
"Namanya Hanna Kartika, seorang sekertaris dari salah satu partner perusahaan kita. Pernah menikah dengan Pak Ansell Arian Rendra, divisi PPIC di sini. Dan memiliki satu anak yang ia tinggalkan bersama ibunya di kampung halamannya. Kehidupannya sederhana, sepertinya ia wanita biasa-biasa saja, Bos."
"Hhmm, jadi dia sudah pernah menikah dan punya anak? Ini menarik, Agra. Dia bekerja di salah satu perusahaan yang masih di bawah kendali kita, dan di sini ada mantan suaminya. Tapi, apa alasan mereka bercerai?"
"Menurut informasi dia ternyata menjadi istri kedua, dan akhirnya memutuskan untuk pergi."
"Wanita bodoh! Kenapa tidak dia rebut saja suaminya dari istri pertama? Lalu sekarang kekasihnya atau suaminya?" Michael terlihat semakin penasaran dengan menyeringai sinis.
"Sampai sekarang dia masih belum menikah. Terakhir acara lamarannya gagal karena istri dari Ansell datang mengacaukannya."
"Lamaran? Dengan siapa?" kedua alis keturunan bule itu berkerut.
"Reyhan Adiwangsa, yang tergabung dalam perusahaan rintisan."
Michael terlihat manggut-manggut. Dia memegangi dagunya tampak berpikir sesuatu.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, Agra." Pria itu bangkit dari duduknya menepuk pundak detektif andalannya.
"Bawa dia ke hadapanku di tempat biasa, kita liat sehebat apa kemampuannya." bisiknya di telinga pria itu.
"Tapi Bos ... dia sepertinya gadis baik-baik apa ...."
"Kenapa? Tumben kali ini kamu protes? Ada yang disembunyikan terkait informasi darinya?"
"Tidak Bos, ba-baik saya akan segera lakukan sesuai perintah." jawab pria bertubuh kekar itu seraya terbata.
Itulah sisi gelap seorang Michael, ceo yang terpaksa menduduki jabatannya menggantikan sang ayah yang jatuh sakit.
Dia terpaksa mengambil alih perusahaaan dengan kemampuannya yang masih minim. Meskipun otaknya encer dan penuh ide-ide briliant tapi terkadang kelakuan randomnya mendominasi pikirannya.
Sifatnya yang arogan dan semena-mena membuat banyak orang tak menyukainya. Sangat jauh berbeda dengan sang ayah yang ramah dan hangat pada karyawannya.
Selama kuliah di luar negeri, kelakuannya sangat di luar batas. Meski tak dipungkiri kecerdasannya memang seimbang dengan perilakunya. Alkohol dan wanita menjadi dopingnya setiap pekan. Tapi anehnya, dia sangat pandai menutupi semua itu dari kedua orang tuanya.
Agra, sang pengawal selalu menjadi kambing hitam atas semua masalah yang menimpanya. Dia yang bertugas membereskan semua kekacauan bosnya itu. Karena hutang budi yang tak cukup dibayar meski seumur hidup bekerja, ia pun rela melakukan apapun kemauan sang ceo dadakan itu.
***
Reyhan terlihat berdiri di samping mobil silver miliknya. Matanya tak henti menatap pintu keluar kantor tempat kekasihnya bekerja.
Lagi-lagi ia melirik arloji di tangannya. Biasanya jam segini Hanna sudah keluar kantor.
Dari kejauahn terlihat Sinta melenggang keluar pintu, segera Reyhan berlari menemuinya.
__ADS_1
"Sintaaa!" panggilnya setengah berlari.
"Reyhan, mau jemput Hanna?"
"Iya, dia belum balik?"
"Belum, tadi dipanggil Pak Hendi ke ruangannya."
"Oh oke deh, gue tunggu di mobil aja. Thanks yaa," ucapnya seraya akan beranjak menuju mobilnya.
"Tunggu Rey,"
Lelaki itu berbalik, "Kenapa?" tanyanya.
"Hubungan lu sama Hanna gimana?"
Reyhan menghela napas panjang.
"Gue rasa Hanna pasti cerita kan ke lu?"
"Saran gue sih Rey, di antara kalian itu ada tembok tinggi yang menjulang. Tak akan berhasil jika tembok itu belum diruntuhkan. Sebelum lu menemui Hanna, lu harus udah bisa memanjat atau merobohkannya. Karena selamanya akan menjadi akar masalah kalo lu terus maju," ucap Sinta.
