
Ansell terlihat membawa barang-barang miliknya, kembali ke rumah yang sudah dua tahun dia tinggalkan. Pilihan rujuk akhirnya mereka tempuh, demi anak-anak dan kerinduan yang terpendam.
Malam pertama season dua
Zea terlihat canggung, saat memakai lingerie yang baru dibelinya. Ia terus berputar melihat pantulan dirinya di cermin. Sementara Ansell masih di dalam kamar mandi.
Saat pria itu keluar, matanya membulat melihat lekukan tubuh seksi di depannya. Ia terpesona melihat pemandangan indah dengan mulut menganga. Adik juniornya langsung terkonek sinyal. Handuk yang dipakainya segera ia lemparkan ke sembarang arah dan memburu tubuh itu.
Selang beberapa detik mereka berdua sudah terlibat adegan panas. Ansell menggendong Zea menuju tempat tidur. Lingerie yang dikenakan Zea menambah gairah pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Napasnya mendesah menyusuri tubuh mulus di bawahnya.
Berbagai gaya mereka coba, dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya.
Setelah hampir mencapai *******, terdengar jeritan dan ******* yang ditahan dari keduanya. Permainan pun diakhiri dengan terkulainya tubuh lemas mereka.
"Aku mencintaimu, sayang." bisik Ansell lembut yang hanya dijawab senyuman dari Zea.
Karena kelelahan mereka pun tertidur tanpa sehelai benang pun.
Keesokan harinya
Zea perlahan membuka mata, mendapati Ansell tengah menatapnya lekat.
"Sudah bangun?" tanyanya dengan suara parau.
"Hhmm," desahnya dengan wajah memerah. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Masih terasa menjepit sekali semalam, sayang." Ansell membelai rambut yang menutupi wajah Zea.
"Masa?" Wanita itu meraih lengan Ansell dan merebahkan kepalanya di sana.
"Huum mau lagi yah," rengeknya manja tangan yang satunya sudah mulai melancarkan aksinya tanpa menunggu persetujuan dari empunya.
Serangan fajar pun dimulai, denyitan suara ranjang yang bergoyang kembali terdengar.
Dari luar terdengar anak-anak mereka sudah ribut memanggil. Sambil tersenyum keduanya saling menatap bergantian menengok ke arah pintu.
Mereka berdua pun segera mempercepat ritmenya hingga tak berselang lama erangan keluar dari mulut keduanya.
"Kilat ini mah," protes Ansell menyudahi ritual mereka.
"Masih banyak waktu sayang." Zea meraih baju piyama yang tergantung di lemari.
"Persiapkan dirimu nanti malam," ucap Ansell mengecup mesra bibir Zea.
***
Beberapa hari berlalu
Hanna tertegun ketika sampai di depan kostnya, Reyhan telah menunggunya di depan mobilnya.
Setangkai mawar merah yang terbungkus plastik ada di tangannya.
"Aku minta maaf," ucap Ansell lembut ketika wanita itu sudah di hadapannya.
Dia menyerahkan mawar itu.
"Sepertinya ini akan sulit, Rey."
"Tidak ada yang tidak mungkin, kita belum mencobanya. Dan aku nggak mau lagi kalah sebelum berperang." Ansell berkata menatap Hanna lekat.
"Untuk apa kita melakukannya jika sudah tahu tidak akan berhasil?"
"Kita belum melakukan apa-apa, hanya aku yang pernah mencoba kamu belum."
"Kamu ingin aku melakukan apa?"
"Ikut denganku, aku akan bicara pada Mama. Sebelumnya memang aku sudah membicarakanmu."
"Apa reaksi beliau?"
__ADS_1
"Ya begitulah, makannya aku ingin kita berjuang bersama."
Hanna menghela napas panjang.
"Rey, aku sudah lelah sakit hati. Aku cape jika terus direndahkan, masalah ini seolah berulang terjadi padaku."
"Itu artinya Allah memberitahumu bahwa kamu bisa menghadapi ini, kamu kuat menjalaninya. Masalah itu bukan musibah, selalu ada hikmah di baliknya."
"Buktinya kamu jadi wanita mandiri dan kuat, meski bertubi-tubi masalah menghampiri." lanjutnya melihat Hanna terdiam.
"Bagaimana jika Mama langsung menolakku?"
"Ada aku yang menerimamu," jawab Reyhan cepat.
"Ada aku yang akan memperjuangkanmu, tenang Hanna kita hadapi bersama."
"Kamu nggak takut Mama nanti marah?"
"Aku lebih takut kehilangan kamu." Reyhan menatap wajah Hanna penuh cinta.
"Nanti kalo dikutuk jadi batu?"
"Aku akan nyuruh mama ngutuk kamu juga supaya nemenin aku," selorohnya.
"Nggak mempanlah, kan bukan ibu kandungku."
"Tapi beliau ibu kandungku calon suami kamu, jadi akan segera menjadi ibumu juga."
"Hanna, saat ini ketakutanku cuma satu takut kehilangan kamu lagi. Ijinkan aku memperjuangkanmu sampai akhir," pinta Reyhan meraih tangan Hanna.
Wanita itu terdiam untuk sesaat, lalu mengangguk seraya menerima mawar itu.
"Aku mandi dulu yah," ujarnya pada kekasihnya itu.
Reyhan tersenyum dan berkata, "Aku tunggu di sini yah."
"Nggak masuk dulu?"
Hanna terkekeh dan berlalu meninggalkan Reyhan.
