Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Perubahan Michael


__ADS_3

Suasana di Kantor Yukka


"Sinta, kamu bisa nggak sih handle kerjaan ini? Ngelobi satu perusahaan aja dari kemarin nggak kelar-kelar!" tegur Hendi.


"Kita kan mana tahu maunya mereka pak, saya sudah menjalankan sesuai prosedur. Tinggal kita tunggu saja hasilnya," jawab Sinta.


"Ya nggak gitu juga konsepnya, Sinta. Makannya kamu tanya si Hanna yang jago masalah ginian."


Sinta mendengus kesal, seharian ini sudah lebih dari lima kali Hendi menyebut nama Hanna. Membuatnya jengah dan ingin segera pulang.


"Dia itu sebelum menghubungi cari tahu dulu seluk beluk di perusahaan yang akan dia incar. Kelemahan dan kelebihannya. Apa yang diperlukan dan apa yang dibanggakan di sana. Kita nggak bisa to the point nawarin barang kita ke mereka, harus ada pendekatan, kasih pujian, basa basi dan yang terpenting buat mereka penasaran dengan perusahaan kita." terang Hendi.


"Atur lagi publik speaking kamu dan baca-baca catatan si Hanna itu," tunjuknya pada buku mini milik Hanna.


Sinta diam saja tak menjawab, ia hanya melirik buku itu dan kembali menatap layar laptopnya.


"Han, dari dulu gue iri sama lu. Bahkan saat lu udh pergi dari sini pun tetep aja bikin gue iri dan sakit hati. Terlebih Reyhan, gue yang suka duluan lu yang dibucinin parah sama dia. Bahkan sampe sekarang. Lu tau 3 tahun gue pendam semua ini sendirian. Rasanya gue udah nggak bisa lagi, pura-pura baik padahal aslinya hati gue ancur. Mulai sekarang, gue bakal lakuin apa aja buat ngambil kembali apa yang seharusnya jadi milik gue." batin Sinta.


"Ya kali, Pak saya yang baru beberapa hari dibandingin sama Hanna yang udah bertahun-tahun. Nggak fair donk namanya," protesnya.


"Ya makannya, kamu tanya dia belajar sama dia kan kalian sahabatan."


Sinta melengos pergi meninggalkan ruangannya. Rasanya sesak didesak terus menerus sama atasannya itu.


"Males banget sih, Hanna mulu! Ngapain dipecat kalo masih aja diomongin," gerutunya seraya menuruni tangga menuju pantry.


"Kemana, Ta?" Gio yang dulu seruangan dengannya nongol dari balik pintu.


"Ngopi," jawabnya singkat tanpa menoleh.


"Bawain gue satu ya!"


"Ogah! Bikin sendirilah," tolaknya.


Akhirnya pria itu mengikuti Sinta menuruni tangga.


"Yaelah pelit banget sih lu. Mentang-mentang udah naik di lantai atas," sindirnya menyenggol lengan Sinta.


"Gue lagi cape, males banget. Kalo bisa nolak sih gue nggak pengen di atas," ucapnya dengan wajah kesal.


"Lah kenapa? Kemaren-kemaren lu girang banget dapet kerjaan itu?"


Sinta diam aja, tak menjawab pertanyaan temannya itu tangannya meraih gelas dan sebungkus kopi yang tergantung di sana. Lalu, menuangkan air panas ke dalam gelasnya.


Lantai bawah memang khusus tempat karyawan istirahat untuk sarapan atau sekedar ngopi-ngopi. Terdapat meja panjang dan beberapa kursi di depannya. Serta lemari penyimpanan makanan dan snack untuk mereka ngemil.


"Hendi galak emang?" bisik Gio lagi masih penasaran.


"Dia tuh belum bisa move on dari si Hanna, makannya yang diomongin Hannaa mulu. Gue kaya nggak ada apa-apanya deh di mata dia," jelas Sinta sambil menyeruput kopinya.


"Oohh gitu ... lagian kenapa sih si Hanna diberhentiin?"


"Gue nggak tau sih alasannya kenapa, yang jelas lu tau lah kerjaan lagi numpuk gini si Hanna malah cuti."

__ADS_1


"Si Reyhan juga kaget pas gue infoin Hanna resign, soalnya tuh anak juga minta putus sama doi."


Wajah Sinta langsung berbinar melihat Gio.


"Mereka putus? Lu serius?" tanya Sinta dengan mata membulat.


"Iya, tapi sepihak si Reyhan belum mengiyakan. Rencananya tuh anak mau ke kosan si Hanna sore ini."


Bak mendapat angin segar Sinta sedikit senang mendengar penuturan Gio.


"Nanti sore gue juga ke kosan si Hanna ah," bisiknya dalam hati.


"Gue duluan yah," kata Sinta meraih gelas dan berjalan kembali menaiki tangga.


"Hei kemana lu? Tunggu gue belum selesai ngomong," kejar Gio juga memegang gelas kopi di tangannya.


"Apaan?"


"Ntar sore gue anter balik yah," ajaknya.


"Mmm ... gue ada acara next time aja yah," tolak Sinta.


