
Seorang pria bernama Gorda itu menghentikan langkah Belinda menuju kamarnya. Perasaan gelisah yang baru saja ditekannya mendadak muncul kembali dengan detak jantung yang bergemuruh.
"Lapor Tuan ... Tuan harus melihat foto-foto ini," ucap Gorda menyerahkan ponselnya kepada majikannya itu.
Dengan cepat Martin meraih benda pipih itu, alisnya berkerut tak lama kemudian matanya membulat dengan gigi gemerutuk. Dia terus menggeser layar melihat beberapa foto yang terpampang di sana.
Sang istri yang penasaran merebut ponsel itu dan seketika menutup mulutnya. Ia tampak lemas berpegangan pada kursi roda suaminya.
"Apa kubilang? Perasaanku tidak enak mengenai perjodohan ini!" tuturnya melihat sang suami.
"Kapan ini?" tanya Martin kemudian pada Gorda. Ia meghiraukan pernyataan sang istri.
"Semalam dan tadi pagi, Tuan."
"Jadi mereka menginap bersama tadi malam?"
"Iya Tuan," jawab Gorda tegas.
"Siapa wanita itu?" Belinda menyela.
"Dia bernama Grace Anastasia berusia sekitar 40 tahun, seorang marketing properti yang juga seorang ... janda," jelas Gorda terjeda.
"Ya Tuhan, selera pemuda itu ... ah tidak kita harus secepatnya membatalkan pertemuan ini," kata Belinda seraya menuju kamarnya hendak mengambil ponselnya.
"Biarkan saja! Biar mereka datang," kata Martin sambil mengelus dagunya.
"Martin! Kamu sudah membiarkan anak sulung kita menikahi perempuan yang tidak selevel dengan kita, aku masih bisa terima. Karena dia wanita baik-baik menurutmu. Tapi, kali ini aku tidak akan tinggal diam membiarkan anak perempuan kita, menikah dengan seorang lelaki yang kelakuannya bejat!" sergah Belinda naik pitam.
Martin memberi kode pada Gorda untuk pergi. Pria itu lantas membungkukkan badannya dan kembali ke luar rumah.
"Maksudmu apa tetap membiarkan mereka datang? Sebelum terlambat kita batalkan saja semuanya!" seru sang istri lagi.
"Kita akan tanyakan nanti kepada anak itu, jangan beritahu Laura mengenai hal ini." jawabnya sambil berlalu dari hadapan sang istri.
Belinda menghela napas mencoba meredam emosinya. Ini bukan yang pertama protesnya tak didengar suaminya. Selama hidupnya, keputusan Martin adalah mutlak tidak dapat diganggu gugat. Kali ini pun ia kembali tak mengerti jalan pikiran suaminya itu.
***
Pria memakai kacamata hitam itu, duduk di sofa tempat menunggu orang-orang yang tengah memanjakan diri di sebuah salon ternama langganan kaum sosialita.
Selama ini ia hanya pernah sesekali mengantar ibunya ke tempat itu, baginya menunggu adalah hal yang paling menyebalkan. Tapi, entah kenapa hari ini ia sangat ingin duduk di sana seraya melirik dua wanita yang tengah mengobro asikl di depan cermin besar itu.
"Kak, aku takut abis ini hujan gede bakal turun deh," ucap Laura yang sedari tadi melirik Michael.
"Kenapa emang?" tanya Hanna heran.
"Noh liat, dia kerasukan jin dari mana coba bisa-bisanya nungguin kita nyalon?"
"Ya udah biarin aja jangan hiraukan dia," sergahnya berusaha cuek.
"Aku yang risih malah, ntar kalo kelamaan takutnya dia malah nyeret paksa kita buat udahan gimana coba?"
"Emang bisa gitu yah?"
"Bisalah modelan dia mah," bisik Laura.
__ADS_1
"Mending kakak suruh dia kemana gitu dari pada ngejogrog di situ."
"Agra dimana sih?" Hanna celingukan melemparkan pandangan keluar jendela.
"Kayanya nunggu di mobil deh."
"Ntar coba kakak..."
Belum selesai Hanna bicara pria yang sedari tadi diperbincangkan bangkit berdiri dan keluar pintu sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Tuh pergi dia kayanya dapet telepon," ucap Hanna melirik pintu.
"Semoga dia pergi," kata Laura berdoa berkali-kali.
Michael baru saja mendapat telepon dari rekan kerjanya di luar negeri, yang mengharuskan dia kembali ke rumah untuk membuka file di dalam laptopnya.
"Agra, antar mereka pulang yah. Saya ada urusan," ucapnya pada asistennya.
"Baik Tuan," jawab pemuda itu.
Mobil melaju cepat menuju kediamannya.
Selang satu jam mobil memasuki halaman rumah mewah itu. Ia langsung menuju kamarnya, membuka laptop dan mengirimkan file yang diminta. Saat tengah membuka email ia melihat sebuah pesan masuk dari salah satu bank yang kartunya ia berikan pada Hanna.