"Aku sebenarnya takut Han, sangat takut. Takut kehilangan Mama dan juga kamu," gumam Reyhan dengan kepala tertunduk.
***
Suasana rumah Reyhan tampak sepi, semua interior rumahnya terlihat klasik tersusun dengan rapi. Lemari buku yang diletakkan di ruang tamu pun berjejer sama tinggi dan besarnya.
"Benar-benar perfeksionis," bisik Hanna dalam hati.
"Sebentar yah, aku panggil Papa dan Mama." Hanna mengangguk jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
Dia melirik jendela kaca besar dan panjang di sampingnya. Memastikan penampilannya tak ada yang kurang.
Tak berselang lama, munculah dua orang bersama Reyhan. Hanna pun berdiri tersenyum ramah seraya sedikit membungkukkan badannya.
"Jadi ini yang namanya, Hanna." sang mama duduk di kursi berhadapan dengan Hanna, sementara papanya memilih kursi yang menghadap ke tengah mereka.
"Perkenalkan Tante, Om, saya Hanna." ucapnya mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan keduanya.
"Kemarin kenapa malu?" tanya mama matanya menelisik tubuh Hanna dari ujung kaki hingga rambut.
"Maaf Tante, Hanna belum siap kemarin." Menahan malu dia tertunduk.
"Kemarin masih temenan sekarang sudah pacaran, Ma." goda Reyhan mencoba cairkan suasana melirik Hanna yang terlihat gugup.
"Anak kamu usia berapa?" tanya sang papa yang sedari tadi diam.
Hanna melirik Reyhan ragu, yang dibalas anggukan kepala dari pria itu.
Reyhan memegangi jemari Hanna yang terasa dingin. Keringat mulai muncul di dahinya.
__ADS_1
"Empat tahun, Om." jawab Hanna.
"Jadi sekarang tinggal sama mama kamu di kampung?"
"Iya, rupanya Reyhan sudah cerita banyak yah perihal saya?"
"Kami memang sangat dekat, hampir tak ada yang disembunyikan perihal cintanya. Dia anak yang penurut," kata sang mama melihat Hanna.
Hanna melirik Reyhan yang kembali tersenyum padanya.
"Ya sudah kita makan dulu yuk," ajak sang mama kemudian.
Mereka pun beranjak menuju meja makan.
Hanna dibuat lebih terkejut lagi melihat ke dalam rumah Reyhan. Ruang keluarga yang besar hanya terdapat sofa yang bisa dijadikan kasur juga, serta permadani di bawahnya. Meja tv kecil dan kipas angin tinggi terletak di sana. Semuanya sangat bersih dan rapi.
"Mati gue! Gimana kabarnya kalo sampe liat kostan gue yang udah kaya kapal karam," bisik Hanna dalam hati.
Belum lagi dapur yang lumayan luas juga dengan rak piring di sudut dekat kulkas terjejer rapi. Piring besar dan kecil tersusun sesuai ukurannya. Begitu pula gelas, sendok dan perabotan yang lainnya.
"Silahkan duduk," ucapnya.
Hanna hanya mengangguk canggung.
"Tante masak sendiri semua ini?" tanya Hanna melihat banyaknya makanan terhidang di meja.
"Iya, di rumah ini tak ada pembantu jadi ya saya yang pegang semuanya." senyum tipis tersungging di sana.
"Tenang Ma, nanti calon menantu ini pasti akan bantuin. Iya kan sayang?"
Hanna tersenyum salah tingkah, melirik kedua orang tua Reyhan yang menatap ke arahnya.
"Kamu itu cantik, kenapa bisa bercerai?"
Wanita itu tampak diam sejenak sebelum menjawabnya.
"Alasan bercerai bukan diukur dari parasnya, Tante. Banyak hal yang bisa dijadikan alasan bertahan dan memaafkan. Tapi salah satu yang tidak bisa kuterima adalah pengkhianatan," ujar Hanna seraya tersenyum.
Sang ayah terlihat manggut-manggut sambil terus menyuap makanannya.
"Jadi, suami kamu yang dulu berkhianat?"
Hanna hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Ma, introgasinya bisa yang lain nggak? Misal kenapa dia bisa cantik gini? Atau kenapa bisa membuat anak saya jatuh cinta, gitu?" kata Reyhan menatap lekat Hanna.
"Kamu ini," ucap sang mama yang kini juga melihat Hanna.
Setelah mereka selesai makan malam, tak lupa Hanna membantu mama Reyhan membereskan meja makan dan mencuci piring. Meskipun sempat mendapat penolakan dari sang mama ia tetap memaksa membantunya.
Mereka berdua mengobrol di ruang tamu, sementara kedua orang tua Reyhan tengah menonton televisi di ruang keluarga.
"Aku tidak sabar ingin segera menghalalkanmu, Hanna." bisik Reyhan lembut.
"Apa aku keliatan gugup banget tadi?"
"Enggak, biasa aja. Lagian kenapa kamu gugup?"
"Nggak tau, berasa lagi mau ujian aja deg-degan." kata Hanna memejamkan matanya.
"Hanna," panggil Reyhan pelan.
"Hhmm,"
"Boleh aku cium nggak?"
"Reeyy, udah malem baiknya kamu anter Hanna pulang." Sang papa tiba-tiba sudah berjalan mendekatinya.
"I-iya, Pa." jawabnya terbata.
__ADS_1
Hanna hanya tersenyum tipis melihat rona wajah Reyhan yang memerah.
Bersambung...