Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Menuju Villa


__ADS_3

Menjelang tengah malam Ansell baru saja pulang, suasana rumah sudah gelap dan sepi. Ia meraih kunci dan membuka pintu, perlahan berjalan menuju kamarnya.


Namun, belum juga sempat membuka pintu kamar, lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Terlihat Zea berdiri mengenakan kimono hitam di samping kulkas yang memang terletak saklar lampu di situ.


"Astagfirullahaladzim!" pekik Ansell terkejut.


"Darimana kamu?" tanyanya menyelidik menghampiri suaminya.


"Kamu ngapain berdiri di tengah kegelapan begitu? Mau bikin aku jantungan?" hardik Ansell.


"Aku nungguin kamulah! Kebiasaan, marah pasti keluar rumah ninggalin istri. Bukannya selesaikan masalah malah ditinggal pergi." gerutunya sambil melipat tangan di dadanya.


"Aku males ladenin kamu yang selalu bahas masa lalu! Lagi pula baik aku pergi dari pada aku hilang kendali," timpalnya seraya membuka pintu dan langsung menuju kamar mandi.


Zea hanya terdiam menatap kesal suaminya itu, kemudian mengekor memasuki kamar mereka.


Selang 30 menit, Ansell keluar kamar mandi dan berganti pakaian tidur. Terlihat sang istri tengah bersandar pada kepala ranjang.


"Mending dibahas kan dari pada dipendam jadi penyakit?" sambungnya masih meneruskan perdebatan mereka.


Suaminya itu terlihat enggan menanggapi dan langsung berbaring, lalu menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Ansell! Aku nggak suka yah kita tidur tanpa menyelesaikan masalah ini," rengek sang istri.


"Kamu kapan bisa melepaskan anak itu dan benar-benar fokus pada keluarga kita? Atau memang jangan-jangan dari awal kamu nggak serius balikan lagi sama aku!"


"Cukup Zea! Kamu yang bikin masalah, kamu juga yang nyari penyakit. Aku sudah berusaha menjadi ayah dan suami yang lebih baik buat kalian. Kalo aku nggak serius buat apa aku kembali?" kata Ansell terbangun dan memposisikan dirinya di samping sang istri.


"Tolong, terima aku dan masa laluku. Ini bukan tentang Wanita itu, tapi anak yang di dalam tubuhnya mengalir darah dagingku. Selama dia belum dewasa, ada tanggung jawabku di sana, Ze!" sambungnya lagi.


Sang istri terdiam, melemparkan pandangan ke segala arah. Pikirannya tampak sibuk mencerna setiap kata.


"Jangan egois, dan hanya ingin dimengerti tanpa mengerti orang lain. Sebuah hubungan akan berjalan baik jika keduanya mampu saling memahami, saling mengerti dan terbuka. Pahami itu Zea," pintanya dengan suara yang melirih.


Hening, masih tak ada jawaban dari istrinya itu. Kemudian Ansell menarik tangan Zea dan membenamkan kepalanya ke dalam dadanya.


"Aku mengerti, rasa sakit hatimu cukup dalam dengan pengkhianatanku. Tapi, beri aku kesempatan untuk menjadi lebih baik. Berikan sedikit ruang dan kepercayaan untukku, semuanya salahku. Anak itu tidak berdosa," bisiknya pelan.

__ADS_1


"Hanya sampai wanita itu menikah. Jika dia sudah menikah, stop memberikan uang untuk anaknya." ucap Zea seraya menarik tubuhnya dari pelukan Ansell.


Lalu, ia menarik selimut yang juga menutupi seluruh tubuhnya berbaring membelakangi Ansell.


Suaminya hanya menarik napas panjang, dan berusaha meredam emosinya. Ia menyadari, semua ini berawal dari dirinya.


"Sekali kepercayaan itu disalah gunakan selamanya hanya ada keraguan," Ia teringat kata-kata sang Mama.


***


Ratna mengemasi beberapa bajunya dan juga Anin, tak lupa ia memasukkan perhiasan dan surat-surat penting lainnya.


Saat tengah berkemas, pengawal Michael mengawasinya di depan pintu. Berulang kali ia melirik pada ponselnya yang tergeletak di meja. Agra memang menyita ponselnya, mencegah wanita paruh baya itu untuk menghubungi siapapun.


"Hanna, cepatlah kemari. Ibu takut," rintihnya dengan air mata berlinang.


Ia juga teringat suaminya yang tengah berlayar jauh dari desanya. Pasti membutuhkan waktu lama untuknya pulang, meskipun Ratna memberitahunya sekarang.


