
Beberapa bulan berlalu
Seperti biasa meeting tahunan dengan beberapa partner perusahaan selalu membuat Hanna dan Hendi sibuk. Kali ini sebagai mantan pasangan kekasih keduanya terlihat canggung. Namun, sikap profesional tetap ditunjukkan keduanya saat berhadapan dengan beberapa orang.
"Siapa sekarang?" tanya Hendi saat keduanya baru saja keluar dari sebuah perusahaan retail.
"Gemilang grup," jawab Hanna tanpa menoleh masuk ke dalam mobil.
"Oke, siapkan dokumennya."
"Baik, Pak."
Sebenarnya Hanna sangat penasaran kemana perginya Hendi setelah dia membawanya paksa sore itu. Dan juga perihal postingan yang muncul di beranda Sinta.
"Apakah benar itu dirinya? Atau ada orang lain yang bernama sama?" tanya Hanna dalam hati.
Namun ia urungkan, sudah tak mau berurusan dan tak mau lagi terlibat masalah pribadi dengan atasannya itu.
Dalam perjalanan sesekali Hendi melirik Hanna, tapi perempuan itu sibuk melihat keluar jendela.
"Hubunganmu dengan Ansell baik-baik aja kan?"
"Baik," jawab Hanna singkat.
"Baguslah, kita akan kesana sekarang."
Hanna hanya mengangguk masih tanpa melihat pria di sampingnya.
"Terimakasih untuk tidak jadi resign dari kantor," ucapnya kemudian.
Lagi-lagi Hanna hanya terdiam.
Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan siang itu.
Di tengah perjalanan Hendi kembali mampir ke sebuah SPBU sudah beberapa kali ia bolak-balik toilet terus menerus. Membuat Hanna mengerutkan keningnya. Wajah atasannya itu pun terlihat pucat dan jika ditelisik lagi badannya menjadi lebih kurus dari sebelumnya.
"Apa dia sakit? Selama beberapa bulan ini dia terlihat tidak bersemangat seperti dulu. Wajahnya selalu terlihat murung dan kembali dingin kepada karyawan lainnya." gumam Hanna dalam hati.
Dari kejauhan Hanna melihat wajah Hendi yang meringis kesakitan.
"Sorry, kunjungan hari ini sepertinya kita batalkan, saya lagi kurang enak badan." kata Hendi saat sudah di belakang kemudi.
"Mau saya yang nyetir, Pak?" tawar Hanna.
"Tidak perlu, saya masih kuat." gumamnya pelan.
Kali ini Hanna yang sering melirik Hendi, dalam hati ia khawatir atasannya itu akan pingsan. Tatapannya lurus tapi terlihat sedang berpikir sesuatu.
"Saya nggak bisa anterin kamu ke kantor, bisa naik taksi kan?" tanya Hendi lemah.
"Bisa, Pak."
"Ya sudah saya turunkan di halte sana yah," ucap Hendi seraya menepikan mobilnya.
Hanna hanya mengagguk.
Setelah wanita itu turun Hendi kembali meringis memegangi juniornya. Ia kembali menepikan mobilnya setelah lumayan jauh dari halte tadi.
__ADS_1
"Luka lecet apa tadi kenapa ada luka di sana? Badan gue juga jadi sering demam gini sih," gumamnya seraya meraba lehernya yang terasa hangat dan sakit.
"Perasaan gue nggak pernah behubungan sejak terakhir sama wanita itu. Bahkan liat Siska telanjang pun gue nggak nafsu, kenapa tiba-tiba luka? gumamnya lagi menyandarkan kepala ke kursi ia mengusap wajahnya kasar.
Akhirnya Hendi memutuskan untuk menemui dokter, entah kenapa ada satu penyakit yang tiba-tiba terbersit dalam pikirannya meski ia berusaha menepisnya jauh.
Sesampainya di rumah sakit ia menemui dokter umum untuk menjelaskan keluhannya. Namun dia dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin.
Dengan hati tak karuan dia berusaha tenang saat memasuki ruangan dokter spesialis itu.
"Selamat sore dok," sapanya ramah.
"Iya sore, silahkan duduk Pak-Hendi yah?"
"Iya pak," jawab Hendi seraya melihat dokter yang tengah melihat isi dalam map bening itu.
"Akhir-akhir ini sering merasa demam, flu, kelelahan, nyeri saat buang air kencing dan terdapat luka terbuka pada alat ******** dan anusnya? Benar begitu?"
"Iya pak, benar. Saya juga merasa tidak berselera untuk berhubungan intim," jelasnya malu-malu.
"Mmm, maaf sebelumnya. Apa Pak Hendi sudah menikah?"
"Sudah pak,"
"Sering bergonta-ganti pasangan?"
Deg. Hatinya tersentak dia tertegun sejenak.
"Apa saya terkena ....?" Hendi menghentikan pertanyaannya seraya tertunduk dan melipat bibirnya getir.
Pria itu mengangguk, pikirannya semakin tertuju pada satu kata itu.
