tiba-tiba Michael membuka pintu membuat Hanna terkejut dan segera mematikan ponselnya.


"Kamu nggak tidur?" tanya pria itu berjalan mendekatinya.


"Aku baru bangun tadi orang gudang menghubungiku," jawabnya menyimpan ponselnya di atas nakas.


"Apa yang dia katakan?"


Michael meraih benda pipih itu, seketika mata Hanna membulat melihat ponselnya hendak dibuka suaminya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2