"Ibu jangan nangis, Anin kan ada di sini temani Ibu." kata gadis kecil itu memeluk sang nenek.


Lalu, ia menghapus air mata di pipi neneknya itu dengan lembut membuat wanita itu malah semakin deras air matanya. Mereka lalu saling memeluk dalam isak tangis.


"Saya akan menghubungi anak saya dulu, dia harus tau kemana kita pergi." katanya memelas pada Agra.


"Mba Hanna sudah tahu vila ini karena dia juga pernah menginap di sana," ucap pria muda itu meyakinkan.


"Benarkah? Apa mereka sudah sedekat itu?" tanyanya menyelidik.


"Ibu tak perlu khawatir, anggap saja ini liburan yah."


"Apa benar Hanna sedekat itu dengan pria ini? Lantas bagaimana hubungannya dengan Reyhan?" bisiknya dalam hati.


"Atau jangan-jangan karena pria ini Reyhan nyariin Hanna waktu itu? Terakhir di telepon juga Hanna sepertinya memang kenal dengan pria ini tapi responnya meragukan," batinnya.


Hatinya terus berkecamuk, menduga-duga semua yang terjadi.


"Ya Tuhan, tolong siapkan hati hamba untuk menerima apapun yang terjadi dalam hidup ini. Jangan biarkan hal buruk terus menimpa Hanna, ya Rabb." gumamnya memohon.

__ADS_1


Akhirnya wanita itu pasrah ketika Agra dan seorang pria lainnya membawakan barangnya keluar rumah menuju mobil. Ia melirik jam dinding pukul 7 malam.


Saat keluar rumahnya, suasana desa sudah sepi. Rasanya ia ingin sekali berteriak meminta tolong, tapi ia juga tidak tahu apa hal ini nantinya akan berimbas pada Hanna anaknya.


"Bismillahirahmannirahim," bisiknya saat menaiki mobil.


Sejurus kemudian, mobil melesat dengan cepat meninggalkan desa kecil itu. Melewati sawah dan beberapa lahan kosong yang masih banyak di sana.


Desa itu memang terletak di perbatasan, masih banyak tanah kosong dan jarang pabrik maupun bangunan modern lainnya. Jarak menuju kota lumayan jauh sekitar 2 jam.


Agra yang melihat wajah tegang penumpangnya, mencoba menenangkannya.


"Nanti semua kebutuhan dari makanan dan kesehatan sudah tersedia semua di sana, Bu. Ada juga beberapa asisten rumah tangga milik Pak Michael stay di rumah itu. Jadi Ibu nggak usah khawatir, anak ibu cepat atau lambat pasti akan menyusul ke sana."


"Yang bikin heran adalah, kenapa saya tidak boleh menghubungi suami dan juga anak saya? Dan kenapa ini tuh mendadak banget gitu loh. Berasa mimpi dan pengen cepat bangun saya."


"Ibu, calon menantu ibu ini adalah seorang CEO alias direktur utama sebuah perusahaan besar. Dia yang mengatur semua jalannya perusahaan sekaligus juga pemiliknya. Jadi, wajar saja privasinya sangat sangat harus dijaga." jelasnya panjang lebar.


"Tapi kan kalo emang bener, suami saya kan juga calon mertuanya dia juga harus tahu hal ini. Dan keputusan pun nantinya ada padanya sebagai pemimpin di keluarga saya."


"Toh nyatanya suami Ibu sedang di tengah laut kan? Dia tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini? Sedangkan hal ini sangat mendesak, kita tidak bisa menunggu beliau hadir."


Kini, Ratna terdiam bukan kehabisan kata-kata tapi cape untuk terus berdebat. Ia terus memeluk Anin cucu yang sudah dianggap darah dagingnya sendiri.


Tak lama kemudian, ponsel Agra berdering. Tertulis nama bosnya di sana. Ia segera menjawabnya.


"Halo Tuan," sapanya.


"Gimana? Kamu sudah membawa ibu dan anak itu pergi?" tanya Michael di sebrang sana.


"Iya Tuan, saya sedang menuju ke villa sekarang."


"Bagus! Perlakukan dia dengan baik, saya tidak ingin Daddy protes dan kecewa dengan rencana ini."


"Baik, Tuan." jawab Agra.


Ponsel dimatikan.

__ADS_1


Sejenak pemuda itu melirik wajah wanita paruh baya yang duduk di kursi belakangnya. Tampak guratan kecemasan tergambar jelas di sana. Tiba-tiba ia teringat mendiang sang Ibu yang begitu mirip dengan wanita ini.


Bersambung


__ADS_2