Notifikasinya memang tak masuk ke ponsel karena nomornya tidak terdaftar mbanking di kartu itu.
Uang sejumlah 10 juta lebih didebit otomatis oleh bank, membuat Michael tampak berkerut jidat.
"Untuk apa Hanna menggunakan uang ini?" gumamnya.
Namun, gerakannya terhenti saat ia menemukan sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan 2 garis di sana. Matanya seketika membulat, jantungnya berdegup kencang.
"Apa ini milik Hanna? Kenapa dia tidak memberitahuku," gumamnya.
Dengan cepat ia menyambar ponselnya hendak menghubungi sang istri, tapi mendadak diurungkannya.
"Tidak. Aku harus mendengarnya langsung. Tak mungkin jika milik orang lain ada di tas dia," katanya sembari terus melihat benda warna putih itu
Kemudian setengah berlari dia kembali menuju mobilnya. Namun langkahnya terhenti saat Belinda tergopoh memanggilnya.
Michael memasukkan tespack itu ke dalam saku celananya.
"Kamu ko sudah pulang? Mana yang lainnya?"
"Masih di salon, Mom. Kenapa?" tanyanya gelisah.
"Kamu mau kemana lagi buru-buru gitu?"
"Michael mau jemput mereka, sepertinya sudah selesai. Oke Mom, bye!" tukasnya seraya melambaikan tangan.
"Eeehhh, tunggu sebentar!" teriak sang ibu.
Langkahnya terhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa sih, Mom? Takutnya mereka kelamaan nunggu," protesnya.
__ADS_1
"Tumben kamu peduli banget sama ademu, atau jangan-jangan kamu lebih peduli samaa ..."
"Udah deh, Mommy mau bilang apa?" pungkas Michael memotong kata-kata sang ibu.
"Ada kabar buruk ... calonnya Laura sepertinya sudah punya kekasih, bahkan mereka udah nginep bareng. Tapi daddymu tidak mau membatalkan pertemuan ini. Coba bicara sana sama daddy!"
"Mommy tau dari mana?"
"Daddy nyuruh si Gorda cari informasi dan mendapati mereka berdua check in di hotel semalam," jelasnya dengan wajah risau.
Michael tampak terdiam sejenak.
"Kita liat dulu apa yang akan daddy lakukan, setelah itu baru Mich bisa ambil langkah. Oke mom, udah dulu yah."
Anak sulungnya itu berlari tanpa menoleh lagi.
"Anak sama bapak bisa kompak begitu yah!" gerutunya kesal.
Michael dengan tergesa-gesa menuju mobilnya, baru saja ia hendak membuka pintu tiba-tiba sebuah mobil sport warna pink memasuki gerbang rumahnya.
"Tak mungkin calonnya Laura pakai mobil itu kan?" tanyanya dalam hati.
Ia masih berdiri di dekat pintu kemudinya seraya melirik si empunya mobil mewah itu keluar.
Seketika darahnya berdesir, jantungnya seperti mau loncat ketika melihat sosok yang kini berdiri tak jauh darinya.
"Jessica," gumamnya.
Mata birunya nyaris tak berkedip melihat seorang wanita berambut pirang, dengan kaos warna pink ketat dan celana jeans putih bersih serta sepatu high heels melangkah ke arahnya.
Wanita yang diam-diam dia kagumi, yang pelan tapi pasti berhasil mengambil hatinya, yang nyaris saja mengungkapkan isi hatinya jika kala itu mobilnya tak terhalang mobil Hendi.
Namun, dari situlah justru ia menemukan takdir lain untuk hidupnya. Wanita bernama Hanna Kartika yang awalnya sangat ia benci, perlahan mampu mengubah seluruh energi negatif dalam dirinya dan berhasil menyandang status sebagai istri sahnya seorang Michael Delopez.
"Hai Kak Michael," sapa gadis itu ramah mencium kedua pipi pria yang masih saja berdiri kaku.
"I-iya ... hai juga," balasnya gugup.
Jessica adalah adik kelas Laura yang sering bertandang ke rumah itu. Gadis yang dulu ia anggap hanya sebagai teman adiknya, berubah menjadi pujaannya tatkala ia sering bertemu dan nongkrong bareng. Menemani ke bar, cafe dan tempat-tempat wisata lainnya.
"Laura ada, Kak?" tanyanya melihat-lihat ke dalam rumahnya.
"Astaga! Gue kan mau jemput mereka," pekik Michael dalam hati.
Tapi, entah kenapa langkahnya mendadak berat untuk beranjak. Terlebih gadis di depannya ini semakin tumbuh besar dan berisi.
"Mereka lagi di salon, aku baru saja mau jemput. Kamu tunggu aja di dalam," ucapnya canggung.
"Mereka? Dia sama seseorang?"
"Iya dia sama ...." Michael merapatkan bibirnya kembali teringat tespack dalam saku celananya.
"Aku jalan dulu yah," katanya kemudian sembari masuk ke dalam mobilnya.
Dahi gadis itu berkerut melihat tingkah aneh Michael. Lalu ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Bersambung...