"Nyokap gue memang belum merestui, tapi tak menutup kemungkinan beliau akan berubah pikiran kalo gue tetep mempertahankan pilihan gue, Sin."
Reyhan terdiam, matanya melihat ke atas tempat ruangan Hendi berada.
"Lu bener Sin, tak ada jawaban pasti juga yang bisa gue kasih ke Hanna sampai kapan nyokap gue bakal ngerestuin."
"Nah itu, gue takut Hanna bakal sakit hati berulang kali Rey."
Pria itu mengangguk paham.
"Gue balik duluan yah,"
"Ya udah yok bareng, nanti aja gue nemuin Hanna."
Sinta tertegun.
Akhirnya mereka berdua berlalu meninggalkan kantor menuju mobil. Di belakang terlihat Hanna menyipitkan kedua matanya melihat lurus ke depan.
"Sinta ... dan Reyhan? Mau kemana mereka?" gumamnya.
Sejenak wanita yang memakai rok selutut warna hitam dengan blazer warna senada itu pun, tertegun melihat mobil Reyhan yang perlahan melaju meninggalkan parkiran ruko.
__ADS_1
Pikirannya sibuk menduga-duga, kemana mereka? Dan ada apa di antara mereka?
"Ah, gila, apa sih yang gue pikirin? Mereka berdua kan emang temenan juga." katanya menepis prasangka buruk yang sejenak hinggap di pikirannya.
"Tapi, apa sampe segitunya nggak nungguin gue? Reyhan juga, udah beberapa hari ini nggak ada kabar sekarang dateng ke kantor malah nemuin Sinta." bisiknya dalam hati.
Dia berjalan gontai menyusuri ruko menuju jalan besar menghadang angkutan umum.
Langit mendung menggantung di atasnya, ia teringat pesan Hendi yang baru di dengarnya.
Falshback On
"Hanna, terimakasih sudah menjadi partner saya selama beberapa tahun belakangan ini. Kamu sudah sangat profesional dan bertanggung jawab dalam menyiapkan, memeriksa, memberikan laporan dokumen-dokumen terkait export maupun import di perusahaan ini."
"Kamu juga aktif menemani saya mencari distributor maupun partner untuk kemajuan industri ini. Jadi, jika suatu hari nanti saya tidak di sini lagi, kamu sudah sangat paham mengenai semua alur perusahaan kita." sambungnya melihat Hanna serius.
"Maksud Bapak apa? Ko ngomong gitu? Emang Pak Hendi mau kemana?"
"Untuk saat ini saya tidak kemana-mana. Bahkan saya sudah membeli rumah di dekat sini. Kalo kamu ada waktu silahkan main ajak yang lainnya,"
"Wah, Bapak pindah rumah? Sama Sis eh maksud saya Bu Siska juga?"
"Iya, kehamilannya sudah semakin besar. Jadi saya pikir untuk membeli rumah dekat kantor saja, supaya jika terjadi apa-apa dengannya bisa cepat datang."
"Hendi sudah banyak berubah ternyata, sykurlah pernikahan mereka semakin baik sepertinya." bisik Hanna dalam hati.
"Iya Pak, nanti saya bawa pasukan ke rumah baru Bapak." Hanna tersenyum melihat bosnya yang semakin kurus itu.
Flashback Off
"Dia kenapa yah? Ko kata-katanya jadi aneh gitu?"
Hanna tampak melamun memikirkan pembicaraan tadi yang masih terngiang di kepalanya. Serta kilasan bayangan Reyhan dan Siska yang pergi bersama.
Tak sadar sebuah mobil jeep hitam menepi tepat di depannya. Beberapa orang pria memakai masker hitam, tampak turun dan menariknya paksa masuk ke dalam mobil. Seorang lagi membekap mulutnya dari belakang serta menutup kepalanya dengan kain hitam.
Gerakan yang cepat dan terlatih itu membuat Hanna tak sempat berteriak. Ia hanya meronta menahan cengkraman kuat dari para pria yang tak dikenalnya itu. Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan sore.
Sejurus kemudian tubuhnya lemas, napasnya tercekat dan ia tak sadarkan diri terkulai di jok tengah.
Para pria itu menyeringai puas melihat mangsa yang sudah tak berdaya.
Bersambung...
__ADS_1