Tentu saja, acaranya adalah berakting di hadapan Reyhan nanti. Terkadang orang yang paling berbahaya adalah orang terdekat kita. Karena manusia itu dinamis seiring berjalannya waktu hati dan pikirannya bisa berubah.


***


Senja telah menghilang ditelan cakrawala, langit orange berubah menjadi hitam. Sebuah mobil mewah warna hitam dari mercedes benz itu, terus melaju memecah kegelapan malam. Kedua penumpangnya cukup lama saling terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing.


"Kenapa kesini? Apa mama dan anakku sakit?" tanya Hanna panik.


"Ayahku," jawab Michael sambil melepaskan seatbelt-nya.


Lalu, dia keluar dari mobil diikuti Hanna. Mereka berjalan menyusuri lorong menuju sebuah ruangan. Wanita itu sibuk celingukan, tak begitu memperhatikan pria di depannya.


"Jalannya cepat, nggak usah tengok-tengok!" seru Michael melihat Hanna yang tertinggal jauh di belakangnya.


"Ya kali langkah anda aja bisa 3x langkah saya loh, gimana nggak ketinggalan," jawab Hanna cuek masih dengan santai berjalan.


Michael yang tak sabar segera menarik tangan wanita itu, menyuruhnya berjalan tepat di belakangnya dengan tangan saling terpaut.


"Lepas deh, emang saya anak kecil apa pake dipegangin segala!" brontak Hanna.


"Kelamaan!" bentaknya tanpa menengok Hanna yang kewalahan menyeimbangi langkah besar Micahel.


Sesampainya mereka di depan sebuah ruangan ICU Hanna menabrak punggung lelaki itu karena berhenti mendadak.


"Aw, sakit tau."


"Makannya liat tuh ke depan!"


Dalam hati pria itu menahan tawa, tubuh Hanna yang pendek dan kecil dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar tentu saja tak seimbang. Tapi meskipun kecil dan pendek wanita itu memiliki kulit putih yang mulus, wajah oriental dan rambut hitam lebat yang terurai melewati bahunya.


"Kalo saya lihat ke belakang namanya mundur," jawabnya kesal.

__ADS_1


"Udah berisik, jaga sikap. Kalo ditanya Daddy ... maksud saya kalo ditanya ayahku jawab seperti yang sudah saya bilang tadi."


"Emang anda bilang apa?"


"Soal pernikahan tadi itu!" kata Michael geram.


"Dih, saya aja nggak jawab apa-apa."


"Kalo ingin mereka selamat turuti perkataanku," ucap Michael dengan mata yang melotot.


Hanna langsung terdiam menunduk.


"Liat aja lu nanti cowok arogan!" gerutu Hanna dalam hatinya.


Perlahan pria itu mengetuk pintu ketika hendak mendorongnya, pintu itu tiba-tiba terbuka dan terlihat Laura keluar dari sana.


"Daddy baru aja tidur, setelah dokter memberinya obat pereda nyeri. Dia masih merasakan sakit di kepalanya," jelas Laura kepada kakaknya.


"Tadi lama Daddy sadarnya?"


"Lumayan," jawabnya singkat.


"Hai, Kak Hanna. Ada apa kemari?" tanyanya pada wanita di belakang Michael yang sedari tadi terdiam.


"Aku ...."


"Aku yang mengajaknya ... ya udah kita kembali lagi nanti," ucap pria itu melirik Hanna.


Hanna balik melirik Michael kesal, karena memotong jawabannya tadi.


"Tolong jaga Daddy, aku ada keperluan malam ini. Besok gantian Kakak yang jaga," katanya melihat sang adik.


"Kakak mau apa sih? Kasian tau Kak Hanna, tadi Mommy cerita semuanya. Udah deh lepasin dia, Daddy juga lagi sakit butuh kita, Kak." Laura melihat sang Kakak serius.


Michael menarik tangan Hanna, tak menjawab apapun perkataan adiknya.


"Kak, Kakak!" teriak Laura.


Tapi, sang Kakak terus saja berjalan meninggalkannya hingga membuat Hanna jadi tidak enak pada Laura.


"Heh Pak, yang dikatakan Laura itu benar. Ayah anda pasti membutuhkan anda. Udah saya naik taxi aja, jangan lupa bayarin ongkos taxinya." kata Hanna menghentikan langkahnya dan menepis tangan pria itu.


"Udah diem, jalan cepetan!"


Hanna melihat ada gurat kesedihan di wajah pria itu. Usia Michael sepertinya tak jauh beda darinya, mengingat saat dirinya bekerja di perusahaan gemilang usianya menginjak 20 tahun dan Laura baru masuk kuliah. Serta Michael sedang kuliah tahap akhir di Amerika.


"Heh! Malah bengong, ini udah malam. Mana ada taxi yang mau ke arah sana jam segini? Lagian kamu mau jadi target kejahatan pria hidung belang di tengah hutan," bentaknya.


Hanna melirik Michael, "Anda pikir anda siapa? Anda juga berpotensi menjadi pria hidung belang itu!" gertaknya berjalan mendahului pria itu.


Michael mendengus kesal berjalan mengejar Hanna.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2