"Silahkan bapak tunggu sekitar 20 menit, nanti akan dipanggil lagi." Dokter itu berkata setelah mengambil beberapa cc darah Hendi.
"Terimakasih dok," ucapnya pelan. Dia berjalan gontai keluar ruangan.
***
Seperti biasa sepulang kantor, Ansell selalu menyempatkan diri untuk bermain bersama anak-anaknya. Dia mencoba mengganti waktu yang pernah terbuang sia-sia itu.
Pagi sebelum berangkat dia akan pergi ke kamar anaknya untuk membangunkannya. Lalu, memberinya susu yang sudah disiapkan oleh asistennya. Tak jarang dia membuatkannya sendiri jika wanita itu sedang sibuk, atau menyuruh Zea.
Saat siang tak lupa dia melakukan panggilan video pada buah hatinya itu meski sebentar, karena Zea juga bekerja jadi dia menghubungi sang baby sitternya.
Dan menjelang malam mereka makan bersama di meja makan, lalu membacakan beberapa buku cerita ketika sang anak hendak pergi tidur.
"Aelea, seandainya kamu ada di sini. Papa pasti akan sangat bahagia, bagaimana kabarmu di sana sayang?" bisik Ansell dalam hati. Ia merindukan putrinya itu.
Hati kecilnya meronta, tak bisa berlaku adil kepada ketiga anaknya. Belum lagi Zea mulai protes mengenai nominal uang yang dia kirim kepada anaknya itu.
Flashback on
"Ansell, dia juga kan ada orang tuanya kenapa kamu kasih sebesar itu padanya?" protesnya saat itu.
"Aku pernah bilang sama kamu kan, wanita itu tidak mempedulikan anakku. Aku takut kebutuhannya tidak tercukupi dengan baik."
"Kamu nggak khawatirkan anak-anak kamu yang di sini juga?"
__ADS_1
"Tentu saja aku memikirkan mereka tapi dia juga anakku, Ze. Aku ingin berlaku adil. Toh itu uangku kan dan aku berhak memakainya."
"Oh jadi gitu, oke. Berarti uangku juga milikku tak akan kupakai untuk kebutuhan rumah, semua kebutuhan kamu yang harus tanggung!" bentak Zea. Sifat aslinya kembali terlihat.
"Kamu nggak tau kan, selama ini beberapa kebutuhan rumah aku bantu. Bayar pembantu, kebutuhan mendadak, dan lainnya."
"Uang yang aku kasih lumayan banyak loh, Ze. Semua gaji aku kasih ke kamu. Kenapa bisa sampai memakai uangmu?"
"Oh iya aku baru ingat, terakhir aku dapat notif debit yang lumayan besar dari klinik kecantikan, bulan lalu pun tak beda jauh. Perawatan apa yang kamu pakai? Sampe ngabisin jutaan, Ze?"
Wanita itu terlihat gelagapan, mengalihkan pandangan ke segala arah.
"Aku mencoba melakukan yang terbaik demi rumah tangga kita."
"Maksud kamu?"
"Ya, aku nggak mau sampe kamu tergoda pelakor lagi dan lupa diri Ansell."
"Astagaa, jadi kamu melakukan perawatan semahal itu karena takut aku tergoda wanita lain?"
Zea hanya terdiam.
"Pantas saja gajiku itu kurang, Ze. Kamu masih nggak percaya sama suamimu ini?" Ansell terlihat mendekat.
"Sekali kertas itu lusuh ia tak akan bisa kembali mulus," ucap Zea mundur beberapa langkah.
"Aku mencoba kembali dengan kertas baru, mengganti kelusuhan itu. Kenapa kamu masih saja menyimpannya?"
"Itulah kepercayaan, akan terasa sulit jika sudah pernah dikhianati."
Ansell terlihat mengusap wajahnya kasar, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ketulusannya yang masih diragukan sang istri membuatnya merasa kesal.
Falshback off
***
Di rumah sakit
Hendi yang baru saja masuk kembali ke dalam ruangan merasa semakin cemas, ketika melihat kerutan di wajah dokter itu saat tengah membaca selembar kertas.
"Bagaimana dok?"
"Hhmm, dari hasil pemeriksaan awal hasilnyaa ... positif. Anda telah tertular HIV," jawabnya seraya melihat prihatin pria di depannya.
"Apa dok? Saya-saya terkena HIV?" tanyanya terbata.
Seakan batu besar menimpa tubuhnya, napasnya tercekat dadanya terasa sesak. Setengah tak percaya dia mengambil selembar kertas yang diberikan dokter.
Bersambung...
Nah loh, efek tidak sengaja jajan sembarangan kan yaa... kesian bang Hendi 🥺
Pemirsaahh sudah mampir di jempolku? Alhamdulillah.
Maa Syaa Allah, terimakasih hadiah yang sudah dikirim semoga Allah mudahkan segala urusannya. Aamiin.
Yang belum aku sabar menantimu, sarangeooo😚
__ADS_1